Dokter playboy Vs gadis preman kampung.
Karena sering berbuat ulah Susi di jodohkan oleh ayahnya dengan anak sahabat yang terkenal playboy dan pecinta wanita dewasa.
Bagaimana nasib rumah tangga star Susi yang setiap harinya selalu bertengkar dan bertengkar?
Akankah mereka bercerai atau mereka berdamai dengan takdir yang mengikat mereka dalam sebuah pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liana kiezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kutukan Istri Terzolimi
★★★
“Sayang apa mereka gak papa di tinggal berdua?” tanya Tree khawatir.
“Enggak papa Beb, toh mereka sudah besar dan dewasa, jika Star macem-macem adik ipar tak akan tinggal diam," Alexis berusaha menenangkan sang istri.
“Sepertinya kita gak usah nunggu supir atau apa! Kita naik motor aja! Sekarang aku telpon si Fren dulu," Kata Alexis.
Pria itu merogoh sakunya mencari ponselnya, tuttt ... tutttt ... tuuttt... bunyi ponsel Alexis menandakan panggilan sudah tersambung, “Halo Lex," jawab Fren.
“Kau bawakan dua buah helem ke kantor polisi sekarang!” kata Alexis. Fren yang ada di jalan kaget bosnya serta sepupunya sudah sampek duluan di kantor polisi, padahal rumah Alexis itu lebih jauh dari kantor polisi, ia tidak tau jika si Susi yang mau dia bebaskan udah minggat dulu.
“Lah Lex, aku sudah ada di jalan kesana sama pengacara kita," kata Fren.
“Aku gak mau tau, kamu sampek sini sudah ada helem, mau kamu dapet pinjem kek atau dari manapun aku gak peduli, yang penting aku mau kau membawa helem dua biji!” kata Alexis.
“Oke okelah!” yang waras ngalah!" lanjut Fren dalam hati.
Tutttt... sambungan telpon itu putus.
“Nagapain kamu mintak helem mas?” tanya Tree.
“Mau kencan, bukanya kita selama ini tak pernah berkencan, di cerita si Star kita ngekos sebentar ya beb!” kata Alexis.
“Gak jadi mau bikin part bab?" Tanya Tree.
“Gak usah lah, disini nyelip nyepil dikit kan gak papa ya nyai!” kata Alexis.
“Idih, dasar tukang ngekos!” ledek Tree, pasangan suami istri itu duduk kursi tunggu resepsionis kantor polisi.
30 menit kemudian.
“Bos!” panggil Fren.
“Kau lama datangnya! Mana helem?" Pinta Alexis.
“Untung di pinggir jalan ada yang dagang nih helem? Jangan bilang kau ngidam makan helm!” kata Fren.
“Issshhh, enggak lah, mau pulang kencan. Kau bereskan masalah disini jangan tercium tetua dan ganti tuh pintu kantor polisi.” perintah Alexis, “Ayo sayang,” ajak Alexis menarik Tree.
“Nah beginilah kerjaan aku, disisain sisanya doang, lalu di tinggalkan ," gerutu Fren masuk ke dalam di dampingi pengacara.
★★★★
“Benar kita mau naik motor?" Tanya Tree ragu, ia masih ingat suaminya serta mantan bosnya itu gak mahir berkendara roda dua.
“Ia sayang yuk naik!” ajak Alexis percaya diri.
“Aku aja ya mas yang bawak." Pinta Tree.
“Enggak, pokoknya aku yang Bawak,” kata Alexis. Pria itu memasangkan helem di kepala Tree lalu pasangan itu pergi meninggalkan kantor polisi.
Ngueeenggg... Ngueeeng... Ngueengg... Bunyi motor melaju di kota metropolitan yang super sibuk.
Jegleg... Jegleg... Motor itu mengerem dan memacu tidak normal. Bahkan tak jarang mereka di kelakson oleh orang.
Tinnn... lagi-lagi di kelakson untuk kode mau menyalip sebab si Alexis mengendarai motornya di tengah-tengah jalan.
“Hey kau tak tau aku... Hah! Yank catet nomer platnya nantik penjarakan mereka!" kata Alexis tak terima di salip. Wajah Tree memerah di belakang. untung bunyi kendaraan banyak jika tidak sudah di keroyok warga mereka.
“Mas, jangan Tarik gas dan rem motornya, jika mau tarik gasnya ya tarik, pinggang ku sakit loh jalan kayak naik unta si Flexi dan tepiin sedikit motornya jangan laju di tengah jalan,” protes Tree.
“Sabar sayang, kita nikmati aja waktu berdua, itu lihat pedagang asongan di pinggir jalan, ada yang pedagang sepatu lesehan juga, sekarang aku tepiin peluknya makin erat ya," kata Alexis mengalihkan istrinya agar tidak komplain terus menerus.
‘Asli nih naik motor macem naik bebek semok! Goyang kanan goyang kiri!’ gerutu Tree.
Sama halnya dengan motor pasangan keluarga perdana yang tengah terguncang kesana kemari, di sebuah pinggiran jalan yang sepi tepatnya di semak-semak ada sebuah mobil terpakir asal di depan rumah mereka.
“Bagaiman?” tanya Star dengan nafas terengah-engah dengan tubuh sudah basah akan keringat di sekujur tubuhnya. Tubuh bawah mereka tak menggunakan sehelai benang hanya atasannya lengkap, celana si Susi habis di bobol oleh Star.
“Buruk, hanya nusuk begituan payah!” kata Susi, sebenarnya dalam hati gadis itu merintih sakit, karena suaminya tidak melakukan pemanasan main masukin aja sakitnya banget. Mana dia di seruduk di ruang tamu di sowa sempit lagi.
Sebenarnya ia sangat ketakutan melihat mesin injeksi si Star yang besarnya seperti gagang golok.
Saat ini, acara berantem mereka berlanjut, “Heh gorong-gorong milik elo paling sudah di cor karena sudah lama gak di gituin, tidak ada yang ori!” kata Star tak terima, pria itu juga tidak tau bagaimana mesin injeksinya tak bekerja dengan baik jika berhadapan dengan gadis sombong macem si Susi yang baik baik saja setelah satu pelepasan di kursi kecil di ruang tamu.
“Lepas, jauhkan barang kecilmu itu. aku mau pergi ke rumah sakit untuk minta di sterilkan takut virus menular karena kamu bukan pria terhormat !” Susi sakit hati di katai perawan tua.
Susi bangun menyeret kakinya meninggalkan Star. sedangkan si star terpaksa kepada darah yang tertinggal di kursi.
“Di—dia pe—rawan!”
maklum si star gak pernah merasakan sensasi perawan. ya gaess...
TBC.