Alea Maheswari tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan berakhir menjadi pion dalam permainan bisnis ayahnya. Ia dipaksa bertunangan dengan Dafin Danuar, seorang CEO dingin yang merupakan putra dari rekan bisnis keluarganya.
Bagi Dafin, kehadiran Alea adalah gangguan besar. Hatinya sudah terkunci untuk kekasih pilihan hatinya sendiri. Di mata Dafin, Alea hanyalah penghalang kebahagiaannya, sementara bagi Alea, pertunangan ini adalah beban yang harus ia pikul demi kehormatan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perjodohan
Malam itu, Kediaman Maheswari tidak pernah terasa seperti rumah bagi Alea. Baginya, bangunan megah bergaya arsitektur klasik modern itu lebih menyerupai sebuah galeri seni yang dingin indah dipandang, namun kaku dan tak tersentuh. Marmer yang mengilap di bawah lampu kristal seolah memantulkan bayangan kesepian yang selama ini ia sembunyikan.
Arkan Maheswari, sang kepala keluarga yang dikenal bertangan besi, duduk di sofa kulitnya yang gelap. Cahaya lampu gantung kristal di atasnya memantul di kacamata yang ia kenakan, menyembunyikan sorot matanya yang dingin. Di sampingnya, Sarah istrinya duduk dengan gelisah.
Alea melangkah mendekat dengan perasaan waswas. Ia baru saja ingin beristirahat di kamarnya setelah hari yang melelahkan, sebelum pelayan mengetuk pintunya dan mengatakan bahwa ayahnya menunggu di bawah.
"Ada apa, Pa? Kenapa memanggil Alea malam-malam begini?" suara Alea terdengar lirih.
Arkan tidak segera menyahut. Ia meletakkan tablet pintarnya ke meja dengan dentuman kecil yang terdengar sangat keras di tengah kesunyian malam.
"Duduk, Alea. Ada hal penting yang harus Papa bicarakan mengenai masa depanmu dan perusahaan."
Alea duduk di sofa tunggal, berhadapan langsung dengan ayahnya. Ia melirik Mamanya, namun Sarah hanya memberikan senyum tipis yang sarat akan permohonan agar Alea tidak membantah.
"Usiamu sudah cukup untuk mulai memikirkan masa depan keluarga ini," Arkan memulai, suaranya berat dan bergema. "Papa sudah bicara dengan Danuar. Rekan bisnis terbesar kita. Kami telah sepakat untuk mempererat kerja sama perusahaan melalui ikatan keluarga."
Napas Alea tercekat. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini, namun mendengarnya secara langsung terasa seperti dihantam baru besar tepat di dada.
Papa sudah memutuskan. Kamu akan dijodohkan dengan putra tunggal mereka, Dafin Danuar. Acara pertunangan akan dilaksanakan minggu depan," lanjut Arkan dengan nada datar.
"Apa?" Alea tersentak, punggungnya menjauh dari sandaran sofa.
"Minggu depan? Pa, Alea bahkan tidak mengenal siapa pria itu! Ini zaman apa? Kenapa Papa masih melakukan perjodohan seperti ini tanpa bertanya padaku lebih dulu?"
Wajah Arkan mengeras. Garis-garis tegas di wajahnya semakin dalam.
"Ini bukan permintaan, Alea. Ini adalah kewajibanmu sebagai anggota keluarga Maheswari. Dafin adalah CEO yang cerdas, masa depanmu akan terjamin bersamanya."
"Terjamin? Atau perusahaan Papa yang akan terjamin?" Alea membalas dengan suara bergetar. "Aku menolak, Pa. Aku bukan aset perusahaan yang bisa Papa pindah tangankan begitu saja untuk kepentingan saham!"
BRAK!
Arkan menggebrak meja kaca di depannya hingga cangkir kopi berdenting keras. "ALEA! Jaga bicaramu!" bentaknya. Suaranya menggelegar, membuat beberapa pelayan di kejauhan tersentak.
"Papa tidak pernah membesarkanmu untuk menjadi anak pembangkang! Kamu akan menerima pertunangan ini, suka atau tidak suka. Keputusanku sudah bulat!"
Alea tertegun. Matanya mulai berkaca-kaca, bukan karena takut, tapi karena rasa kecewa yang luar biasa. Ia menoleh ke arah Mamanya, mencari pembelaan.
"Ma..."
Sarah segera berdiri dan memegang lengan Alea, mencoba meredam ketegangan.
"Sayang, tolong... dengarkan Papamu. Ini semua demi masa depanmu juga. Dafin itu tampan, dia mapan. Mama yakin kamu akan bisa mencintainya seiring berjalannya waktu," bujuknya dengan suara serak.
Alea menepis tangan ibunya dengan lembut namun penuh kekecewaan.
"Mama selalu saja membela Papa. Apa Mama tidak ingat bagaimana rasanya dipaksa melakukan sesuatu yang tidak Mama inginkan?"
"Cukup!" Arkan berdiri, memperbaiki letak jasnya dengan kasar. "Persiapkan dirimu. Minggu depan keluarga Danuar akan datang ke sini. Jangan buat malu Papa dengan wajah murungmu itu."
Alea tidak sanggup lagi berada di ruangan itu. Oksigen seolah menghilang, digantikan oleh aroma ego yang mencekik. Tanpa pamit, ia berdiri dan berlari menuju pintu utama. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya.
"Alea! Kembali ke sini!" teriak Arkan, namun Alea terus berlari.
Di kegelapan teras, sebuah bayangan bergerak sigap. Kenan, bodyguard pribadi Alea yang selalu bersiaga, langsung menyadari ada yang tidak beres. Ia melihat Alea berlari keluar dengan air mata yang mengalir deras di pipinya, membelah keheningan malam yang sunyi.
Kenan, yang hanya berusia dua tahun lebih tua dari Alea, sudah sangat hafal dengan tabiat majikannya itu. Ia segera mengejar langkah Alea tanpa perlu diperintah.
"Nona Muda!" panggilnya dengan suara rendah namun tegas.
Alea terus berlari menuju mobil Audi miliknya yang terparkir di bawah lampu jalan yang redup. Langkahnya tidak stabil, terganggu oleh isak tangis yang mulai meledak.
"Nona, biar saya yang bawa mobilnya," ucap Kenan dengan tenang saat ia berhasil menyusul Alea tepat di samping pintu kemudi. Ia mengambil kunci dari tangan Alea yang gemetar dengan gerakan.
Alea tidak membantah. Ia masuk ke kursi penumpang di belakang dan meringkuk, menyembunyikan wajahnya di lutut. Isak tangisnya memenuhi kabin mobil yang gelap.
Kenan menghidupkan mesin mobil, lampunya membelah kegelapan malam. Ia melirik melalui spion tengah, menatap sosok rapuh yang selama ini ia lindungi.
"Kita ke mana, Nona?" tanya Kenan lembut.
"Ke mana saja, Kenan... asal jangan di sini. Bawa aku pergi dari penjara ini," jawab Alea di sela isaknya.
Mobil itu meluncur pergi, meninggalkan kemegahan kediaman Maheswari yang kini tampak seperti kastil tua yang mati di tengah malam. Di balik kaca mobil yang gelap, Alea meratapi nasibnya.
"Kenan..." suara Alea memecah kesunyian, parau dan tipis.
"Iya, Nona?" jawab Kenan dengan nada tenang yang selalu berhasil memberikan rasa aman.
"Apa aku hanya sebuah angka bagi Papa? Apa aku hanya aset yang bisa ditukar agar angka di rekeningnya bertambah?" Alea mengangkat wajahnya, menatap punggung kepala Kenan. Matanya merah dan bengkak.
Kenan terdiam sejenak. Ia menggenggam kemudi lebih erat. Sebagai bodyguard, ia tidak seharusnya mencampuri urusan pribadi keluarga majikannya.
"Tuan Arkan memiliki caranya sendiri dalam mencintai, meski mungkin caranya salah, Nona," jawab Kenan.
Walau hatinya sendiri tidak setuju dengan ucapannya.
Alea tertawa getir, tawa yang terdengar sangat menyedihkan. "Mencintai? Dia tidak mencintaiku, Kenan. Dia mencintai kekuasaannya. Dia mencintai warisan Maheswari. Dia bahkan tidak bertanya siapa namaku hari ini jika itu tidak ada hubungannya dengan bisnis."
Alea menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin. "Kenapa aku tidak bisa menjadi orang biasa saja? Kenapa aku tidak bisa menjadi sepertimu yang setidaknya punya kendali atas hidupmu sendiri?"
Kenan melirik Alea lagi. Kendali atas hidupku sendiri? batin Kenan. Ia sendiri terjebak dalam sumpah setianya untuk menjaga gadis yang kini ada di belakangnya. Hidupnya sudah diserahkan untuk keselamatan Alea sejak hari pertama ia bekerja.
Kenan membelokkan mobil ke arah sebuah taman di dataran tinggi yang menghadap ke arah lampu-lampu kota.
Ia membuka pintu belakang dan menyodorkan air mineral itu. "Minumlah, Nona. Anda bisa dehidrasi jika terus menangis."
Alea menerima botol itu, jemarinya sempat bersentuhan dengan tangan Kenan yang hangat dan kasar. Sentuhan kecil itu seolah memberikan sedikit kekuatan pada Alea.
"Terima kasih, Kenan. Hanya kamu yang benar-benar peduli padaku di rumah itu."
Kenan menatap mata Alea dengan intensitas yang jarang ia tunjukkan. "Tugas saya adalah menjaga Anda, Nona. Apapun yang terjadi, selama saya masih bernapas, saya tidak akan membiarkan siapa pun benar-benar menyakiti Anda. Termasuk keputusan Tuan Arkan."
Alea menatap Kenan, mencari kepastian di mata pria itu. Di bawah temaram lampu kabin, Kenan tampak seperti satu-satunya jangkar yang membuatnya tidak hanyut dalam badai masalah ini.
"Janji?" bisik Alea.
"Janji," jawab Kenan tegas.