Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.
Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.
Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.
Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.
Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibuku yang Diusir
Sekitar jam empat sore.
Lestari terbangun—dia ketiduran nggak sengaja. Bangun karena denger suara.
Suara pintu dibuka. Suara langkah kaki berat. Suara... suara Dyon.
Lestari langsung bangun. Antoni juga bangun—bangun sambil nangis lemah.
Lestari gendong Antoni cepet. Keluar dari kamar.
Dyon berdiri di ruang tamu. Baju nya kusut, muka nya berminyak, mata nya merah—kayaknya habis begadang.
Mereka berpandangan.
Hening.
Dyon natap Antoni. Antoni yang dibedong, yang nangis lemah di pelukan Lestari.
"Itu... itu bayi nya?" tanya Dyon datar.
"I—iya... ini Antoni... anak kita—"
"Anak KITA?" Dyon menyeringai—seringai yang... menjijikkan. "Lo masih ngaku itu anak gue? Padahal jelas-jelas itu anak cowok kemarin itu kan?"
"Bukan! Antoni anak kamu! Aku bersumpah—"
"SUMPAH LO NGGAK ADA HARGA NYA!" Dyon teriak. Antoni kaget, nangis nya makin keras—meskipun keras nya cuma ngik-ngik.
Wulandari keluar dari kamar. Muka nya kusut, baru bangun.
"Ribut apa sih? Ibu baru tidur—" Wulandari berhenti. Liat Lestari. Liat Antoni.
"Oh. Udah pulang? Cowo ya?" tanya Wulandari datar.
Lestari ngangguk pelan. "I—iya, Mamah. Cowo. Nama nya Antoni—"
"Ya udah lah." Wulandari nyamber gelas di meja, minum air putih. "Sekarang malah nambah beban. Susu bayi mahal tau! Pampers juga mahal! Lo pikir kita kaya?!"
"Aku... aku bakal kerja lagi, Mamah... aku bakal cari uang buat—"
"Kerja? Lo abis melahirkan! Masa mau kerja sekarang?!" Wulandari ketawa—ketawa sinis. "Ya udah deh. Kerja aja. Gue nggak peduli. Yang penting jangan ngemis ke gue!"
Wulandari balik ke kamarnya. Pintu ditutup—nggak dibanting, tapi tetep keras.
Dyon duduk di sofa. Nyalain TV. Acara sinetron sore—suara nya keras banget.
Lestari masih berdiri di tengah ruang tamu. Gendong Antoni yang nangis. Nggak tau harus ngapain.
"A—aku... aku masak dulu ya..." kata Lestari pelan.
Dyon nggak jawab. Cuma natap TV. Kayak Lestari nggak ada.
Lestari ke dapur. Gendong Antoni pake kain gendongan seadanya—kain batik lusuh yang dia iket ke badan. Antoni di depan dada, kepala nya nyender ke dada Lestari.
Dia mulai masak. Nyalain kompor. Masak nasi. Masak sayur. Tangan nya gemetar—masih lemah abis melahirkan. Punggung nya sakit—menggendong bayi plus berdiri lama bikin sakit.
Tapi dia tetep masak. Karena kalau nggak masak, nanti dimarahin.
Antoni nangis terus. Nangis lemah. Mungkin laper. Mungkin haus.
"Bentar ya, Nak... Ibu bikinin susu dulu..."
Lestari ambil susu formula yang dikasih Bu Ratih. Baca instruksi di kertas—tuang air hangat ke botol, masukin bubuk susu tiga sendok takar, kocok.
Dia lakuin sesuai instruksi. Tangan nya gemetar waktu ngocok botol—takut salah, takut kebanyakan atau kekurangan.
Selesai. Susu jadi. Warna nya putih kekuningan.
Lestari menduduki Antoni di pangkuan—posisi setengah tiduran. Masukin dot botol ke mulut Antoni.
Antoni langsung nyedot. Nyedot kuat. Kayak orang yang udah laper berhari-hari.
Lestari nangis. Nangis lega. "Syukur... syukur kamu mau minum... syukur..."
Antoni minum sampe habis—seratus mililiter. Selesai, Antoni bersendawa kecil. Terus... tidur. Tidur dengan muka yang lebih tenang.
Lestari peluk Antoni. "Ibu sayang kamu, Nak... Ibu sayang banget..."
Tapi dari ruang tamu—
"LESTARI! MASAKANNYA UDAH MATENG BELUM?! GUE LAPER!"
Suara Dyon.
Lestari cepet-cepet berdiri. Baringkan Antoni di kardus kosong di sudut dapur—kardus yang dia alas pake kain bersih. Antoni tidur di situ.
Lestari lanjut masak. Cepet-cepet. Takut dimarahin.
Malam itu, sekitar jam tujuh.
Ada yang ketok pintu.
TOK TOK TOK.
Lestari yang lagi nyuci piring langsung berhenti. Siapa?
Wulandari buka pintu—malas-malasan.
"Siapa?"
"Assalamualaikum. Saya Markonah. Ibu dari Lestari."
Lestari langsung kaku. Ibu? Ibu nya datang?
Markonah—ibu Lestari—berdiri di depan pintu. Bawa kantong plastik. Muka nya... muka yang kelihatan lebih tua dari terakhir kali Lestari liat. Rambutnya lebih putih. Pipinya lebih cekung.
"Oh. Besan ya. Masuk." Wulandari buka pintu lebar.
Markonah masuk. Liat sekeliling—rumah yang sempit, jorok, bau apek. Mata nya berkaca-kaca.
"Lestari nya mana?" tanya Markonah pelan.
"Di dapur. Lagi nyuci piring. LESTARI! NYOKAP LO DATENG!"
Lestari keluar dari dapur. Tangan nya masih basah, penuh busa sabun. Liat ibunya.
"I—Ibu...?"
Markonah ngeliat Lestari. Lestari yang kurus kering. Yang pipinya cekung. Yang mata nya sembab. Yang... yang beda banget dari terakhir kali dia liat.
"Nak..." Markonah langsung nangis. Langsung peluk Lestari—peluk erat banget.
"IBU!" Lestari nangis juga. Peluk ibu nya balik. "Ibu kenapa datang? Ibu... Ibu nggak bilang—"
"Ibu dengar kamu udah lahiran. Ibu... Ibu nggak bisa nggak datang. Ibu harus liat kamu. Harus liat cucu Ibu..."
Mereka peluk lama. Nangis bareng. Wulandari cuma ngeliat dengan muka datar—nggak tersentuh sama sekali.
"Udah-udah. Jangan nangis-nangisan di ruang tamu. Malu. Sana ke kamar." Wulandari balik nonton TV.
Lestari bawa ibu nya ke kamar gudang. Markonah masuk—liat kamar yang... ya ampun.
"Ini... ini kamar kamu, Nak?" Suara Markonah gemetar.
"I—iya, Bu... ini kamar ku..."
Markonah ngeliat tikar lusuh. Selimut bolong. Kardus di sudut—di dalem kardus ada bayi kecil yang lagi tidur.
"Itu... itu Antoni?" Markonah jalan pelan ke kardus. Jongkok. Liat Antoni.
Antoni kecil. Kurus. Kulitnya keriput. Napas nya lemah.
"Ya Allah..." Markonah nangis. "Cucu Ibu... cucu Ibu kecil banget..."
"Antoni lahir dengan berat badan kurang, Bu... dokter bilang dia butuh perhatian ekstra... tapi... tapi aku... aku nggak tau harus gimana... aku nggak punya uang buat—"
"Ssshh... udah..." Markonah berdiri, peluk Lestari lagi. "Ibu bawa sedikit uang. Lima ratus ribu. Ini buat kamu. Buat beli susu Antoni. Beli vitamin. Beli apa aja yang kamu butuh."
Markonah keluarin amplop dari kantong plastik yang dia bawa. Amplop cokelat tipis. Dikasih ke Lestari.
"Bu... ini... ini darimana? Ini pasti uang simpanan Ibu kan? Ibu butuh buat—"
"Ibu nggak butuh. Kamu yang butuh. Antoni yang butuh. Ambil. Jangan nolak."
Lestari nerima amplop itu dengan tangan gemetar. Buka—dalem nya ada uang lima ratus ribu. Uang yang... uang yang sangat berharga.
"Makasih, Bu... makasih... Ibu... Ibu baik banget... aku... aku nggak tau harus balas gimana..."
"Nggak usah dibalas. Kamu sehat aja udah cukup. Kamu jaga Antoni baik-baik. Itu udah bales kebaikan Ibu."
Mereka duduk di tikar. Markonah mengelus rambut Lestari—rambut yang kusut, rontok.
"Nak... kamu... kamu bahagia nggak di sini?"
Lestari diem. Nggak bisa jawab.
"Ibu liat kamu kurus. Ibu liat kamu... kamu nggak kayak anak Ibu yang dulu. Dulu kamu masih suka senyum. Sekarang... sekarang mata kamu kosong. Kamu... kamu disiksa ya di sini?"
Lestari nggak jawab. Cuma nunduk. Air mata netes ke pangkuan.
Markonah ngerti. Nggak perlu dijawab juga dia udah tau.
"Ibu nyesel, Nak... nyesel banget... harusnya Ibu lebih berani waktu itu... harusnya Ibu ngelawan Bapak kamu... harusnya—"
"Bukan salah Ibu." Lestari ngangkat kepala, ngeliat ibu nya. "Ini salah Bapak. Salah... salah takdir. Tapi bukan salah Ibu."
Markonah nangis lagi. Peluk Lestari.
Mereka peluk lama. Sangat lama. Kayak nggak mau berpisah.
Tapi dari luar—
"MARKONAH! LO UDAH KELAMAAN DI SINI! PULANG SANA! Gue nggak suka ada tamu berlama-lama!"
Suara Wulandari. Keras. Jutek.
Markonah melepas pelukan. Ngelap air mata. "Ibu harus pulang, Nak. Tapi Ibu janji bakal datang lagi. Ibu bakal—"
"Ibu nggak usah datang lagi." Lestari pegang tangan ibu nya. "Nanti Ibu dimarahin Bapak. Nanti Ibu... Ibu kena masalah. Aku nggak mau Ibu kenapa-kenapa gara-gara aku."
"Tapi Nak—"
"Kumohon, Bu. Ibu jaga kesehatan Ibu. Itu udah cukup buat aku. Kalau Ibu sehat, aku... aku tenang."
Markonah ngangguk pelan. Meskipun hati nya nggak rela.
Dia berdiri. Cium kepala Lestari. Terus cium kepala Antoni yang masih tidur.
"Cucu Ibu... tumbuh sehat ya... Nenek doain kamu..."
Markonah keluar. Lestari nganter sampe pintu depan. Mereka berpandangan terakhir kali.
Pandangan yang penuh air mata.
Pandangan yang... yang mungkin jadi pandangan terakhir untuk waktu yang lama.
Markonah pergi. Jalan keluar gang. Punggung nya membungkuk. Langkah nya berat.
Lestari berdiri di pintu. Ngeliat ibu nya menjauh. Menjauh. Sampe hilang di tikungan gang.
Terus—
Pintu ditutup.
Lestari sendirian lagi.
Sendirian di rumah yang nggak pernah jadi rumah.
Sendirian dengan bayi yang nggak diharapkan siapa-siapa—kecuali dia.
Malam itu, Lestari duduk di tikar. Gendong Antoni yang lagi tidur.
Tangannya mengelus kepala Antoni pelan. Terus-terusan. Nggak berhenti.
"Nak... di dunia ini... kayaknya cuma kita berdua yang saling punya. Bapak kamu nggak mau ngaku kamu. Nenek kamu nggak peduli sama kamu. Nenek dari Ibu sayang kamu tapi dia jauh... nggak bisa bantuin kita..."
Antoni napas nya pelan. Damai. Nggak tau apa-apa tentang dunia kejam di sekitar nya.
"Tapi nggak apa-apa... Ibu ada. Ibu bakal jaga kamu. Ibu bakal jadi Ibu dan Bapak buat kamu. Ibu janji..."
Lestari cium kepala Antoni.
"Ibu sayang kamu, Antoni. Ibu sayang banget. Kamu... kamu satu-satunya alasan Ibu bertahan. Kamu tau nggak?"
Antoni tetap tidur.
Tapi kalau dia bisa jawab—
Mungkin dia akan bilang, "Ibu juga satu-satunya alasan aku bertahan."
Karena di dunia yang kejam ini—
Mereka cuma punya satu sama lain.
Dan itu... itu cukup buat bertahan.
Untuk saat ini.
lo yang kerja bukan cewek yang kerja kalo gitu lo pake daster aja biar cocok
istri kerja
Lo pake baju daster daleman bikini 😁