Aruna Putri Rahardian harus menelan pil pahit ketika ayahnya menuduh sang ibu berselingkuh. Bahkan setelehnya dia tak mengakui Aruna sebagai anaknya. Berbeda dengan adiknya Arkha yang masih di akui. Entah siapa yang menghembuskan fit-nah itu.
Bima Rahardian yang tak terima terus menyik-sa istrinya, Mutiara hingga akhirnya meregang nyawa. Sedangkan Aruna tak di biarkan pergi dari rumah dan terus mendapatkan sik-saan juga darinya. Bahkan yang paling membuat Aruna sangat sakit, pria yang tak mau di anggap ayah itu menikah lagi dengan wanita yang sangat dia kenal, kakak tiri ibunya. Hingga akhirnya Aruna memberanikan diri untuk kabur dari penjara Bima. Setelah bertahun-tahun akhinya dia kembali dan membalaskan semua perlakuan ayahnya.
Akankan Aruna bisa membalaskan dendamnya kepada sang ayah? Ataukah dia tak akan tega membalas semuanya karena rasa takut di dalam dirinya kepada sangat ayah! Apalagi perlakuan dari ayahnya sudah membuat trauma dalam dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Kembali Ayah! 6
"Ada apa lagi ini Tuan Bima? Kenapa anda kembali me-mu-kuli ibu saya? Bukankah selama ini saya sudah menuruti semua kemauan anda?" tanya Aruna saat pulang sekolah mendengar suara pukulan di kamar ibunya.
Satu bulan sudah berlalu dari saat dia bekerja di kantor Ayahnya. Bahkan setiap tiga kali dalam seminggu dia harus bekerja di sana menjadi Office girl.
"Pergi jika tak ingin aku juga melakukan hal yang sama padamu!" teriak Bima penuh emosi.
Entah apa lagi yang membuat pria itu kembali murka dan me-mu-kuli ibunya kembali seperti itu. Padahal keadaan ibunya baru saja membaik, baru saja sembuh dari lu-ka yang di sebabkan suaminya. Bahkan Bima juga setiap malam masih meminta haknya padahal dia sudah menuduh Mutiara yang tidak-tidak.
Siang itu, Bima kembali ke rumah karena ada berkas yang ketinggalan. Sebelum pergi, Bima masuk ke dalam kamar istrinya dan melihat dia sedang berusaha kabur. Karena itulah membuat Bima murka kepada Mutiara. Dia tak ingin Mutiara pergi begitu saja sebelum menebus semua kesalahannya. Bahkan dia harus besikap seperti ja-lang saat melayani suaminya. Pria macam apa Bima itu. Pria munafik yang Mutiara sesali pernah dia cintai. Dia tak bisa pergi dari pria yang memiliki sifat seperti Bima.
"Kenapa anda ingkar janji dan malah kembali berbuat jahat kepada ibu saya? Bukankah selama ini saya sudah melakukan semua perintah anda? Kenapa anda menyakiti ibu saya seperti ini!" teriak Aruna.
Dia masuk ke dalam kamar dan menolong ibunya yang tersungkur di teras dengan seluruh tubuhnya penuh lu-ka. Tatapan Aruna nyalang ke arah Bima. Bahkan matanya memerah menahan amarah.
"Berani sekali kau ikut campur urusanku dan wanita ja-lang itu! Dan kau berani melawanku dengan menatapku seperti itu Aruna? Pergi sebelum aku benar-benar memberikan pelajaran yang sama padamu!" teriak Bima murka.
"Jangan! Jangan lakukan hal itu kepada Aruna. Masa depan dia masih panjang. Jangan pernah sakiti fisiknya, cukup kau selalu menyik-sa batin anakku. Cukup sudah sedari kecil kau juga menyik-sanya menjadi seperti yang kau mau! Jika memang kamu mau me-mu-kul, pu-kul saja aku! Lakukan sesukamu sampai aku ma-ti! Jika itu bisa membuat kamu bahagia dan bebaskan Aruna. Biarkan dia keluar dari neraka mu ini!" Mutiara Menghalangi Aruna yang akan mendapatkan pu-ku-lan dari Bima.
"Aku tak akan mem-bu-nuhmu dengan cepat. Aku akan mem-bu-nuhmu secara perlahan. Itu sebanding dengan pengkhianatan yang sudah kau lakukan padaku, Mutiara!" geram Bima.
"Siapa? Siapa yang sudah mengatakan kebohongan itu padamu Bima? Bukankah sudah ku katakan kalau Aruna anakmu dan kau bisa melakukan tes DNA! Kau pria yang cerdas, kau pengusaha yang hebat! Tapi aku heran, kau bisa termakan oleh berita bohong yang bahkan tak kamu cek sendiri kenyataannya!" teriak Mutiara.
Chaaaat
Chaaa**at**
Bima mengayunkan ges-/per kembali ke punggung Mutiara yang melindungi Aruna. Bima tak bisa menjawab pertanyaan Mutiara. Dia selalu bungkam saat di tanya mendapat kabar dari mana.
"Aku tahu jika Tuan Bima tahu kalau dia bohong Bu. Dia melakukan semua ini karena benci memiliki anak pertemanan perempuan. Sehingga dia tak mau mengakuinya. Coret saja saya dari kartu keluarga anda Pak. Dan bukankah anda sudah mengatakan kalau saya bukan anak anda. Saya di sini bekerja sebagai pelayan rumah anda. Dengan jaminan tujuh tahun pembebasan saya secara bersayarat. Jadilah pria sejati dan tepati janji anda untuk tidak memukuli ibuku! Jangan menjadi pria Pecun-dang!" ucapan Aruna malah semakin menyulut emosi dari Bima.
Sreeeeettttt
Bima mendorong tubuh Mutiara yang menghalangi Aruna.
Chaaaat
Chaaaat
Dua pu-ku-lan sangat keras mengenai punggung Aruna. Dia tak menangis, dia menahan rasa sakit di punggungnya dengan sekuta tenaga. Ibunya mendekat sambil menjerit pilu, Bima sudah menjelma menjadi iblis untuk mereka berdua.
"Itulah hukuman karena berani melawan dan menentang ucapanku!" geram Bima dengan napas yang terengah-engah.
"Berpa hari pengurangan yang saya terima dari dua cam-bukan anda ini Tuan!" tanya Aruna berbalik dan berdiri menatap ke arah Bima yang melemparkan ges-/Pernya. Tangannya seketika gemetar saat mendengar pertanyaan Aruna.
"Nak ..." panggil Mutiara.
"Kami selalu melakukan kesepakatan Bu. Tujuh tahun akan berkurang. Aku ingin, kita segera bebas dari neraka ini. Dan ini sesuai dengan perjanjian yang Tuan Bima sepakati," jawab Aruna.
Dia mengusap punggung tangan ibunya yang gemetar hebat. Kedua wanita itu tak menangis, padahal punggung mereka penuh dengan cairan merah. Bima menatap tak percaya ke arah Aruna.
"Berapa hari Tuan Bima?" tanya Aruna.
"Tujuh hari!" jawab Bima pergi dari sana.
"Nak ..." Bu Mutiara memeluk anaknya dengan erat.
"Aku baik-baik saja Bu! Kita harus pergi bagaimana pun caranya dari sini. Waktu yang dia berikan terus berkurang jika aku melakukan semua tugas dan mendapatkan hukuman darinya. Ibu tahu sendiri kita tak bisa keluar dari dalam neraka ini secara cuma-cuma. Karena dia pasti akan terus mencari dan memburu kita, bahkan sampai ke liang semut," ucap Aruna mengusap air mata ibunya.
"Maafkan ibu yang salah memilih suami, maafkan ibu yang salah memilih ayah untukmu. Ibu kira dia pria lembut yang tak ringan tangan. Tapi nyatanya dia adalah monster berwajah baik," jawab Bu Mutiara.
"Bawa ini dan simpan baik-baik. Jangan sampai hilang atau jangan sampai ada satu orang pun yang tahu jika kemau memiliki liontin ini!" Bu Mutiara membawa liontin yang dia sembunyikan di antara tumpukan buku-buku yang ada di rak sana.
"Tolong keluar Nona! Tuan memerintahkan anda untuk segera pergi dari kamar Bu Mutiara!" salah satu penjaga berbicara di dekat pintu.
"Jaga dirimu baik-baik nak! Sekali lagi maafkan ibu. Kamu harus tetap hidup dan selamat, apapun yang terjadi, Nak!" ucap Bu Mutiara mencium kening anaknya.
"Aku sayang ibu. Aku pastikan kita akan keluar dari neraka ini bersama-sama. Aku kan berjuang sekuat tenagaku!" jawab Aruna mencium kedua tangan ibunya dan pergi dari sana karena penjaga terus memanggilnya keluar.
Aruna bahkan tak merasakan sakit di punggungnya yang terlu-ka parah. Hatinya jauh lebih sakit dari itu.
calon keluarga mafia somplak 🤣🤣🤣
mau anda apa sih Pak bima ,,
herman saya/Facepalm//Facepalm//Facepalm/