NovelToon NovelToon
Telat Nikah?

Telat Nikah?

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Lin_iin

Aku tidak peduli meski kini usiaku sudah menginjak angka 27 tahun. Yang katanya jika perempuan sudah berumur 27 tahun artinya Tuhan sudah angkat tangan dalam mengurusi jodohku. Aku juga tidak terlalu pusing dengan cibiran tetangga maupun Ibuku sendiri yang mengatakan diriku sudah terlalu tua, hanya untuk menjalani hubungan layaknya anak SMA yang masih saja pacaran.

Ibu bilang, alasanku tidak segera menikah karena aku yang tidak serius menjalin hubungan dengan Kenzo, pacarku. Padahal itu tidak benar. Aku serius, sangat serius malah menjalin hubungan dengannya.

Aku hanya belum siap. Ya, hanya belum siap, kami hanya butuh waktu untuk membuat kami yakin untuk naik ke pelaminan.

Menikah itu tentang kesiapan mental. Aku jelas tidak ingin menikah di saat mentalku belum siap. Aku tidak ingin ketidaksiapan mentalku mempengaruhi keluarga kecilku kelak. Tidak perduli jika usiaku sudah masuk kategori telat menikah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lin_iin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tragedi Memalukan

####

Semenjak kejadian kemarin, moodku masih sama kacaunya, bahkan mungkin bertambah kacau. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku. Aku bahkan hampir membuat Sandra menangis, hanya karena moodku yang sedang tidak bagus itu. Kerjaanku pun banyak yang tidak beres sehingga Mbak Husna menegurku.

"Mbak Qilla lagi ada masalah ya?" tanyanya seperti sedikit takut. Takut kalau melukai perasaanku, mungkin.

Aku hanya membalasnya dengan tersenyum kecil. Agak bingung juga mau jawab apa.

"Pulang aja ke Semarang, Mbak. Kan kemarin pulangnya cuma sebentar, mungkin kemarin belum puas," ujar Mbak Husna memberikan saran dengan hati-hati.

Aku kembali tersenyum, namun kali ini disertai gelengan kepala, tanda tak setuju dengan idenya. Yang benar saja Mbak Husna ini. Kalau aku pulang ke Semarang, yang ada aku pasti ditanya nikah terus sama orang rumah. Dan ikut bisa bikin aku tambah stress.

"Makasih sarannya, Mbak. Tapi kayaknya enggak deh. Kalau aku pulang ke Semarang, yang ada aku malah tambah pusing," balasku sambil terkekeh kecil.

Mbak Husna meringis, sambil menggaruk tengkuknya tak enak. Mungkin baru sadar akan kemungkinan yang aku maksud tadi.

"Iya, juga ya. Ya udah, jalan sama Mbak Lina aja atau Mbak Monik aja kalau gitu," usul Mbak Husna sekali lagi.

Aku lagi-lagi menggeleng tak setuju dengan idenya. "Lina lagi hamil besar, meski suaminya ngijinin, aku-nya yang takut ngajak dia kelur. Takut tiba-tiba mau lahiran pas kita lagi jalan. Kan ngeri, Mbak."

"Mbak Monik kalau gitu."

Monik? Aku aja lagi ngehindarin dia. Takut ditanya aneh-aneh sama itu emak-emak. Ya kali ngajakin dia pergi. Bisa makin kacau urusannya.

"Mbak Husna lagi empet banget ya liat aku di sini?" tanyaku mencoba mengalihkan topik.

Dengan gerakan cepat, Mbak Husna menggeleng sambil mengibaskan kedua tangannya sedikit panik.

"Astaghfirullah! Enggak, Mbak. Serius."

Aku terkekeh geli kemudian berdiri. "Iya, bercanda, Mbak. Aku keluar deh. Tapi Mbak Husna nggak papa sendirian, Sandra sama Jihan belum tentu langsung pulang loh ini. Mereka kalau jajan kan lama."

"Wes semene gedene dhak yo ora wani to, Mbak."

Aku mengangguk. "Ya udah, aku ambil dompet sama hape dulu kalau gitu.

"Loh, mau ke mana, Mbak?" tanya Sandra saat aku sudah turun ke bawah sambil menggenggam dompet dan juga hape.

"Keluar. Diusir Mbak Husna mulu aku," gurauku membuat Mbak Husna cemberut.

Jihan pun langsung menoleh ke arah Mbak Husna dengan pandangan heran. Sementara Sandra hanya mengerutkan dahinya.

"Bercanda, Mbak. Aku mau ke toserba. Kalian nitip apa?"

Aku mengerutkan dahi heran saat melihat Jihan dan Sandra malah cemberut.

"Kenapa?"

"Kenapa nggak bilang kalau mau ke toserba sih, Mbak, tahu gitu kita tadi nggak jajan. Nitip Mbak Qilla aja. Kali aja bisa dapat gratis kan. Iih, Mbak Qilla nyebelin," protes Sandra dengan wajah kesalnya dan langsung diangguki setuju oleh Jihan. Sementara Mbak Husna hanya geleng-geleng kepala.

"Oke. Berarti nggak ada yang titip, ya?"

Hening. Tak ada jawaban. Membuatku tertawa sambil mangguk-mangguk mengerti sebelum keluar butik.

"Ya udah, aku pergi dulu. Assalamualaikum," pamitku kemudian berjalan keluar butik.

"Wallaikumsalam," balas mereka kompak. Meski nada bicara Jihan dan Sandra terdengar lesu.

***

Aku meringis, menatap beberapa pengunjung toserba yang berseliweran sambil mendorong stroller dan juga menenteng keranjaan belanjaan mereka. Sambil menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal, aku meraih keranjang belanjaan karena sudah terlanjur masuk. Sebenarnya aku merasa cukup konyol dengan sikapku saat ini.

Astaga. Mau ngapain aku di sini. Sedangkan beberapa kebutuhan sehari-hariku belum ada yang habis. Sambil menghela nafas pasrah, aku pun berjalan menuju ke bagaian rak khusus snack dan makanan ringan.

"Belanja juga?"

Aku lansung menoleh ke asal suara, untuk memastikan apakah pertanyaan itu ditunjukkan padaku atau bukan. Dan menemukan Reynand sedang tersenyum sembari mengangkat keranjang belanjaannya yang masih kosong.

Aku menatapnya datar selama beberapa detik, baru kemudian memilih langsung berbalik. Malas jika harus menanggapi candaan atau godaannya yang kelewat receh itu. Jengkel juga sih sebenernya jika mengingat Reynand sedang tertawa bahagia dengan perempuan yang tak ku kenal itu. Aneh memang, kenapa juga aku harus merasa kesal. Padahal jelas-jelas aku punya Kenzo.

Ahh. Sepertinya aku sedang tidak waras.

Dan aku harus segera kabur, jika tidak ingin semakin tidak waras. Namun, sepertinya aku sedang tidak beruntung. Terbukti saat aku baru hendak melangkahkan kakiku. Aku secara tiba-tiba merasakan sesuatu menabrak punggungku dengan cukup keras. Membuatku ingin mengumpati siapa yang menabrakku.

"Maaf," bisik si pelaku, yang langsung ku tahu itu adalah suara milik Reynand.

Aku mengeram jengkel, saat merasakan kedua bahuku dicengkram olehnya, saat aku hendak berbalik.

"Tetap seperti ini," perintahnya masih dengan suara berbisik.

Aku menoleh ke arahnya, tanpa membalikkan badan. Menatapnya galak, meminta penjelasan. Namun yang ku dapatkan hanya senyum cengengesan yang Reynand berikan. Membuatku makin kesal dengan sikap kurang ajarnya saat ini. Ini orang maunya apa sih? Heran aku. Hobi banget gangguin orang.

"Sebenarnya apa yang sedang coba kamu lakukan?" tanyaku putus asa.

Alis Reynand mengernyit. "Saya? Hanya berniat membantu," jawabnya santai.

"APA?!"

"Pelankan suara kamu, jika tidak ingin menjadi pusat perhatian."

Aku mendengkus. Merasa konyol dengan kalimatnya barusan. Kemudian tertawa tak habis pikir. Mengingat perlakuannya saat ini justru yang membuatku jadi pusat perhatian dan mendapatkan bisik-bisik dari para ibu-ibu yang sedang berbelanja. Apa dia tidak sadar akan hal itu?

"Saya rasa sikap kamu sekarang ini jelas lebih berpotensi membuat saya menjadi pusat perhatian," ujarku sengaja menyindirnya.

"Bukankah itu lebih baik. Daripada harus menjadi pusat perhatian karena tembus," bisiknya sangat pelan, tepat di telinga kananku.

Aku bisa merasakan aroma mint saat dia membisikkan kata-kata itu. Membuat bulu kudukku berdiri secara reflek. Sial. Aku mengumpat dalam hati. Saat baru sadar jika jarak kami sangat dekat, sehingga aku bisa mencium aroma parfum yang dia pakai, meski aku tidak terlalu paham merk apa yang dia pake. Yang jelas mampu membuat akal sehatku makin menggila karena telah membayangkan yang iya-iya.

Astaghfirullah. Aku beristighfar dalam hati. Mencoba mengusir pikiran gilaku ini. Aku bahkan sampai tidak sadar dengan apa saja yang Reynand katakan tadi.

Reynand memiringkan wajahnya, meneliti wajahku dengan alis terangkat heran. Sementara aku harus menelan ludahku dengan susah payah karena gugup.

Aduh. Jantung. Plis! Jangan norak. Berdetaklah sesuai irama. Karena itu bisa jadi masalah jika pria yang berada tepat di belakangku ini tahu, kamu sedang berdisko dengan irama yang tidak wajar di dalam sana.

"Ini aneh," gumannya bingung.

Aneh?

Apanya yang aneh? Sekarang giliran aku yang bingung.

"A.apanya yang aneh?" tanyaku gugup.

"Kamu berdarah."

"Ha?" Aku melongo.

"Celana kamu ada darahnya. Di bagian belakang. Dan sepertinya itu darah haid. Kamu sedang datang bulan?" tanya Reynand.

"APA?!" pekikku panik.

Maksudnya aku tembus? Mampuslah aku. Pantesan aku merasa tak nyaman pada daerah perutku. Terus aku harus bagaimana?

"Tidak perlu berteriak, Aqilla! Suara kamu terdengar sangat kencang karena kita berdekatan. Kamu jelas tidak ingin mempunyai suami yang tuli bukan?"

"Kamu masih bisa bercanda?" tanyaku tak percaya.

Ini orang benar-benar ya. Gemas aku lihatnya. Pengen banget jambak rambutnya karena candaan recehnya.

Tanpa rasa bersalah Reynand mengangguk. "Kamu tidak perlu panik! Saya akan membantu kamu keluar dari sini lalu mengantarkan kamu pulang dengan selamat. Tenang saja. Saya akan terus di belakang kamu. Percaya dengan saya!"

Aku diam. Tidak tahu harus bagaimana. Bingung sekaligus panik. Apa dengan keberadaannya di belakangku begini bisa menyamarkan bercak noda darahku?

"Kamu hanya perlu percaya dengan saya, Aqilla!"

Karena panik dan tak tahu harus berbuat apa, aku pun hanya bisa mengangguk pasrah. Kedua mataku sudah memerah, seperti ingin menangis.

Astaga.

Sial banget aku hari ini.

Tbc,

Huakakaka, nggak ada yang baca tapi masih tetep nyempetin diri buat update?

Ya, itulah saya😄.

1
Sheety Saqdiyah
gaya bahasa & penulisannya ok, jd nyaman bacanya..
sayangnya baru nemu di penghujung tahun ini..
Ulil Baba
kalau gk gitu nikah udah lama tapi belum hamil pasti banyak yang tanya gitu udah bati durung /udah isi belum,, gimana perasaan mu
Jessica
Luar biasa
Lia Kiftia Usman
itu bedanya rey dan kenzo...
Lia Kiftia Usman
gpp kali...harga menunjukkan kwalitas Alhamdulillah uang hilang gantinya ruko daripada uang hilang ikutan 'judol'..ups🤭
Lia Kiftia Usman
sip... harus itu..memahami rasa menjadi pihak ibu...
Lia Kiftia Usman
aq baca ulang thor karyamu...
Lia Kiftia Usman: siap..
total 2 replies
Quinn Cahyatishine
Luar biasa
Quinn Cahyatishine
aku baca ulang udah agak lupa jalan ceritanya,krn udah lama banget, 🤭
Vie ardila
Luar biasa
Afnina Helmi
udh gk keitung berapa kali aq mampir kesini, krn seseru ini cerita ny
yani djamil
bagus banget, bacanya enak, mengalir tdk ribet, kosa katanya jg bagus, syg terlambat nemunya, semangat Thor /Drool//Good/
yani djamil
bagus banget..enak bacanya, serasa denger org ngobrol...syng baru Nemu..uwun teh ShaNti udh d tunjukin novel yg bagus.. semangat Thor /Good//Pray/
Lina Herlina Hardjati
cuusss
Lilis Rosmayati
ga sk sm qilla. kasian sm kenzo yg bgitu baik. kesha bener nikah ato tinggalin . ngegantung ank orng si qila. nyebelin
Rozzy Haris
ko aku kaya ga ikhlas ya kalo ga sama Kenzo Aqila nya
Alea
ya udah deh Kenzo nya buat aku aja.
gemes banget sama Qila.cowok sebaik sesabar itu kok ditolak nikah.
Kenzo juga,kayak nggak ada cewek lain aja yg mau dinikahin
Alea
baca novel ini karna liat di...di profil mom Shanti.
Di profil ya namanya?
atau apalah namanya🤔pokoknya intinya tau novel ini karena liat mom Shanti yg promosiin.
maciw mom Shanti
Arha🥰: sma kak 😁
iseng buka profilny kak shanti niat cari rekomendasi novel yg bagus, eh nemu ini😁
total 1 replies
Alea
kalau aku diajak nikah sama laki laki kayak Kenzo langsung mau aja dong jangan sampai dia capek nunggu aku siap,terus malah kecantol cewek lain
Oetaribardaini
Masha Allah baru novel yg seru di Noveltoon kyk gni bagus banget ...
Arha🥰: bener kak, alurny spt nyata g terlalu d buat2 kyak novel laennya..
mgkin ad judul novel yg bsa d rekomendasikan kak😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!