"Mumpung si tuli itu tidur, kamu harus mengambil barang berharganya." Ucap seorang wanita tua dengan dandanan menor yang sedikit menggelikan.
"Benar itu Mas, sebelum kamu beraksi pastikan alat pendengarnya sudah kamu buang." Ucap seorang gadis muda yang tidak kalah menor dari wanita yang ternyata Ibunya.
"Baiklah, kalian jaga pintu depan."
Suara dari dua wanita dan satu pria terdengar lantang untuk ukuran orang yang sedang merencanakan rencana jahat di rumah targetnya. Tapi siapa yang peduli, pikir mereka karena pemilik rumah adalah seorang wanita bodoh yang cacat.
Jika bukan karena harta kekayaannya, tidak mungkin mereka mau merendah menerima wanita tuli sebagai keluarganya.
Candira Anandini nama wanita yang sedang dibicarakan berdiri dengan tubuh bergemetar di balik tembok dapur.
Tidak menyangka jika suami dan keluarganya hanya menginginkan harta kekayaannya.
"Baiklah jika itu mau kalian, aku ikuti alur yang kalian mainkan. Kita lihat siapa pemenangnya."
UPDATE SETIAP HARI!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setelah Panggung Dibongkar
Pagi itu, tenda pernikahan di depan rumah Juragan Karsa yang kemarin siang masih gemerlap berubah seperti bangkai pesta yang ditinggalkan. Balon-balon kempis tergolek di sudut ruangan, aneka bunga melayu layu, dan sisa pita putih bergelantungan seperti saksi bisu dari sebuah kebohongan yang gagal disempurnakan.
Kehidupan tidak berhenti di sana.
Di Kantor Polisi Sektor, lampu neon menyala tanpa kompromi. Tidak ada dekorasi. Tidak ada musik. Tidak ada kebaya putih yang bisa menipu mata.
Hanya fakta.
Dira duduk di bangku bersama Bu Dinda dan Pak Usman. Naufal berada di antara mereka, memeluk sebuah tas kecil berisi botol minum dan mainan rusak yang sudah menemaninya sejak lama. Wajah anak itu masih tenang, terlalu tenang untuk anak seusianya. Seolah dunia telah mengajarinya terlalu cepat tentang diam dan dewasa.
Seorang penyidik perempuan keluar dari ruangan pemeriksaan, membawa map tebal.
"Bukti awalnya sudah sangat kuat," katanya dengan nada profesional. "Rekaman, dokumen, saksi, dan alur transfer. Dan masalah ini tidak akan berhenti di satu nama." Lanjutnya.
Dira mengangguk pelan, karena dia sudah menduga akan ada konsekuensinya.
"Apakah setelah ini keluarga korban akan aman?” Tanyanya Dira singkat.
"Kami sudah koordinasi dengan unit perlindungan saksi." Jawab penyidik. "Mulai hari ini, mereka berada dalam pengawasan meskipun kembali ke rumah."
Bu Dinda menutup wajahnya, bahunya bergetar. Pak Usman menggenggam tangannya. Ada rasa haru dan rasa syukur atas kedatangan Dira yang tiba-tiba membantu masalah yang sudah lama tertimbun oleh keputusasaan.
"Terima kasih..." Ucapnya parau. "Kami tidak tahu bagaimana cara membalasnya."
Dira menggeleng pelan. "Ibu tidak berhutang apa-apa pada saya. Yang berhutang adalah mereka yang selama ini terus memegang kuasa."
Di luar gedung, langit tampak pucat. Tidak hujan, tidak cerah. Netral. Seperti menunggu keputusan besar.
Di sisi lain, Juragan Karsa duduk di ruang kerjanya yang luas. Meja jati mahal itu kini terasa sempit. Tangannya gemetar saat membaca pemberitahuan pemanggilan resmi.
Penyalahgunaan wewenang, intervensi laporan medis, dugaan intimidasi saksi.
Huruf-huruf itu nampak seperti paku.
"Ini pasti kerja Dira." Gumamnya geram.
Dia meraih ponsel, menekan nomor seseorang yang selama ini menjadi bayangannya. Orang yang biasa membereskan hal-hal kotor dengan senyap.
Namun panggilan itu tak pernah terangkat.
Dia mencoba nomor lain.
Tidak aktif.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Juragan Karsa merasakan sesuatu yang asing. Sendirian, karena tidak ada yang bisa dihubungi.
Kekuasaan, yang selama ini dia anggap permanen, ternyata hanya bertahan selama orang-orang memilih diam.
Dan kini, diam telah berakhir.
Mirna terbangun di kamar yang sunyi. Riasan dibersihkan secara kasar semalam. Rambutnya acak, mata bengkak.
Gaun pengantin masih tergantung di sudut kamar, terbungkus plastik bening. Putih dan Bersih. Seolah mengejek.
Dia duduk perlahan, kepalanya berdenyut. Ingatan tentang pelaminan, layar besar, dan tatapan Erlangga datang bergelombang.
"Kamu sudah hancur." Ucapnya berulang.
Mirna menutup telinganya, tapi tidak ada hearing aid Dira yang dibuang ke semak kali ini. Tidak ada siapa pun yang bisa dia hina seenak hatinya hanya untuk merasa lebih tinggi.
Pintu kamar diketuk dengan keras.
"Mirna! Bersiap! Kita akan ke kantor pengacara!" Suara Juragan Karsa terdengar tegang, tidak lagi berwibawa.
Mirna bangkit, berjalan tertatih, lalu berhenti di depan cermin.
Untuk pertama kalinya, dia menatap dirinya tanpa topeng.
Yang dia lihat bukan korban.
Yang dia lihat adalah seseorang yang memilih jalan pintas, lalu membungkusnya dengan alasan.
"Terpaksa..." Bisiknya pelan.
Namun bahkan hatinya sendiri menolak kata itu.
Mirna tahu, di satu titik saat enam tahun yang lalu. Sebenarnya dia masih bisa berhenti.
Dia masih bisa berkata jujur. Tapi dia memilih kenyamanan, memilih perlindungan, memilih kekuasaan. Dan setiap pilihan itu kini menagih harga.
Erlangga berdiri di beranda rumah kontrakannya yang baru ditinggali. Dua koper masih teronggok di lantai. Sengaja tidak dia rapikan, karena niatnya memang mau pergi menjauh setelah menikah dengan Mirna.
Kopi di tangannya sudah dingin, belum tersentuh. Matanya menatap halaman kosong.
Ibu angkatnya datang perlahan, berdiri di sampingnya.
“Kamu tetap harus menikahi Mirna.” Ucap perempuan itu.
Erlangga menghembuskan napas panjang. "Maaf, kali ini saya akan tetap pada pendirian saya untuk membatalkan pernikahan konyol ini. Saya tidak pernah mencintai Mirna. Dan saya tidak ingin dijadikan tumbal kebohongannya. Saya akan tetap pergi, Bu."
"Dan..." Kedua manik mata Erlangga menatap Ibu angkatnya lebih lama.
"Saya akan bayar balas budi kalian dengan cara yang lain." Ucap Erlangga sudah mantap pergi.
"Ibu tahu, kamu menginginkan Dira. Dan itu tidak akan pernah terjadi setelah apa yang diperbuatnya." Ucap Bu Ningsih menatap tajam.
"Dira sudah lancang mempermalukan keluarga kita dan menghancurkan impian Mirna, maka dia akan menerima akibatnya." Ucapnya lagi, kemudian berbalik pergi meninggalkan Erlangga yang mengepalkan tangannya.
Ponselnya bergetar. Nomer tidak dikenal muncul di layar.
"Ya halo?"
"Aku sudah membantu sebisa yang aku lakukan." Kata Dira singkat. "Dan... Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja, Kak."
Erlangga terdiam sesaat, lalu berkata. "Terima kasih sudah tidak diam."
"Diam bukan berarti tidak bergerak, dan aku hanya membantu menegakkan keadilan saja." Jawab Dira pelan.
"Diam sering kali berpihak pada yang kuat."
Panggilan berakhir.
Erlangga menatap langit. Untuk pertama kalinya sejak lama, dia merasa ringan. Kehilangan, ya. Tapi bukan kehancuran.
Berita menyebar cepat.
Media lokal mengangkat kasus itu. Netizen membongkar jejak digital. Nama Mirna menjadi tajuk, tapi bukan dia satu-satunya yang disorot. Rumah sakit, pejabat, bahkan yayasan yang selama ini tampak dermawan ikut diseret.
Satu demi satu, topeng jatuh.
Ada yang jauh lebih penting, kejutan terakhir yang Dira berikan.
Sebuah dokumen dan pengakuan dari pihak terkait yang menyatakan bahwa. Ijazah sarjana keperawatan Mirna, PALSU.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Bu Dinda dan Pak Usman akhirnya tidur tanpa rasa takut.
Naufal tertidur dengan lampu kecil menyala, memeluk mainannya. Untuk pertama kalinya, dia tidak terbangun karena mimpi jatuh yang berulang kali.
Dira berdiri di depan jendela kamarnya malam ini. Lampu bercahaya redup menyinari arena jalan di sekitar rumahnya.
Yang Dira tahu, bahwa dunia tidak akan runtuh karena satu pesta pernikahan gagal.
Tapi satu kejahatan telah kehilangan tempat bersembunyi. Dan itu cukup!
Dia tahu, jalan ke depan masih panjang. Proses hukum tidak selalu adil, hanya lebih jujur daripada diam. Akan ada tekanan, akan ada upaya balik menyerang.
Namun setidaknya, kini semua berjalan di bawah cahaya meskipun redup.
Dira mematikan lampu, lalu duduk. Bukan kemenangan yang dia rasakan. Hanya kelegaan yang terasa nyata.
Karena pada akhirnya, keadilan bukan tentang menjatuhkan seseorang dari atas panggung sandiwara yang terlihat megah.
Melainkan tentang memastikan korban tidak lagi sendirian dalam kegelapan malam.
Dira bukan anggota penegak hukum, dia hanya perempuan tanggung yang benci ketika ketenangannya mulai diusik.
Dan Dira punya uang untuk memukul mundur semua lalat pengganggu.
padahal sedang suka sukanya baca kisah si mbim 😂
mbim panggilan yg manis menurutku 😂
biarkan semua berjalan sebagai bagian dari alur yang memang harus dijalani
jangan menghindar atu menjauh, rasakan setiap rasa yang datang, marah kecewa kesal sakit hati sebagian bagian dari alur
sulit memang tapi justru itu membuat kita nyaman karena kita jujur .✌️💪
Dalam budaya Indonesia, konsep pulang seringkali dikaitkan dengan kampung halaman, keluarga, dan akar identitas. Pulang bukan sekadar aktivitas berpindah tempat, tetapi juga mengandung makna filosofis yang dalam. Pulang bisa berarti kembali pada nilai, kembali pada Tuhan, kembali pada diri sendiri, atau bahkan kembali pada tujuan hidup yang sejati.
Pulang memiliki makna universal, tetapi setiap individu menginterpretasikannya dengan cara yang berbeda. Ada yang memaknai pulang sebagai sebuah perasaan lega setelah perjalanan panjang, ada yang melihatnya sebagai jalan kembali ke akar budaya, dan ada pula yang menganggapnya sebagai pertemuan kembali dengan diri yang hilang. Makna pulang selalu melekat dengan rasa aman, damai, dan penerimaan...😊👍💪