Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.
Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.
Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.
“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.
Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waras
Sasa berjalan mondar-mandir di depan kamar Dirga setelah di bentak saat meletakan barang-barang miliknya dari Kara. Wanita yang tadinya calon kakak iparnya itu sudah dengan jelas memberi batas jika saat ini perjodohannya dengan Dirga sudah berakhir. Sasa tak paham apa yang terjadi selama dirinya mengikuti kegiatan pramuka selama dua hari satu malam. Baru semalaman tak pulang saja keadaan keluarganya sudah acak kadul.
Bisa Sasa pastikan kesalahan yang dilakukan kakaknya saat ini pasti fatal, mengingat Kara yang biasanya kebal akan sikap dingin Dirga saja sampai terang-terangan memutuskan hubungan dan tak bisa dibujuk.
“Tau ah bodo amat. Kak Dirga juga nggak bakal bunuh diri kan?” ocehnya sendiri seraya menuruni tangga untuk menemui daddy nya dan bermanja-manja dengan lelaki yang menurut Sasa paling segalanya. Meski tak dipungkiri sebenarnya dia khawatir setengah mati pada Dirga, apalagi mengingat cerita mommy nya sebelum ia tidur siang tadi. Kakaknya sampai belum mandi dari kemarin.
Sasa menghampiri daddy Ardi yang sedang sibuk dengan tablet di tangannya, meski hari libur tapi tetap ada beberapa hal yang harus ia periksa.
“Daddy.” Panggil Sasa seraya mendudukan diri di samping daddy Ardi dan bersandar pada bahunya, manja.
“Putri daddy udah bangun.” Daddy Ardi meletakan tabletnya ke meja, sebelum di protes Sasa karena masih terus kerja meskipun weekend telah tiba. “Gimana pramukanya? Seru nggak?”
“Perjodohan Kaleng sama Kak Dirga beneran dibatalin, Dad?” bukannya menjawab pertanyaan daddy nya, dia justru balik bertanya.
“Jawab dulu dong pertanyaan daddy.” Gemas, daddy Ardi mencubit hidung mancung Sasa.
“Pramuka ya gitu-gitu aja, Dad. Biasa pagi-pagi upacara pembukaan terus siangnya menjelajah, sorenya diisi materi kepramukaan sama game-game gitu. Seru seperti biasa, kecuali acara malemnya yang Sasa nggak suka.”
“Kenapa? Bukannya seru ada api unggunnya?” tanya daddy Ardi.
“Kesel aja, Dad. Pas siang Sasa dapet kakak senior pembimbing yang cakep, baik lagi. Perhatian banget sama Sasa. Namanya Kak Justin, Dad. Tinggi, hitam manis gitu deh. Sasa sampe pura-pura sakit pas kegiatan menjelajah biar nggak cape, terus di UKS deh di temenin kak Justin. Eh malemnya malah dapat kakak pembimbing cewek yang judesnya minta ampun. Sasa salah mulu deh di mata dia, Sasa yakin itu kakak-kakak demen sama kak Justin deh tapi kak Justin nya demen sama Sasa.”
“Aw... Aw... sakit, Dad!” keluh Sasa saat daddy nya menjewer telinganya.
“Syukurin! Abis baru kelas 1 SMA aja kamu malah main-main. Bukannya ikutin kegiatan yang bener malah modusin senior!” Daddy Ardi kembali menjewer telinga Sasa.
“Siapa juga yang modus, Dad? Sasa tuh cuma jaga diri supaya nggak kecapean terus sakit. Kan kasihan mommy sama daddy kalo Sasa sakit pasti pada khawatir semua. Makanya Sasa pura-pura kecapean aja. Semua karena Sasa sayang sama mommy sama daddy juga.” Jawab gadis itu beralasan.
“Bisa aja alesannya nih putri daddy. Sekolah yang bener jangan ngurusin cinta-cinta mulu, masih kecil juga. Daddy aja dulu sekolahnya rajin bela-belain jauh dari orang tua biar mandiri.” Daddy Ardi. mengusak gemas rambut Sasa.
“Biar mandiri apa demi ngejar mamanya Retha?” sindir mommy Miya yang baru saja bergabung. Retha itu anak dari kakaknya daddy Ardi, Arka. Pemuda yang menikahi perempuan yang menjadi incaran adiknya. (yang belum tau kisah Ardi, Miya, Freya, Arka bisa banget baca JODOH DARI GC).
“Heh? Emang daddy pernah ngejar tante Freya?” Mata Sasa langsung berbinar antusias kalo dengar soal cinta-cinta.
Sst!! Daddy Ardi meletakan jari telunjuknya di bibir, memberi isyarat supaya istrinya tak membuka masa lalu mereka.
“Iya lah sampe bela-belain jauh-jauh sekolah SMK di Yogyakarta padahal di Bandung aja banyak.” Balas mommy Miya yang tak mengubris isyarat suaminya.
“Ih Daddy nakal yah sampe pindah sekolah segala.” Ejek Sasa pada daddy nya. “Sasa juga mau dong Dad pindah ke sekolah Kaleng, temen Kaleng yang tadi ganteng banget, Sasa jatuh cinta pada pandangan pertama.” Lanjut gadis itu sambil cengar-cengir tak jelas.
Daddy Ardi dan Mommy Miya saling pandang dan kompak memutar bola matanya, jengah. Sikap anak kedua mereka memang berbanding terbalik dengan anak pertamanya, jika Dirga sulit mengungkapkan perasaan, maka Sasa bisa mengungkapkan perasaannya kapanpun, dimana pun dan pada siapapun.
“Kalo ketemu orang ganteng langsung aja kamu tuh jatuh cinta pada pandangan pertama, padahal udah nggak tau pandangan yang keberapa.” Ucap daddy Ardi. “waktu SMP kamu bilang jatuh cinta sama Ridwan, terus pernah juga bilang jatuh cinta sama temen kakak kamu pas kerja kelompok disini, waktu ikut ke kantor daddy kamu bilang cinta juga sama anak magang, sekarang tinggal temen Kara jadi sasaran. Ini bibir gampang banget sih bilang cinta.” Daddy Ardi mencubit gemas bibir putrinya.
“Aduh dad sakit atuh. Dari pada nggak diungkapin ntar jadi tekanan batin, Dad. Kayak kak Dirga tuh, ih serem. Cinta dipendam malah otw gila.” Balas Sasa.
“Hush! Kalo ngomong jangan asal ceplos, masa kakak sendiri dikatain otw gila. Udah panggil kakak kamu sana, kita makan malam. Seharian dia nggak keluar kamar.” Ucap Mommy Miya.
“Nggak mau ah, Mom. Sasa takut kena mental. Kakak lagi mode galak.” Tolak Sasa, gadis itu ngeluyur pergi ke ruang makan sambil menarik daddy nya.
“Ya udah biar mommy ambilin makanan daddy dulu, terus manggil kakak kamu.” Balas Miya, ia mengikuti putri bungsu dan suaminya ke ruang makan.
“Eh?” Sasa menahan senyum saat tak sengaja bersitatap dengan Dirga begitu masuk ke ruang makan. Rupanya lelaki itu sudah makan malam lebih dulu, mungkin karena lapar sejak pagi tak makan apa pun. Pakaiannya sudah berganti dan wajahnya pun terlihat lebih segar.
Sasa menggeser kursi di sebelah Dirga, “wangi banget kakaknya Sasa. Udah mandi yah kak?” ledeknya.
“Sasa!” mommy Miya sedikit menggertak supaya Sasa tak mengganggu Dirga. “Jangan dengerin adek kamu, makan yang banyak. Mommy ambilin lagi yah?” sambungnya.
“Nggak usah, Mom. Aku udah kenyang kok.” balas Dirga.
“Mana ada makan dikit gitu udah kenyang, sini Sasa ambilin aja. Makan yang banyak kak, karena merjuangin cinta Kaleng sekarang nggak akan mudah. Kaleng kayaknya udah beneran move on, tadi Sasa bujuk aja nggak mempan.”
"Aku ke kamar dulu, mom.” Sasa mencebikkan bibir, sudah susah payah ia mau mengambilkan makanan malah dicuekin begitu saja oleh kakaknya.
Esok paginya Sasa yang baru bangun tidur pergi ke kamar Dirga. Seperti biasa ia langsung masuk begitu saja. Mengambil alih boneka besar warna pink yang ia bawa dari rumah Kara kemarin. Bukan tanpa alasan di hari libur seperti ini ia bangun pagi, semua ini gara-gara insiden rumah Kara kemasukan maling me sum membuatnya tak tidur tenang, takut malingnya masuk rumahnya sendiri.
"Wah kak Dirga tumben jam segini udah mandi?"
"Emangnya lo. Jorok! hari libur juga mandinya libur!" ejek Dirga.
"Nggak libur mandinya, cuma berhemat aja." balas Sasa tak terima.
"Terserah lo deh, Sa. Susah ngomong sama bocah kayak lo, ngeles mulu. Jorok ya jorok aja, cewek kok tiap sabtu minggu mandinya sekali sehari."
"Biarin! Sasa belum mandi juga tetep wangi." balasnya terus melawan kata-kata kakaknya.
Sasa lumayan lega melihat kakaknya sudah waras lagi pagi ini. Buktinya dia sudah pergi ke lapangan untuk berolahraga. Apalagi melihat kakaknya kembali berusaha mendekati Kara lagi.
"Kenapa sih mesti dibatalin perjodohannya dulu baru nyadar? heran!" gumam Sasa sambil menikmati bubur ayam. Jika kalian kira Sasa mengikuti Dirga ke lapang kompleks untuk berolahraga maka jawaban kalian salah, Sasa hanya sarapan disana.
aku jadi penasaran kayak apa ya Tama bucin sama Sasa🤔🤣🤣🤣