Sanas gadis manis yang baru menginjak usia 16 tahun. Nekat ke kota untuk mengubah perekonomian keluarga. Tapi sayang takdir berkata lain, Sanas harus menerima kenyataan pahit. Bagaimana tidak di katakan pahit, ia harus menikah dengan laki-laki dewasa yang sama sekali tidak ia kenal.
ikuti terus kisah Sanas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nhy Warni15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kis pertama
Detik demi detik, menit demi menit, hari pun demi hari. Tidak terasa pernikahan ku bersama tuan Devan telah memasuki 4 bulan, berarti pernikan kami hanya tinggal dua 2 bulan lagi. Ada perasaan tidak rela di hati ku, ketika waktu itu akan tiba. Di mana sekarang tuan Devan sudah tidak sedingin seperti waktu itu.
"Hemmm" Tuan Devan berdhem membuyarkan lamunan ku
"Eh tuan, sudah pulang?"
"iya, ini" tuan Devan memberi ku sebuah bingkisan
"Ini apa tuan?"
"Kamu buka saja Nas" ucap tuan Devan, mendekati ku. Jantung pun terasa loncat-loncat ketika menciumi aroma tubuh tuan Devan
"Bengong saja" Tuan Devan pun mengusap muka ku, karena aku hanya melihat tanpa membuka pemberian tuan Devan.
"Hehehe.. Tuan dari mana anda tahu kalau aku sangat merindukan makanan ini"
"Apa kamu suka?" tanya tuan Devan sambil menatap ku dengan senyuman manisnya.
"Tentu tuan, aku sangat menyukainya. Karena setiap pekan ibu selalu membuatnya untuk kami"
"Ya sudah, sekarang kamu makan" perintah tuan Devan. Dengan Cepat aku memakan makanan yang di bawa tuan Devan untuk ku, tanpa menghiraukan keberadaan tuan Devan. Itu lah aku jika sudah bertemu dengan namanya kue tat, aku akan melupakan semua yang ada di sekitar ku, karena aku sangat menyukai makanan has kota ku.
"Pelan-pelan Nas, tidak akan ada yang mau mengambil makanan mu itu"
"Hehe,, maaf tuan. Aku sangat merindukannya"
"Apa tuan mau?" tawar ku
"Gak, makan saja dengan mu" ucap tuan Devan, dalam hati ku alhamdulillah jadi masih ada jatah untuk ku besok.
"Ke napa senyum-senyum?" tanya tuan Devan.
"Tidak tuan. Aku hanya senang saja, bisa mencicipi kue paporit ku lagi"
"Ya tuhan, hanya di kasih kue tan. Sudah membuat mu sebahagia itu. Kamu memang gadis sederhana, mungkin bisa di katakan sudah tidak ada lagi gadis seperti mu di jaman sekarang" batin Devan dengan menatap Sanas yang sedangkan menyantap kue tan pemberian tuan Devan.
"Tuan " panggil ku,
"Iya Nas, lanjutin saja makannya. saya mau mandi dulu" pamit tuan Devan
"Tuan, aku siapin air nya dulu" ucap ku sambil berlari mengejar tuan Devan.
Aku pun memasuki kamar tuan Devan yang megah, untuk menyiapkan air mandi tuan Devan. Ketika aku ingin melangkah menuju kamar mandi, aku tidak sengaja melewati tuan Devan yang tengah berbaring di atas ranjang nya dengan telentang tanpa menggunakan pakaian, yang hanya di baluti dengan handuk. Aku terpaku melihat perut tuan Devan yang berbentuk kotak-kotak itu.
"Sudah puas memandangnya?" tanya tuan Devan
"Maaf tuan, aku tidak sengaja melihatnya" ucap ku, lalu pergi meninggalkan tuan Devan. Sedangkan tuan Devan senyum-senyum sendiri mengingat ekspresi ku yang ketahuan memandangnya
"Pasti tuan Devan berfikir kalau aku ini gadis mesum, dasar bodoh kamu Sanas" batin ku. setelah selesai pekerjaan ku, aku pun keluar dari kamar mandi dengan perasaan tidak jelas. Aku berjalan sambil menunduk karena tidak ingin melihat tuan Devan, aku masih sangat malu. Keberuntungan tidak berpihak dengan ku, justru aku mala menabrak tuan Devan.
"Aww" ringis ku, menahan sakit karena terbentur dengan tuan
"Mana yang sakit?" tanya tuan Devan, aku menggelang memberi jawaban. Aku tidak berani melihat ke arah tuan Devan, aku masih sangat malu. Muka ku saja sudah berubah menjadi warna merah akibat menahan malu. Ketika aku ingin pergi meninggalkan tuan Devan, dengan cepat tuan Devan manarik lengan ku, hingga aku terpojok di sudut tembok. Aku masih enggan menatap manik bola mata tuan Devan, aku benar-benar malu. Kalau aku bisa memilih untuk saat ini, lebih baik aku di telan bumi untuk sementara waktu.
"Cup" aku terkejut ketika ada sesuatu yang mendarat di bibir mungil ku, dengan keberanian aku membuka bola mata ku. Di mana tuan Devan sedang mencium bibir ku.
"Tuan...."Teriak ku, aku pun langsung menjulak tubuh tuan Devan, lalu pergi meninggalkan tuan Devan.
Bersambung...
Terimakasih kak yang sudah setia membaca karya ku. Jangan lupa like, komen, dan Vote yaj kaka