Jaka adalah sosok pemuda yang tidak biasa pada umumnya seperti pemuda lain kebanyakan. Terlahir sebagai putra dari pasangan Abah Wachid dan Umi Epi. Jaka mewarisi pengetahuan luas keagamaan dari sang Kuat sakti Mandra guna yakni Abahnya sendiri.
Ditengah tingkahnya yang kocak dan polos Jaka memiliki kepribadian lain yang ia sembunyikan dari kedua orangtuanya dan orang disekitarnya. Yakni kepribadian sebagai pemburu dan pemusnah roh halus.
Jaka juga tergabung dalam sebuah organisasi rahasia yang dibentuk oleh sang guru yakni Haji Kasturi seorang sosok kiai misterius dan sangat linuweh atau sakti tanpa tanding.
Bersama Putri kekasihnya yang pada akhirnya menjadi rekan Jaka memberantas ilmu hitam dan para setan yang menggoda manusia di kota Jombang dan sekitarnya.
Sang kekasih Putri adalah putri dari teman Abah Jaka yakni Abah Hadi juga sang kyai sakti dari kota Kediri.
Novel ini berkisah tentang perjalanan Jaka dan Putri dalam menegakkan Panji-panji Islam dan kebenaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cacak Endik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapat Rahasia Si Haji Gila
Di sebuah perbatasan kota Jombang dan Kediri tepatnya di desa Grenggeng di pinggiran waduk Rejosari tepat disebelah waduk nampak sebuah gubuk kecil.
Beratapkan daun Rumbia dan berdinding dari anyaman bambu berpenerangan lampu kecil sekiranya berdaya lima Watt karena daya terangnya yang begitu minim.
Nampak seorang lelaki paruh baya duduk bersila didepan gubuk beralaskan tikar kecil sedang asyik menyeruput kopi pahit yang ia seduh sendiri dengan alat seadanya.
Di sela-sela jemari tangan kirinya tepatnya diantara jari tengah dan telunjuk terselip sebatang rokok hampir habis tinggal separo mungkin sudah ia hisap beberapa saat lalu.
Ditangan kanannya nampak sebuah Al Qur’an kecil terbuka sedang ia lafadzkan tanpa suara tanpa gerakan bibir hanya matanya yang memandang kearah ayat per ayat dalam lembaran kitab suci peninggalan sang Nabi Muhammad tersebut.
Sesekali ia terlihat meneguk seduhan kopi di sebuah cangkir lama bercorak hijau dan hitam. Satu tegukan meluncur deras dalam tenggorokan bapak tua tersebut.
Bajunya yang nampak lusuh layaknya orang gila yang selalu lalu lalang dipinggir jalan membuat masyarakat sekitar menjulukinya Haji gila.
Malam itu ia nampak riang sambil melantunkan ayat-ayat Al Qur’an kali ini dengan lantunan merdu dan indahnya. Sebuah bayangan melesat melintasi air seakan bayangan tersebut berjalan diatas air sangat cepat bagai angin menuju arahnya. Lalu sampailah si empu bayangan tepat di hadapan Si Haji Gila.
Dengan santai ia menyambut Si Empu bayangan dengan ramah dan dengan tawa khas yang selalu ia tunjukkan, “Hai Ustad Bari tak patut seorang Ustad besar kota Jombang datang tanpa memberi salam dan memamerkan ilmu leluhur sepi angin yang ia miliki,"
Bukankah aku yang mengajarimu pengetahuan ilmu tersebut, hehehe,” kata Si Haji Gila menatap Si Empu bayangan yang ternyata adalah Ustad Baru salah satu Ustad terkemuka di Kota Jombang.
“Assallamualaikum ya Guru ku Sang Kiai gila, yang terhormat di sisi Allah Pak Haji Kasturi,” Ucap Ustad Bari memberi salam seraya mulai duduk di depan Pak Haji Kasturi Si Haji Gila.
“Waallaikumsalam, wahai Ustad Bari,” jawab Haji Kasturi sambil menyodorkan segelas Kopi hitam sebuah minuman Wajib kala bertandang ke gubuknya.
“Ada apakah gerangan Abah Guru kita tercinta hendak mengadakan rapat besar malam ini?,” tanya Ustad Bari.
“Bersabarlah anak muda yang lain belum datang biarlah semua berkumpul dahulu. Baru akan aku jelaskan maksud dan tujuanku?,” kata Haji Kasturi menjelaskan.
“Assalamualaikum Pak Haji Guru,” terdengar suara seseorang yang berjalan dari arah depan gubuk tepatnya dari arah lebatnya pepohonan yang memanjang di tepi bendungan, dia adalah Haji Gofur salah satu pendiri Pondok pesantren terkemuka di Kota Jombang.
“Waalaikumsalam Adi ku Haji Gofur, mari silahkan duduk dan ini jamuannya,” kata Haji Kasturi kembali mengulurkan segelas kopi hitam.
Tiba-tiba angin berubah menjadi sangat kencang sehingga membuat pepohonan nampak bergoyang-goyang kesana kemari.
“Emm... kalau ada angin berjalan seperti ini aku tau siapa yang akan datang. Pasti pemuda dari hutan Wonosalam Gus Lukman,” kata Ustad Bari yang sangat mengenal sosok dan ke ilmuwan Gus Lukman karena sama-sama nyantri dulu pada Haji Kasturi.
“Assallamualaikum,” Angin berubah menjadi sesosok pemuda gagah nan rupawan benar rupanya tebakan Ustad Bari. Gus Lukman datang memberi salam.
“Waallaikumsalam,” kali ini dijawab dengan serempak oleh semua yang hadir.
Kini gantian sebuah cahaya kilat seperti panah menyambar dari langit begitu terang pas jatuh didepan gubuk tepat didepan Haji Gofur.
“Astagfirullah, ini anak selalu saja kalau datang mengagetkan ku,” kata Haji Gofur.
“Assalamualaikum,” ucap Ustad Duwi yang baru datang dengan mengambil sosok kilat menyambar.
“Waallaikumsalam,” jawab Haji Gofur dengan sedikit kesal.
“Jangan marah Pak Haji, ingat darah tinggi, aku Cuma bercanda,” ujar Ustad Duwi seraya ikut duduk.
“Sudah di mulai toh diskusinya,” kata Ustad Duwi.
“Tenang nak Duwi belum datang dua orang,” jelas Haji Kasturi.
Herrrrr... Aom.... Oam...
Terdengar suara macan mengaung dari kejauhan seekor macan putih melesat menuju arah gubuk perlahan mendekat berubah menjadi sesosok manusia.
“Emm... Ustad Macan Pamer!!,” Celetuk Ustad Bari.
“Assalamualaikum,” ucap Ustad Macan yang tidak lain adalah Ustad Pendik salah satu Ustad dari desa Banjar Dowo sebelah barat kota Jombang.
“Sudah pada kumpul ya,” ucap Ustad Pendik
“Belum tinggal satu bocah paling muda namun memiliki pengetahuan layaknya bakat langsung dari Allah anak ku Jaka,” ujar Haji Kasturi yang menganggap semua murid sebagai anaknya.
“Ia, iya ya,” Ucap Ustad Bari.
“Kamu Jangan iri Ustad Bari, selama ini yang mendapatkan pengetahuan dari Pak Haji Kasturi kan Kamu, Nak Jaka kan Cuma disuruh-suruh bukan diajari mengaji hehehe,” kata Gus Lukman yang memang bersama Jaka dan Ustad Bari sama-sama satu Guru yaitu Haji Kasturi.
“Dengar-dengar Abahnya, Pak Haji Wachid sedang sakit karena melawan raja genderuwo,” kata Haji Gofur.
“Ia tapi aku yaqin desas-desus dari masyarakat bahwa sesosok yang membawa busur dan panah Cakra yang menolong Abah Wachid adalah anaknya sendiri Jaka,” celetuk Ustad Pendik.
“Aku tau benar anak murid ku satu itu, dia tidak paling tidak ingin sesumbar kalau dia jawara dan berpura-pura menjadi anak muda biasa selayaknya yang sangat takut dengan hantu padahal dia yang sering membunuhi hantu,” kata Haji Kasturi.
“Assallamualaikum guru,” tiba-tiba yang dibicarakan Jaka sudah berada diantara mereka Ikut duduk bersama.
“Waallaikumsalam,” serempak semua yang datang menjawab.
“Emang benar kata Haji Kasturi anak ini istimewa selalu datang dan pergi begitu saja tanpa orang tau dari mana arah datangnya,” kata Ustad Pendik menggeleng-gelengkan kepala merasa terheran-heran dengan kemunculan Jaka secara tiba-tiba.
“Baik diskusi akan saya buka karena ke tujuh jawara Kota Jombang sudah hadir semua, Assalamualaikum warohmahtullahi wabarakatuh,” ucap salam dari Haji Kasturi
“Waallaikumsalam warohmahtullahi wabarakatuh,” serempak yang hadir menjawab.
“Akhir-akhir ini saat saya berkelana di siang hari menjalani laku sebagai Si Haji Gila sebut saja begitu, karena itulah yang disematkan masyarakat kepada saya. Saya banyak menjumpai kasus kesurupan lalu meninggal ada pula kasus setan yang terang-terangan menampakkan diri bahkan di siang hari,” ucap Haji kasturi
“Jadi tujuan kita berkumpul di sini kita hidupkan kembali yang dulu pernah saya buat bersama beberapa tokoh Kiai besar se Jawa Timur untuk bergerak kembali, yaitu organisasi pemburu hantu yang sudah kita ketahui bersama. Bertujuan untuk menegakkan agama Allah yang lurus dan benar dan menolong masyarakat dari gangguan setan beserta konco-konconya,” kata Haji Kasturi menerangkan
Begitulah rapat rahasia tujuh jawara kota Jombang diadakan di tepi waduk Rejosari di gubuk yang sangat sederhana milik Haji Kasturi dengan penerangan yang seadanya dan sangat rahasia.
Namun dihadiri tokoh-tokoh yang sangat hebat di seluruh pelosok kota Jombang, dengan diadakanya rapat rahasia tersebut muncullah Organisasi T O H kembali di Kota Jombang yang sempat Vakum beberapa tahun belakangan demi mengembalikan ketentraman masyarakat.
_
_
_
_
kang dalang, Sari N,Hasan Jaelani salam hangat dan ketemu lagi sama saya Nurmayanti
bola sgde bola sepak mahh lmyn x tor😁
ilmu Bru dri nvel mu tor 👍🏻