Hana dan Aldo mempunyai seorang anak laki-laki bernama Kenzo. Mereka adalah sepasang suami istri yang telah menikah selama 6 tahun, Kenzo berusia 5 tahun lebih dan sangat pandai berbicara. Kehidupan Hana dan Aldo sangat terjamin secara materi, Aldo mempunyai perusahaan batu bara di kota kalimantan...kehidupan rumah tangga mereka sangat rukun dan harmonis, hingga suatu hari musibah itu menimpa dalam rumah tangga mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VISEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Sebagai sesama wanita, Hana memahami perasaan Meta yang merindukan kehadiran seorang bayi dalam pernikahannya bersama Peter. Baginya, Meta dan Peter sama-sama orang yang baik.
Hana: "Sabar, ya, Meta. Semua butuh proses." ucapnya dengan pelan. Hana berusaha menjadi pendengar yang baik bagi Meta, ia juga berusaha memberi jalan yang terbaik untuk masalah Meta.
Meta: "Menurutmu, apakah aku harus ke Singapura?" tanyanya dengan ragu-ragu.
Hana: "Kalau itu memang jalan yang terbaik, Meta. Sebaiknya kamu pergi ke sana." ucapnya. Meta menatap wajah Hana dalam-dalam, entah mengapa perkataan Hana memberinya semangat yang baru. Meta merasa tenang dan nyaman saat bertukar pikiran dengan Hana, ada ketulusan dalam diri Hana yang Meta rasakan. Meta sendiri tidak mempunyai banyak teman wanita, ia hanya mempunyai sepupu wanita yang bernama Santi yang sedang sibuk bekerja disebuah hotel berbintang sebagai resepsionis. Saat berkenalan dengan Hana, ia merasa bahagia karena mendapatkan seorang teman yang baik dan tulus seperti Hana.
Meta: "Terima kasih atas saranmu, Hana. Aku akan memikirkannya kembali." ucapnya dengan pelan.
Hana: "Saat awal pernikahan, aku sempat hamil." ucapnya sambil berusaha mengingat kejadian masa lalunya bersama Peter. "Kehamilanku di luar kandungan, Hana. Dokter sempat mengoperasiku lagi. Beberapa bulan kemudian, kista tumbuh di rahimku." ucapnya dengan sedih. "Peter selalu tersenyum padaku, tapi aku tahu jika senyumannya adalah luka baginya." ucapnya lagi. Hana menghela nafas berat, ia sangat iba pada Meta.
Hana: "Apakah kedua orang tuamu mengetahuinya?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Meta: "Mereka telah meninggal 5 tahun yang lalu, Hana. Aku anak tunggal." ucapnya dengan sedih.
Hana: "Maafkan aku, Meta. Aku tidak tahu." ucapnya dengan rasa bersalah.
Meta: "Tidak apa-apa, Hana." ucapnya. "Maaf, aku sudah terlalu banyak bercerita padamu." ucapnya lagi. "Bolehkah kita bertemu lagi." tanyanya dengan penuh harap.
Hana: "Tentu saja, Meta. Aku senang berteman denganmu." ucapnya sambil tersenyum kecil.
Meta: "Ceritakan tentang dirimu, Hana." ucapnya dengan penuh harap. "Kamu pasti sangat bahagia karena memiliki keluarga yang lengkap." ucapnya lagi. Hana tertegun, ia tidak ingin mengungkit kisah kelamnya lagi bersama Aldo. Hana menatap wajah Meta, sinar matanya berbinar dengan indah seakan siap mendengar cerita tentang dirinya.
Hana: "Tidak ada yang menarik dari kisahku, Meta." ucapnya.
Meta: "Ayolah, Hana. Ceritakanlah." pintanya dengan lembut. Hana menghela nafas berat, ia tidak ingin lagi membahas tentang rumah tangganya yang berantakan bersama Aldo, namun Meta terus membujuk dan memaksanya dan Hana tidak bisa menolak permintaan Meta.
Hana: "Apakah Peter tidak mencarimu, Meta?" tanyanya sambil menatap wajah Meta dalam-dalam.
Meta: "Jangan mengalihkan pembicaraan, Hana. Justru Peter yang menyuruhku berteman denganmu." ucapnya dengan wajah yang cemberut.
Hana: "Apakah kamu yakin akan mendengar kisahku?" tanyanya dengan wajah tegang. "Aku takut kamu akan bosan mendengarnya." ucapnya pelan.
Meta: "Aku sangat yakin." ucapnya dengan tegas. "Percayalah, Hana. Aku ingin sekali menjadi temanmu." ucapnya lagi dengan penuh keyakinan. Hana terdiam beberapa detik, lalu Hana mulai menceritakan tentang hidupnya, putranya, suaminya, dan juga Sari yang telah merebut suaminya. Saat Meta mendengar cerita Hana, ia terkejut dan merasa sangat sedih dengan kisah cinta Hana. Meta tidak pernah menyangka jika suami Hana tega menghianati wanita secantik Hana. Perasaan iba mulai timbul dalam hati Meta, namun ia tidak ingin menunjukkannya kepada Hana, ia juga tidak ingin membuat hati Hana tersinggung dengan perasaan iba itu. Meta tahu jika Hana tidak ingin dikasihani.
Hana: "Aku sangat percaya pada Sari, dan aku sudah menganggapnya seperti saudara kandung." ucapnya dengan rasa penyesalan. "Sari sakit hati padaku. Sebelum aku mengenal mas Aldo, ia sudah menjadi teman mas Aldo." ucapnya lagi sambil mengenang masa lalunya bersama Sari.
Meta: "Keluarkan semua ceritamu dan kamu akan lega nanti." ucapnya dengan lembut.
Hana: "Mas Aldo dan Sari berteman cukup lama, sampai suatu ketika mas Aldo melihatku di rumah Sari." ucapnya. "Di rumah Sari aku berkenalan dengan mas Aldo." ucapnya lagi. Hana terdiam sesaat, ia menghela nafas berat lalu menatap wajah Meta dalam-dalam. "Itulah kisah hidupku yang tidak menarik untuk diceritakan, Meta." ucapnya dengan suara yang berat.
Meta: "Aku tidak menganggapnya seperti itu, Hana." ucapnya dengan lembut.
Hana: "Apakah kamu masih mau berteman denganku?" tanyanya sambil menatap wajah Meta dalam-dalam.
Meta: "Mengapa kamu bicara seperti itu, Hana?" tanyanya dengan rasa penasaran.
Hana: "Sekarang statusku seorang janda." ucapnya dengan suara berat.
Meta: "Aku tidak memusingkan statusmu. Di mataku, kamu wanita hebat dan terhormat." ucapnya dengan tulus.
Hana: "Terima kasih, Meta. Kamu juga wanita yang baik." ucapnya pelan. Meta menatap kedua mata Hana yang bulat dan indah, ia tersenyum kecil pada Hana.
Meta: "Lupakan Sari. Aku bersedia menjadi temanmu." ucapnya dengan lembut. Meta memegang tangan Hana dengan lembut, ia tersenyum kecil pada Hana. Hana bisa merasakan ketulusan hati Meta terhadapnya, Hana juga bersyukur Tuhan mempertemukannya dengan Meta di waktu yang tepat.
Hana: "Pikirkan tentang saran dokter untukmu, Meta. Berusahalah berobat ke Singapura." ucapnya dengan lembut.
Meta: "Iya, Hana. Aku akan membicarakan hal ini pada Peter nanti." sahutnya.
Hana: "Aku senang mendengarnya. Semoga impianmu dan Peter terwujud." ucapnya dengan penuh harap.
Meta: "Amin, terima kasih. Aku bahagia sekali bisa berbicara berdua denganmu. Lain waktu aku akan menelponmu lagi, ya." ucapnya dengan antusias.
Hana: "Kapanpun kamu membutuhkanku, Meta. Aku siap membantumu sebisaku." sahutnya.
Meta: "Baiklah, kita pulang sekarang. Aku sudah lega." ucapnya sambil tersenyum kecil.
Hana: "Aku akan mengantarmu pulang, Meta." ucapnya dengan hati yang tulus. Meta hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Setelah Hana membayar tagihan minuman, mereka berdua berjalan pelan masuk ke dalam mobil Hana. Hana melaju dengan mobilnya, mengantar Meta pulang yang kebetulan rumahnya di dekat kafe itu.
Meta: "Rumahku no 19, Hana." ucapnya sambil menujuk ke arah rumah besar di ujung jalan itu. Beberapa detik kemudian, Hana dan Meta tiba di rumah no 19 itu.
Hana: "Rumahmu besar dan indah, Meta. Suasananya tenang dan damai." ucapnya sambil tersenyum menatap Meta.
Meta: "Masuklah bersamaku, Hana." pintanya.
Hana: "Terima kasih, tapi tidak usah. Lain kali saja, ya." ucapnya dengan pelan.
Meta: "Baiklah, aku masuk dulu." ucapnya. Hana menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil pada Meta, ia menatap langkah Meta sampai ke dalam rumah. Setelah mengantar Meta, Hana kembali melaju dengan rumahnya ke sebuah supermarket terdekat untuk membeli bahan-bahan dapur di rumahnya. Pertemuannya dengan Meta membuat hatinya terhibur dengan ketulusan hati Meta.
************************************