Di Benua Sembilan Awan, takdir seseorang ditentukan oleh Pusaka Jiwa yang mereka bangkitkan. Li Tian, seorang murid luar yang gigih namun miskin, menjadi bahan tertawaan seluruh sekte ketika ia membangkitkan pusaka berupa sarung tangan perunggu kusam yang dianggap sampah tak berguna.
Namun, dunia buta akan kebenarannya. Di balik karat itu bersemayam Zu-Long, Roh Kaisar Naga Primordial yang pernah menguasai langit. Pusaka itu bukanlah sampah, melainkan Cakar Naga Pemutus Takdir, satu dari Sembilan Pusaka Kaisar legendaris dengan kemampuan mengerikan: melipatgandakan kekuatan penggunanya tanpa batas.
Menolak menyerah pada nasib sebagai "sampah", Li Tian bangkit. Dengan bimbingan Naga Purba yang angkuh dan tekad baja, ia bersiap menampar wajah para jenius sombong, melindungi orang-orang terkasih, dan mendaki puncak kultivasi untuk menjadi Dewa Perang Terkuat.
Legenda seekor Naga yang membelah langit baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama Naga
Kantin Murid Luar biasanya adalah tempat yang paling ramai dan menyenangkan di pagi hari. Aroma bubur beras spiritual dan roti kukus biasanya menyambut para murid yang lapar setelah latihan subuh.
Namun pagi ini, suasana di depan gerbang kantin terasa tegang.
Tiga orang pemuda bertubuh besar berdiri memblokir pintu masuk. Mereka mengenakan sabuk kain merah, tanda bahwa mereka adalah pengikut tidak resmi dari Li Feng. Di belakang mereka, Li Feng duduk santai di atas sebuah batu besar sambil memoles bilah Pedang Api Merah-nya yang berkilauan.
"Ingat," kata salah satu penjaga pintu, seorang pemuda bernama Wang Hu, sambil mendorong seorang murid kurus hingga jatuh. "Mulai hari ini, area ini di bawah perlindungan Tuan Muda Li Feng. Biaya masuknya satu Keping Tembaga!"
"T-tapi Wang Hu," murid yang jatuh itu memohon. "Satu keping itu jatah makan siangku..."
"Itu urusanmu!" bentak Wang Hu. "Tidak bayar, tidak makan! Tuan Muda Li butuh sumber daya untuk persiapan masuk Sekte Dalam. Anggap ini investasi kalian untuk masa depan pemimpin kita!"
Murid-murid lain hanya bisa menunduk marah, tapi tidak ada yang berani melawan. Li Feng adalah kultivator Tempa Tubuh Tingkat 9 dengan Pusaka Kelas Bumi. Melawannya sama saja cari mati.
"Minggir."
Sebuah suara tenang tiba-tiba memecah keributan itu.
Wang Hu menoleh. Dia melihat seorang pemuda berjalan mendekat dengan langkah santai.
"Oh? Lihat siapa ini," Wang Hu menyeringai lebar. "Si 'Sarung Tangan Sampah', Li Tian! Mau bayar pajak juga? Untukmu, harganya spesial. Sepuluh keping!"
Li Feng, yang duduk di batu, mendongak. Dia tersenyum sinis. "Biarkan dia lewat, Wang Hu. Asal dia mau merangkak di antara kakimu."
Gelak tawa meledak dari para pengikutnya.
Li Tian berhenti tiga langkah di depan Wang Hu. Wajahnya datar, tidak terprovokasi.
"Aku bilang minggir," ulang Li Tian. "Aku lapar. Dan kalian menghalangi jalan."
Wang Hu mengerutkan kening. Biasanya Li Tian akan menunduk dan pergi jika digertak. "Kau cari mati ya? Kau pikir karena punya sarung tangan jelek itu kau jadi jagoan?"
Wang Hu maju selangkah, tangannya yang besar terayun untuk menampar wajah Li Tian.
Gerakan itu cepat. Bagi murid biasa, tamparan Wang Hu (Tempa Tubuh Tingkat 7 Awal) akan sulit dihindari.
Tapi di mata Li Tian yang baru... gerakan itu selambat siput.
Sutra Kaisar Naga Matahari tidak hanya memperkuat otot, tapi juga menajamkan persepsi. Li Tian bisa melihat lintasan otot bahu Wang Hu sebelum tangan itu bergerak.
Wush.
Li Tian hanya memiringkan kepalanya sedikit ke kiri. Tangan Wang Hu memukul udara kosong.
"Apa?!" Wang Hu terkejut.
Sebelum dia sadar, Li Tian sudah bergerak. Bukan dengan teknik rumit, hanya sebuah tinju lurus sederhana ke arah perut.
BUGH!
Suara hantamannya terdengar padat dan berat.
Mata Wang Hu melotot keluar. Dia merasakan seolah-olah perutnya baru saja dihantam oleh balok kayu yang diayunkan penuh tenaga. Tubuh besarnya terangkat sedikit dari tanah, lalu terlipat dan jatuh berlutut sambil memuntahkan air liur.
"Ugh... uhuk..." Wang Hu memegangi perutnya, wajahnya ungu karena sesak napas.
Keheningan melanda kerumunan.
Satu pukulan? Li Tian menjatuhkan Wang Hu hanya dengan satu pukulan?!
"Siapa lagi?" tanya Li Tian santai, menatap dua penjaga lainnya.
"Serang dia bersamaan!" teriak salah satu penjaga.
Dua orang itu menerjang maju, satu mencoba memiting, satu mencoba menendang.
Li Tian tidak mundur. Dia melangkah maju menyambut serangan itu.
"Gunakan bahumu!" instruksi Zu-Long singkat di kepalanya.
Li Tian memutar badannya dan membenturkan bahu kanannya ke dada penyerang pertama.
KRAK!
"ARGH!" Penyerang itu terpental mundur dengan tulang rusuk retak. Esensi bintang yang diserap Li Tian semalam telah membuat tulangnya jauh lebih keras dari batu kali.
Penyerang kedua mencoba menendang kaki Li Tian. Li Tian hanya mengangkat kakinya sedikit dan menghentakkannya ke bawah, menginjak kaki lawannya tepat di atasnya.
"Aduh!"
Penyerang itu melompat-lompat kesakitan. Li Tian menyusul dengan sapuan kaki yang menjatuhkannya ke tanah.
Dalam sepuluh detik, tiga pengikut Li Feng terkapar mengerang di tanah.
Li Tian menepuk-nepuk debu di jubahnya. Dia menoleh ke arah Li Feng yang kini sudah berdiri, senyum sinisnya lenyap tak berbekas.
"Jadi," kata Li Tian. "Masih mau aku merangkak?"
Wajah Li Feng memerah padam. Dipermalukan di depan umum oleh sepupu yang dia anggap sampah adalah penghinaan terbesar.
"Kau..." Li Feng menggenggam gagang pedangnya. "Kau pasti menggunakan trik licik! Atau mungkin kau makan obat terlarang untuk menaikkan tenagamu sesaat!"
Sring!
Li Feng mencabut Pedang Api Merah-nya. Bilah pedang itu seketika diselimuti api yang berkobar panas. Suhu di sekitar kantin naik drastis. Murid-murid lain mundur ketakutan.
"Pedang Api Merah!" seru Han Gemuk dari kejauhan. "Li Tian, lari! Itu Pusaka Kelas Bumi! Dagingmu akan hangus!"
Li Tian tidak lari. Dia mengangkat tangan kanannya. Sarung tangan perunggu itu tampak kusam dan menyedihkan dibandingkan pedang api yang megah itu.
"Trik licik?" Li Tian tersenyum tipis. "Maju dan buktikan sendiri."
"Mati kau!"
Li Feng melesat maju. Gerakannya cepat dan terlatih. Dia menggunakan teknik Langkah Awan Api, sebuah teknik gerakan kaki dasar keluarga Li.
"Tebasan Pembakar Langit!"
Pedang itu menebas horizontal, mengincar dada Li Tian. Lidah api menjilat-jilat buas.
Li Tian menarik napas dalam. Dia tidak menghindar. Sebaliknya, dia memusatkan Qi-nya ke sarung tangan perunggu itu.
Clang!
Suara logam beradu yang sangat nyaring memekakkan telinga.
Semua orang menutup mata, mengira akan melihat tangan Li Tian putus.
Namun saat mereka membuka mata, mereka ternganga.
Li Tian menahan bilah pedang api itu dengan telapak tangan terbukanya! Sarung tangan perunggu itu mencengkeram bilah pedang yang menyala-nyala. Api merah itu menjilat-jilat lengan Li Tian, tapi seolah tertahan oleh lapisan energi tak kasat mata di permukaan perunggu itu.
"Bagaimana mungkin?!" teriak Li Feng. "Ini Pusaka Kelas Bumi! Bagaimana bisa ditahan oleh rongsokan itu?!"
"Api sampah," cemooh Zu-Long di benak Li Tian. "Bahkan tidak cukup hangat untuk menggelitik sisikku."
Li Tian merasakan kekuatan fisik Li Feng menekannya. Li Feng adalah Tingkat 9, dua tingkat di atasnya. Secara tenaga murni, Li Feng lebih unggul. Kaki Li Tian mulai terdorong mundur, membuat parit kecil di tanah.
"Kau kuat, Sepupu," aku Li Tian, keringat mulai menetes di pelipisnya. "Tapi kau terlalu banyak bicara."
Mata Li Tian berkilat.
"Gandakan!"
Li Tian tidak meneriakkan kata itu, tapi dia mengaktifkan kemampuan pasif Cakar Naga untuk pertama kalinya dalam skala terkecil.
DUM!
Jantungnya berdetak satu kali dengan sangat keras.
Kekuatan fisiknya yang semula 100%, mendadak melonjak menjadi 200% dalam sepersekian detik.
Li Tian menyentakkan tangannya ke samping.
"Hah?!"
Li Feng merasakan kekuatan ledakan yang tak masuk akal datang dari tangan Li Tian. Cengkeramannya pada gagang pedang terlepas karena getaran hebat itu.
Pedang Api Merah terlempar ke udara, berputar-putar, lalu menancap di tanah sepuluh meter jauhnya.
Li Feng terhuyung mundur, keseimbangannya hancur. Li Tian memanfaatkan celah itu untuk maju satu langkah dan menepuk dada Li Feng dengan telapak tangan.
Bam!
Li Feng terdorong mundur lima langkah hingga pantatnya mendarat di tanah berdebu.
Hening.
Benar-benar hening.
Seorang Murid Luar sampah baru saja melucuti senjata dan menjatuhkan jenius Tempa Tubuh Tingkat 9?
Li Tian menarik kembali tangannya dan menurunkan postur tempurnya. Dia mengatur napasnya yang sedikit memburu. Penggunaan sesaat tadi menyedot staminanya cukup banyak, tapi efeknya luar biasa.
Dia berjalan santai melewati Li Feng yang masih syok di tanah, menuju pintu kantin.
"Pungut pedangmu," kata Li Tian tanpa menoleh. "Dan jangan halangi orang makan lagi. Sarapan itu penting untuk pertumbuhan."
Saat Li Tian menghilang ke dalam kantin, sorak-sorai meledak dari para murid yang tertindas.
"Gila! Li Tian mengalahkan Li Feng!" "Pusaka apa itu? Tahan api?!" "Dia pasti menyembunyikan kekuatannya selama ini!"
Li Feng duduk gemetar di tanah, wajahnya merah padam karena malu dan marah. Dia menatap punggung Li Tian dengan tatapan penuh kebencian.
"Li Tian..." desisnya sambil mengepalkan tangan hingga kukunya menancap ke telapak. "Tunggu sampai Kompetisi Peringkat. Aku akan membunuhmu! Aku bersumpah!"
Di dalam kantin, Han Gemuk menatap Li Tian seperti melihat dewa.
"Kau... kau monster, Tian!" seru Han sambil menyodorkan mangkuk bubur. "Bagaimana kau melakukan itu?!"
Li Tian tersenyum, menerima bubur itu. Dia menatap sarung tangan perunggu di tangan kanannya yang kini kembali terlihat biasa saja.
"Hanya sedikit keberuntungan," jawab Li Tian merendah.
Tapi di dalam hatinya, dia tahu ini bukan keberuntungan. Ini baru langkah pertama. Langkah seekor Naga yang baru saja belajar berjalan.