NovelToon NovelToon
Suami Idiot

Suami Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah
Popularitas:22
Nilai: 5
Nama Author: cilicilian

Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.

Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pujian

Pagi itu, Anya terbangun dari tidurnya dengan perasaan tidak nyaman dan terkejut. Kedua matanya langsung terbelalak kaget saat melihat Arga sedang memeluknya dengan sangat erat, tangannya melingkar sempurna di pinggangnya seolah-olah Anya adalah guling kesayangannya.

"Arga!" ucap Anya dengan nada sedikit tinggi.

Arga pun terusik dari tidurnya yang nyenyak. Ia mengerjapkan kedua matanya beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya matahari yang masuk ke dalam kamar.

"Anya sudah bangun?" tanya Arga dengan nada khas orang yang baru bangun tidur, terdengar polos dan tanpa rasa bersalah.

Anya memutar bola matanya dengan jengkel. Pertanyaan macam apa itu?! Tentu saja ia sudah bangun! Ia merasa sangat marah dan kesal dengan tingkah laku Arga yang semakin hari semakin membuatnya tidak nyaman dan ingin segera mengakhiri pernikahan ini.

"Lepaskan tanganmu dari tubuhku sekarang juga, Arga!" Anya berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan lengan Arga yang melingkar erat di tubuhnya, namun tenaga Arga ternyata jauh lebih kuat darinya, membuat usahanya sia-sia.

Arga mengerutkan keningnya dengan bingung dan tatapan mata yang polos. Mengapa Anya selalu marah-marah kepadanya? Apa salahnya? Arga merasa sedih dan kecewa jika Anya terus bersikap seperti ini kepadanya, padahal ia hanya ingin dekat dengan Anya dan melindunginya dari rasa takut.

"Arga tidak mau melepaskan Anya, Arga masih merasa sangat takut," ucap Arga dengan nada manja dan suara yang sedikit bergetar.

Anya menghela napas panjang dengan perasaan frustrasi dan putus asa. Mengapa ia harus menikah dengan orang seperti Arga yang selalu membuatnya kesal dan ingin marah? Arga itu benar-benar sangat menyebalkan dan merepotkan!

"Lepaskan aku, Arga! Aku ingin mandi dan membersihkan diri!" ucap Anya dengan nada yang meninggi dan wajah yang memerah karena menahan amarah.

"Anya ingin mandi? Kalau begitu, Arga ikut mandi bersama Anya, ya!" tanya Arga dengan nada riang dan tatapan mata yang polos, tanpa menyadari bahwa Anya sedang marah dan kesal padanya.

Anya mengepalkan kedua tangannya dengan erat, berusaha menahan diri sekuat tenaga agar tidak meledak dan melakukan hal yang akan ia sesali nantinya. Ia benar-benar ingin mencekik Arga saat itu juga karena tingkah lakunya yang semakin hari semakin membuatnya kesal dan ingin berteriak.

Anya menatap Arga dengan tatapan membunuh. "Arga, dengerin aku baik-baik," ucap Anya dengan nada sedingin es. "Aku mau mandi SEN-DI-RI-AN. Ngerti?" Anya menekankan setiap kata dengan jelas.

Arga terdiam, menatap Anya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia sepertinya mulai mengerti bahwa Anya benar-benar marah padanya.

"Tapi Arga takut..." ucap Arga lirih, mencoba membujuk Anya.

"Ya Tuhan, ini masih pagi buta, Arga! Tidak mungkin ada hantu berkeliaran di jam seperti ini! Kenapa kau harus selalu merasa takut dan merepotkanku dengan ketakutanmu itu?!" jelas Anya dengan nada kesal. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan emosinya yang sudah berada di ambang batas.

Posisi mereka berdua masih terbaring di atas kasur yang berantakan, dengan tangan Arga yang masih memeluk Anya dengan erat seolah-olah Anya adalah boneka kesayangannya yang tidak boleh lepas dari dekapannya.

Anya hampir saja lupa bahwa saat ini Arga tidak sedang memakai kacamata bulat besar yang selalu bertengger di hidungnya. Jika diperhatikan dari jarak sedekat ini, wajah Arga sebenarnya terlihat lumayan imut dan menggemaskan dengan mata polos dan bibir yang sedikit manyun.

Ah, tidak! Dirinya tidak boleh terlena dan goyah hanya karena tampang polos dan imut Arga! Ia harus tetap ingat dan waspada terhadap kebiasaan Arga yang masih kekanakan dan menjijikkan, yaitu menyusu menggunakan dot bayi seperti anak kecil yang belum bisa lepas dari ASI.

Anya menarik napas dalam-dalam dan mencoba untuk menenangkan diri yang sedang bergejolak. Ia harus tetap kuat dan tidak boleh kalah dalam menghadapi Arga. Ia harus mencari cara untuk melepaskan diri dari pelukan Arga.

"Arga, kumohon lepaskan aku sekarang," ucap Anya dengan nada yang lebih lembut dan memelas, namun tetap tegas dan tidak terbantahkan. Ia mencoba untuk merayu Arga mungkin dengan seperti ini bisa membuatnya luluh dan melepaskannya.

"Aku janji sama kamu, setelah aku selesai mandi, kita akan langsung pergi ke rumah Ayah kamu dan mengunjungi beliau."

Arga mengerutkan keningnya dengan tatapan mata yang bingung dan ragu. Ia tampak sedang berpikir keras, menimbang-nimbang apakah ia harus mempercayai perkataan Anya atau tidak. "Apakah Anya benar-benar akan menepati janjinya?" tanya Arga dengan nada polos dan penuh keraguan.

Anya mengangguk dengan mantap dan berusaha untuk meyakinkan Arga. "Iya, Arga, aku janji. Tapi tolong lepaskan aku dulu, karena aku harus segera mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah Ayahmu," jawab Anya dengan nada lembut dan penuh harapan.

Arga menatap Anya dengan ragu. Ia sangat ingin pergi ke rumah ayahnya, namun bayangan ditinggal sendirian kembali menghantuinya.

"Anya janji tidak bohong, kan?" tanya Arga, berusaha memastikan bahwa Anya benar-benar akan menepati janjinya.

Anya mengangguk dengan sabar, berusaha meyakinkan Arga. "Iya, Arga, aku janji. Aku tidak akan berbohong kepadamu," jawabnya dengan nada lembut.

Arga menghela napas panjang, tampak masih bimbang dan tidak yakin. Kemudian, dengan berat hati dan perasaan was-was, ia melepaskan pelukannya dari Anya.

"Anya mandi yang bersih, ya," ucap Arga dengan nada kekanak-kanakan.

Anya segera bangkit dari tempat tidur, merasa sangat lega karena akhirnya bisa bebas dari pelukan Arga. Ia berjalan menuju kamar mandi tanpa menoleh ke arah Arga, takut Arga akan berubah pikiran dan kembali memeluknya.

"Awas saja kalau dia berani mengikutiku," gumam Anya pelan dengan nada mengancam. Ia berharap Arga tidak akan mengganggunya selama ia mandi.

Sesampainya di kamar mandi, Anya segera mengunci pintu rapat-rapat dan menyandarkan tubuhnya yang lelah di balik pintu. Ia menghela napas panjang dengan perasaan lega dan senang karena akhirnya bisa melarikan diri sejenak dari Arga dan mendapatkan sedikit ketenangan serta privasi.

"Akhirnya... aku bisa bernapas dengan lega," ucap Anya pelan dengan nada lirih, menikmati kesunyian dan keheningan yang ada di dalam kamar mandi.

Ia menatap dirinya sendiri di cermin yang berembun. Penampilannya terlihat sangat berantakan dan menyedihkan. Rambutnya acak-acakan seperti sarang burung, matanya sembab dan merah karena kurang tidur, serta wajahnya pucat pasi seperti orang sakit.

"Aku harus segera mandi dan membersihkan diri dari semua kekacauan ini," ucap Anya dengan nada lirih dan berusaha menyemangati dirinya sendiri yang sudah merasa lelah dan putus asa dengan semua masalah yang menimpanya.

Ia membuka keran air dengan kasar dan membiarkan air dingin mengguyur tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia merasa sedikit lebih segar dan terjaga setelah merasakan sensasi dingin yang menusuk kulitnya.

Sambil mandi, pikirannya kembali melayang ke Arga. Perasaan bersalah karena telah bersikap kasar padanya kembali menghantuinya. Namun, di saat yang sama, ia juga merasa kesal dan frustrasi karena Arga selalu membuatnya repot dan tidak bisa hidup mandiri.

"Kenapa sih aku harus menikah dengan orang seperti dia?" gumam Anya pelan, mengungkapkan kekesalan dan penyesalannya. Pernikahan ini benar-benar di luar ekspektasinya.

Anya menggelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran negatif yang menghantuinya. Ia harus fokus pada saat ini dan bersiap menghadapi Arga.

Selesai mandi, Anya bergegas menuju walk-in closet. Ia mengeringkan tubuhnya dengan handuk lembut, lalu memilih pakaian yang bersih, anggun, dan sedikit formal. Rambut panjangnya dibiarkan terurai bebas, menambah kesan elegan pada penampilannya. Ia menatap dirinya sekali lagi di cermin, memastikan penampilannya sudah sempurna.

Ia kembali ke kamar dan mendapati Arga tengah berguling-guling di atas tempat tidur seperti anak kecil. Anya menghela napas.

"Kamu mau mandi dulu atau mau langsung ke rumah Ayah kamu?" tanya Anya, membuat Arga menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arahnya.

Bukannya menjawab pertanyaan Anya, Arga justru terpana dan menatap Anya dengan tatapan kagum. "Anya cantik sekali," pujinya dengan nada polos, membuat semburat merah muda menghiasi pipi Anya.

"Ekhmm," Anya berdeham pelan, berusaha mengalihkan rasa malu dan gugupnya. Ia tidak menyangka akan mendapat pujian dari Arga.

Anya berusaha sekuat tenaga untuk menetralkan ekspresi wajahnya dan menyembunyikan rasa malu yang tiba-tiba menyerangnya.

"Baiklah, kalau begitu kita langsung saja pergi ke rumah Ayahmu sekarang," jawab Anya dengan nada datar dan berusaha mengabaikan pujian Arga yang membuatnya merasa risih dan tidak nyaman. "Kamu pasti sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Ayahmu kan?"

Mata Arga langsung berbinar-binar mendengar jawaban Anya yang mengiyakan permintaannya. "Iya! Arga sudah sangat kangen dan ingin sekali bertemu dengan Ayah!" seru Arga dengan nada riang dan penuh semangat.

Anya dan Arga kemudian keluar dari kamar hotel mereka dan berjalan menuju ruang utama. Seperti biasa, Arga selalu saja mengekor di belakang Anya seperti anak ayam yang tidak bisa lepas dari induknya.

Di ruang utama, terlihat kedua orang tua Anya sedang menikmati sarapan pagi bersama di meja makan. Mereka berdua menoleh dan melihat kedatangan anak perempuan dan menantunya yang sudah bangun dan berpakaian rapi.

"Wah, Anya, kamu sudah rapi saja pagi-pagi begini," celetuk Dewi, ibu Anya.

Anya tersenyum melihat ibunya. "Iya, Bu, Anya dan Arga mau pergi ke rumah Om Pramudya," jawab Anya.

"Om?" celetuk Bram, ayah Anya, dengan nada heran dan kening yang berkerut.

"Anya, sekarang kamu sudah menjadi istri dan menantu di keluarga Pramudya. Seharusnya kamu memanggil Om Pramudya dengan sebutan Ayah atau Papa, seperti yang Arga lakukan. Jangan memanggilnya dengan sebutan Om seperti itu." jelas Bram mengingatkan pada anaknya, ia tidak mau nantinya Anya memanggil besannya seperti itu. Bagaimanapun juga Pramudya yang sudah membantunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!