Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.
Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.
Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.
Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Pagi itu, Aru bersama ketiga kakak laki-lakinya pergi ke taman kota untuk lari pagi. Berhubung hari ini hari Minggu dan semuanya sedang libur, keempat kakak beradik itu sepakat berolahraga sekaligus mencari sarapan—rutinitas yang selalu mereka lakukan setiap hari libur.
Setibanya di taman, Aru mengenakan kaos putih dengan legging hitam. Ketiga kakaknya,Bisma, Alvaro, dan Alvian juga kompak memakai kaos putih, celana pendek olahraga selutut, topi, serta earphone di telinga masing-masing.
“Kalian sudah selesai pemanasan?” tanya Bisma pada ketiga adiknya yang baru saja merampungkan stretching. Pemanasan memang hal wajib sebelum lari agar terhindar dari cedera.
“Sudah, Phi” jawab mereka serempak.
“Kalau begitu, ayo mulai,” ajak Bisma.
Mereka pun mulai jogging mengelilingi taman. Aru berlari di samping Bisma, sementara Alvaro dan Alvian berada di belakang.
Mereka pun mulai jogging. Bisma berlari dengan ritme stabil di depan, Aru di sampingnya. Alvaro dan Alvian mengikuti di belakang, sesekali saling beradu langkah seperti biasa.
Setelah beberapa putaran, keringat mulai bercucuran. Nafas sedikit memburu, tapi senyum tak hilang dari wajah mereka.
“Cukup,” kata Bisma akhirnya. “Kita cari sarapan dulu.”
Di area taman, deretan penjual makanan pagi sudah ramai. Aroma bubur ayam, lontong sayur, dan gorengan bercampur di udara.
“Bubur ayam, yuk,” usul Aru.
“Boleh,” jawab ketiganya hampir bersamaan.
Mereka duduk lesehan di bawah pohon rindang. Aru memesan empat porsi bubur ayam lengkap dengan teh manis.
Tak lama kemudian, penjual datang membawa pesanan.
“Mbak, ini pesanannya,” ucap penjual sambil meletakkan nampan berisi mangkuk-mangkuk bubur.
“Makasih ya, Pak,” jawab Aru sambil tersenyum ramah.
“Iya, sama-sama, Mbak.”
Mereka mulai menyantap sarapan dengan lahap.
Di tengah suasana itu, tiba-tiba terdengar suara anak kecil berteriak lantang.
“BUNDAAAA!”
Aru dan ketiga kakaknya refleks menoleh ke arah suara itu. Terlihat seorang bocah laki-laki berusia sekitar tiga tahun berlari kecil ke arah mereka dengan wajah ceria. Di belakangnya, tampak tiga pria dewasa berjalan menyusul,Kenan, Joe, dan Amar.
“Kai!”
“BUNDAAA!” teriak bocah itu lagi sambil membuka kedua tangannya.
Aru yang sedang duduk lesehan langsung merentangkan tangannya.
Hap!
Tubuh kecil itu langsung menabrak dan masuk ke dalam pelukan Aru. Tubuh kecil itu menabraknya, membuat Aru sedikit terdorong ke belakang. Untung Bisma sigap menahan pundaknya.
“Bunda…” gumam bocah itu manja.
Bisma, Alvaro, dan Alvian membeku. Mata mereka membulat sempurna.
“Bunda?” ulang mereka hampir bersamaan, dengan wajah penuh keterkejutan.
Sejak kapan adik mereka dipanggil bunda?
Dan sejak kapan ada anak kecil sedekat ini dengannya?
“Kai kangen bunda,” ucap bocah itu sambil memeluk erat.
Hati Aru menghangat. Ia mengelus rambut halus anak itu penuh kasih.
“Bunda juga kangen sama Kai, sayang,” jawabnya lembut, meski jauh di dalam hatinya ia sadar,ia tak punya hak apa pun atas rasa rindu itu.
Kenan, Joe, dan Amar akhirnya tiba di hadapan mereka. Kenan langsung terkejut melihat Bisma, Alvaro, dan Alvian di sana.
“Bisma?” alisnya terangkat. "Kok lo di sini, Bis? Lo ngapain di sini?”tanya Kenan mengerutkan kening nya.
Bukan tanpa alasan Kenan bertanya seperti itu, Bisma adalah sahabat nya sendiri. Ia cukup tau tentang Bisma dan Keluarga nya.
"Seharusnya gue yang nanya kayak gitu sama lo,” ujar Bisma beruntun dengan nada penasaran yang tak kalah tajam. “Ngapain lo di sini? Dan kenapa anak lo itu manggil adik gue dengan sebutan bunda?”
“Adik?” Kenan mengulang dengan ekspresi tidak percaya. “Lo nggak bercanda, kan? Sejak kapan lo punya adik cewek? Setahu gue, lo cuma punya dua adik tuyul itu.” Kenan melirik ke arah mereka sekilas. “Kapan Mak bapak lo bikinnya?”
“Sembarangan aja mulut lemes lo, duda,” balas Bisma ketus. “Aru itu adik gue. Sekarang yang jadi pertanyaan, kenapa anak lo manggil adik gue bunda? Sejak kapan lo nikah sama adik gue, sinting?”
Kenan tersenyum santai, seolah sama sekali tak terganggu.
“Doain aja secepatnya, ya, Kak Ipar.”bisiknya. Namun bisikan itu masih dapat di dengar oleh Alvaro dan Alvian.
Ucapan itu sontak membuat wajah Alvian berubah. Emosi, cemburu, dan sifat posesifnya bercampur jadi satu. Wajahnya memerah.
“Apa maksud lo Bang ngomong kayak gitu?” sentak Alvian dengan nada sarkas dan tajam. “Jangan coba-coba deketin Aru, Bang!”ucap Vian memperingati.
Tatapan Alvian mengunci Kenan tanpa berkedip penuh peringatan.
Berbeda dengan Alvian, Alvaro justru diam. Ia tetap makan, meski rahangnya mengeras. Padahal biasanya, dialah yang paling posesif terhadap Aru.
Joe dan Amar hanya terkekeh kecil, memilih memesan bubur tanpa ikut campur.
Kenan sendiri hanya tersenyum, seolah menikmati kecemburuan itu.
Sementara itu Aru menyadari sedikit suasana tegang ini, terutama Varo yang nampak diam. “Kak Alvaro kenapa? Wajahnya merah,” tanya Aru polos sambil menatap kakaknya dengan cemas.
“Nggak apa-apa, Dek,” jawab Alvaro cepat.
“Yakin?”
“Iya, sayang.”
Senyum Kenan langsung memudar mendengar panggilan itu.
"Ck', Siall. Awas aja lo Varo, Gue pastiin adik lo hanya boleh panggil sayang cuma sama gue aja. Kalau bukan kakaknya Aru udah gue plintir tu mulut. "batin Kenan yang kesal pada Alvaro.
Aru lalu menoleh ke arah Kenan dan teman-temannya.
“Mas Kenan, Joe, Amar, duduk aja.”ucap nya.
“Boleh?” tanya Kenan sok polos.
“Kalau mau duduk, duduk aja,” sahut Bisma santai.
Mereka pun duduk lesehan. Kenan memilih duduk dekat anaknya. Aru dan Kenan hanya terhalang tubuh kecil Kai yang sibuk makan bubur milik Aru.
Alvian menegang, namun Bisma memberi isyarat agar tetap tenang.
“Mas Kenan kok bisa ke sini?” tanya Aru.
“Kai yang minta. Katanya mau jalan-jalan dan cari sarapan. Terus dia lihat kamu,” jawab Kenan jujur.
“Alasan,” gumam Alvian.
“Alvian,” peringat Bisma.
“Gue cuma nggak suka,” balas Alvian lirih tapi jelas. “Tiba-tiba aja muncul, bawa anak, terus ngomong seenaknya.”
Kenan tersenyum tipis. “Santai aja. Gue nggak gigit.”
Melihat situasi agak tegang Aru segera mengalihkan pembicaraan nya.
“Buburnya enak, ya, sayang?”
“Enak, Bunda!” jawab Kai antusias.
“Kok makan bubur punya bunda, Kai?” tanya Kenan pura-pura heran.
“Soalnya punya bunda enak,” jawab Kai polos.
Aru tertawa kecil. “Dihabisin ya.”
“Emang nggak apa-apa?” tanya Kenan.
“Nggak apa-apa. Aku udah pesan lagi.”
“Makasih, Aru.”
“Sama-sama mas Kenan.”
Tatapan Bisma dan kedua adiknya tak lepas dari interaksi itu. Namun melihat Aru tertawa lepas bersama Kai, perlahan hati mereka melunak.
Bibir ketiganya mengukir senyum kecil—sama seperti Kenan, yang menatap anaknya dengan penuh rasa syukur.
Sementara Joe dan Amar?
Mereka tetap fokus pada bubur ayam.
Bersambung.................