Aksi heroik Kapten Fikri Rafisqy ditengah perampokan swalayan berujung duka. Berusaha menyelamatkan seorang anak kecil, Fikri tak sadar peluru maut mengincar nyawanya. Naas, seorang kakek justru mengorbankan diri demi menyelamatkannya. Dalam kondisi kritis dirumah sakit, sang kakek menyampaikan wasiat terakhir: Fikri harus menikahi cucu tunggalnya, Seruni Shafira, gadis penjual bunga kini sebatang kara.
Seruni menolak tegas. Bagaimana mungkin ia harus menikah disaat impian sekolahnya masih membumbung tinggi? Namun demi melunasi utang nyawa dan amanah terakhir, Fikri menerimanya. Didepan ruang ICU, ijab kabul terucap sebelum sang kakek mengembuskan napas terakhirnya.
Kini, kehidupan mereka berubah total. Bisakah Seruni menerima takdir pernikahannya bersama pria yang terpaut jarak usia 12 tahun darinya? Apalagi, Seruni masih bersikeras memanggil suami dengan sebutan "Paman"!
Saksikan kisah cinta penuh liku, aksi menegangkan dan kepolosan Seruni yang meluluhkan hati dingin Kapten Fikri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTRI KAPTEN GADIS DI BAWAH UMUR
Tubuh Seruni yang mungil dalam dekapan Fikri mendadak terasa amat lemas. Tangisnya yang semula membuncah pelan-pelan mereda, berganti dengan helaan napas pendek yang memburu. Fikri menyentuh kening gadis itu yang tersandar di bahunya, panas seperti membakar kulit. Rasa lelah fisik, beban mental bertubi-tubi, serta dinginnya angin pemakaman akhirnya merubuhkan pertahanan tubuh Seruni.
"Seruni? Seruni!" panggil Fikri panik saat menyadari gadis itu sudah tak sadarkan diri, terkulai pasrah di pelukannya.
Tanpa membuang waktu, Fikri menggendong tubuh ringan itu di kedua tangannya. Langkah lebarnya tergesa-gesa membawa Seruni bukan ke kamar bawah yang asing, melainkan ke kamar pribadinya di lantai atas. Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, ia membaringkan tubuh Seruni di atas kasur utamanya, menyelimutinya hingga sebatas dada.
Fikri merogoh ponsel di saku celananya dengan gerakan cepat. "Dimas! Segera ke rumah dinas saya. Bawa dokter medis kesatuan ke sini sekarang! Kalau ada, usahakan dokter wanita!" tegas Fikri sebelum Dimas sempat bertanya.
Sembari menunggu, Fikri berlutut di samping ranjang. Ditatapnya wajah polos Seruni yang kini memerah akibat demam tinggi. Poni lurusnya menempel basah di dahi yang hangat. Hati sang Kapten yang terbiasa keras oleh medan tugas mendadak berdesir pilu. Gadis sekecil ini harus menanggung duka begitu berat, kehilangan satu-satunya tempat bersandar dalam hidup hanya dalam hitungan jam.
Kurang dari tiga puluh menit, suara derak mobil terdengar berhenti di halaman depan. Tak lama kemudian, pintu rumah diketuk keras. Fikri bergegas turun dan membukanya.
Di ambang pintu, Briptu Dimas berdiri bersama seorang wanita berjas dokter putih bersiap membawa tas medisnya. Dokter Farida, seorang perwira medis kepolisian yang berparas jelita dan selalu berpenampilan anggun. Farida sudah lama menaruh hati pada Fikri. Baginya, sang Kapten adalah sosok pria sempurna yang selama ini enggan membuka hati untuk wanita mana pun karena alasan klasik: pekerjaan kepolisian yang penuh risiko maut.
"Kapten Fikri? Anda sakit? Dimas bilang ada panggilan darurat dari rumah Anda," tanya Farida dengan nada suara yang memancarkan rasa cemas mendalam. Matanya menatap Fikri dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Bukan saya, Dokter Farida," jawab Fikri datar, memberi jalan agar mereka bisa masuk. "Tolong periksa istri saya. Dia demam tinggi."
Langkah kaki Farida mendadak terhenti di ruang tamu. Wajah cantiknya membeku. "Istri? Kapten... Anda bercanda, kan? Sejak kapan Anda punya istri?" tawa kecil yang canggung keluar dari bibirnya, menganggap perkataan Fikri hanya lelucon garing.
"Saya tidak sedang bercanda. Mari ikut ke kamar saya," pangkas Fikri dingin, memutar tubuh dan memandu langkah menuju lantai atas.
Farida menukar pandang heran pada Dimas, namun Dimas hanya bisa menunduk tak berani bersuara. Dengan dada bergemuruh penasaran bercampur cemas, Farida menyusul Fikri naik ke kamar utama.
Namun, kejutan sesungguhnya baru saja menyapa Farida begitu melangkah melewati pintu kamar.
Di atas ranjang besar milik sang Kapten yang terkenal dingin dan steril itu, terbaring seorang gadis muda yang tampak sangat belia. Baju hitam kebesaran masih melekat di tubuhnya yang ramping, wajahnya polos, dan perawakannya memancarkan kesan yang masih sangat remaja.
Farida terbelalak, menutup mulutnya tidak percaya. "Kapten... ini... ini tidak mungkin. Gadis ini bahkan terlihat seperti anak sekolah! Anda menikahi gadis di bawah umur?!" tanya Farida dengan nada tidak senang yang gagal ia sembunyikan.
Fikri menatap Farida dengan tatapan tajam mengintimidasi. "Dia memang istri sah saya. Tugas Anda di sini adalah memeriksanya secara medis, Dokter Farida, bukan mempertanyakan pernikahan saya."
Suara tegas Fikri membuat Farida bungkam seketika. Dengan hati yang bergemuruh pahit dan kecewa, Farida mendekati ranjang. Ia mengeluarkan stetoskop dan termometer, mulai memeriksa kondisi fisik Seruni dengan profesionalitas yang dipaksakan.
"Suhu tubuhnya mencapai 39,2 derajat Celsius," terang Farida seraya menarik alat pemeriksanya. Pandangannya menatap tajam wajah pucat Seruni yang sedang menggebu dalam dekap panas tubuhnya sendiri. "Dia tidak mengalami infeksi fisik parah. Ini murni akibat syok berat, kelelahan emosional, dan stres hebat yang memicu demam tinggi. Tubuhnya menolak menerima beban mental yang mendadak."
Farida mengeluarkan beberapa obat penurun panas dan vitamin dari tasnya, meletakkannya di meja samping tempat tidur.
"Berikan obat ini setelah dia makan sedikit. Jangan biarkan dia kelelahan lagi," ucap Farida formal. Matanya melirik Fikri dengan sorot luka yang tersembunyi. "Saya sudah selesai, Kapten."
"Terima kasih, Dokter. Dimas, tolong antar Dokter Farida kembali ke pos medis," perintah Fikri.
Di dalam mobil patroli yang melaju membelah malam yang masih diguyur gerimis, suasana terasa amat canggung. Farida yang duduk di kursi penumpang tak lagi mampu menahan gejolak di dadanya.
"Dimas," panggil Farida dengan suara tertahan. "Jelaskan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Kapten Fikri mendadak punya istri... dan gadis itu terlihat sangat belia?"
Dimas menghela napas panjang seraya menatap lurus ke jalan raya. "Kemarin sore ada penggerebekan perampokan, Dokter. Seorang kakek mengorbankan nyawanya dengan menerjang peluru demi menyelamatkan Kapten dari tembakan."
Farida tersentak pelan. "Lalu?"
"Gadis itu... Seruni Shafira. Dia cucu tunggal Kakek Rahmat. Di saat-saat terakhirnya di UGD, Kakek itu memohon agar Kapten menikahi Seruni karena tidak ada lagi keluarga yang memeliharanya di dunia ini. Kapten merasa berutang nyawa... dan merelakan dirinya memegang amanah itu tepat sebelum sang Kakek meninggal," jelas Dimas pelan.
Jantung Farida serasa diremas pahit. Pernikahan wasiat. Utang nyawa. Farida tahu betul betapa tinggi nilai kehormatan dan integritas seorang Fikri Rafisqy. Pria itu tidak akan pernah menolak permintaan seseorang yang telah mati demi menyelamatkannya. Namun mengetahui Fikri kini milik wanita lain, meski hanya seorang gadis kecil, merobek mati rasa cintanya yang telah ia simpan bertahun-tahun.
"Konyol..." gumam Farida pelan, menatap keluar jendela mobil dengan mata memerah. "Menukar masa depan hanya demi utang nyawa..."
Sementara itu, di kamar utama, keheningan malam menyelimuti Fikri dan Seruni.
Fikri duduk di tepi kasur. Di tangannya ada sebuah baskom kecil berisi air hangat dan selembar handuk putih halus. Dengan telaten dan amat perlahan, tangan kekar yang biasa memegang senjata berat itu mengusap kening basah Seruni. Ditepuk-tepuknya leher dan dahi gadis itu untuk menurunkan suhu panas yang menguasai tubuhnya.
Seruni mengerang pelan dalam tidurnya yang gelisah. "Kakek... dingin... Seruni mau ikut..." bisiknya terbata-bata dengan bibir mengelupas.
Hati Fikri berdenyut nyeri. Ia mengambil jemari Seruni yang mungil dan menggenggamnya erat, mencoba mengalirkan rasa hangat dan rasa aman. "Aku di sini, Seruni... Kamu tidak sendirian lagi," bisik Fikri lembut di tepi telinga gadis itu.
Suara ketukan pintu pelan menyentak Fikri. Dimas telah kembali. Fikri berdiri dan berjalan keluar kamar, menutup pintu rapat-rapat agar tak mengganggu tidur Seruni.
"Kapten, Dokter Farida sudah sampai dengan selamat," lapor Dimas menunduk hormat.
Fikri mengangguk. "Bagus. Dimas, ada tugas penting untukmu besok pagi. Tolong lakukan pencarian latar belakang lengkap tentang Seruni Shafira."
Dimas mendongak. "Latar belakang, Kapten?"
"Ya. Cari tahu keberadaan atau rekam jejak orang tuanya, apakah masih ada kerabat lain yang tersisa. Dan yang paling penting, cari tahu di mana sekolahnya. Saya ingin memastikan pendidikannya tidak terputus sama sekali karena kejadian ini," tegas Fikri.
"Siap, Kapten! Besok pagi seluruh data akan saya serahkan," jawab Dimas mantap.
Fikri kembali ke kamarnya setelah Dimas pamit. Ia menatap gadis kecil yang kini tertidur lelap setelah dahinya dikompres. Di tengah bayang-bayang masa depan yang penuh tanda tanya, sang Kapten bersumpah akan menjaga gadis kecil itu.