Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.
Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.
Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Kalimat itu diucapkannya dengan sangat pelan. Namun, Dara bisa merasakan beratnya penyesalan yang selama ini disimpan suaminya. Dara ikut menunduk melihat kaki kirinya. Lalu ia tersenyum tipis.
"Aku tidak pernah menyalahkan Aa."
Gavin mengangkat kepala.
Dara menatapnya dengan sorot mata yang begitu tenang. "Dulu kita sama-sama jadi korban. Bukan Aa yang menabrakku. Bukan juga Aa yang membuat kakiku seperti ini." Ia berhenti sejenak. "Orang jahat itulah penyebab semuanya."
Gavin mengembuskan napas pelan. "Tetap saja. Kalau bukan karena aku–"
Dara menggeleng pelan. "Kalau waktu itu aku memilih diam, mungkin sekarang Aa sudah tidak ada."
Kalimat sederhana itu membuat Gavin terdiam.
Dara tersenyum kecil. "Jadi menurutku. Tuhan menukar satu hal dengan hal yang lain. Aa tetap hidup. Aku juga tetap hidup, meskipun kaki ini tidak lagi sempurna."
Dara menepuk pelan lutut kirinya. "Tapi aku masih bisa berjalan. Masih bisa bekerja. Masih bisa tertawa. Masih bisa bertemu Aa."
Senyum Dara semakin lebar. "Jadi aku tidak menyesal."
Untuk beberapa saat Gavin hanya memandang wajah istrinya. Ia benar-benar tidak mengerti bagaimana perempuan di hadapannya bisa menyimpan hati seluas itu. Sejak pertama bertemu, tidak sekali pun Dara menyalahkannya. Tidak pernah menuntut. Tidak pernah mengungkit pengorbanannya. Yang selalu ia lakukan hanyalah menerima keadaan dengan lapang dada.
"Terima kasih," ucap Gavin pelan.
Dara terkekeh kecil. "Kenapa malah berterima kasih?"
"Karena kamu tidak membenciku," ucap Gavin dengan ekspresi serius.
Dara menggeleng sambil tersenyum. "Membenci Aa buat apa?"
"Hidup dengan menyimpan rasa benci itu sangat capek, loh," lanjut Dara.
Jawaban polos itu membuat Gavin tanpa sadar tertawa kecil. "Itu alasanmu?"
"Iya."
Dara mengangguk mantap. "Kalau terus membenci orang, nanti bisa cepat tua."
Gavin menatap wajah istrinya beberapa detik. "Lalu?"
"Aku maunya awet muda."
Gavin akhirnya benar-benar tertawa. Suara tawanya terdengar pelan, tetapi begitu lepas.
Dara ikut tersenyum puas. "Nah. Aa lebih cocok banyak senyum."
"Kok begitu?"
"Soalnya kalau Aa senyum ...." Dara memperhatikan wajah suaminya cukup lama. "Jadi lebih ganteng."
Begitu kalimat itu keluar, Dara langsung membelalakkan matanya sendiri. Dia sangat terkejut. Kenapa ia bisa mengatakan itu?
Pipi Dara seketika memerah. "A-aku ...." Ia buru-buru menyesap teh untuk menyembunyikan rasa malunya.
Sementara Gavin justru ikut salah tingkah. Ia berdeham pelan sambil mengusap tengkuknya.
"Terima kasih."
Dua orang itu akhirnya sama-sama menundukkan kepala. Sama-sama malu. Mereka tidak berani saling menatap.
Keheningan itu justru membuat suasana terasa semakin hangat. Beberapa saat kemudian Gavin kembali membuka pembicaraan.
"Dara."
"Iya?"
"Aku sebenarnya masih mencari tahu tentang kecelakaan itu."
Dara kembali menatap suaminya. Lalu, mengangguk pelan. Ia sudah mendengar dugaan itu sebelumnya.
Gavin yakin kejadian itu bukan kecelakaan biasa. Orang yang sudah menabrak itu memang sengaja ingin mencelakakannya atau bisa juga ingin membunuhnya.
"Tapi ...." Gavin mengembuskan napas panjang. "Karena kejadian itu sudah belasan tahun berlalu. Banyak bukti yang hilang. Orang-orang yang mengetahui kejadian itu juga sulit ditemukan."
Dara ikut terdiam. Ia mencoba mengingat kembali kejadian yang selama ini hanya muncul sebagai potongan-potongan ingatan. Perlahan keningnya berkerut.
"Aa."
"Hm?" Gavin menatap Dara.
"Sepertinya aku ingat sesuatu."
Gavin langsung menoleh. "Apa?"
"Waktu mobil itu menabrak Aa. Aku sempat melihat pengemudinya."
Tatapan Gavin berubah serius. "Kamu ingat wajahnya?"
Dara menggeleng pelan. "Tidak jelas. Karena semuanya terjadi begitu cepat. Tapi aku ingat tangannya."
"Tangannya?"
Dara menutup mata, berusaha mengingat lebih dalam. "Di kedua jari tangannya memakai banyak cincin."
Gavin langsung mengingat baik-baik setiap ucapan Dara. "Lalu?"
Dara kembali memejamkan mata. Beberapa detik kemudian matanya terbuka.
"Aku juga merasa orang itu kidal."
Gavin mengernyit. "Kenapa kamu berpikir begitu?"
"Soalnya ...." Dara mengangkat tangan kirinya, lalu mencontohkan gerakan seseorang yang sedang memegang kemudi. "Waktu itu rokoknya terselip di tangan kiri. Padahal tangan itu juga yang memegang setir."
Mata Gavin langsung membulat. Informasi itu terdengar sederhana. Namun, bisa menjadi petunjuk yang sangat penting. Ia langsung menyandarkan punggung ke kursi sambil berpikir keras.
"Itu saja yang masih kuingat," ujar Dara.
Gavin menatap laut yang gelap di hadapannya. Meski petunjuk itu belum cukup untuk menemukan pelaku, setidaknya kini ia memiliki satu informasi baru yang selama ini tidak pernah diketahui siapa pun.
Sementara itu di tempat yang jauh dari vila, di dalam sebuah ruang kerja yang remang-remang, seorang pria paruh baya memutar cincin besar di jari kirinya sambil menatap foto Gavin yang tergeletak di atas meja.
Perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. "Aku kira semua sudah selesai. Rupanya dia mulai mencari tahu kejadian tiga belas tahun yang lalu."
Lalu, orang itu meraih sebuah ponsel. "Lacak keberadaan Gavin. Jangan sampai dia menemukan apa pun." Sambungan telepon itu pun terputus.
Tanpa disadari Gavin dan Dara, ada seseorang yang selama ini bersembunyi dalam bayang-bayang, kini mulai bergerak kembali.
sukses selalu utk kak author 🤗