NovelToon NovelToon
Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Orang Disabilitas
Popularitas:159.4k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.

Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.

Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Kalimat itu diucapkannya dengan sangat pelan. Namun, Dara bisa merasakan beratnya penyesalan yang selama ini disimpan suaminya. Dara ikut menunduk melihat kaki kirinya. Lalu ia tersenyum tipis.

"Aku tidak pernah menyalahkan Aa."

Gavin mengangkat kepala.

Dara menatapnya dengan sorot mata yang begitu tenang. "Dulu kita sama-sama jadi korban. Bukan Aa yang menabrakku. Bukan juga Aa yang membuat kakiku seperti ini." Ia berhenti sejenak. "Orang jahat itulah penyebab semuanya."

Gavin mengembuskan napas pelan. "Tetap saja. Kalau bukan karena aku–"

Dara menggeleng pelan. "Kalau waktu itu aku memilih diam, mungkin sekarang Aa sudah tidak ada."

Kalimat sederhana itu membuat Gavin terdiam.

Dara tersenyum kecil. "Jadi menurutku. Tuhan menukar satu hal dengan hal yang lain. Aa tetap hidup. Aku juga tetap hidup, meskipun kaki ini tidak lagi sempurna."

Dara menepuk pelan lutut kirinya. "Tapi aku masih bisa berjalan. Masih bisa bekerja. Masih bisa tertawa. Masih bisa bertemu Aa."

Senyum Dara semakin lebar. "Jadi aku tidak menyesal."

Untuk beberapa saat Gavin hanya memandang wajah istrinya. Ia benar-benar tidak mengerti bagaimana perempuan di hadapannya bisa menyimpan hati seluas itu. Sejak pertama bertemu, tidak sekali pun Dara menyalahkannya. Tidak pernah menuntut. Tidak pernah mengungkit pengorbanannya. Yang selalu ia lakukan hanyalah menerima keadaan dengan lapang dada.

"Terima kasih," ucap Gavin pelan.

Dara terkekeh kecil. "Kenapa malah berterima kasih?"

"Karena kamu tidak membenciku," ucap Gavin dengan ekspresi serius.

Dara menggeleng sambil tersenyum. "Membenci Aa buat apa?"

"Hidup dengan menyimpan rasa benci itu sangat capek, loh," lanjut Dara.

Jawaban polos itu membuat Gavin tanpa sadar tertawa kecil. "Itu alasanmu?"

"Iya."

Dara mengangguk mantap. "Kalau terus membenci orang, nanti bisa cepat tua."

Gavin menatap wajah istrinya beberapa detik. "Lalu?"

"Aku maunya awet muda."

Gavin akhirnya benar-benar tertawa. Suara tawanya terdengar pelan, tetapi begitu lepas.

Dara ikut tersenyum puas. "Nah. Aa lebih cocok banyak senyum."

"Kok begitu?"

"Soalnya kalau Aa senyum ...." Dara memperhatikan wajah suaminya cukup lama. "Jadi lebih ganteng."

Begitu kalimat itu keluar, Dara langsung membelalakkan matanya sendiri. Dia sangat terkejut. Kenapa ia bisa mengatakan itu?

Pipi Dara seketika memerah. "A-aku ...." Ia buru-buru menyesap teh untuk menyembunyikan rasa malunya.

Sementara Gavin justru ikut salah tingkah. Ia berdeham pelan sambil mengusap tengkuknya.

"Terima kasih."

Dua orang itu akhirnya sama-sama menundukkan kepala. Sama-sama malu. Mereka tidak berani saling menatap.

Keheningan itu justru membuat suasana terasa semakin hangat. Beberapa saat kemudian Gavin kembali membuka pembicaraan.

"Dara."

"Iya?"

"Aku sebenarnya masih mencari tahu tentang kecelakaan itu."

Dara kembali menatap suaminya. Lalu, mengangguk pelan. Ia sudah mendengar dugaan itu sebelumnya.

Gavin yakin kejadian itu bukan kecelakaan biasa. Orang yang sudah menabrak itu memang sengaja ingin mencelakakannya atau bisa juga ingin membunuhnya.

"Tapi ...." Gavin mengembuskan napas panjang. "Karena kejadian itu sudah belasan tahun berlalu. Banyak bukti yang hilang. Orang-orang yang mengetahui kejadian itu juga sulit ditemukan."

Dara ikut terdiam. Ia mencoba mengingat kembali kejadian yang selama ini hanya muncul sebagai potongan-potongan ingatan. Perlahan keningnya berkerut.

"Aa."

"Hm?" Gavin menatap Dara.

"Sepertinya aku ingat sesuatu."

Gavin langsung menoleh. "Apa?"

"Waktu mobil itu menabrak Aa. Aku sempat melihat pengemudinya."

Tatapan Gavin berubah serius. "Kamu ingat wajahnya?"

Dara menggeleng pelan. "Tidak jelas. Karena semuanya terjadi begitu cepat. Tapi aku ingat tangannya."

"Tangannya?"

Dara menutup mata, berusaha mengingat lebih dalam. "Di kedua jari tangannya memakai banyak cincin."

Gavin langsung mengingat baik-baik setiap ucapan Dara. "Lalu?"

Dara kembali memejamkan mata. Beberapa detik kemudian matanya terbuka.

"Aku juga merasa orang itu kidal."

Gavin mengernyit. "Kenapa kamu berpikir begitu?"

"Soalnya ...." Dara mengangkat tangan kirinya, lalu mencontohkan gerakan seseorang yang sedang memegang kemudi. "Waktu itu rokoknya terselip di tangan kiri. Padahal tangan itu juga yang memegang setir."

Mata Gavin langsung membulat. Informasi itu terdengar sederhana. Namun, bisa menjadi petunjuk yang sangat penting. Ia langsung menyandarkan punggung ke kursi sambil berpikir keras.

"Itu saja yang masih kuingat," ujar Dara.

Gavin menatap laut yang gelap di hadapannya. Meski petunjuk itu belum cukup untuk menemukan pelaku, setidaknya kini ia memiliki satu informasi baru yang selama ini tidak pernah diketahui siapa pun.

Sementara itu di tempat yang jauh dari vila, di dalam sebuah ruang kerja yang remang-remang, seorang pria paruh baya memutar cincin besar di jari kirinya sambil menatap foto Gavin yang tergeletak di atas meja.

Perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. "Aku kira semua sudah selesai. Rupanya dia mulai mencari tahu kejadian tiga belas tahun yang lalu."

Lalu, orang itu meraih sebuah ponsel. "Lacak keberadaan Gavin. Jangan sampai dia menemukan apa pun." Sambungan telepon itu pun terputus.

Tanpa disadari Gavin dan Dara, ada seseorang yang selama ini bersembunyi dalam bayang-bayang, kini mulai bergerak kembali.

1
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🙏🙏🙏 makasih
Mutaharotin Rotin
🌹🌹🌹
Sugiharti Rusli
di jaman sekarang memang yah kalo salah mengajarkan nilai" kehidupan ke anak, bisa jadi petaka di masa depan yah🙏🙏🙏
Sugiharti Rusli
bahkan Gavin membebaskan anak" nya mengejar cita" yang sesuai minat mereka dan tidak berpatokan seperti dirinya yang jadi pengusaha,,,
Sugiharti Rusli
baik Gavin dan Dara tidak pernah mencontohkan kepada anak" nya tentang status mereka yang memiliki perkebunan dan usaha yang semakin besar,,,
Sugiharti Rusli
benar sih, kalo di tangan orang tua yang paham menanamkan nilai" baik, seorang anak bisa banyak mencontoh dari kedua ortunya yah,,,
Sugiharti Rusli
ternyata kesederhanaan berpikir Dara dulu bisa berpengaruh pada kehidupan mereka sekarang yah
Sugiharti Rusli
wah senang deh ada ekstra part meski hanya satu saja yah😁😁😁
Rahmat
Kirim kopi ah biar thourx smangat ngetikx awal cerita sampai next tammat semuax aku suka bukan cuman cerita novelx sj tapi ilmux banyak,wejangan"juga👍🫡🫡🫡
Aditya hp/ bunda Lia
makasih extra nya Thor bahagiaaaaa ... Gavin dara
dyah EkaPratiwi
terimakasih cerinya kak😍
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
waduh
Ita rahmawati
suka bab bonus yg bener bener bonus,,kata katanya bagus bgt bisa jd contoh utk kita pelajari 🤗🤗
Ummee
Terimakasih kembali kak... 🙏
sukses selalu utk kak author 🤗
Ummee
ya Allah... ada lagi kembar😍😍😍
Ummee
eehh... uda punya bocil ternyata Dara+Gavin, selamat ya...
Nar Sih
masyaalloh kak ,bnr,,kata,,yg bagus yg bisa jdi motifasi kita para pebaca semagat kak santi dan terus lah berkarya dgn tulisan dan cerita mu ,👍👍🥰🥰
Risma Hye Chan
indah banget kalimat extra part-nya
dyah EkaPratiwi
Alhamdulillah sudah tertangkap
Ayuk Witanto
ternyata yang nabrak juga sudah bergerak duluan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!