Tiga tahun berbakti sebagai istri seolah tak ada artinya bagi Aira ketika Radit diceraikannya secara mendadak tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka.
Demi kehadiran sekretaris cantik, Aira terpaksa melangkah menembus hujan deras membawa kopernya. Kemalangan tak berhenti di situ; di tengah jalan ia diserang sekelompok preman hingga tak berdaya.
Di saat kritis, sosok pria tinggi bertato bernama Lucas datang menyelamatkannya. Namun, pertolongan itu membawa takdir baru. Dalam pengaruh obat akibat dijebak, Lucas membawa Aira ke hotel. Dengan bisikan "Jangan takut, aku mandul," Aira yang hancur akhirnya memejamkan mata dan pasrah.
Esok harinya, Aira pergi memulai hidup baru dari nol—mencari kontrakan dan pekerjaan. Namun beberapa minggu kemudian, garis dua di alat tes kehamilan meruntuhkan dunianya. Jika Radit sudah lama tak menyentuhnya, maka janin itu jelas milik Lucas. Lantas, apakah pengakuan mandul itu hanya kebohongan manis, atau ada rahasia besar yang sengaja Lucas sembunyikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Keesokan harinya pagi menyusup lembut melalui tirai jendela kamar VVIP rumah sakit, memantul di atas lantai marmer yang bersih. Aira perlahan membuka matanya.
Tidak ada lagi rasa pusing berputar atau gejolak mengerikan di perutnya seperti kemarin.
Tubuhnya terasa jauh lebih ringan dan segar berkat aliran cairan infus serta istirahat total semalaman.
Namun, perhatian Aira langsung teralihkan pada sesosok pria yang berada di sisi ranjangnya.
Lucas tidak beranjak dari tempat duduknya semalaman penuh.
Pria itu tertidur dalam posisi duduk dengan kepala bersandar di tepi ranjang, sementara sebelah tangannya masih menggenggam erat jemari Aira dengan penuh kepemilikan dan kesetiaan yang luar biasa.
Melihat bulu mata lentik yang menenun di atas wajah lelah sang pemilik hotel, dada Aira bergemuruh hangat.
Pria yang selama ini dikenal dingin, kejam pada lawan bisnis, dan ditakuti banyak orang, kini tampak begitu rapuh sekaligus tulus dalam menjaga tidurnya.
Pergerakan kecil di tangan Aira membuat mata Lucas langsung terbuka tajam.
Sisa rasa kantuk di wajahnya seketika lenyap berganti dengan kesiagaan penuh.
"Aira?" panggil Lucas serak, langsung menegakkan tubuhnya.
Pria itu tanpa buang waktu menempelkan telapak tangannya ke kening Aira, lalu turun ke pipinya untuk memeriksa suhu tubuh.
"Bagaimana keadaanmu? Apa, masih mual? Ada yang sakit?" rentetan pertanyaan itu meluncur cepat dengan nada penuh perhatian.
Aira menggeleng pelan sambil tersenyum simpul. "Sudah jauh lebih baik, Lucas. Badanku sudah tidak lemas lagi."
Lucas menghembuskan napas lega yang panjang, lalu mengecup telapak tangan Aira sekilas.
Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk pelan, dan seorang perawat masuk membawa nampan berisi sarapan khusus ibu hamil, bubur ayam berkaldu hangat dengan potongan daging lembut dan segelas susu jahe manis.
Melihat Aira yang hendak bangkit untuk mengambil mangkuk tersebut, Lucas segera mencegahnya.
"Biar aku saja."
Dengan sangat telaten, Lucas mengambil mangkuk tersebut, mengaduknya perlahan, lalu menyendokkan bubur hangat itu ke hadapan Aira.
Meski wanita itu sempat menolak karena merasa kikuk disuapi oleh sang bos besar, tatapan mutlak Lucas membuatnya pasrah membuka mulut.
Pemandangan itu membuat perawat yang menyaksikannya di ujung ruangan tersenyum kecil menahan kagum.
Menjelang siang, dokter kandungan yang merawat Aira datang untuk melakukan pemeriksaan rutin terakhir.
Setelah memeriksa tensi dan hasil USG singkat, dokter tersenyum ramah.
"Kondisi Nyonya Aira sudah sangat stabil, dan ketiga calon bayi berkembang dengan baik. Hari ini Anda sudah boleh diperbolehkan pulang, Pak Lucas," ujar sang dokter.
"Tapi, dengan catatan: perbanyak istirahat total, hindari stres, dan kurangi aktivitas berat di dapur untuk beberapa minggu ke depan."
Lucas mengangguk tegas. "Baik, Dok. Terima kasih."
Begitu sang dokter dan perawat meninggalkan ruangan, Lucas langsung menatap Aira lurus-lurus saat membereskan barang-barang.
"Nah, dengar kan kata dokter? Mulai hari ini, kamu tidak akan kembali ke rumah dinas. Kamu akan tinggal bersamaku di tempat yang lebih aman dan terawat," ucap Lucas tanpa bantahan.
Aira tertegun sejenak, lalu menunduk gelisah. Jemarinya meremas selimut rumah sakit.
"Tapi, Lucas, kita belum menikah. Kalau aku langsung tinggal serumah denganmu, pasti akan ada banyak omongan negatif dari orang-orang di luar sana."
Lucas menghentikan kegiatannya. Pria itu berjalan mendekat, menundukkan sedikit wajahnya untuk mengunci pandangan Aira, lalu tersenyum miring penuh arti.
"Hm, jadi calon istriku ini sudah tidak sabar mau segera menikah?" goda Lucas dengan suara baritonnya yang rendah dan menggoda.
Blush...
Pipi Aira langsung memerah padam hingga menjalar ke lehernya.
Ia mendelik sebal namun justru terlihat sangat menggemaskan di mata Lucas.
"Bukan itu maksudku, Lucas!" protes Aira dengan suara tertahan salah tingkah.
Lucas tertawa kecil, suara tawa yang begitu renyah dan jarang sekali didengar orang lain.
Ia meraih dagu Aira dengan lembut, mengangkat wajah wanita itu agar menatap matanya.
"Tenang saja, sayang. Aku sedang mengurus semuanya secepat kilat. Sebelum orang-orang sempat bergosip, namamu sudah resmi tercatat sebagai nyonya di dalam Kartu Keluargaku,"bisik Lucas penuh keyakinan.
Aira tertegun sejenak menatap manik mata hitam Lucas yang memancarkan keseriusan mutlak.
Perlahan, keraguan di hatinya melebur, digantikan oleh rasa aman yang luar biasa. Wanita itu akhirnya menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Namun, sebelum Lucas sempat mengatakan hal lain, suara getaran bernada dering khas dari dalam tas jinjing di atas nakas mendadak memecah keheningan kamar VVIP tersebut.
Brrrrt... Brrrrt.
Aira menoleh, lalu meraih ponsel miliknya yang tergeletak di dalam tas.
Layar ponsel itu menampilkan nama yang sangat ia kenal yaitu Rizal.
Lucas menyipitkan mata sekilas, melirik layar ponsel Aira, sementara wanita itu mengangkat panggilan tersebut dan langsung menyalakannya dalam mode speaker atas isyarat penasaran dari sang pria.
"Halo, Chef?" suara Rizal terdengar langsung menyeruak keluar, terengah-engah diiringi latar suara bising dentingan wajan dan hiruk-pikuk dapur utama hotel.
"Bagaimana keadaan Anda? Apa sudah membaik?"
Aira melirik Lucas yang berdiri tepat di samping ranjang dengan tangan melipat di dada, lalu menjawab dengan suara lembut, "Alhamdulillah sudah jauh lebih baik, Rizal."
Di ujung telepon, Rizal menghela napas lega yang begitu panjang.
"Syukurlah kalau begitu, Chef! Jujur saja, kami semua di dapur benar-benar kewalahan. Menu ikan kerapu asam manis kemarin masih terus diburu pelanggan, pesanan membludak tanpa henti hari ini. Chef, kapan kira-kira bisa masuk kerja lagi?"
Aira terdiam sejenak, melirik ke arah Lucas yang langsung menggelengkan kepala tegas mengingatkan pesan dokter agar ia tidak beraktivitas berat di dapur untuk beberapa minggu ke depan.
Aira menelan salivanya, lalu menatap wajah Lucas yang memasang ekspresi 'coba-coba-membantah' sembari melipat tangan.
Wanita itu pun tersenyum kecil sebelum kembali berbicara ke arah ponselnya.
"Besok saya kabari lagi ya, Rizal," jawab Aira berusaha terdengar profesional.
"Untuk sekarang, saya titip dapur, kamu pimpin dulu rekan-rekan yang lain, ya."
"Siap, Chef! Demi kelangsungan perut para tamu dan omset hotel, saya handle!" seru Rizal penuh semangat dari ujung sana sebelum sambungan telepon akhirnya ditutup.
Aira meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas, lalu mendengkus pelan sembari menatap Lucas.
"Puas, Tuan Besar? Anak buahku di bawah sudah menjerit-jerit meminta Head Chef mereka kembali."
Lucas mendengus geli, lalu membungkuk untuk mengecup singkat puncak kepala Aira.
"Biarkan mereka menjerit," ucap Lucas santai namun mutlak.
"Karena mulai hari ini, prioritas utamamu bukan lagi kompor dan wajan di dapur hotel itu, melainkan kesehatanmu, dan tiga jagoan kecil kita."
Aira kembali merona, jemarinya meremas selimut rumah sakit dengan debaran jantung yang menghangat, menyadari bahwa hidupnya kini benar-benar telah berubah untuk selamanya.
gimana Radit, ternyata kamu yang mandul 🤣🤣 jadi anak siapa yang dalam kandungan Mila? kan pelacur murahan yah 🤣🤣
niat hati menjatuhkan chef Aira, kamu yang akan menghadapi kekuasaan Lucas
mama kandung yang waras pasti ga akan mau punya menantu pelacur murahan seperti kamu, jadi jelas sekali chef Aira kelasnya jauh di atas kamu