Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Mengamati Sang Tuan Muda
Jendela kayu di lantai dua kastil itu sengaja dibiarkan sedikit terbuka, membiarkan angin kering perbukitan masuk ke dalam lorong yang temaram. Di balik celah bayangan tersebut, Baron Aran Denwick berdiri mematung. Pandangannya tak lepas dari lapangan berdebu di bawah sana.
Secara kasat mata, wajah Aran tetap sedingin es, seolah pemandangan di halaman belakang itu sama sekali tidak menarik minatnya. Namun, bagi pria yang pernah berdiri sebagai ujung tombak pengawal raja, matanya merekam setiap detail dengan ketelitian yang obsesif.
Sudah lebih dari sepekan sejak insiden di tepi tebing itu, dan perubahan pada diri anak tunggalnya terasa sama sekali tidak masuk akal.
Aran melihat bagaimana Arya memaksa kelima prajurit desa yang tak tahu aturan itu merayap di tanah berlumpur, mengangkat beban batu, dan berlari hingga paru-paru mereka nyaris pecah. Hukuman itu brutal, namun sangat terukur. Tidak ada siksaan fisik yang tak bertujuan; setiap porsi latihan dirancang untuk menghancurkan ego dan membangun ulang daya tahan. Dan yang paling mengejutkan bagi Aran, anak buahnya patuh. Mereka menuruti perintah Arya bukan semata-mata karena ia seorang bangsawan, melainkan karena teror murni yang ditanamkan pemuda itu pada hari duelnya dengan Max.
Namun, bukan kepemimpinan itu yang paling menyita pikiran Aran.
Mata sang Baron menyipit saat melihat Arya kembali mempraktekkan gerakan pedang anehnya di sudut lapangan. Langkah kaki yang menyilang, ayunan pedang yang memutar tanpa henti, dan perubahan sudut bahu yang begitu efisien. Aran telah menghabiskan paruh pertama hidupnya di medan perang, berhadapan dengan ratusan gaya bertarung dari berbagai wilayah Aetheria. Namun, ia tidak bisa mengidentifikasi akar dari aliran pedang putranya. Gerakan itu sangat ganjil, menabrak semua pakem pertahanan ksatria ortodoks, namun memancarkan aura ancaman yang sangat pekat.
Apakah trauma kematian bisa memicu naluri bertahan hidup seekor monster yang selama ini tertidur? batin Aran.
Jauh di lubuk hatinya yang tertutup rapat oleh rasa bersalah dan kebanggaan yang hancur, sebuah perasaan asing mulai tumbuh. Aran merasa bangga. Darah ksatria yang selama ini ia kira terputus pada tubuh lemah putranya, ternyata justru mengalir sangat deras. Ia memang tidak menunjukkannya di meja makan, tapi setiap kali ia melihat Arya berdiri tegak di lapangan dengan pedang di tangan, beban berat di pundak sang Baron terasa sedikit terangkat.
"Kau berdiri di sini lagi, Suamiku."
Suara lembut itu memecah lamunan Aran. Ia tidak menoleh, sudah tahu bahwa istrinya, Lisa, melangkah pelan menghampirinya dari ujung lorong. Wanita itu membawa selendang hangat yang disampirkan di bahunya, ikut berdiri di sisi Aran dan menatap ke luar jendela.
"Dia belum beristirahat sejak sarapan," gumam Lisa, nadanya dipenuhi perpaduan antara kelegaan dan kekhawatiran yang rumit.
Sebagai seorang ibu, perubahan Arya adalah sebuah keajaiban yang selama bertahun-tahun ia panjatkan dalam doanya. Pemuda yang dulu selalu menatap lantai, pucat, dan sering terbatuk darah itu kini telah menghilang. Lisa mencatat bagaimana putranya kini menghabiskan mangkuk makanannya hingga bersih, bagaimana otot-otot kecil mulai terbentuk di balik kemejanya, dan bagaimana napasnya kini jauh lebih teratur. Arya terlihat hidup. Ia tidak lagi terlihat seperti vas kaca rapuh yang akan pecah jika tertiup angin keras.
Namun, di sisi lain, naluri keibuannya menangkap sesuatu yang lebih kelam.
Lisa tumbuh dalam lingkungan bangsawan tinggi sebelum mengikuti suaminya ke wilayah buangan ini. Ia tahu persis bagaimana bentuk kekejaman dunia. Saat ia melihat mata putranya kini—saat Arya menatap bilah pedang atau menghardik para prajurit itu—Lisa tidak melihat kepolosan seorang remaja. Ia melihat ketajaman seorang pemangsa.
"Dulu, aku selalu takut kau akan mewariskan pedangmu padanya dan membawanya ke jalan yang penuh darah," bisik Lisa, menyandarkan kepalanya pelan ke bahu Aran. "Sekarang, tanpa kau ajari pun, dia sudah menemukan pedangnya sendiri. Dia tidak lagi terlihat seperti anak kita, Aran. Ada hawa dingin di matanya setiap kali ia mengayunkan besi itu."
Aran terdiam sejenak. Ia menggeser posisinya, menempatkan sebelah tangannya di punggung Lisa dengan kaku, mencoba memberikan ketenangan yang jarang bisa ia tunjukkan.
"Dunia ini tidak ramah pada orang-orang lemah, Lisa," jawab Aran dengan suara baritonnya yang pelan. "Jika ia harus menjadi seseorang yang dingin untuk bisa bertahan hidup di rawa ini... maka biarkanlah. Setidaknya, sekarang aku tahu tidak akan ada yang bisa menyakitinya dengan mudah."
Sementara sepasang suami istri itu mengamati dari ketinggian, di tingkat dasar, tepatnya di bawah bayangan atap dapur kayu yang menghadap ke lapangan, Hans sedang sibuk menata kendi air minum dan kain bersih.
Pelayan tua itu menghentikan pekerjaannya sejenak, mengusap keringat di dahinya, lalu menatap lurus ke arah lapangan.
Perasaan Hans saat ini sangat campur aduk. Ia telah mengabdi pada keluarga Denwick sejak masa-masa emas mereka di ibu kota, mengikuti kejatuhan mereka, dan merawat Arya sejak pemuda itu lahir. Bagi Hans, Arya dulunya adalah sosok rapuh yang harus ia lindungi dan ia layani dengan penuh belas kasih.
Namun, hari ketika Arya menempelkan pedang berkarat itu ke leher Max telah meruntuhkan seluruh persepsi lamanya.
Hans tidak akan pernah melupakan kilatan di mata tuan mudanya hari itu. Itu bukan sekadar keberanian konyol anak muda. Ketenangan saat mengendalikan situasi, suara yang datar namun menusuk, dan presisi absolut saat mengeksekusi kelemahan lawan—itu adalah kualitas dari seorang jenderal perang yang matang.
Setiap pagi, saat Hans membawakan sarapan ke kamar, ia kini secara insting menundukkan kepalanya lebih rendah dari biasanya. Ada otoritas baru yang menguar dari tubuh Arya, sebuah tekanan tak kasat mata yang menuntut rasa hormat bukan karena garis keturunan, melainkan karena kapabilitas murni.
Hans melihat bagaimana lima prajurit berandalan yang dulu selalu mencibir keluarga Denwick kini gemetar ketakutan hanya dengan satu lirikan dari Arya. Mereka tidak berani mengeluh, tidak berani membantah, dan mulai bertindak layaknya tentara sungguhan. Bagi sebuah baroni yang berada di ambang kebangkrutan dan menjadi incaran banyak musuh, memiliki pemimpin berhati besi adalah anugerah terbesar.
Dewa-Dewi akhirnya menjawab doa keluarga ini, batin Hans, mengukir senyum tipis di wajah keriputnya. Matanya sedikit berkaca-kaca karena rasa bangga yang meluap. Tuan muda bukan lagi anak yang harus dilindungi. Beliau adalah penguasa sejati tempat ini.
Di tengah lapangan, Arya menyelesaikan rangkaian putaran pedangnya. Ia menurunkan senjatanya, membuang napas panjang, dan membiarkan keringat menetes dari ujung dagunya. Ia mengusap pelipisnya, lalu menatap sekeliling. Instingnya samar-samar menyadari bahwa ia sedang diawasi dari berbagai sudut kastil.
Namun, ia tidak peduli. Perhatian utamanya saat ini hanyalah pada pedang usang di tangannya. Fondasi gerakannya telah terbentuk secara utuh. Ia hanya butuh satu penyelarasan akhir untuk menyatukan aliran geometrinya dengan ledakan aura crimson di dadanya.
Langkah selanjutnya adalah menyempurnakan tarian kematian itu, merumuskannya secara permanen, dan memberinya nama.
👍