Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Pertarungan Jarak Dekat
Suasana di dalam kotak besi berukuran dua kali dua meter itu mendadak menjadi sangat sangit dan menyesakkan. Dinding stainless steel lift memantulkan bayangan empat pria yang berdiri dalam keheningan yang janggal. Lift mulai bergerak naik secara perlahan dengan dengung yang halus.
Lantai B1... naik ke Lantai 1...
Pria bersnelli dokter berdiri di sisi kiri depan, sementara 'perawat' berdiri di sebelah kanannya. Sedangkan Farhan berdiri tepat di tengah, dan melindungi posisi Arya yang berada di pojok belakang.
Melalui pantulan pada pintu besi lift yang mengkilap, Farhan melihat pergerakan halus dari tangan kanan sang 'dokter'.
Jarinya bergerak menyusup ke balik jas laboratorium putihnya. Pada saat yang bersamaan, si 'perawat' menggeser tumpuan kakinya, dan bersiap melakukan serangan mendadak dari arah samping.
"Dokter..." ujar Farhan tiba-tiba dengan suara tenang yang memecah keheningan. "Sejak kapan RSUD Bina Husada mengizinkan dokternya memakai sepatu boot taktis berujung besi?"
Pria bersnelli dokter itu membeku sejenak.
Belum sempat sang 'dokter' menjawab, Farhan sudah bergerak lebih dulu!
BAM!
Farhan melayangkan siku kanannya dengan tenaga penuh menghantam pelipis si 'perawat' yang berada paling dekat dengannya! Benturan keras itu membuat kepala perawat palsu menghantam dinding kaca lift hingga retak!
Pada detik yang sama, 'dokter' palsu itu menarik keluar sebilah pisau taktis bermata ganda dari balik jas putihnya dan menerjang lurus ke arah dada Farhan dengan sabetan miring yang mematikan!
SREEK!
Farhan bereaksi cepat, menarik tubuhnya ke belakang dan menangkis pergelangan tangan penyerang menggunakan kedua lengannya! Gesekan bilah pisau itu sempat merobek bagian lengan jaket kulit Farhan, dan memercikkan bunga api kecil dari kancing besi jaketnya.
"Arya, merapat ke sudut!" teriak Farhan seraya mengepit tangan 'dokter' itu dan memutarnya ke bawah dengan teknik kuncian persendian!
CRACK!
Pria bersnelli dokter itu mengerang keras saat pergelangan tangannya terdislokasi, hingga memaksa pisau taktis di genggamannya terlepas dan jatuh berdentang ke lantai logam lift!
Namun, si 'perawat' yang tadi terkena hantaman siku Farhan sudah bangkit kembali dengan mata memerah penuh amarah. Dari saku celana medisnya, ia mencabut sebuah stik besi lipat (baton) dan menyabetkannya secara brutal ke arah kepala Farhan!
"Pak Farhan, Awas!" jerit Arya!
Arya tidak tinggal diam! Meskipun ia tidak memiliki keahlian bertarung profesional, keberanian dan naluri bertahan hidupnya mendorongnya untuk bertindak.
Arya melemparkan jaket tebal yang dibawanya tepat ke wajah si 'perawat', hingga menghalangi pandangan penjahat itu selama satu detik!
Sabetan baton itu pun meleset, dan hanya menghantam pegangan besi dinding lift dengan bunyi dentang nyaring!
DANG!
Kesempatan singkat itu dimanfaatkan Farhan secara sempurna. Farhan melepaskan kuncian sang 'dokter', lalu melayangkan tendangan dorong (front kick) yang sangat telak tepat ke arah ulu hati si 'perawat'!
DUK!
Tubuh si 'perawat' terdorong hebat ke belakang, menghantam pintu besi lift hingga napasnya tersengal-sengal dan tersungkur lemas di lantai.
Sementara itu, sang 'dokter' yang tangannya telah patah mencoba menyerang Arya secara kalap menggunakan tangan kirinya yang tersisa! Ia menerjang Arya dengan pukulan liar!
Arya mengelak ke samping, menangkap lengan baju penjahat itu, dan menggunakan berat tubuhnya sendiri untuk membanting pria itu ke lantai kotak lift!
BRUK!
Tubuh penjahat bersnelli putih itu dihantamkan ke lantai logam oleh Arya dan Farhan secara bersamaan. Farhan menekan leher penjahat itu menggunakan lututnya yang berat, dan mengunci pergerakannya sepenuhnya.
Pertarungan jarak dekat di dalam kotak lift yang sempit itu berlangsung tidak lebih dari empat puluh detik, namun intensitasnya memacu adrenalin hingga titik tertinggi.
TING!
Lift berhenti secara mendadak di Lantai 2. Pintu besi lift pun perlahan bergeser terbuka.
Kedua penjahat yang sudah terluka dan menyadari bahwa penyamaran serta serangan mendadak mereka telah gagal total tidak membuang waktu lagi.
Begitu celah pintu terbuka sedikit saja, si 'perawat' yang tersungkur di dekat pintu langsung merayap keluar dengan panik, disusul oleh sang 'dokter' yang menyeret kakinya berlari menembus koridor Lantai 2 yang penuh dengan pasien dan pengunjung.
"Jangan mengejar mereka!" cegah Farhan saat Arya hendak melangkah keluar. "Tugas kita bukan menangkap kroco-kroco ini di tempat umum, tapi mengamankan bukti di lantai tiga!"
Farhan segera memencet tombol penutup pintu lift dan menekan tombol '3' kembali. Lift pun kembali bergerak naik.
Begitu pintu lift tertutup, Farhan menarik napas panjang seraya merapikan jaketnya yang robek di bagian lengan. Ia menatap Arya dengan tatapan bangga yang tak bersuara.
"Refleks jaket tadi... bagus juga, Arya," ujar Farhan seraya menyunggingkan senyum tipis.
"Saya cuma tidak mau jadi beban, Pak," jawab Arya seraya menyapu keringat dingin di pelipisnya. Sementara tangannya masih agak gemetar akibat sikan adrenalin, namun hatinya merasa jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Di Lantai 3, begitu keluar dari lift, Farhan mendapati bahwa indikator sinyal pada ponselnya telah kembali menyala, jammer sinyal tampaknya hanya dipasang di area bawah tanah.
Farhan segera menekan nomor panggilan cepat menuju markas Kepolisian Resor Kota.
"Halo! Sambungkan saya langsung ke Kasat Reskrim!" tegas Farhan dengan nada suara komando yang tak dapat dibantah begitu panggilan terhubung. "Ini Iptu Farhan! Saya butuh satu tim perkuatan senjata lengkap dan dua unit mobil pengawal ke RSUD Bina Husada sekarang juga! Area rumah sakit telah disusupi oleh kelompok bersenjata yang mengincar saksi kunci kasus pembunuhan Bambang Gunawan!"
Suara di seberang telepon terdengar kaget dan langsung mengonfirmasi instruksi tersebut.
"Tutup seluruh akses keluar-masuk gedung utama RSUD dan amankan area lorong IKKJ serta lantai tiga!" lanjut Farhan. "Saya sedang menuju ruang arsip sekarang!"
Farhan menutup panggilannya, lalu menoleh ke arah Arya yang berdiri di sampingnya. Ruang arsip gedung tua lantai tiga membentang di ujung lorong yang redup di hadapan mereka.
"Bantuan polisi akan tiba dalam sepuluh menit," kata Farhan dengan mata yang berkilat penuh ketegasan. "Sekarang, mari kita ambil bukti terakhir milik Pak Bambang dan Dian sebelum penjahat-penjahat itu sempat mengirimkan pasukan yang lebih besar."
Arya mengangguk erat. Bersama Iptu Farhan, ia melangkah mantap menelusuri lorong sunyi lantai tiga, menuju Loker 07, tempat di mana rahasia besar para penguasa akhirnya akan terkuak sepenuhnya ke permukaan.
Bersambung...