Yurinika tak mengira akan di labrak oleh selingkuhan suaminya. bukan hanya sekali tapi berkali-kali selingkuhannya itu datang dan melabrak dia. memintanya meninggalkan sang Suami Abimana. pria bingung itu justru tak mau meninggalkan keduanya.
hingga akhirnya Yuri benar-benar kecewa kepada Abimana dan saat tahu Sandra adalah anak dari atasannya di kantor membuat Yuri memiliki ide untuk memanfaatkannya.
apa yang akan di lakukan Yuri atas rasa kecewa yang dia dapat dari suami yang sudah dia bersamai dari titik nol sampai mereka menikah dua tahun? ikuti terus ceritanya.
dan jangan lupa baca karya othor lainnya dengan mencari nama pena Yam_zhie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yurinika 9
Abimana masih mematung. Lidahnya terasa kelu saat mendengar ucapan Yuri.
TING
Jemarinya yang gemetar merogoh saku celana, menarik ponsel dan langsung membuka aplikasi perbankan. Dalam remang lampu dapur, angka saldo rekening gajinya yang baru dipotong berbagai cicilan otomatis dari kantor saat kemarin meminjam untuk dp rumah dan biaya rumah sakit ayahnya, tampak begitu mengenaskan.
"Dek..." bisik Abimana parau. Suaranya pecah, matanya mulai berkaca-kaca saat angka realita itu menghantam kesadarannya.
"Gaji aku... gaji aku tinggal empat juta tiga ratus ribu..."
Yuri menyilangkan kedua tangan di dada, berdiri menyandar pada kabinet dapur dengan tatapan dingin tanpa goyah.
"KPR rumah kita tiap bulan lima juta lima ratus, Mas," sahut Yuri pelan, menekan setiap kata.
"Tagihan listrik, air, dan WiFi dua juta. Belum lagi uang jajan Zaki dan juga uang bulanan ibu kamu. Uang belanja yang biasanya aku cover dari gaji kedai kopi... sekarang nggak akan aku keluarkan sepeser pun. Jadi, silakan hitung sendiri minusnya berapa."
"Astagfirullah..."
Abimana memegang kepalanya dengan kedua tangan, meremas rambutnya sendiri. Kaki pria itu melemas hingga ia terpaksa bertumpu pada pinggiran meja bar. Selama ini dia memang selalu memberikan uangnya kepada Yuri untuk di kelola dengan baik. Namun semenjak tiga bulan lalu saat dia mulai di promosikan menjadi wakil manager, dia yang memegang keuangan dan setelah menjadi Wakil Manager dengan percaya diri dia mengajukan kartu kredit ke bank. Hingga akhirnya dia kalap saat berbelaja dan menghabisakn limit itu bersama dengan Sandra.
Dia melakukan hal itu karena memang berkat Sandra juga lah, dirinya bisa mendapatkan jabatan itu tanpa hambatan. Tapi sekarang malah dia yang pusing sendiri. Sedangkan bonus jabatan dia juga belum cair.
"Terus... terus tagihan kartu kredit yang lima puluh juta bulan depan gimana, Yuri?! Itu belum bunga berjalanny, dan aku juga ngak tahu cicilannya berapa semuanya...! Katanya bonus kenaikan jabatan aku cuma turun lima belas juta... Nggak bakal cukup, Yuri!"
"Loh kok tanya sayaaaahhh?" Jawab Yuri kesal,
"Kan yang jadi Wakil Manajer kamu. Yang traktir makan mewah, beli jas premium, dan pamer ke bos-bos besar itu kamu, bukan aku. Tanya sama gengsi kamu, Mas."
"Yuri! Tolonglah!" Abimana setengah berlutut, matanya menatap Yuri dengan tatapan memelas yang begitu menjijikkan di mata Yuri.
"Aku akui aku salah! Aku kalap! Aku ketutup gengsi karena baru pegang jabatan! Tapi kamu istri aku, Yuri... Jangan biarin aku pusing sendirian kayak gini! Tolong transfer tabungan kamu dua puluh juta aja buat nutup KPR sama bayar DP motor Zaki dulu. Ibu dari tadi telepon terus, Dek!"
"Astagfirullah... Masih sempet-sempetnya kamu mikirin DP motor! Pikirin rumah ini, dan kebutuhan kita! Au ah aku pusing, Mas! Aku juga nggak masak, bahan makanan abis, kalau kamu mau makan malam cuma ada nasi saja sama mie instan. Aku tidur duluan, Mas. Besok aku harus ke toko lebih pagi!"
Yuri memutar badannya tanpa memedulikan tatapan memelas Abimana. Langkah kakinya terdengar tegas melintasi ruang tengah menuju kamar utama. Namun, belum sempat jemarinya menyentuh gagang pintu, Abimana bangkit dari lantai dapur dan setengah berlari mengejarnya.
"Yuri, tunggu!" Abimana menahan daun pintu dengan telapak tangannya, mencegah Yuri menguncinya dari dalam. Wajah pria itu kini benar-benar berantakan, keringat dingin membasahi pelipisnya, sementara matanya memerah penuh rasa cemas.
"Jangan masuk dulu, Dek. Kita harus selesaikan ini sekarang! Kalau besok KPR ini nunggak, nama aku yang jelek di bank!"
Yuri berbalik perlahan, menatap telapak tangan Abimana yang menahan pintu, lalu mengalihkan pandangannya tepat ke manik mata suaminya. Tidak ada raut panik atau kasihan di wajah Yuri, hanya ada tatapan dingin yang tajam. Dia masih berusaha menahan diri kepada suaminya ini, karena dia belum mendapatkan bukti perselingkuhannya dengan Sandra.
"Nama kamu yang jelek?" bisik Yuri dengan intonasi rendah namun menusuk.
"Bukannya dari kemarin kamu sendiri yang sibuk mengolesi nama kamu pakai barang-barang mewah dan gaya hidup kelas atas? Sekarang pas tagihannya datang, kamu malah takut nama kamu jelek?"
"Yuri, kamu jangan sudutkan aku terus, dong!" potong Abimana dengan nada frustrasi. Suaranya gemetar menahan amarah yang bercampur panik.
"Aku gini juga demi kita! Demi posisi aku di kantor! Kalau aku penampilannya kumal dan nggak fleksibel diajak kumpul sama atasan, aku nggak bakal dilirik buat jadi Wakil Manajer!"
"Demi kita?" Yuri terkekeh sumbang, suara tawanya memantul dingin di dinding lorong kamar.
"Demi kamu sendiri, Mas! Jangan bawa-bawa nama aku! Apa ada satu barang mewah yang kamu beli pakai kartu kredit itu buat aku? Apa ada setetes dari lima puluh juta itu yang kamu pakai buat benerin atap dapur kita yang bocor? Nggak ada!"
Abimana bungkam seketika. Lidahnya terasa kelu, tak mampu menyanggah ucapan jujur istrinya.
Yuri melangkah maju satu langkah, membuat Abimana secara refleks mengendurkan cengkeramannya pada pintu.
"Selama dua tahun kita menikah, aku yang selalu putar otak mengelola uang kamu yang selalu pas-pasan," lanjut Yuri, menunjuk dada Abimana dengan ujung jarinya.
"Aku yang menahan diri nggak beli baju baru, aku yang hemat uang belanja demi nambal cicilan rumah dan kebutuhan keluarga kamu. Bahkan sebelum akmu bekerja aku yang sellau memnuhi kebutuhan rumah dan juga memberikan uang untuk ibumu. Tapi begitu kamu pegang uang sendiri tiga bulan lalu, kamu ngerasa paling hebat. Kamu anggap aku nggak becus pegang uang, kan? Atau kamu takut uang gaji kamu yang besar itu aku pakai untuk kebutuhan aku, Mas?"
"Yuri... bukan gitu maksud aku..." bisik Abimana parau.
"Terus sekarang apa?" tembak Yuri tanpa ampun.
"Baru tiga bulan kamu pegang uang sendiri, keuangan kamu langsung hancur lebur! Tagihan membengkak, saldo tinggal empat juta, kartu kredit jebol! Siapa yang nggak becus sebenarnya, Mas?"
Ting! Ting! Ting!
Ponsel di saku Abimana berbunyi beruntun. Kali ini bukan pesan singkat, melainkan panggilan telepon masuk dari ibunya, Ibu Gina. Nama sang ibu terpampang jelas di layar yang menyala.
Yuri melirik ponsel itu, lalu tersenyum miring. "Angkat, Mas. Ibu kamu telepon tuh. Bilang sama Ibu dan adek kamu tercinta, kalau anak kebanggaannya yang jabatan Wakil Manajer ini cuma punya saldo empat juta tiga ratus. Minta bantuan sama mereka buat bayar KPR."
"Yuri, stop..." Abimana memejamkan mata erat-erat, mematikan nada dering ponselnya dengan jemari yang bergetar. Ia tak sanggup membayangkan cemoohan adiknya atau amukan ibunya jika tahu keadaan keuangannya yang sebenarnya.
"Kenapa? Nggak berani?" cibir Yuri dingin.
"Kamu lebih takut gengsi kamu hancur di depan keluarga kamu daripada rumah tangga ini yang hancur, kan?"
Abimana menatap Yuri dengan pandangan hampa. "Kamu bener-bener tega ya, Yur... Kamu biarin aku tercekik sendirian."
"Aku nggak tega?" Yuri menatap Abimana lurus-lurus.
"Aku sudah cukup tega sama diri aku sendiri selama tiga tahun ini demi mendampingi kamu dari nol. Dan sekarang, saatnya kamu belajar menanggung akibat dari kesombongan kamu sendiri."
Yuri menarik pintu kamar dengan sekali hentakan kuat. Sebelum menutupnya rapat, ia menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu.
"Besok pagi aku berangkat kerja lebih awal. Jangan cari aku, dan jangan coba-coba sentuh barang-barang aku," tegas Yuri.
"Kalau kamu butuh uang buat bayar KPR atau DP motor Zaki, jual aja jas-jas mahal dan sepatu Italia yang ada di lemari kamu itu."
BRAK!
Pintu kamar terkunci rapat dari dalam. Suara kunci diputar dua kali terdengar begitu nyaring di telinga Abimana. Pria itu berdiri terpaku di depan pintu kayu yang tertutup rapat.
km udh gx bisa keluar dr cengkraman nenek lampir berkedok malaikat mu😏
knp km nekat ,, gila gilaan bersama nenek lampir ,, gila gilaan ,, gila gilaan ,,
lama2 km jd gila beneran Abimana😏😏😏