【Perjuang keras meraih cinta+Cerita di waktu SMA+Romantis nonfiksi】Seseorang yang jatuh cinta kepda perempuan terpintar di sekolah... Meskipun dia bukan pria yang pandai dalam akademi tapi dia ingin membuktikan jika dia layak mendapatkan perempuan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 - Hari Kemenangan Dan Langkah Pertama
Hari Jumat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Pagi-pagi sekali, suasana SMA kami sudah ramai oleh rombongan bus yang siap mengantar tim olimpiade sekolah menuju gedung aula kabupaten. Banner bertuliskan Selamat Berjuang Tim Olimpiade Sains terbentang megah di depan gerbang utama.
Sebelum bus berangkat, aku dan Diko menyempatkan diri berdiri di dekat parkiran bus untuk memberi semangat langsung ke Nara. Cewek itu kelihatan sangat rapi dengan seragam putih abu-abu dan almamater kebanggaan sekolah. Meski senyum tipis terukir di bibirnya, gurat panik dan tegang tidak bisa disembunyikan dari matanya.
"Maknar! Jangan tegang gitu lah mukamu, udah kayak mau eksekusi aja!" seruku sambil mendekat bersama Diko.
Nara menoleh, memelototkan matanya pelan tapi ekspresinya mendadak lebih cair melihat kehadiran kami.
"Bisa diam gak, Satria? Aku ini lagi gugup tahu!" sungut Nara, tapi nada bicaranya tidak benar-benar marah.
"Santai, Ra. Kamu kan udah dihajar ratusan soal sama Pak Ridwan tiap hari. Anggap aja soal olimpiade itu cuma soal latihan biasa yang sering tak salin jawabannya," celetukku sambil tertawa.
"Anjir, malah buka kartu," tawa Diko menimpali.
Nara terkekeh pelan, ketegangan di bahunya kelihatan berkurang banyak. Dari pintu bus, Kusuma dan Pak Ridwan memanggil anggota tim Fisika untuk segera naik.
Nara menatapku sebentar sebelum melangkah naik ke tangga bus. "Aku jalan dulu ya, Sat. Doain biar hasilnya gak bikin malu."
"Pasti, Ra! Tak doain dari atas matras latihan sore nanti. Bawa pulang piala, Maknar!" seruku sambil mengacungkan jempol.
Nara tersenyum lebar—sebuah senyuman lepas yang sangat manis—lalu melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam bus. Melihat bus rombongan itu perlahan keluar dari gerbang sekolah, ada desakan aneh di dalam dadaku. Aku sadar, perasaan yang kumpulkannya selama ini bukan sekadar rasa suka biasa. Perhatiannya, galaknya, dan caranya menerimaku apa adanya sudah benar-benar mengunci hatiku.
Aku harus mengutarakannya secara langsung. Nanti, setelah semua kesibukan ini selesai.
Sore harinya, tepat pukul tiga sore, porsi latihan pemusatan silat di aula bawah mencapai puncaknya. Mas Teguh menggelar tes simulasi tanding terakhir untuk menentukan susunan atlet yang resmi dikirim ke kejuaraan tingkat pelajar.
Di atas matras, seluruh tenaga, refleks, dan teknik yang kupelajari selama berminggu-minggu dikeluarkan tanpa sisa. Rasa lelah dan pegal di seluruh badan seolah menguap dipacu oleh motivasi raksasa di dalam kepala. Aku bertanding tiga ronde penuh melawan senior kelas XI dan berhasil mengunci kemenanganku lewat bantingan bersih di akhir ronde.
Bruk!
"Selesai! Poin mutlak buat Satria!" teriak Mas Teguh memukul papan skor.
Pelatih Utama berjalan melangkah ke tengah matras, menepuk bahuku keras-keras. "Bagus, Satria! Refleks dan mental tandingmu naik drastis. Kamu resmi masuk tim utama kelas C putra!"
Dada rasanya mau meledak oleh rasa bangga. Seluruh tetesan keringat di latihan sore dari jam tiga sampai jam six sore selama ini akhirnya berbuah manis.
Pukul enam sore lewat sedikit, saat aku baru selesai mandi dan berkemas di ruang ganti, HP jadoelku di tas bergetar nyaring. Satu pesan SMS masuk dari nomor Nara:
"Satria! Pengumuman tingkat kabupaten baru selesai. Aku dapet Juara 1 Fisika! Lolos ke tingkat provinsi!"
Membaca tulisan pesan singkat itu, aku spontan berteriak kencang sendirian di dalam ruang ganti. Rasa gembira luar biasa membuncah di dalam dada. Hari ini bener-bener jadi hari kemenangan buat kami berdua: Nara sukses menyabet Juara 1 Olimpiade Fisika, dan aku resmi lolos seleksi tim utama silat.
Tanpa buang waktu, jemariku lincah membalas pesan darinya:
"SELAMAT MAKNAR! Keren parah! Aku juga lolos masuk tim utama silat hari ini! Kita harus perayaan es teh manis besok di kantin!"
Balasan darinya masuk hitungan detik:
"Wah beneran, Sat?! Selamat juga buat kamu! Awas ya besok kamu yang traktir!"
Aku tertawa sendiri membaca pesan itu. Di malam yang dingin itu, keyakinanku sudah bulat seratus persen. Besok adalah waktu yang tepat untuk menyampaikan perasaanku yang sesungguhnya pada Nara.
Keesokan harinya di sekolah, suasana kelas X IPA 2 terasa sangat meriah. Berita tentang Nara yang meraih Juara 1 Olimpiade Fisika jadi perbincangan hangat. Teman-teman sekelas bergantian memberikan selamat di mejanya, termasuk Pak Suryadi yang sempat memujinya di depan kelas sebelum pelajaran dimulai.
Di tengah riuhnya kelas, aku cuma bisa memandangi sosok Nara dari bangku belakang sambil tersenyum-senyum sendiri. Dia kelihatan sangat cantik dan bersinar dengan prestasinya. Tapi di sisi lain, rasa gugup mulai merayap halus menguasai jantungku. Mengumpulkan keberanian buat menembak cewek terbaik di kelas ternyata jauh lebih menakutkan daripada berdiri di atas matras tanding silat.
Saat bel istirahat pertama berbunyi, aku memberi kode ke Diko buat keluar kelas duluan. Setelah teman-teman lain berhamburan ke kantin, tersisa aku dan Nara di dalam ruangan yang mendadak hening.
Nara sedang merapikan buku-buku di mejanya saat aku melangkah mendekat dan duduk di kursi depan mejanya.
"Ra," panggilku pelan. Suaraku agak serak gara-gara menahan gugup.
Nara mendongak, menatapku heran. "Kenapa, Sat? Katanya mau traktir es teh di kantin?"
Aku mengusap tengkuk leherku yang tidak gatal, menetralkan napas yang mendadak terasa pendek-pendek.
"Es tehnya gampang, Ra. Ada hal lain yang mau tak omongin ke kamu," kataku, mencoba menatap matanya secara langsung.
Nara mengernyitkan dahi, menangkap perubahan drastis pada raut wajah dan nada bicaraku. Sisi peka dan tajamnya langsung bekerja. "Omongin apa? Kok serius banget mukamu?"
Aku menarik napas panjang, mengepalkan kedua tanganku di atas paha untuk menghilangkan gemetar tipis di jemari. Tidak ada lagi candaan, tidak ada lagi julukan konyol. Hari ini aku mau menyampaikan isi hatiku sejujur-jujurnya.
"Selama ini kan kita sering bercanda, belajar kelompok bareng, kamu sering ngomeli aku sama Diko... tapi jujur, Ra, buat aku itu semua bukan sekadar interaksi teman biasa," ucapku perlahan, suaraku terdengar sangat lugas dan jujur.
Nara diam membisu. Gerakan tangannya yang memegang pulpen terhenti total. Binar matanya menatapku tanpa berkedip, terkejut mendengar arah pembicaraan ini.
"Aku suka sama kamu, Nara," lanjutku tegas tanpa ragu sedikit pun. "Aku suka sama sifat galakmu, perhatianmu, dan cara kamu nerima aku yang pas-pasan ini apa adanya. Aku mau kamu jadi pacarku."
Keheningan mendadak menyelimuti ruang kelas X IPA 2. Suara angin yang berhembus melewati jendela kaca terasa begitu nyaring. Nara tetap menatap mataku, tidak ada raut marah atau tertawa di wajahnya—yang ada cuma keterkejutan mendalam dan guratan kebingungan yang sangat jelas.
Pipi Nara pelan-pelan memerah padam. Dia menundukkan kepalanya sebentar, jemarinya meremas kuat ujung blazer seragamnya sebelum kembali mendongak menatap wajahku.
"Satria..." bisik Nara pelan. Suaranya terdengar sangat halus, beda seratus derajat dari gaya bicaranya yang biasanya tegar.
Aku menanti jawabannya dengan jantung yang berdegup kencang seperti mau melompat keluar dari dada. Ini adalah langkah paling berani yang pernah kuambil selama masa putih abu-abu. Aku siap dengan segala kemungkinan, tanpa pernah tahu bahwa langkah pertama ini bakal membuka babak baru perjuangan panjang yang sangat menguras emosi dan air mata.