Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.
Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.
Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak di Kegelapan
Keesokan harinya, Aruna bangun lebih awal dari biasanya. Hal pertama yang ia lakukan adalah meraih jurnalnya dan menatap kelopak bunga hitam itu. Warna pudar di sudutnya masih ada, meski tidak melebar. Ia menghela napas lega — setidaknya belum terlambat.
Di kampus, ia tampak gelisah. Matanya sering melirik ke arah jendela, memperhatikan pergerakan matahari, menghitung waktu sampai sore tiba. Dinda menyadari kegelisahan sahabatnya dan duduk di sebelahnya saat jam istirahat.
"Kamu sama sekali ga fokus hari ini," kata Dinda lembut namun tegas. "Ada sesuatu yang terjadi, bukan?"
Aruna mengangguk pelan, menunduk menatap meja. "Saat kami berpisah kemarin... ada sesuatu yang tidak benar, Dinda. Angin berubah, ada suara aneh... Orion menyuruhku pergi dengan cepat. Dan kelopak bunganya — ada bagian yang mulai pudar."
Dinda mengerutkan kening. "Apakah itu berarti dia terluka?"
"Aku takutnya gitu," jawab Aruna dengan suara bergetar. "Aku harus kembali ke sana sore ini. Aku harus memastikan dia baik-baik saja."
Dinda meremas tangannya sendiri, tampak cemas namun berusaha tenang. "Kalau begitu, aku ikut bersamamu. Aku ga akan membiarkanmu pergi sendirian ke tempat yang berbahaya."
Aruna menatap sahabatnya dengan mata berkaca-kaca. "Kamu ga takut?"
"Aku takut," jujur Dinda. "Tapi aku lebih takut klo sesuatu menimpamu dan aku ga ada di sisimu."
Sore itu, langit tampak mendung, berwarna kelabu suram yang membuat suasana makin mencekam. Mereka berjalan bersama menyusuri jalan setapak tua itu, langkah pelan, mata waspada ke segala arah. Suasana terasa berbeda dari biasanya — hening secara aneh, tak ada suara burung, tak ada desiran angin yang menyenangkan. Kabut tipis sudah mulai turun, lebih awal dari biasanya, menyelimuti tanah hingga ke mata kaki.
"Orion?" panggil Aruna pelan saat mereka tiba di tempat pertemuan biasa. Tidak ada jawaban. "Orion, kamu di sini?"
Keheningan menyambutnya. Hanya suara napas mereka sendiri yang terdengar di udara lembap.
Aruna berjalan lebih jauh, mencari jejak keberadaannya. Di bawah pohon besar tempat mereka biasanya duduk, ia menemukan sesuatu — sehelai kain jubah berwarna gelap, sedikit robek dan bernoda cahaya samar yang perlahan memudar. Ia mengenali kain itu — kain jubah Orion.
"Ini miliknya..." bisik Aruna, meraih kain itu dengan tangan gemetar. "Dia terluka, Dinda. Dia benar-benar terluka."
Dinda menatap sekeliling dengan cemas. "Kita tidak tahu ke mana dia pergi. Bagaimana kita menemukannya?"
Aruna memegang kelopak bunga hitam yang kini ia bawa di saku, lalu menatapnya. "Dia bilang selama kelopak ini masih segar, aku bisa memanggilnya. Aku akan mencoba."
"Bagaimana caranya?" tanya Dinda.
"Dengan memanggilnya dari sini," jawab Aruna, menunjuk dadanya. "Dia bilang dia bisa mendengar detak jantungku."
Aruna menutup matanya, menarik napas dalam-dalam, lalu memusatkan seluruh perhatiannya pada nama itu, pada perasaan rindu dan cemas yang memenuhi dadanya.
Orion... di mana kau? Tolong munculkan diri. Aku tahu kau terluka.
Tidak ada jawaban langsung. Namun kabut di sekitar mereka bergerak — bukan tertiup angin, melainkan bergerak pelan seolah membentuk jalur ke arah yang lebih dalam, menjauh dari jalan utama.
"Dia mencoba memberi tahu kita," kata Aruna membuka mata, menatap jalur kabut itu. "Dia di sana."
"Aruna, kita tidak tahu apa yang menanti di sana," Dinda menahannya. "Bisa saja itu jebakan."
"Jika itu jebakan, biarkan aku yang masuk," jawab Aruna tegas. "Aku tidak bisa membiarkannya sendirian saat dia terluka."
Dinda menghela napas panjang, lalu mengangguk mantap. "Baiklah. Kita pergi bersama. Tapi jika ada bahaya, kau lari duluan. Aku akan menahan mereka sebisaku."
Mereka menyusuri jalur yang terbentuk di antara kabut, berjalan hati-hati. Semakin jauh mereka masuk, semakin gelap dan sepi tempat itu. Pohon-pohon tampak lebih rapat, dahan-dahannya saling menyilang menutupi sisa cahaya sore. Namun kelopak bunga di tangan Aruna tetap hangat — tanda bahwa mereka berada di jalur yang benar.
Akhirnya, di sebuah tempat terbuka yang dikelilingi pepohonan tinggi, mereka melihatnya.
Orion duduk bersandar pada batang pohon tua, tubuhnya sedikit meringkuk. Jubahnya robek di bagian lengan dan sisi tubuh, tempat luka yang memancarkan cahaya redup perlahan menyembuh sendiri namun terlalu lambat. Wajahnya pucat, keringat dingin menetes di dahi, namun matanya tetap terjaga, menatap ke arah mereka dengan keterkejutan sekaligus kelegaan.
"Kau datang..." suaranya lemah namun penuh kehangatan.
Aruna berlari mendekat, berlutut di sampingnya, lupa akan segala rasa takut. Ia ingin menyentuh lukanya namun menahan diri, takut memperburuk keadaan.
"Siapa yang melakukan ini padamu?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
"Pengawal ayahku," jawab Orion pelan, mencoba duduk lebih tegak namun kesakitan. "Mereka menyuruhku menyerah. Menyerahkanmu kepadanya."
"Dan kau menolak?"
"Tentu saja," jawabnya seolah itu hal yang paling jelas di dunia. "Aku tidak akan menyerahkanmu kepada siapa pun. Bahkan jika itu berarti melawan seluruh duniku sendiri."
Aruna menahan tangisnya, menyeka air mata yang jatuh di pipi. "Tapi kau terluka... karena aku