Su Yun pernah menjalani hidup penuh kegagalan, kehilangan, dan penyesalan. Ketika takdir memberinya kesempatan kembali ke masa lalu, ia bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Berbekal pengalaman dari kehidupan sebelumnya dan warisan misterius Seni Pedang Tanpa Batas, Su Yun menapaki kembali jalan kultivasi. Demi melindungi orang-orang yang berharga baginya, ia harus menghadapi para genius, sekte besar, Binatang Roh, hingga musuh yang jauh melampaui kekuatannya.
Kali ini, Su Yun tidak akan tunduk pada takdir.
Dengan pedang di tangannya, ia akan merebut kembali semua yang pernah hilang—dan membuka jalan menuju puncak dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 — Harga Sebuah Kekuatan
Kesombongan Xiao Shen Ming akhirnya membuat para tetua Perguruan Gu Jue Xin kehilangan kesabaran. Terlebih setelah ia terang-terangan menawarkan Bai Yan Shan sebagai lawan dan meminta mereka memilih murid terbaik untuk menghadapinya.
“Baik!” Tetua Agung Zhen Shan bangkit dari kursinya. “Kau sendiri yang mengajukan pertandingan ini. Jangan menarik kembali ucapanmu setelah melihat hasilnya nanti.”
Xiao Shen Ming tersenyum santai. “Apa yang sudah kuucapkan tentu akan kutepati.”
Zhen Shan menoleh kepada Tie Zhang Men. Harga diri perguruan telah dipertaruhkan di depan begitu banyak orang. Menolak sekarang hanya akan membuat Gu Jue Xin terlihat takut menghadapi seorang murid muda Sekte Pedang Abadi.
Tie Zhang Men memahami hal itu. Setelah mempertimbangkan sejenak, ia akhirnya mengangguk.
“Panggil Lin Jue.”
Tak lama kemudian, seorang pemuda bertubuh tinggi dan ramping memasuki aula. Ia mengenakan pakaian sederhana tanpa membawa senjata, tetapi kedua tangannya dilindungi sepasang sarung tangan logam.
Penampilannya memang tidak terlalu mengesankan, namun aura yang tersembunyi di dalam tubuhnya menunjukkan bahwa ia bukan murid biasa.
“Lin Jue memberi hormat kepada Pemimpin Perguruan dan para tetua.”
Tie Zhang Men menatapnya dengan ekspresi serius. “Tamu kita dari Sekte Pedang Abadi ingin bertukar pengalaman. Kau akan mewakili Gu Jue Xin.”
Lin Jue segera memahami maksudnya.
“Murid mengerti.”
“Ingat,” lanjut Tie Zhang Men, “kau membawa nama perguruan.”
Lin Jue menangkupkan kedua tangan. “Murid tidak akan mempermalukan Gu Jue Xin.”
Ia kemudian memandang Bai Yan Shan.
“Silakan.”
Bai Yan Shan melangkah maju tanpa banyak bicara. “Silakan.”
Keduanya meninggalkan aula menuju lapangan terbuka di belakang gerbang utama. Tie Zhang Men, para tetua, serta rombongan Sekte Pedang Abadi mengikuti mereka. Kabar tentang pertandingan segera menyebar, membuat semakin banyak murid Gu Jue Xin berkumpul.
Perhatian seluruh perguruan pun tertuju pada duel tersebut.
Tak seorang pun menyadari bahwa di kaki gunung, seseorang sedang mempersiapkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Di sebuah tempat terpencil berdiri formasi berdiameter lebih dari sepuluh meter. Ratusan pola menyerupai Binatang Roh tergambar di permukaan tanah, semuanya terhubung oleh garis-garis yang dibuat menggunakan darah.
Su Yun berdiri di salah satu sisinya dengan pakaian hitam.
Wajahnya belum ditutupi, tetapi seluruh penampilannya telah diubah agar tidak mudah dikenali. Di tangannya terdapat jantung Binatang Roh yang masih meneteskan darah.
Beberapa tetes terakhir jatuh untuk menyelesaikan pola formasi.
Su Yun mengembuskan napas panjang.
Ia telah menghabiskan banyak waktu mempersiapkan semuanya.
Bunga Kabut Iblis, Batu Pemecah Roh, serta ranting Pohon Iblis Langit yang dikumpulkannya selama dua hari kini telah ditempatkan pada posisi tertentu di sekeliling formasi.
Formasi itu bernama Formasi Darah Iblis.
Salah satu formasi tingkat tinggi dari jalan iblis yang pernah dipelajari Su Yun dalam kehidupan sebelumnya.
Tahap tersulit bukan menggambar pola, melainkan memastikan setiap bagian mampu menyalurkan energi secara seimbang. Kesalahan sedikit saja dapat membuat seluruh formasi berbalik menyerang penggunanya.
Setelah memeriksa semuanya sekali lagi, Su Yun mengeluarkan Kristal Surgawi.
Suara Tetua Pedang segera terdengar dari gulungan.
“Bocah, apa yang kau lakukan? Aura darah ini terlalu kuat.”
“Menyiapkan sebuah formasi.”
“Formasi apa?”
“Formasi Darah Iblis.”
Tetua Pedang langsung terdiam sebelum suaranya kembali terdengar dengan nada jauh lebih serius.
“Teknik iblis? Bagaimana mungkin kau mengetahui formasi seperti ini? Kultivasimu bahkan belum mencapai Alam Roh Sejati.”
Su Yun tidak menjelaskan masa lalunya.
“Aku tetap Su Yun. Itu sudah cukup.”
Ia menatap Kristal Surgawi di tangannya. Benda itu sempat memancarkan cahaya sebelum kembali gelap.
Saatnya telah tiba.
Su Yun melepaskan Kristal Surgawi ke tengah formasi.
“Bangkit.”
Energi spiritual mengalir dari tubuhnya.
Garis-garis darah di tanah mulai menyala satu demi satu. Kabut merah muncul dan bergerak menuju pusat, kemudian berputar mengelilingi Kristal Surgawi yang melayang di udara.
Semakin banyak energi memasuki kristal, semakin pekat warna merah yang menyelimutinya.
Tetua Pedang mulai memahami apa yang hendak dilakukan Su Yun.
“Kau ingin menggunakan kembali kekuatan Kristal Surgawi?”
“Benar.”
“Kau sudah gila! Tubuhmu belum sepenuhnya pulih dari penggunaan sebelumnya.”
Su Yun menangkap kristal yang kini berwarna merah darah.
“Aku tahu.”
Tanpa ragu, ia menempelkannya ke dada.
Rasa panas yang mengerikan langsung menyebar ke seluruh tubuh.
Su Yun menggertakkan gigi ketika Kristal Surgawi kembali menyatu dengannya. Namun kali ini tidak muncul pola keemasan seperti sebelumnya. Garis-garis merah gelap menjalar dari dadanya, sementara kabut darah tipis mulai keluar dari tubuhnya.
Sebuah tanda menyerupai teratai merah perlahan terbentuk di dahinya.
Aura Su Yun berubah.
Dingin, ganas, dan dipenuhi tekanan yang membuat Tetua Pedang sendiri terkejut.
“Apa sebenarnya yang ingin kau lakukan?” tanyanya. “Dengan kekuatan seperti ini, jangan bilang kau berniat menghancurkan Perguruan Gu Jue Xin?”
“Tidak.”
Su Yun menarik napas untuk menahan rasa sakit.
“Perguruan Gu Jue Xin memiliki banyak kultivator kuat. Kalau ingin mendapatkan apa yang kubutuhkan, aku mungkin harus berhadapan langsung dengan Pemimpin Perguruan.”
Tetua Pedang semakin tidak mengerti.
“Dengan kultivasimu sekarang, kau ingin menghadapi pemimpin sebuah perguruan?”
“Itulah alasan aku membutuhkan kekuatan Kristal Surgawi.”
Su Yun mengetahui risikonya. Ia juga belum tahu apakah Sekte Pedang Abadi masih memburu orang yang mencuri Kristal Surgawi. Menggunakan benda itu lagi berarti membuka kemungkinan jejaknya ditemukan.
Namun ia tidak mempunyai banyak waktu.
Apa yang hendak diperolehnya di Gu Jue Xin terlalu penting untuk dilepaskan.
Tetua Pedang terdiam cukup lama sebelum bertanya, “Tidakkah kau takut suatu hari benar-benar berubah menjadi iblis?”
Su Yun tersenyum samar.
“Iblis?”
Kenangan kehidupan sebelumnya melintas sesaat dalam pikirannya.
“Dahulu aku memang pernah menjadi iblis.”
Tetua Pedang terdiam.
“Hatimu dipenuhi obsesi,” katanya akhirnya.
“Tanpa obsesi itu, mungkin aku sudah lama mati.”
Ada alasan mengapa Su Yun masih berdiri sampai sekarang. Ada orang yang harus ia lindungi, kesalahan yang tidak boleh terulang, dan kekuatan yang harus ia peroleh sebelum semuanya terlambat.
Tetua Pedang tidak memahami seluruh maksudnya, tetapi ia tidak bertanya lagi.
“Berhati-hatilah.”
“Terima kasih, Tetua.”
Setelah Tetua Pedang kembali beristirahat di dalam gulungan, Su Yun mengeluarkan topeng logam dari Cincin Penyimpanan dan mengenakannya.
Wajahnya kini tersembunyi sepenuhnya.
Selanjutnya, ia mengeluarkan Pedang Naga Terukir.
Bilah biru muda itu tertancap ke tanah di tengah Formasi Darah Iblis. Aura pedang segera menyebar dan bertemu dengan energi merah yang memenuhi formasi.
Kabut darah perlahan melilit bilah.
Su Yun menggenggam gagangnya dengan kedua tangan.
Inilah alasan sebenarnya ia datang ke tempat ini setelah mendapatkan Pedang Naga Terukir.
Ia membutuhkan kekuatan Kristal Surgawi dan Formasi Darah Iblis untuk memaksa dirinya melewati batas yang seharusnya belum mampu disentuh.
Aura pedang terus meningkat.
Tanah mulai bergetar.
Su Yun menutup mata dan mengingat dasar pertama Seni Pedang Tanpa Batas.
Bentuk Pedang Pertama.
Energi spiritual di dalam tubuhnya meledak keluar.
Sesaat kemudian, raungan menyerupai naga mengguncang kaki gunung Gu Jue Xin. Gelombang aura pedang menyapu pepohonan dan membuat seluruh formasi bergetar hebat.
Jauh di atas gunung, para tetua yang sedang menunggu pertarungan Bai Yan Shan dan Lin Jue serentak menoleh.
Sesuatu telah datang.
Dan apa pun itu, kekuatannya sama sekali tidak bisa dianggap remeh.
......................
Bersambung...