Alicia Harold hanya ingin menikmati malam terakhirnya sebelum menjadi mahasiswa.
Namun karena terlalu bosan di acara keluarga, gadis barbar itu diam-diam mabuk dan berakhir jatuh ke dalam pelukan seorang pria dingin yang paling ingin ia hindari.
Bryan Bright, calon kakak iparnya dan dosen di Imperial College University.
Sejak malam itu, kehidupan Alicia berubah menjadi mimpi buruk. Dosen killer itu seperti bayangan yang tak pernah bisa lepas darinya. Alicia terus berontak, menghindar, dan menjaga batas.
Namun bagaimana jika tanpa sadar batas itu perlahan berubah menjadi perasaan?
"Amit amit, aku tidak mungkin suka si Bryan mulut harimau itu!" kesal Alicia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JDPDK Bab 8 - Bisa-bisanya
'Dasar dosen sialan! Jika bukan karena video itu Aku tidak akan Sudi menyembahmu seperti ini!' maki Alicia, tapi tentu saja hanya mampu dia ucapkan di dalam hati. Sementara bibirnya coba membentuk sebuah senyuman. Meskipun nampak jelas jika senyumnya begitu kaku.
"Tidak ada yang memintamu untuk duduk, berdiri," titah Bryan kemudian.
'Badjingan!' balas Alicia, tapi lagi-lagi hanya mampu ia balas di dalam hatinya.
"Baik Pak," jawab Alicia seraya kembali berdiri dari duduknya. Alicia bahkan mendorong kursi itu ke tempat semula dan dia berdiri tepat di hadapan sang dosen.
"Kelakuan mu di kelas tadi sangat kurang ajar, tidak punya sopan santun," ucap Bryan blak-blakan, jika Alicia selalu mengumpat di dalam hatinya maka Bryan benar-benar mengucapkannya tepat di wajah Alicia.
Dan mendengar kata-kata itu Alicia pun mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Mana pernah Alicia sepasrah ini saat dimaki, ia benar-benar menahan dirinya agar tidak meledak.
"Ucapkan permintaan maaf dengan cara yang benar," kata Bryan lagi. Ia meletakkan ponselnya di atas meja.
'Aku harus mencuri ponsel itu, aku harus lihat sendiri sebenarnya video apa yang dia simpan,' batin Alicia. Ia pun berencana untuk segera menghapus video tersebut, karena sumpah demi apapun Alicia tak sudi dikendalikan oleh mahkluk itu seperti ini.
"Kamu dengar atau tidak?" tanya Bryan yang suaranya terdengar penuh penekanan.
"Maaf," balas Alicia singkat.
"Ulangi."
"Astaga, Maaf, memang harus bagaimana lagi."
"Keluar."
'Hih!' kesal Alicia di dalam hatinya. "Maaf," ucap Alicia sekali lagi, dia ulangi dengan suara yang lebih pelan.
"Harus berapa kali aku katakan? Aku paling benci mengulang kalimat," balas Bryan, ia benar-benar benci jika harus bicara dua kali. Aturan yang Bryan miliki adalah Cukup Satu Kali Bicara, tak ada yang namanya kesempatan kedua.
Alicia akhirnya terdiam, baru ia yakin bahwa Bryan benar-benar pria yang kejam. Benar-benar pria yang harus ia dan kak Annie jauhi.
"Maaf Pak, saya salah," balas Alicia, sekarang ia harus benar-benar menghormati siluman itu sebagai dosen. Itulah yang diinginkan oleh Bryan dan meskipun sangat terpaksa Alicia harus melakukannya.
"Saya tidak akan mengulangi hal itu lagi, saya akan datang ke kelas tepat waktu," ucap Alicia lagi, ia pun tak lagi menatap Bryan. Lebih pilih untuk menatap lantai. 'Anggap saja aku minta maaf pada lantai.' batin Alicia.
"Ulangi sekali lagi."
"Saya mohon maaf Pak, saya tidak akan lancang lagi seperti tadi. Saya akan duduk di kelas sebelum bapak datang," balas Alicia, tangannya terkepal makin kuat saat mengucapkan kalimat tersebut.
Selama ini Alicia selalu hidup dengan harga dirinya yang tinggi, dengan ego yang ia jaga mati-matian. Dan sekarang di hadapan Bryan ia seperti anak itik yang kecemplung got, begitu lemah.
Sumpah, Alicia benci sekali.
"Bagus, maafmu aku terima." balas Bryan.
Namun sungguh, ia tahu betul bahwa Alicia tak lulus saat mengucapkan kalimat maaf itu. Bryan bisa melihat jelas kedua tangan Alicia yang terkepal kuat, seperti siap memukulnya kapanpun.
Sebenarnya video yang Bryan simpan bukanlah video mesyum apalagi video mereka berdua, itu hanyalah video saat Alicia tidur.
Malam tadi Bryan merasa bahwa ia butuh bukti saat menghadapi Alicia. Meskipun Alicia hanya tidur, tapi dengan video itu maka seluruh keluarga Harold akan tahu bahwa Alicia tidak menginap di rumah Prilly, melainkan di hotel bersamaan.
Dan siapa sangka, ternyata hanya karena kata-kata video itu bisa membuat Alicia tunduk seperti ini. Maka Bryan akan memanfaatkan video itu semaksimal mungkin.
"Keluarlah, dan salin pembelajaran hari ini dari temanmu," titah Bryan.
"Baik, Pak."
"Jawab yang benar."
'Aku harus bicara apa sih? dasar merepotkan!!' "Maaf Bapak," balas Alicia kemudian.
"Biasakan mengucapkan kata terima kasih saat kamu mendapatkan kemudahan dari orang lain."
'Astaga.' "Terima kasih Pak, Saya akan menyalin mata kuliah hari ini. Saya permisi sekarang," ucap Alicia.
Barulah saat itu Bryan menganggukkan kepalanya kecil tanda setuju. Sementara Alicia ingin sekali mengangkat salah satu kakinya dan menendang kepala sang dosen.
Tapi lagi-lagi ia harus tahan diri, 'Sabar Alicia, sabar. Akh aku tidak bisa sabar!' kesal Alicia, ia kemudian berjalan keluar dari ruangan sang dosen. Bahkan Alicia menutup pintunya pelan-pelan sekali, seperti sedang menguji kesabarannya sendiri.
"Alicia," panggil Prilly yang sejak tadi sudah menunggu di luar ruangan.
"Ayo kita pergi Pril, kepalaku mau meledak," balas Alicia, nafasnya sudah terengah menahan amarah.
"Ya ampun Al, kamu seperti banteng yang mau ngamuk."
"Memang iya!" Alicia segera menarik tangan Prilly untuk segera meninggalkan tempat keramat tersebut. Rasa-rasanya Alicia tidak Sudi untuk datang ke tempat ini lagi.
Tapi Baru beberapa langkah mereka berjalan tiba-tiba langkahnya sudah lebih dulu dihadang oleh Veronica dan teman-temannya.
Melihat wajah Alicia yang menahan amarah, Veronica pun langsung terkekeh pelan. Nampak jelas Jika ia menikmati penderitaan Alicia hari ini.
"Alicia, Alicia. Mau sampai kapan kamu terus membuat masalah seperti ini? Benar-benar memalukan," ucap Veronica.
"Apa katamu? Ucapkan sekali lagi?" tantang Alicia, sejak tadi ia sudah berusaha mati-matian untuk meredam amarahnya sendiri dan sekarang tiba-tiba Veronica datang menyerahkan diri. Alicia justru senang sekali, karena akhirnya ia menemukan tempat untuk melampiaskan amarahnya.
"Cih, sudah dihukum masih saja berlagak sombong. Di hadapan ku harusnya kamu tahu diri," balas Alicia.
"Kamulah yang harus tahu diri, berhentilah ikut campur semua urusanku. Dasar sampah," maki Alicia. "Sampah bau busuk," timpalnya lagi, puas sekali akhirnya bisa mengumpat seperti ini. Sampai-sampai Alicia bisa tersenyum lagi.
"Dan satu hal yang harus kamu tahu, aku tidak dihukum tuh. Hanya aku yang tahu apa yang terjadi di ruangan Bryan," balas Alicia lalu menjulurkan lidahnya melet. "Wek!"
"Ih!" kesal Sania dan Geby.
Prilly tertawa pelan, jika Alicia sudah beraksi tak akan ada yang mampu melawan mulutnya.
Setelah itu Alicia pun kembali menarik Prilly dan meninggalkan ketiganya. Veronica, Sania dan Geby yang kini jadi merasa geram. Mereka bertiga sudah yakin betul bahwa Alicia akan mendapatkan hukuman berat dari pak Bryan. Tapi sekarang Alicia justru berani-beraninya memanggil sang dosen hanya dengan menyebut namanya saja.
"Dasar menyebalkan, apa iya dia tidak dihukum pak Bryan? Masa sih?" tanya Geby, benar-benar penasaran.
"Pasti dihukum, dia bicara seperti itu hanya akal-akalan saja," sahut Sania.
Veronica tidak bicara lagi, ia masih benci saat mendengar Alicia menyebut pak Bryan hanya dengan namanya saja, Bryan. Seolah keduanya memiliki hubungan dekat. "Sudahlah, ayo pergi," ucap Veronica.
Sementara Alicia dan Prilly kini sudah berada di luar gedung, berkat Veronica kini Alicia tidak lagi memendam amarah. Hatinya mulai terasa bahagia lagi.
"Al, apa benar kamu tidak dihukum pak Bryan?" tanya Prilly, ia masih khawatir.
"Tidak Pril, aku kan adiknya kak Annie. Tidak mungkin dia menghukumku," balas Alicia, ia tak bisa menceritakan keadaan sebentar pada sang sahabat. Biarlah Prilly tahunya semua baik-baik saja.
"Syukurlah kalau begitu, aku takut dan sempat ragu tadi. Ku pikir pak Bryan tidak peduli meskipun kamu adiknya kak Annie," balas Prilly, "Mana bukumu, biar ku tuliskan apa yang dipelajari tadi," timpal Prilly, selama ini ia memang suka menuliskan untuk Alicia.
Dan tanpa pikir panjang Alicia pun mengeluarkan bukunya dari dalam tas, ia menyerahkannya pada Prilly dan mereka duduk di kursi taman.
Alicia dan Prilly tidak menyadari bahwa Bryan melihat semua pemandangan itu dari kaca jendelanya di lantai tiga. "Bisa-bisanya dia meminta temannya untuk mencatat," ucap Bryan, kini kesabarannya yang tengah diuji.
dia harus masuk ke kandang harimau 🤣🤣🤣
kalo pak bry tau bisa mulai cemburu dalih disiplin?🤭🤭🤭
ehh siluman sudah berwajah garamg waduhh ,,,,ambyar seolah dunia nya runtuh 💪 sangat pastinya ,,,