NovelToon NovelToon
Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.

Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).

Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.

"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."

Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 014 - Keraguan Komandan Tombak

Hawa dingin mendadak merayap naik menyusuri punggung Gu Yuan. Di lorong tangga batu yang sempit itu, suara gesekan kain jubah para prajurit yang berhenti bergerak terdengar sangat jelas di telinganya.

“Sejak kapan pengawas barak timur gemar memakai sandal jerami kuli tambang?” tanya komandan regu dari anak tangga di bawahnya. Suaranya datar, namun ujung mata tombak di tangan kanannya perlahan bergeser mengarah ke betis Gu Yuan. “Di mana sepatu bot kulit berpaku milikmu, Luo Biao? Apa kau menjualnya untuk membeli tuak di pasar bawah?”

Para prajurit tombak di belakang sang komandan kembali bersiaga. Dua di antaranya mulai menggeser posisi ke samping, siap menutup celah tangga agar tidak ada yang bisa melompat turun.

Di balik saku jubah abu-abunya, lempengan cermin perunggu tiba-tiba membara panas, mengirimkan denyutan peringatan maut yang menyengat telapak tangan kiri Gu Yuan.

Dunia membeku; garis batas ruang retak menjadi pola perunggu abu-abu.

Suara hembusan angin dari lorong tangga terputus seketika. Sorot mata curiga sang komandan membeku menatap sandal jerami berlumpur di kakinya. Pusaran ilusi abu-abu perunggu seketika memproyeksikan dua cabang tindakan yang bisa diambil Gu Yuan dalam pecahan waktu ke depan.

...****************...

Dalam cabang pertama, Gu Yuan tidak menjawab dengan kata-kata; ia langsung memutar tubuhnya sambil mencabut pedang baja berkarat di pinggangnya, menebas lurus ke arah leher sang komandan untuk membungkam kecurigaan pria itu secara instan.

Namun di lorong tangga yang sempit dan curam, posisi berdiri Gu Yuan berada di undakan yang lebih tinggi dengan pijakan yang tidak stabil. Ayunan pedangnya berhasil ditangkis oleh lempengan pelindung dada tembaga sang komandan dengan dentang keras.

Sebelum Gu Yuan sempat melancarkan serangan kedua, empat tombak panjang dari prajurit di belakangnya meluncur serentak dari celah sempit, menusuk paha, pinggang, dan dadanya dalam hitungan lima tarikan napas. Tubuhnya roboh tertusuk tombak di atas undakan batu, tewas seketika tanpa sempat mencapai pintu aula atas.

Dalam cabang kedua, Gu Yuan membalikkan badan dengan roman muka geram, melontarkan makian kasar khas watak pemarah para pengawas dapur. Ia mengeluhkan bahwa sepasang sepatu bot kulitnya ketumpahan minyak babi mendidih saat ia memeriksa kuali dapur siang tadi, memaksanya menjemur sepatu itu di atas genting dan meminjam sandal jerami milik kuli tambang agar kakinya tidak melepuh.

Mendengar keluhan yang konyol dan kasar itu, sang komandan tertawa mengejek, menganggap kemalangan rekannya sebagai bahan lelucon murah, lalu membiarkannya melangkah naik tanpa memeriksa lebih jauh.

...****************...

Udara kembali berhembus, tetesan keringat dingin jatuh ke tanah tepat di detik yang sama.

Gu Yuan menahan sentakan di dadanya. Pilihan taktis telah terbentang jelas di depan matanya tanpa ada keraguan sedikit pun. Menyerang lima prajurit bersenjata tombak di lorong sempit adalah kebodohan; satu-satunya senjata yang bisa menyelamatkannya saat ini adalah lidah yang kasar dan watak pemarah khas Luo Biao.

Gu Yuan membalikkan badannya secara mendadak di atas anak tangga. Roman mukanya sengaja dibuat kusut masai, matanya menatap tajam ke arah sang komandan dari balik bayangan tepi topi jerami bambunya.

“Sialan! Jangan sebut-sebut soal sepatu keparat itu lagi!” sembur Gu Yuan dengan suara parau yang sarat kekesalan meluap-luap. Ia meludah kasar ke dinding batu tepat di samping sepatu bot sang komandan. “Koki gempal di dapur barak ceroboh menumpahkan kuali minyak babi mendidih ke lantai saat aku masuk memeriksa guci minyak pembakar tadi! Kalau aku tidak melompat mundur, kedua kakiku sudah matang jadi daging rebus!”

Sang komandan tersentak mundur setengah langkah menghindari cipratan ludah Gu Yuan, alisnya terangkat kaget mendengar semburan makian tersebut.

Gu Yuan terus mengumpat tanpa memberi ruang bagi komandan itu untuk menyela. “Sepatu bot kulit baruku sekarang basah kuyup oleh minyak babi tengik dan sedang kujemur di atas tungku dapur! Apa kau mau aku bertelanjang kaki menghadap Tetua Mo di lantai aula marmer, hah?! Aku menyambar sandal jerami kuli tambang pertama yang kutemukan di pintu dapur agar bisa segera melapor ke atas! Kau pikir aku suka memakai sampah jerami berbau lumpur ini?!”

Mendengar rentetan sumpah serapah yang begitu lancar dan penuh emosi khas Luo Biao yang terkenal gampang mengamuk jika terkena sial, kecurigaan di wajah sang komandan seketika runtuh.

Sebaliknya, senyum mengejek perlahan merekah di balik kumis tebal pria itu.

“Hahaha! Jadi si pengawas hebat barak timur baru saja mandi minyak babi di dapur?” tawa sang komandan meledak di lorong tangga, diikuti kekehan geli dari para prajurit tombak di belakangnya. Ketegangan yang mencekam tadi mencair menjadi olok-olok murah antar-rekan pengawas.

Komandan regu menurunkan tombaknya sepenuhnya dan melambaikan tangan kirinya dengan gerakan santai. “Pantas saja sejak tadi ada aroma minyak gosong yang menusuk hidung. Cepat naik ke atas sebelum baumu membuat Tetua Mo muntah. Jangan sampai kau ketumpahan air mendidih lagi di balai depan!”

“Tutup mulut busukmu itu,” dengus Gu Yuan dengan suara serak sambil membalikkan badannya kembali membelakangi mereka.

Ia melangkah mantap menaiki sisa undakan tangga batu kapur menuju pintu kayu besar yang menghubungkan lorong bawah tanah dengan aula balai obat. Derap langkah para prajurit tombak terdengar melanjutkan perjalanan mereka menuruni tangga menuju bilik-bilik tahanan.

Gu Yuan menghela napas perlahan di balik kain jubahnya, meluruskan topi jeraminya sambil melangkah keluar melewati ambang pintu aula utama.

Namun, baru saja kedua kakinya yang beralaskan sandal jerami menginjak lantai marmer putih aula balai obat yang dingin, sebuah suara parau yang bergetar dingin mendadak bergema dari arah balik tirai sutra merah di ujung ruangan.

“Luo Biao,” panggil suara serak yang berat itu, membawa tekanan hawa membunuh dari Ranah Fondasi Sejati yang membuat udara di aula terasa membeku seketika. “Kenapa kau begitu lama? Masuk ke sini sekarang.”

Itu adalah suara Tetua Mo Cheng.

1
Shiro Hoshinova
jir jadi kiko
Shiro Hoshinova
Apalagi ini woy
Helios
Hahaha lolos gara-gara botol arak
Ryo Hamada
Misah jalan sendirian mungkin pilihan paling cerdas buat hindarin kejaran sekte
Ryo Hamada
Mo Cheng kuat bgt ya berarti, udh turun ranah tapi masih bisa ancurin lantai
Ryo Hamada
Gas mumpung ada kesempatan
Ryo Hamada
Beneran dingin banget sikap MC kalau udh masalah keselamatannya. Realistis & gak naif, suka aku model MC yg kaya gini
Ryo Hamada
Xiao Wu mungkin ceroboh micu bel alarm, tapi kekacauan sekte justru nutupin langkah Gu Yuan menuju gua air terjun. Momentum pas jir
Ryo Hamada
Mungkin langsung masuk ke aula Mo Cheng itu langkah bunuh diri, tapi jalan mundur udah ketutup total. Harus main peran sampe tuntas.
Helios
Woy tahanan di bilik jangan teriak napa
Shiro Hoshinova: Fix inimah
total 1 replies
Shiro Hoshinova
Hawanya horor kerasa banget, keren thor!
Helios
Hoki seumur hidup kepake tuh pas kuncinya jatuh deket sepatu wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!