Sambil membawa surat hasil pemeriksaan kehamilannya, Kinan berlari menuju ruangan suaminya. Dia tidak sabar menyampaikan pada suaminya kalau dia hamil. Tapi saat akan membuka pintu,
"Bima, istriku mengantarkan istrimu ke rumah sakit. Katanya ke dokter kandungan, mungkin Kinan hamil. Lantas bagaimana dengan Agnes?"
"Bagaimana apanya? tiga tahun ini baik-baik saja kan? tinggal 2 tahun lagi, Agnes tidak perlu lagi sembunyi di luar negeri!"
Deg
Mata Kinan memerah, wanita yang telah menabrak ibunya hingga tewas. Dan mendapatkan hukuman selama lima tahun di penjara, bagaimana bisa berada di luar negeri?
"Kamu keterlaluan, kalau sampai Kinan mengetahuinya. Dia akan sangat marah padamu! jangan bawa-bawa aku ya, Bella itu sahabat baik Kinan. Kalau dia tahu, habislah aku!"
Hati Kinan hancur mendengar suaminya malah tertawa.
"Dia tidak akan tahu, kalaupun tahu dia bisa apa? Kinan sudah tidak punya siapa-siapa selain aku. Satu kata dariku, dia akan patuh!"
'Tega kamu mas' batin Kinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Bella benar-benar membawa Kinan ke kantor pengacara milik pamannya. Keluarga Tanisa, kebanyakan memang berprofesi sebagai pengacara atau konsultan eksekutif. Makanya keluarga mereka juga tidak bisa dianggap remeh.
"Dari cerita kamu, ini jelas kasus penipuan. Kamu bisa membuka kasus ini lagi jika kamu mau..."
"Aku mau, aku mau buka kasus ini lagi. Aku tidak pernah menyetujui kuasa apapun untuk membebaskan orang yang telah mencelakai ibuku" sela Kinan begitu bersemangat.
Pengacara Gustaf segera menganggukkan kepalanya. Dia paham situasi Kinan, apalagi Bella sudah menceritakan semuanya.
"Baiklah, kita bisa menuntut suami kamu. Jadi kesimpulannya, kita akan ajukan dua gugatan, pertama adalah gugatan perceraian, dan yang kedua adalah gugatan penyalahgunaan pengguna surat kuasa palsu!"
Kinan mengangguk perlahan,
"Paman, kalau bisa buat mereka membayar harganya. Sekarang bahkan wanita itu hidup begitu nyaman di luar negeri. Dia tidak pernah mendapatkan hukuman yang seharusnya dia terima. Ini sangat tidak adil, paman bantulah Kinan"
Pengacara Gustaf mengangguk setuju.
"Tenang saja Bella, perbuatan mereka memang keterlaluan. Tapi kita harus mengumpulkan bukti-bukti terlebih dahulu. Tentang surat kuasa itu, apa kamu bisa mendapatkannya?" tanya pengacara Gustaf pada Kinan.
Kinan berpikir, mungkin Bima menyembunyikan surat kuasa itu di tempat yang sangat aman. Tapi tempat yang aman bagi Bima untuk menyimpan dokumen bukan hanya brankas yang ada di dalam rumah mereka. Ada brangkas di kantor, ada brangkas di beberapa bank juga.
Melihat Kinan berpikir sangat keras, hingga diam cukup lama. Bella menghela nafas panjang.
"Paman, selain seperti itu. Apa bisa mengandalkan bukti lain? Misalnya keputusan dari pengadilan, atau apa gitu?" tanya Bella.
Bella tahu, sahabatnya itu tidak ingin lagi kembali ke rumahnya meski hanya untuk mencari dokumen surah kuasa palsu itu. Dan lebih tidak mungkin lagi, kalau Kinan harus ke perusahaan Bima.
"Bisa juga, tapi hal semacam itu justru membutuhkan lebih dari tiga alat bukti!"
"Paman, apa saja?" Bella sangat antusias.
"Pertama, rekaman kamera pengawas di tempat kejadian, yang kedua adalah saksi yang mengetahui kalau surat kuasa itu palsu, ketiga adalah segala macam transfer dan bukti pembelian barang-barang atau villa dari suami Kinan untuk wanita itu, yang terakhir minta dokumen asli dari pengadilan saat itu! Lebih rumit kan? tapi semua itu akan membuat kasus ini bisa di buka kembali" jelas pengacara Gustaf.
Kinan terdiam, saksi yang mengetahui semua itu tidak mungkin dia kan? Tapi Bella langsung menepuk bahu Kinan.
"Aku akan minta Zayn bersaksi, jika dia tidak mau, aku akan cari ayah baru untuk Sasha"
Kinan mengangguk setuju. Mereka pun membicarakan kembali apa yang selanjutnya akan mereka lakukan. Sampai jam 3 sore, pembicaraan itu baru selesai. Begitu keduanya keluar dari kantor pengacara Gustaf. Tiba-tiba saja langkah mereka di hadang oleh Bima.
Melihat Bima, Kinan mengepalkan tangannya. Matanya merah, dan gerahamnya saling beradu. Sepertinya semua cinta Kinan selama tiga tahun ini sudah berubah total menjadi kebencian yang begitu dalam.
Bella juga sangat kesal, bahkan Bella lebih dulu menghadang Bima, ketika pria itu mau berdiri di depan Kinan.
"Nyonya Rudiaksa sepertinya sangat senang ikut campur urusan rumah tangga orang lain?" pertanyaan itu begitu dingin, tatapan Bima pada Bella juga sangat dingin, bahkan cenderung sangat tajam dan mendominasi.
Tapi Bella memang tidak terpengaruh sama sekali dengan ucapan bernada sinis dari Bima itu.
"Namaku Bella Tanisa, Rudiaksa adalah nama pengikutmu yang menyebalkan itu. Sama menyebalkannya sepertimu!"
"Aku tidak mau bertengkar denganmu, aku mau bicara dengan istriku!"
Bima tampaknya enggan ribut dengan Bella. Dia kembali menatap ke arah Kinan yang sejak tadi sama sekali tidak mau melihat ke arahnya.
"Kinan, kita perlu bicara!"
Begitu Bima mencoba meraih tangan Kinan. Kinan mundur menjauh, dan Bella lagi-lagi menjadi tameng untuk sahabatnya itu.
Wajah Bima makin suram, rahangnya mengeras menatap tajam Bella.
"Ini urusan rumah tanggaku!" suaranya makin tinggi.
Belum bisa di bilang sampai membentak, tapi memang nada suaranya cukup tinggi.
"Dia tidak mau bicara denganmu, ada masalah apapun bicarakan dengan pengacaranya, Pengacara Gustaf Tanisa!" tegas Bella.
Mata Bima membelalak. Apa maksudnya bicara dengan pengacara?
"Benar"
Bima menoleh ke arah Kinan. Akhirnya istrinya itu bicara. Tapi suara yang pelan itu, membuat Bima malah semakin tidak senang. Yang dia katakan adalah membenarkan ucapan Bella.
"Bima, kita bercerai saja!"
Suasana mendadak menjadi hening. Bima tak melepaskan pandangannya sama sekali dari Kinan. Tak terpikir sama sekali oleh Bima, Kinan akan mengatakan hal itu.
Bima menggelengkan kepalanya perlahan. Matanya semakin merah, sepertinya Bima saat ini benar-benar sangat marah.
"Leo!" pekik pria itu.
Bella yang mendengar Bima memanggil asistennya, segera menarik tangan Kinan untuk pergi dari tempat itu. Tapi sayangnya, mereka terlambat.
"Antar nyonya Rudiaksa pulang!"
Kinan sendiri berjalan dengan cepat menuju mobil Bella. Tapi begitu melihat Leo menarik tangan Bella. Kinan berbalik,
"Kinan masuk mobil, kunci mobilnya!" teriak Bella.
Kinan sebenarnya tidak tega melihat Bella, tapi dia bisa menghubungi paman Gustaf setelah masuk ke dalam mobil. Kinan membuka pintu mobil Bella, tapi apa yang ingin Kinan lakukan juga terlambat. Bima sudah lebih dulu menarik pinggangnya, bahkan menggendongnya di atas bahu kemudian berjalan menuju mobilnya.
"Lepaskan aku!" Kinan terus berusaha memukul punggung Bima. Tapi hal itu tampaknya tidak memberikan pengaruh apapun.
"Kinan! lepaskan dia brengsekk!" pekik Bella.
Tatapan Bella beralih bak katana ke arah Leo.
"Lepaskan aku! kamu bosan hidup ya?" tanya Bella pada Leo.
"Maaf nyonya, tapi ini perintah tuan!"
"Kau sama brengsekk nya dengan majikanmu!" pekik Bella marah.
Brakk
Begitu Kinan berhasil di bawa masuk ke dalam mobil. Bima membanting pintu dengan keras.
"Pak Toni, jalankan mobilnya cepat!" perintah Bima.
"Baik tuan!"
Leo segera melepaskan tangan Bella ketika mobil Bima sudah pergi menjauh.
Bella yang kesal lantas mendorong Leo sampai tersungkur di aspal.
"Brengsekk! kalian semua brengsekk! kalau terjadi sesuatu pada Kinan. Aku habisi kalian!"
Bella segera masuk ke dalam mobilnya dan menyusul mobil Bima yang sudah jauh dan tak terlihat. Setidaknya Bella tahu, kalau mereka pasti pulang ke rumah.
Kinan yang tangannya masih terus di cengkeraman kuat oleh Bima. Mencoba untuk melepaskan tangannya itu.
"Lepaskan aku! Bima kamu dengar tidak? lepaskan tanganku!" Kinan bicara dengan nada tinggi.
Bima menoleh, dia menatap wanita yang ada di sampingnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Tapi mata merah itu menunjukkan jelas kalau dia marah.
"Kamu panggil aku apa? sejak kapan panggilan mu padaku berubah?" tanya Bima yang tatapannya begitu menuntut penjelasan.
***
Bersambung...
😠