Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Keheningan yang tadi menyelimuti perpustakaan raksasa itu pecah berkeping-keping. Air mata haru yang sempat menggenang di pelupuk mata Nyonya Besar dengan cepat menguap, digantikan oleh kobaran amarah yang membakar. Matriark klan The Iron Crown itu menegakkan tubuhnya, kembali mengenakan topeng otoritas mutlaknya.
"Kalian menyembunyikan cucuku?!" Suara Nyonya Besar menggelegar, memantul di dinding-dinding marmer dan deretan rak buku oak. Jari telunjuknya yang dihiasi cincin zamrud menunjuk tajam ke arah Aldebaran dan Amanda bergantian. "Apa yang ada di dalam pikiran gila kalian, hah?! Lima tahun! Lima tahun aku hidup tanpa mengetahui bahwa garis keturunan Hendrick telah lahir ke dunia!"
Aldebaran sama sekali tidak bergeming menghadapi murka ibunya. Pria itu berdiri menjulang, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kainnya dengan postur santai yang justru memancarkan aura dominasi mematikan. Tubuh besarnya tetap menjadi perisai yang menutupi Amanda.
"Aku berniat memberitahumu saat waktunya sudah tepat," jawab Aldebaran dengan nada datar yang sarat akan kejemuan. "Jangan berlebihan, Ma. Kau sudah melihatnya sekarang."
"Waktunya?! Kau pikir hal sebesar ini bisa kau atur sesuka hatimu?!" Dada Nyonya Besar naik-turun menahan emosi yang meledak-ledak. Tatapannya kini beralih menembus Aldebaran, menatap lurus ke arah Amanda dengan kilat yang tak lagi merendahkan, melainkan menuntut. "Mama tidak peduli apa pun alasan kalian. Kalian berdua harus menikah sesegera mungkin! Cucuku harus memiliki nama yang sah, status yang jelas, dan hak mutlak di klan ini!"
Napas Amanda tercekat. Menikah? Kata itu menghantam telinganya seperti vonis hukuman mati. Jantungnya berdegup gila, meronta di dalam sangkar rusuknya. Ia baru saja diculik semalam, dan pagi ini ia dituntut untuk menikahi sang Raja Iblis?
"Dan mulai detik ini juga," lanjut Nyonya Besar dengan nada absolut yang tidak menerima bantahan, "Cucuku akan ikut pulang bersamaku ke Mansion Utama. Dia harus tahu siapa neneknya, siapa kakeknya, dan di dunia seperti apa ia seharusnya dibesarkan!"
Aldebaran mendecak pelan, rahangnya mengeras karena muak dengan sikap diktator ibunya. Namun, alih-alih meledak marah, sang mafia menoleh ke belakang, menatap Amanda melalui sudut matanya.
"Semua keputusan dan izin ada di tangan ibunya," ucap Aldebaran tenang, suaranya berat dan bergema di ruangan itu. "Bukan di tanganku. Kalau Amanda bilang tidak, maka Lily tidak akan melangkah satu inci pun dari rumah ini."
Pernyataan Aldebaran seketika membekukan ruangan. Nyonya Besar terkesiap, tidak percaya putranya yang diktator dan tak pernah tunduk pada siapa pun, baru saja menyerahkan kekuasaan tertinggi kepada seorang wanita biasa. Anastasya yang sejak tadi berdiri mematung di sudut ruangan, semakin memucat. Kuku-kukunya menancap ke telapak tangannya sendiri menahan cemburu yang membakar hati.
Semua mata kini tertuju pada Amanda yang masih berlutut memeluk putrinya.
Namun, sebelum Amanda bisa membuka suara untuk menolak, sebuah tarikan kecil di ujung gaunnya menghentikannya.
"Bunda..."
Suara kecil nan polos itu memecah ketegangan. Lily mendongak, menatap Amanda dengan sepasang mata kelamnya yang berbinar penuh harap. "Lily... Lily mau ikut sama Nenek."
Semua orang di ruangan itu terkesiap, tak terkecuali Aldebaran. Semudah itu gadis kecil yang tak pernah mengenal dunia luar itu menerima sosok Nyonya Besar.
Hati Amanda rasanya seperti diremas oleh tangan tak kasat mata. Tenggorokannya tercekat menahan isak tangis yang mendesak naik. Ia tahu persis mengapa Lily menjawab demikian. Selama ini, putri kecilnya selalu mendambakan kasih sayang seorang nenek. Namun yang Lily dapatkan dari Sofie—ibu kandung Amanda—hanyalah cacian, usiran, dan tatapan penuh kebencian. Kini, saat ada seorang wanita tua yang menatapnya dengan kekaguman dan air mata kerinduan, Lily seolah menemukan serpihan hatinya yang kosong.
"Kalian dengar sendiri?" Nyonya Besar tersenyum miring, senyum kemenangan yang angkuh terukir di bibir merah gelapnya. Matriark itu mengangkat dagu, merasa berada di atas angin. "Cucuku sudah memutuskan."
Lily kembali menarik lengan ibunya dengan lembut. "Bunda izinkan Lily, kan? Lily mau rasain bobok ditemani Nenek. Lily pengin punya Nenek, Bunda... boleh, ya?" rengeknya dengan bibir mengerucut lucu.
Pertahanan Amanda runtuh seutuhnya. Ia tidak akan pernah bisa menolak kebahagiaan putrinya. Dengan tangan bergetar, ia merapikan rambut pirang Lily, mengecup kening gadis kecil itu dalam-dalam, lalu memaksakan seulas senyum yang paling tulus meski matanya berkaca-kaca.
"Tentu, Sayang," bisik Amanda parau, suaranya sarat akan kasih sayang yang tak terhingga. "Tapi Lily harus janji sama Bunda. Lily harus jadi anak baik dan tidak boleh merepotkan orang-orang di sana, ya?"
Wajah Lily seketika semringah. Senyumnya mengembang lebar, memperlihatkan deretan gigi susunya yang rapi. "Lily janji, Bunda!"
Melihat interaksi itu, Anastasya benar-benar bungkam. Wanita sosialita yang biasanya penuh bisa itu kini terlihat begitu kerdil dan menyedihkan. Ia telah kalah telak. Bukan oleh Amanda, melainkan oleh eksistensi seorang anak berusia empat tahun yang dalam hitungan detik telah menggeser posisinya menjadi debu di mata klan Hendrick.
Nyonya Besar melangkah maju. Tanpa keraguan sedikit pun, ia membungkuk, melepaskan sisi angkuhnya, dan menggandeng tangan mungil Lily dengan sangat erat. Wanita paruh baya itu tersenyum—sebuah senyuman yang belum pernah dilihat siapa pun selama dua dekade terakhir—senyum paling ramah, hangat, dan memuja untuk sang cucu.
Namun, sebelum Nyonya Besar melangkah keluar dari perpustakaan, ia menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan ke arah Aldebaran dan Amanda. Tatapan keibuan itu menguap, kembali digantikan oleh sorot mata tajam seorang penguasa bayangan.
"Kalian berdua belum selesai berurusan denganku," ancam Nyonya Besar dingin. "Mama tunggu penjelasan lengkap dari kalian berdua malam ini. Jangan mencoba menghindar."
Dengan itu, Nyonya Besar melangkah keluar dari perpustakaan, menuntun Lily yang berjalan riang di sisinya. Anastasya, yang tak lagi memiliki alasan untuk tinggal, terpaksa mengekor pergi dari sana dengan langkah gontai dan wajah ditekuk penuh amarah yang tak tersalurkan.
Aldebaran menatap kepergian ibunya dengan mata menyipit.
"Flop," panggil Aldebaran tanpa membalikkan badan.
Dari balik bayangan pintu, Flop muncul tanpa suara layaknya hantu. "Ya, Tuan?"
"Awasi mereka. Ikuti iring-iringan mobil Ibu dari belakang. Jaga putriku dan pastikan mereka aman sampai ke Mansion Utama. Jika ada satu ekor lalat pun dari klan musuh yang berani mendekati mobil itu, tembak mati di tempat."
"Sesuai perintah Anda, Tuan," balas Flop sambil menunduk hormat, sebelum akhirnya menghilang menyusul rombongan Nyonya Besar.
Kini, suara langkah kaki Flop yang menjauh menjadi suara terakhir yang terdengar. Pintu ganda perpustakaan berayun pelan sebelum akhirnya menutup rapat dengan bunyi klik yang bergema.
Ruangan raksasa itu seketika dihempas oleh kesunyian yang memekakkan telinga. Aroma floral yang memuakkan perlahan memudar, menyisakan wangi cedarwood, buku tua, dan aroma vanila dari tubuh Amanda.
Hanya tersisa mereka berdua.
Amanda masih berdiri mematung di tengah ruangan. Ia memeluk dirinya sendiri, tiba-tiba merasa begitu kecil dan rentan tanpa kehadiran Lily yang biasanya menjadi jangkar kewarasannya. Udara di sekitarnya terasa menipis.
Perlahan, sangat perlahan, Aldebaran memutar tubuhnya.
Mata kelam pria itu menatap punggung bergetar Amanda. Sisa-sisa amarah akibat kedatangan keluarganya kini lenyap, sepenuhnya digantikan oleh gairah gelap, posesivitas, dan rasa lapar yang selama lima tahun ini ia kurung rapat-rapat.
Sang predator mulai mengambil langkah. Suara sol sepatunya yang beradu dengan marmer terdengar seperti detak waktu yang menghitung mundur, mengikis jarak di antara mereka dalam keheningan yang sarat akan ketegangan sensual. Permainan tarik-ulur yang sesungguhnya... baru saja dimulai.
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭