NovelToon NovelToon
Cinta Di Bawah Bayangan Tangan Besi

Cinta Di Bawah Bayangan Tangan Besi

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: aletaia

Aria Utama, seorang arsitek bertangan dingin, mendadak terjebak dalam pusaran konflik dua pria paling dominan di kota. Di satu sisi ada Adrian Mahardika, CEO dingin dari Mahardika Group yang menawarkan perlindungan, kestabilan, dan cinta yang tenang. Di sisi lain ada Dante Vance, pemimpin sindikat kejahatan paling tak tersentuh yang siap menghancurkan dunia demi mendapatkan Aria. Saat rahasia masa lalu terkuak, Aria harus memilih antara kepastian yang aman atau gairah yang mematikan di tengah pertumpahan darah dan perebutan kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aletaia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Pria dari Menara Kaca

Matahari pagi menyusup di antara celah-celah tirai vertikal di kantor studio arsitektur tempat Aria bekerja. Cahaya hangat itu memantul di permukaan meja kerjanya yang dipenuhi oleh gulungan cetak biru, maket miniatur gedung, dan cangkir kopi yang sudah dingin.

Aria meraba kantung mantelnya. Jemarinya menyentuh permukaan dingin cincin perak berukir ular naga yang diberikan pria misterius tadi malam. Peristiwa berdarah di dalam mobilnya terasa seperti mimpi buruk yang samar, tetapi cincin berat di genggamannya menjadi bukti nyata bahwa semua itu sungguh terjadi.

"Aria! Masuk ke ruangan saya sekarang!" suara Pak Hendra, atasan studio, terdengar melengking dari panggilannya.

Aria buru-buru memasukkan cincin itu kembali ke dalam tasnya, merapikan kemeja putihnya, lalu melangkah cepat menuju ruang direktur.

Di dalam ruangan berarsitektur modern itu, Pak Hendra berdiri dengan wajah tegang namun penuh binar kegembiraan yang tak mampu disembunyikannya.

"Ada apa, Pak?" tanya Aria hati-hati.

"Genggam tanganmu dan bersyukurlah, Aria. Baru saja sekretaris eksekutif dari Mahardika Group menelepon," ujar Pak Hendra dengan suara bergetar. "CEO mereka, Adrian Mahardika sendiri, meminta kamu menjadi ketua tim arsitek untuk proyek Mahardika Grand Tower. Nilai investasinya puluhan triliun!"

Aria membelalakkan mata. Mahardika Group adalah konglomerasi bisnis terbesar di negara ini, dan Adrian Mahardika dikenal sebagai pebisnis bertangan dingin yang sangat selektif. Pria itu jarang sekali memakai jasa studio arsitektur independen skala menengah seperti milik mereka, apalagi secara spesifik menunjuk arsitek muda seperti Aria.

"Tapi Pak, bukankah mereka biasanya memakai arsitek asing dari Singapura atau Eropa?"

"Dia melihat portofolio desain ramah lingkunganmu minggu lalu dan secara pribadi menginginkanmu. Mobil utusan Mahardika Group sudah menunggu di bawah untuk membawamu ke markas utama mereka."

Tiga puluh menit kemudian, Aria berdiri di atrium megah Mahardika Tower. Gedung pencakar langit setinggi delapan puluh lantai itu didominasi oleh kaca gelap dan baja berkilau—cerminan sempurna dari pemiliknya.

Seorang sekretaris berbusana rapi mengantar Aria naik menggunakan lift khusus eksekutif menuju lantai paling atas. Pintu lift terbuka, menyambut Aria dengan lantai marmer hitam polish dan pemandangan panorama kota Jakarta dari ketinggian ratusan meter.

Di ujung ruangan seluas lapangan basket itu, berdiri seorang pria membelakangi pintu. Pria itu mengenakan setelan jas tiga potong berwarna abu-abu gelap yang terpotong sempurna membungkus tubuh jangkung dan atletisnya. Posisinya yang berdiri tegak sambil menatap lanskap kota memancarkan aura kekuasaan yang mutlak.

"Selamat pagi, Tuan Mahardika. Saya Aria Utama," tutur Aria dengan suara tenang namun tegas.

Pria itu berbalik perlahan.

Adrian Mahardika memiliki garis wajah yang amat tegas, simetris sempurna, dengan rahang kokoh dan sepasang mata tajam berwarna cokelat gelap yang seolah bisa membaca setiap pikiran orang yang ditatapnya. Wajahnya tidak memancarkan emosi sedikit pun—dingin, terkontrol, dan tak tersentuh.

"Selamat pagi, Nona Utama," suara Adrian terdengar berat dan mantap, beresonansi halus di ruangan yang hening. "Terima kasih sudah datang tepat waktu. Saya tidak menyukai orang yang menyia-nyiakan detik dalam hidup saya."

Adrian melangkah mendekati meja konferensi kaca dan mengisyaratkan Aria untuk duduk. Ketika Aria melangkah maju, Adrian memperhatikannya dengan cermat—mulai dari cara berjalannya yang percaya diri hingga tatapan matanya yang tidak gentar.

"Saya sudah mempelajari seluruh sketsa dan konsep tata ruang yang Anda buat," ujar Adrian seraya membuka lembar portofolio Aria. "Desain Anda memiliki jiwa. Sesuatu yang jarang saya temukan pada arsitek-arsitek hebat yang hanya mengejar kemewahan tanpa fungsi."

"Terima kasih atas pujian Anda, Tuan Mahardika. Sebuah kehormatan bisa berkontribusi dalam proyek sebesar ini," balas Aria profesional.

Adrian menyandarkan tubuhnya ke kursi kulit, menopang dagunya dengan jemari yang saling bertaut. "Namun, bekerja dengan saya berarti Anda harus siap menyerahkan seratus persen fokus Anda. Saya menuntut kesempurnaan. Tidak boleh ada kesalahan, sekecil apa pun."

"Saya selalu bekerja dengan standar tinggi, Tuan," sahut Aria cepat, menantang tatapan mata Adrian yang mengintimidasi.

Sedikit simpul senyum—hampir tak terlihat—terukir di sudut bibir Adrian. Jarang ada orang yang berani menatap matanya secara langsung tanpa gemetar, tetapi wanita di hadapannya ini berdiri tegak dengan keanggunan yang alami.

"Bagus," kata Adrian pendek. Ia berdiri dan melangkah mendekati Aria, berhenti hanya semeter di hadapannya.

Minyak wangi beraroma kayu sandalwood dan citrus mahal milik Adrian menyeruak, menyelimuti indra penciuman Aria. Tinggi badan Adrian yang menjulang membuat Aria harus sedikit mendongak.

"Mulai hari ini, Anda berada di bawah pengawasan langsung dari saya. Setiap keputusan desain harus melewati persetujuan saya pribadi," tegas Adrian. Ada kilatan protektif yang aneh di balik matanya yang dingin saat ia menatap Aria dari jarak sedekat itu.

Saat Aria hendak menjawab, pintu ruangan mendadak terketuk dengan ketukan cepat dan panik. Asisten pribadi Adrian, Rian, masuk dengan wajah pucat.

"Maaf mengganggu, Tuan Adrian," bisik Rian dengan nada cemas. "Pihak keamanan bawah melaporkan ada kiriman paket tanpa identitas yang dialamatkan khusus untuk Nona Aria Utama... dan dikirimkan ke lobby Mahardika Tower."

Aria mengerutkan kening. "Untuk saya? Ke gedung ini?"

Adrian memberi isyarat agar Rian membawa paket tersebut masuk. Sebuah kotak hitam berikat pita merah diletakkan di atas meja. Adrian dengan cepat menahan tangan Aria saat wanita itu hendak membukanya.

"Biarkan keamanan yang memeriksa dulu," bisik Adrian protektif, tangannya yang hangat dan kokoh menggenggam pergelangan tangan Aria.

Namun kotak itu tidak terkunci. Tutupnya sedikit terbuka. Di dalamnya, terletak seikat bunga mawar hitam yang segar, dengan selembar kartu ucapan berwarna merah gelap.

Adrian mengambil kartu itu sebelum Aria sempat meraihnya. Ia membaca pesan singkat yang tertulis dengan tinta emas di atasnya:

"Malam yang indah di dalam mobilmu, Aria. Cincin itu terlihat sangat cocok dengan keberanianmu. Sampai jumpa di malam peluncuran."

— D.V.

Mata Adrian seketika berkilat dingin. Rahangnya mengeras rapat saat membaca inisial tersebut. Ia mengalihkan pandangannya dari kartu itu lalu menatap Aria dengan tatapan penuh selidik dan penekanan yang mendalam.

"Siapa D.V.?" tanya Adrian dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi amat dingin dan menekan. "Dan hubungan apa yang Anda miliki dengan pria itu, Nona Utama?"

Aria menahan napas. Ia mengenali inisial itu—Dante Vance. Teror dari dunia kegelapan telah merayap masuk ke dalam menara kaca tempat ia berdiri saat ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!