Aksi heroik Kapten Fikri Rafisqy ditengah perampokan swalayan berujung duka. Berusaha menyelamatkan seorang anak kecil, Fikri tak sadar peluru maut mengincar nyawanya. Naas, seorang kakek justru mengorbankan diri demi menyelamatkannya. Dalam kondisi kritis dirumah sakit, sang kakek menyampaikan wasiat terakhir: Fikri harus menikahi cucu tunggalnya, Seruni Shafira, gadis penjual bunga kini sebatang kara.
Seruni menolak tegas. Bagaimana mungkin ia harus menikah disaat impian sekolahnya masih membumbung tinggi? Namun demi melunasi utang nyawa dan amanah terakhir, Fikri menerimanya. Didepan ruang ICU, ijab kabul terucap sebelum sang kakek mengembuskan napas terakhirnya.
Kini, kehidupan mereka berubah total. Bisakah Seruni menerima takdir pernikahannya bersama pria yang terpaut jarak usia 12 tahun darinya? Apalagi, Seruni masih bersikeras memanggil suami dengan sebutan "Paman"!
Saksikan kisah cinta penuh liku, aksi menegangkan dan kepolosan Seruni yang meluluhkan hati dingin Kapten Fikri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Baru Seruni.
Awan hitam bertengger pekat di atas pemakaman umum siang itu. Gerimis tipis mulai turun, membasahi tanah merah yang masih basah dan ditaburi mahkota mawar merah serta krisan putih. Orang-orang yang menghadiri prosesi pemakaman satu per satu melangkah pergi, menyisakan dua insan yang berdiri kaku di depan nisan bertuliskan nama Kakek Rahmat.
Seruni berdiri tertegun, menatap gundukan tanah itu dengan mata sembap yang membengkak. Baju hitam longgar yang dikenakannya tampak kebesaran di tubuhnya yang kecil. Ia tidak menangis lagi, air matanya seolah sudah habis terkuras sejak kemarin sore di ruang UGD. Pandangannya kosong, seolah jiwanya masih tertinggal di hari kemarin.
Di sampingnya, Kapten Fikri berdiri tegap dengan seragam dinas harian kepolisian yang tertutup jaket hitam. Sesekali matanya melirik gadis di sebelahnya dengan rasa khawatir yang membuncah.
"Seruni... sudah hampir gelap. Gerimisnya makin deras," ucap Fikri lembut, memecah keheningan. Ia melepas jaket hitamnya dan menyampirkannya ke bahu kecil Seruni untuk menghalau dingin. "Kita pulang sekarang, ya?"
Seruni tidak menjawab. Gadis itu hanya menurut pasrah ketika Fikri membimbing pergelangan tangannya menuju mobil dinas yang terparkir di pinggir jalan pemakaman.
Sepanjang perjalanan, tak ada suara selain raungan mesin dan kepakan wiper mobil yang menyapu titik-titik air di kaca depan. Seruni menyandarkan kepalanya di kaca jendela, menatap jalanan kota yang basah. Pikirannya melayang, teringat kebiasaan sore hari bersama sang kakek di toko bunga, menyiram tanaman, menyusun buket, dan mendengarkan cerita-cerita tua sang kakek. Kini, semua itu lenyap dalam sekejap.
Setengah jam berlalu, mobil hitam Fikri memasuki sebuah kompleks perumahan dinas kepolisian yang tenang. Mobil berhenti di depan sebuah rumah berarsitektur minimalis dengan halaman depan yang cukup luas dan beberapa pohon rindang.
Fikri turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Seruni. Ia memandu gadis yang masih linglung itu masuk ke dalam rumah. Satu-satunya barang yang dibawa Seruni dari toko bunga hanyalah satu tas ransel lusuh berisi beberapa potong pakaian dan celemek kesayangannya.
Fikri membawa tas ransel itu di satu tangan, sementara tangan satunya menuntun Seruni melewati pintu depan.
Langkah kaki Seruni terhenti di tengah ruang tamu. Mata jernihnya menyapu sekeliling ruangan yang terasa sangat luas, dingin, dan kaku. Hanya ada sofa kulit hitam, meja kayu, dan beberapa trofi penghargaan kepolisian milik Fikri di dalam lemari kaca. Tidak ada vas bunga, tidak ada warna-warni krisan, tidak ada kehangatan seperti rumah kakeknya.
Seruni memeluk jaket Fikri yang masih melekat di tubuhnya, menyerap sisa kehangatan dari pakaian pria itu. Dengan bibir yang gemetar dan suara yang amat pelan, Seruni menengadah menatap Fikri.
"Paman... ini rumah siapa?" tanya Seruni polos. "Kenapa... kenapa aku harus tinggal di sini bersama Paman?"
Fikri yang sedang meletakkan tas ransel di atas meja seketika tersentak. Langkah kakinya terhenti. Kata "Paman" yang keluar dari mulut gadis berusia 17 tahun itu menghantam dadanya dengan sudut perasaan yang aneh.
Fikri berbalik, menatap Seruni yang berdiri kecil di tengah ruangan. Wajah polos gadis itu memancarkan kebingungan yang teramat sangat. Pria berusia 29 tahun itu mendesah pelan, menyapu wajahnya dengan telapak tangan sebelum akhirnya melangkah mendekati Seruni.
Fikri menekukan lutut di hadapan Seruni, menyamakan tingginya agar mata mereka sejajar. Usaha Fikri menekuk lututnya justru mempertegas naluri mengayomi, seperti sosok figur pelindung, atau bahkan seorang ayah yang sedang berusaha menenangkan anaknya yang sedang ketakutan.
"Seruni, dengarkan aku baik-baik," kata Fikri dengan nada suara yang sangat dalam, pelan, namun penuh penekanan. "Ini rumahku, dan kamu tinggal di sini... karena kamu adalah istriku sekarang, jadi jangan panggil aku paman oke."
Mata Seruni berkedip lambat. Kata 'istri' terasa begitu asing, berat, dan salah di telinganya.
"Tapi... Umur Paman kan jauh sekali dengan umur Runi, jadi nggak sopan kalau tidak panggil Paman," balas Seruni dengan wajah yang polos.
Fikri terdiam sejenak, menahan napasnya. Jarak usia 12 tahun di antara mereka mendadak terasa bagaikan jurang yang sangat lebar. Di mata gadis ini, Fikri bukanlah sosok suami yang diimpikan, melainkan pria dewasa paruh baya yang bertugas menjaganya karena sebuah tragedi.
"Terserah kamu mau memanggilku apa untuk saat ini," ujar Fikri akhirnya, tidak ingin memaksakan keadaan yang bisa membuat gadis ini makin trauma. "Tapi ingat satu hal, Seruni. Di rumah ini, kamu aman. Aku tidak akan menyakitimu, dan aku tidak akan menuntutmu berlaku sebagai seorang istri. Fokusmu hanya satu, bersedihlah sepuasmu hari ini, lalu besok kamu harus kembali fokus sekolah. Aku yang akan menanggung semuanya."
Fikri berdiri, lalu membimbing Seruni menuju sebuah kamar di lantai dasar. Kamar itu bernuansa krem yang hangat, dilengkapi tempat tidur empuk dan meja belajar kecil dekat jendela.
"Ini kamarmu. Kamarku ada di lantai atas," ujar Fikri seraya meletakkan tas ransel Seruni di atas kasur. "Istirahatlah. Kalau butuh apa-apa, panggil aku."
Seruni hanya mengangguk pelan. Setelah Fikri keluar dan menutup pintu, Seruni duduk di tepi ranjang. Suasana kamar yang asing membuat dadanya makin sesak.
Malam kian larut. Hujan deras yang tadinya berupa gerimis kini mengguyur kota dengan lebat. Angin kencang menghempas dedaunan di luar, bercampur dengan suara gemuruh yang saling menyahut di langit.
DUARRR!
Kilatan petir menyambar, menerangi kamar Fikri di lantai atas selama sepersekian detik, disusul suara gemuruh dahsyat yang menggetarkan kaca jendela.
Fikri yang sedang duduk di meja kerjanya memeriksakan berkas laporan kasus perampokan kemarin seketika menghentikan ketikannya. Ia teringat Seruni di lantai bawah.
Belum sempat Fikri berdiri dari kursinya, suara ketukan pelan bergema dari balik pintu kamarnya.
Tok... tok... tok...
Fikri bergegas membuka pintu. Di depan pintunya, Seruni berdiri kaku. Gadis itu memeluk erat sebuah bantal di dadanya. Wajahnya pucat pasi, matanya berkaca-kaca ketakutan. Tubuh kecilnya gemetar hebat setiap kali suara gemuruh petir terdengar dari luar.
"Seruni? Ada apa? Kamu takut petir?" tanya Fikri panik, refleks memegang kedua bahu Seruni.
Seruni menatap Fikri dengan air mata yang mulai menetes menembus pipinya. Suaranya pecah dan terbata-bata.
"Paman... antarkan aku pulang..." rengek Seruni memohon. Tangannya yang mungil cengkeramannya makin erat pada bantal.
Fikri mengerutkan dahi. "Pulang? Ini rumahmu sekarang, Seruni."
"Bukan! Ini bukan rumahku!" tangis Seruni pecah, suaranya makin melengking karena rasa takut dan duka yang menumpuk. "Aku mau pulang ke toko bunga! Kakek sendirian di sana, Paman! Kakek pasti cari Runi! Kakek tau Runi takut suara petir sebesar ini! Antarkan Runi pulang, Paman... Runi ingin peluk Kakek..."
Dada Fikri serasa dihantam godam besar. Gadis kecil ini belum sepenuhnya menerima kenyataan bahwa kakeknya telah tiada dan dimakamkan di tanah dingin beberapa jam lalu. Pikiran anak-anaknya yang syok membuat Seruni berpikir kakeknya masih menunggu di toko bunga mereka.
"Seruni, Kakek sudah..." Fikri menghentikan ucapannya saat melihat mata Seruni yang dipenuhi keputusasaan. Fikri tak tega menamparnya lagi dengan kenyataan pahit itu malam ini.
Fikri berlutut kembali di depan Seruni. Perlahan, tangan tegap sang Kapten merengkuh tubuh gemetar gadis itu, menariknya ke dalam dekapan hangat yang protektif. Seruni menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Fikri, menangis sesenggukan seraya memukul-mukul pelan bahu pria itu.
"Kakek sudah tenang di surga, Seruni... Kakek tidak mencari kamu lagi," bisik Fikri dengan nada paling lembut yang pernah ia keluarkan seumur hidupnya, mengelus rambut ikal Seruni dengan penuh kasih sayang. "Mulai sekarang, kalau kamu takut... panggil aku. Aku ada di sini."
Seruni terus menangis di pelukan Fikri, meremas piyama pria yang kini menjadi pelindungnya. Namun di dalam hati Fikri, sebuah pertanyaan besar mulai merayap dan mengusik pikirannya:
Mampukah ia melunakkan hati gadis polos yang menganggapnya sebagai figur ayah dan 'Paman' ini menjadi sebuah cinta? Ataukah pernikahan batas usia ini justru akan menjadi penjara emosional bagi mereka berdua?