NovelToon NovelToon
Bukan Aku Yang Jahat Mas

Bukan Aku Yang Jahat Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Atha Diyuta

Setiap hari aku difitnah mertuaku.

_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_

Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.

_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_

Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.

_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_

Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.

Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.

Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?


Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌

Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 Kehilangan

POV Arman

Hari ini rasanya sepi, tidak ada drama di rumahku, tidak ada tangisan Nisa yang ketakutan atau Raffi yang terbangun karena terkejut mendengar teriakan Ibu.

Sesaat aku tersadar, ternyata baru ditinggal beberapa jam saja aku sudah merasa kehilangan.

Aku duduk di ruang tamu sejak pagi. Di atas meja masih ada dua piring kotor bekas makan malam semalam.

Aku menatap pintu kamar yang terbuka. Seprai kusut. Lemari setengah kosong. Ransel besar Alya yang biasanya tergantung di balik pintu sudah tidak ada. Boneka kelinci Nisa yang sobek telinganya juga ikut hilang.

Rumah ini mendadak terlalu luas.

"Man, kamu ko melamun terus dari tadi. Sudah, nggak usah dipikirikan perempuan nggak tahu diri kayak gitu!"

Suara Ibu membuyarkan lamunanku. Ibu keluar dari dapur sambil membawa sapu, wajahnya masih dengan ekspresi kesal yang sama seperti semalam.

Aku diam tidak ada niat untuk menjawab.

Ibu duduk di depanku,dari gelagatnya aku tau ibu ingin menceritakan sesuatu.

"Kamu tahu nggak, Man? Tadi pagi Ibu ke warung Bu Siti. Satu komplek sudah heboh. Katanya Alya itu memang sudah lama mau minggat. Pantesan aja, Ibu lihat dia beberapa kali chat-an sama laki-laki di HP. Jangan-jangan dia pergi sama laki-laki lain, Man!"

Darahku langsung naik.

"Bu, jaga omongan Ibu! Walau bagaimanapun Alya itu masih istriku, ibu dari anak-anakku!" bentakku, untuk pertama kalinya aku membentak Ibu.

Ibu langsung memegang dadanya.

"Astaga, Arman! Kamu membentak Ibu gara-gara perempuan itu? Ibu yang sudah melahirkan kamu, membesarkan kamu, kamu mulai membela dia? Lihat kan? Dia sudah berhasil bikin kamu durhaka sama Ibu kamu sendiri! Alya itu istri tidak tahu diuntung, Man. Sudah Ibu bilang dari dulu, perempuan kampung kayak dia itu nggak pantas buat kamu!"

"Alya nggak pernah selingkuh, Bu! Ibu jangan fitnah dia bu!" suaraku bergetar.

"Fitnah bagaimana? Kalau nggak selingkuh, mana ada perempuan baik-baik pergi bawa dua anak masih balita pagi-pagi buta? Perempuan baik itu bertahan di rumah suaminya, bukan kabur! Ibu tanya tetangga-tetangga tadi, semua bilang Alya itu kurang ajar, sudah Ibu baik-baikin, masih aja minggat. Dia itu mempermalukan keluarga kita, Man!"

Aku mengepalkan tanganku. Aku tahu persis siapa yang mempermalukan keluarga kami. Bukan Alya.

Aku ingat jelas, bagaimana Ibu menampar pipi Alya hanya karena sayur lodehnya keasinan. Bagaimana Ibu mendorong Nisa sampai jatuh hanya karena Nisa menumpahkan air. Bagaimana aku hanya diam. Diam seperti pengecut.

"Alya pergi karena Ibu, Bu. Karena aku. Karena kita nggak pernah bikin dia nyaman di rumah ini," ucapku pelan.

Ibu terdiam sesaat, lalu tertawa sinis.

"Nyaman? Dia harusnya bersyukur Ibu kasih tumpangan rumah. Kalau nggak ada Ibu, kalian mau tinggal di mana? Di kontrakan petak? Dia itu numpang hidup di sini, Man. Harusnya dia yang bikin Ibu nyaman, bukan Ibu yang bikin dia nyaman. Sudah lah, nggak usah dicari. Biarin aja dia kapok di jalanan. Nanti juga dia pulang merangkak minta maaf sama Ibu."

Aku berdiri,aku tidak tahan lagi mendengar semua karangan cerita Ibu.

Aku mengambil kunci motor.

"Mau kemana kamu, Man?"

"Mau cari istri dan anak-anakku Bu."

Aku melajukan motorku tanpa tujuan. Aku menyusuri gang-gang kecil, warung-warung, pos ronda. Aku bertanya ke beberapa orang.

Aku bertanya kestaip orang yang aku temui dijalan, berharap seseorang diantara mereka ada yang melihat Alya .Tapi semua menggeleng. Ada yang menatapku dengan tatapan kasihan, ada yang dengan tatapan menghakimi karna merasa aku suami yang tidak becus menjaga marwah istriku.

"Katanya istrimu minggat, Man? Denger-denger ikut laki lain ya?" tanya ibu-ibu yang sedang duduk diserambi rumahnya.

Lagi-lagi fitnah Ibu sudah menyebar lebih cepat dari laju motorku.

Aku pulang dengan tangan hampa. Rumah masih sepi. Untuk pertama kalinya aku masuk ke dapur dan mencoba menghangatkan nasi sisa semalam. Nasi yang sudah kering. Tidak ada lauk. Selama ini Alya yang selalu menyiapkan semuanya, bahkan saat dia menangis semalaman karena dimaki Ibu, paginya dia tetap bangun paling pagi untuk masak menyiapkanku makanan.

Aku baru sadar, selama lima tahun ini aku bukan suami, aku hanya penonton di rumahku sendiri.

---

Di tempat lain, di rumah kecil di pojok kebun mangga itu.

Alya baru saja selesai memandikan Raffi dan Nisa. Air sumurnya jernih dan segar. Nisa terlihat jauh lebih ceria, berlarian mengejar ayam-ayam milik Ustadzah Munah.

Ustadzah Munah datang membawa nampan berisi teh hangat dan singkong goreng.

"Alya, sini nak, Ibu mau ngobrol sebentar," panggilnya lembut.

Alya duduk di bale bambu di bawah pohon mangga. Raffi tertidur di pangkuannya.

"Begini, Nak Alya," Ustadzah Munah membuka percakapan dengan hati-hati. "Maaf kalau Ibu lancang. Tadi pagi asisten rumah tangga Ibu, Mbak Lastri, telepon. Dia mengundurkan diri, Nak. Anaknya di kampung sakit keras, jadi dia tidak bisa berangkat lagi karna harus merawat anaknya yang sakit itu. Padahal Ibu ini sudah tua nak.Tinggal sendiri, kebun mangga ini luas, rumah besar itu kalau dibersihkan sendiri Ibu sudah tidak kuat."

Alya menatap Ustadzah Munah, mendengarkan dengan saksama.

"Ibu lihat kamu itu anaknya rajin, bersih, sayang sama anak-anak. Kalau kamu berkenan, mau nggak kamu bantu Ibu di sini? Maaf sebelumnya.Kalau tidak keberatan apa kamu mau bantu-bantu Ibu merawat kebun kecil ini, nyapu halaman, masak kalau Ibu sempat masak bareng. Nanti Ibu gaji bulanan, ya. Nggak besar, tapi Insya Allah cukup buat susu Raffi dan jajan Nisa. Kamu juga tetap bisa tinggal di rumah kecil itu gratis."

Alya membeku. Air matanya langsung menetes tanpa bisa ditahan.

Tawaran pekerjaan,setelah tiga hari tidak diberi uang belanja oleh Arman, setelah harus menjual kue keliling dengan menggendong Raffi, setelah merasa tidak punya harga diri, kini Allah memberinya jalan.

"Bu,ibu serius? Tapi maaf saya tidak ada pengalaman kerja sebelumnya,tapi saya yakin saya bisa mengerjakan semua itu. Apa ibu perlu ijazah Bu seperti perekrutan karyawan ditempat-tempat lain?"ucap Alya dengan suara terbata-bata.

"Ilmu itu bukan cuma dari ijazah, Nak. Kejujuran dan ketulusanmu itu ijazah paling tinggi. Ibu nggak butuh ijazah, Ibu butuh orang baik yang bisa Ibu percaya. Gimana, Nak? Kamu mau ya?"

Alya mengangguk cepat sambil mengusap air matanya.

"Mau Bu, mau banget Bu. Terima kasih banyak Bu Ustadzah, Ibu sudah baik sekali sama kami. Saya janji akan bantu Ibu dengan sungguh-sungguh."

Ustadzah Munah tersenyum teduh dan mengelus kepala Raffi yang tertidur.

"Alhamdulillah. Mulai besok ya, Nak. Sekarang kamu istirahat dulu. Oh iya, kebun di belakang itu ada cabai, terong, kangkung. Kalau kamu mau, nanti bisa kamu jual di pasar, hasilnya buat kamu semua. Anggap saja kebun itu kebunmu juga."

Nisa yang sedari tadi menguping langsung berlari dan memeluk kaki Ustadzah Munah.

"Makasih Nek Ustadzah! Nisa janji bakal bantuin Mama nyapu!"

Ustadzah Munah tertawa renyah.

"Pinter sekali anak cantik ini."

Malam itu, Alya kembali menulis di buku tulis kecilnya yang sudah lusuh. Di rumah kecil yang tenang itu, untuk pertama kalinya dia menulis bukan tentang kesedihannya, tapi tentang harapannya.

_Hari ini Allah kirimkan Ibu Munah. Hari ini aku punya rumah dan pekerjaan. Semoga ini awal yang baru untukku dan anak-anakku._

Sementara di rumah besar yang sepi, Arman menatap foto pernikahannya dengan Alya yang tergantung di dinding. Di foto itu Alya tersenyum sangat cantik, senyum yang sudah lama tidak ia lihat lagi.

Ia mengambil HP nya dan mencoba menghubungi nomor Alya. Tapi nomornya tidak aktif.

"Ly, di mana kamu..." gumamnya lirih.

Ia belum tahu, bahwa di saat ia mulai mencari, istrinya justru baru saja menemukan tempat untuk pulang.

Bersambung

1
Atha Diyuta
iya mau balik tapi Alya udah nolak😄
Dewi kunti
sampai ak ngitung disini bilang man sampai 8x🤭
Atha Diyuta: 😅😅😅😅😅😅
total 3 replies
Dewi kunti
balik lagi Man🤭🤭🤭🤭
Dewi kunti
biasanya manggil cm man,sekarang tumben mas
Atha Diyuta: 😄😄😄😄😄😄😄
total 5 replies
Dewi kunti
mending ngekost man ,drpd hidup sama msk Lampir
Atha Diyuta: semoga Arman berkenan 😅
total 9 replies
Dewi kunti
ibu po mama iki🤭🤭🤭🤭🤭
Dewi kunti
lha bukannya nisa sudah paham ya mereka pergi dari rumah karena dimarahi nenek dan ayahnya,bahkan lihat ibunya yg ditampar
Atha Diyuta: yah anak kcil critanya cuman tau pergi dan akan kembali🤭🤭
total 1 replies
Dewi kunti
terlunta2 dijalanan 🤭
Dewi kunti
memperlihatkan kejulidannya mungkin
Atha Diyuta: Aduuh iya k typo lagi , trimakasih nanti direvisii 🙈🙈
total 1 replies
Dewi kunti
nama kamu hrsnya
Atha Diyuta: baik ka trimakasih nnti direvisi ☺️☺️
total 1 replies
Atha Diyuta
Asiap ka trimakasih sudah mampir
senjani jingga
semangat thor!, kalau berkenan mampir juga di novel baruku ya😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!