Jingga membuka mata, kembali ke masa sebelum tragedi besar menimpa keluarga Amazon.
Kali ini, tidak ada lagi gadis lugu yang mudah dimanfaatkan, matanya penuh dendam dan kebencian.
Hanya ada satu hal, Balas Dendam!
Mari kila mulai permainannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Sikap manja si gagah
Di Siang hari, Farhan akhirnya bisa pindah ke ruang rawat inap, Tepat di kamar VIP Jingga sebelumnya.
Setelah perawat selesai membantu kepindahan Farhan, Jingga duduk di samping Farhan, "kau mau makan apa!"
"Sesuatu yang manis, lembut dan menagih," ucap Farhan.
"Hm... Ayan kecap?"
"Tidak."
"Bubur?"
"Bukan."
"Es pisang ijo?"
"Bukan."
Kening Jingga mengerut, "lalu apa?" Tanya Jingga.
"Apa jika aku mengatakannya, kau akan memberikannya?" Tanya balik Farhan.
"Tentu saja!" Jawab Jingga.
"Kamu," ucap Farhan dengan senyum nakalnya.
"Kau! Kau pikir aku makanan?" Gerutu Jingga segera bergerak, harus menjauhi pria ini!
Tapi sayang sekali Jingga tak punya jalan keluar, tubuhnya telah lebih dulu di tahan Farhan, "kau mau ingkar?"
Jingga menggertakkan giginya, pria ini sudah merencanakannya!
"Aku tidak ingkar, hanya saja aku tidak melakukan 'itu' sebelum menikah," kata Jingga yang matanya kini dipenuhi ancaman.
"'Itu' apa yang kau maksud?" Tanya Farhan dengan senyum licik.
Wajah Jingga memerah "Kau!" Jingga menggertak, "lepaskan aku! Dasar mesum!" Ucap Jingga sambil merontak.
Farhan menahan tubuh mungil Jingga, "aku hanya minta ciuman, tapi kau begitu pelit?"
"Apa? Eh?" Jingga salah tingkah, apakah dia berpikir terlalu jauh?
"Gadis kecil, pikiranmu liar sekali," kata Farhan tertawa lucu.
"Kau! Dasar menyebalkan!" Gerutu Jingga mendorong tubuh Farhan, sekarang dia sangat malu, malu sampai ingin menghilang begitu saja.
"Jadi mau berikan atau tidak?" Tanya Farhan.
Kemarahan terukir di seluruh wajah Jingga, tapi kemudian dia tetap mendekatkan wajahnya ke Farhan dan mendaratkan ciuman kecil di bibir Farhan.
Cup!
"Sudah!" Kata Jingga langsung berbalik memunggungi Farhan dengan rasa kesal.
Farhan tersenyum, memeluk Jingga dari belakang, "sayang, aku mau ayam kecap, kata Farhan.
"Hm!" Jingga mendengus kesal, tapi tangannya tetap bergerak mengambil ponsel, memesan ayam kecap dan beberapa makanan lainnya.
Jingga menginap semalam, menemani Farhan di rumah sakit.
Di pagi hari, seorang pria berpenampilan rapi datang membawa banyak kantong.
"Halo, Kakak Ipar," kata sang pria sambil tersenyum menatap Jingga.
Jingga menatap Farhan dengan rasa ingin tahu.
"Saya asisten Pak Farhan. Nama saya Gian," kata Gian.
"Salam kenal, aku Jingga," ucap Jingga mengulurkan tangan untuk salam perkenalan.
Gian menatap tangan mulus Jingga yang terulur padanya.
Dia sudah sengaja dari tadi tidak mengulurkan tangan pada Jingga karena takut terkena marah Farhan jika ia berani menyentuh kakak ipar, tapi kini....
Keringat dingin seketika membanjiri punggung Gian saat ia menatap Farhan, meminta perintah.
Sedikit anggukan dari Farhan membuat Gian segera menerima jabatan tangan Jingga, tapi dia tak berani berlama-lama, segera menarik tangannya dan berkata dengan gugup, "kakak ipar, aku bisa menjaga Pak Farhan hari ini jika kakak ipar ada kesibukan," ucap Gian.
Jingga menatap Farhan, "aku sebenarnya masih ingin menemanimu di sini, tapi kalau aku tidak pulang hari ini, takutnya akan ada keributan di rumah," kata Jingga yang cemas Arga kembali mengirim seseorang untuk memata-matai nya.
"Jangan khawatir, ada Gian di sini," ucap Farhan.
"Baiklah, kalau begitu akan ku sempatkan datang lagi nanti," ucap Jingga meraih tasnya lalu melangkah ke arah pintu.
"Tunggu!" Ucap Farhan menghentikan langkah Jingga.
Farhan memberi kode pada Gian, jadi Gian segera keluar dari kamar.
"Apa ada yang tak nyaman?" Tanya Jingga kembali ke sisi Farhan.
"Kau melupakan sesuatu," ucap Farhan.
Jingga berusaha berpikir, apa yang ia lupakan?
"Aku sudah membawa semuanya," ucap Jingga merasa tak ada yang ketinggalan.
"Tapi kau lupa ini," ucap Farhan menunjuk bibirnya sendiri.
"Ah," jingga tersenyum, pria yang gagah ini ternyata sangat manja.
Jingga pun menunduk, mendaratkan ciuman singkat di bibir Farhan.
Cup!
Tangan Jingga terulur mengusap rambut Farhan, "aku akan kembali nanti." Ucap Jingga.
"Hm," Farhan mengangguk patuh.
Senyum Jingga melebar, 'pria ini seperti anak anjing kecil,' pikir Jingga dalam hati.
Jingga pun keluar dari kamar digantikan Gian yang masuk menemui Farhan.
"Tuan," kata Gian.
"Bagaimana keadaan Kakek?" Tanya Farhan.
"Beliau baik-baik saja, hanya saja dia memberi perintah untuk mencari seorang gadis. Katanya dia akan dijodohkan dengan...." Gian tidak berani melanjutkan kata-katanya.
"Hah... Katakan padanya, aku akan segera membawa cucu menantu untuknya. Tidak usah lagi mengurus perjodohan," ucap Farhan.
Gian mengerti, "Baik. Lalu hari ini adalah jadwal pertemuan dengan Grup Amazon untuk membahas kerja sama. Apakah saya perlu membatalkannya?" Tanya Gian.
"Tidak usah, biar mereka datang, atur seseorang untuk menemui mereka," ucap Farhan.
"Saya mengerti, semua akan dilakukan sesuai rencana awal," kata Gian.
"Hm," Farhan mengangguk, lalu berbaring dengan nyaman.