NovelToon NovelToon
Lima Kakak Valerius

Lima Kakak Valerius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir
Popularitas:604
Nilai: 5
Nama Author: mona28

Di mata masyarakat, keluarga Valerius adalah keluarga pengusaha terpandang dan salah satu keluarga terkaya di kota. Namun di balik kemewahan mansion mereka, keluarga Valerius merupakan salah satu keluarga mafia paling berkuasa dan ditakuti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mona28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 — PEREMPUAN YANG KEMBALI DARI KEMATIAN

Aren membaca pesan di ponselnya berulang kali.

JANGAN BIARKAN ADRIAN MEMBUKA AMPLOP HITAM. DI DALAMNYA ADA BUKTI BAHWA IBUMU TIDAK PERNAH KELUAR DARI FASILITAS PADA MALAM ITU.

Jari-jarinya terasa dingin.

Ibunya, Elena Ravencroft, telah berdiri di hadapannya beberapa jam lalu. Aren masih mengingat pelukan perempuan itu, suaranya yang bergetar ketika meminta izin menyentuh wajahnya, dan air mata yang jatuh ketika mereka akhirnya bertemu setelah tujuh belas tahun terpisah.

Bagaimana mungkin pesan itu mengatakan Elena tidak pernah keluar dari fasilitas?

Apakah perempuan yang ditemuinya benar-benar ibunya?

Atau seseorang telah menggunakan wajah Elena untuk menipunya?

"Aren?"

Raka menyadari perubahan ekspresi adiknya.

"Apa yang terjadi?"

Aren segera menunjukkan layar ponselnya.

Raka membaca pesan itu tanpa mengubah ekspresi, tetapi Aren melihat rahang kakaknya mengeras.

"Siapa pengirimnya?" tanya Raka.

"Tidak ada nama. Nomornya tersembunyi."

Kian segera menghubungkan perangkatnya ke sistem komunikasi.

"Jangan balas dulu. Aku akan mencoba melacak jalur pesannya."

Riven berdiri di belakang Aren, wajahnya semakin gelap.

"Kalau ada orang yang berpura-pura menjadi ibu Aren, aku sendiri yang akan—"

"Riven," tegur Leon.

"Apa? Aku hanya ingin memastikan tidak ada yang menyakiti adik kita!"

"Dan berteriak tidak akan membuat kita menemukan jawabannya lebih cepat."

Riven mengembuskan napas kasar, lalu mengalihkan pandangannya ke layar.

Darren mengambil ponsel dari tangan Raka setelah mendapat izin, kemudian memeriksa waktu pengiriman pesan.

"Pesan ini dikirim melalui jaringan internal fasilitas. Pengirimnya mungkin berada di sini."

"Atau seseorang di luar menggunakan akses administrator," tambah Kian. "Aku belum bisa memastikan."

Aren menelan ludah.

"Aku harus menemui Ibu."

Raka langsung menatapnya.

"Elena berada di luar bersama Viktor. Kita bisa menghubunginya setelah keluar."

"Tidak. Maksudku, aku harus tahu apakah dia benar-benar ibuku."

Suara Aren terdengar lebih pelan pada akhir kalimat.

"Aku ingin mempercayainya. Tapi kalau pesan ini benar..."

Ia tidak sanggup melanjutkan.

Leon mendekat dan merangkul bahunya.

"Kita tidak akan membuat kesimpulan hanya berdasarkan pesan anonim. Kita akan mencari bukti yang bisa diperiksa."

Aren mengangguk, meskipun kecemasan belum meninggalkan wajahnya.

Pada saat yang sama, Mara yang sejak tadi berdiri dekat pintu tampak gelisah. Ia membaca pesan tersebut, kemudian memandang Aren dengan ekspresi yang sulit diartikan.

"Kau mengenali sesuatu?" tanya Raka.

Mara menggeleng pelan.

"Aku mengenali pola pesannya. Alistair sering menggunakan kalimat seperti itu untuk membuat seseorang meragukan orang yang paling dicintainya."

"Jadi, kau menganggap pesan ini kebohongan?" tanya Darren.

"Aku menganggapnya sebagai jebakan sampai kita menemukan bukti."

Mara berhenti sejenak.

"Tetapi ada satu hal yang harus kalian ketahui. Pada malam keluarga Ravencroft diserang, Elena memang tidak tercatat keluar melalui pintu utama."

Aren langsung menoleh.

"Apa?"

"Namun, itu tidak membuktikan bahwa dia tidak pernah meninggalkan fasilitas. Jalur evakuasi alternatif tidak tercatat dalam sistem utama. Adrian mengaktifkannya secara manual."

Raka mengerutkan kening.

"Jadi, kita harus mencari catatan jalur alternatif."

Mara mengangguk.

"Dan orang yang mengaktifkannya."

Kian mendadak mengangkat kepala dari monitornya.

"Aku menemukannya."

Semua orang mendekat.

Di layar muncul catatan lama dengan kode akses yang hampir terhapus.

JALUR SERVIS 04 — DIBUKA PUKUL 23.17.

OTORISASI: A. VALERIUS.

PENUMPANG TERDAFTAR: TIDAK ADA.

Kian mengetuk meja.

"Ini cocok dengan keterangan Adrian dalam rekaman. Dia memang membuka jalur alternatif."

"Tetapi tidak ada nama Elena," kata Aren.

"Benar. Sistemnya sengaja dibuat tanpa daftar penumpang."

Mara memandang catatan itu cukup lama.

"Kalau begitu, hanya ada dua kemungkinan. Elena berhasil keluar melalui jalur tersebut tanpa tercatat, atau seseorang menggunakan jalur itu untuk memindahkan orang lain."

"Dan kita tidak tahu mana yang benar," ujar Darren.

"Belum," jawab Kian. "Tapi ada rekaman kamera dari pintu servis. Berkasnya disimpan di server terpisah."

Raka mengangguk.

"Buka."

Kian memasukkan beberapa perintah. Layar berkedip, kemudian menampilkan rekaman hitam putih dengan waktu yang tertera di sudut.

Pintu servis terbuka.

Seorang pria membawa bayi yang dibungkus kain putih. Wajah pria itu tidak terlihat karena ia mengenakan tudung gelap.

Beberapa detik kemudian, seorang perempuan mengikuti dari belakang.

Wajahnya tertutup sebagian oleh rambut.

Namun, di pergelangan tangannya terlihat gelang tipis berbentuk bulan sabit.

Aren mendekat ke layar.

"Itu Ibu?"

Mara menggeleng pelan.

"Aku tidak bisa memastikan."

Rekaman berlanjut. Perempuan itu menoleh ke arah kamera selama sepersekian detik, lalu menghilang di balik pintu.

Kian memperbesar gambar.

Wajah perempuan itu tetap buram, tetapi ada sesuatu yang membuat Mara mendadak memucat.

"Ada apa?" tanya Viktor melalui sambungan komunikasi yang baru tersambung.

Mara menatap layar.

"Aku mengenali gelangnya."

Viktor terdengar terkejut.

"Gelang siapa?"

Mara menelan ludah.

"Milikku."

Semua orang membeku.

Aren perlahan menoleh kepadanya.

"Maksudmu, perempuan dalam rekaman itu adalah kau?"

"Aku tidak mengatakan begitu." Mara mendekati layar, menatap gelang tersebut dengan mata menyipit. "Gelang itu memang milikku, tetapi aku kehilangannya sebelum serangan terjadi."

"Kenapa kau tidak pernah menceritakan ini?" tanya Raka.

"Karena aku tidak pernah tahu gelang itu berada di sini."

Mara menyentuh bekas luka di dekat alisnya.

"Pada malam itu, aku diserang di lorong barat. Ketika sadar, aku sudah berada di sebuah ruangan yang terkunci. Aku tidak ingat bagaimana aku bisa sampai di sana. Saat berhasil keluar, fasilitas itu sudah terbakar."

Aren merasa semakin sulit bernapas.

"Jadi, perempuan itu bisa saja kau?"

Mara menggeleng.

"Atau seseorang yang mengenakan gelangku."

Kian menghentikan rekaman pada satu bingkai.

"Tunggu. Lihat bagian ini."

Ia memperbesar gambar tangan pria yang menggendong bayi.

Pada jari manisnya terlihat cincin perak berbentuk serigala.

Cincin yang sama dengan cincin milik Mara.

Cincin yang sama dengan benda yang dilihat Gabriel pada malam Armand meninggal.

Raka langsung berdiri tegak.

"Kita harus mencari tahu siapa pria itu."

Kian mengangguk.

"Aku akan mencocokkan bentuk cincin dengan arsip lama. Tetapi ada hal lain yang lebih aneh."

Ia membuka data metadata rekaman.

"Berkas ini terakhir diakses tiga jam lalu."

"Siapa yang mengaksesnya?" tanya Darren.

Kian menatap layar dengan ekspresi serius.

"Adrian Valerius."

Sementara itu, di ruang kendali pribadi, Adrian berdiri berhadapan dengan Alistair.

Amplop hitam terbuka di atas meja.

Di dalamnya terdapat surat kedua Armand dan foto yang selama bertahun-tahun berusaha dilupakan Adrian.

Foto itu memperlihatkan Armand, Elena, dan bayi Aren. Di belakang mereka berdiri seorang perempuan dengan wajah yang sangat mirip dengan Elena.

Namun, perempuan itu bukan Elena.

Ia adalah Mara Soren.

Adrian menatap foto tersebut dengan tangan gemetar.

"Aku melihat Mara meninggal."

Alistair menyandarkan tubuhnya ke meja.

"Kau melihat seseorang terbaring di lantai setelah kebakaran. Kau tidak pernah memeriksa identitasnya."

"Karena seluruh bagian gedung runtuh!"

"Dan kau terlalu sibuk menyelamatkan dirimu sendiri."

Adrian mengangkat kepala dengan kemarahan yang tertahan.

"Aku menyelamatkan Aren."

"Kau menyelamatkan seorang bayi, lalu membiarkan semua orang percaya bahwa ibunya telah hilang."

"Aku tidak tahu di mana Elena berada!"

Alistair tersenyum tipis.

"Itulah masalahmu, Adrian. Kau selalu menganggap bahwa ketidaktahuanmu membebaskanmu dari kesalahan."

Adrian mengepalkan tangan.

"Apa yang sebenarnya kau lakukan kepada Elena?"

Alistair tidak menjawab.

Ia mengambil surat kedua dari amplop, lalu membuka lipatannya.

"Armand menuliskan sesuatu yang menarik di sini."

Adrian segera melangkah maju.

"Jangan sentuh surat itu."

Alistair mengabaikannya dan membaca satu kalimat dengan suara keras.

"'Jika Elena berhasil keluar, jangan biarkan dia kembali kepada anakku sebelum dia mengetahui siapa yang sebenarnya menyelamatkannya.'"

Adrian membeku.

Kalimat itu tidak pernah ia baca sebelumnya.

Ia bahkan tidak tahu bahwa Armand menulisnya.

Alistair melanjutkan.

"'Jika Elena tidak berhasil keluar, pastikan Aren tetap hidup. Suatu hari, dia akan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuktikan bahwa semua ini bukan kecelakaan.'"

Adrian menatap surat tersebut.

"Berikan kepadaku."

"Kenapa? Kau takut aku membaca bagian berikutnya?"

"Aku takut kau memelintir kata-kata Armand seperti kau memelintir seluruh kejadian tujuh belas tahun lalu!"

Alistair tertawa pelan.

"Kalau begitu, bacalah sendiri."

Ia melemparkan surat itu ke meja.

Adrian segera mengambilnya.

Namun, sebelum ia sempat membaca bagian berikutnya, pintu ruang kendali terbuka.

Seorang penjaga masuk dengan tergesa-gesa.

"Tuan Alistair, kami menemukan pergerakan di terminal utama. Aren dan kelompoknya telah mengakses rekaman evakuasi."

Alistair menatap Adrian.

"Kau mendengar itu?"

Adrian tidak menjawab.

"Mereka mulai menemukan jalurnya. Sebentar lagi, mereka akan mengetahui apa yang terjadi pada malam Elena menghilang."

Alistair mendekat.

"Dan ketika itu terjadi, Aren akan bertanya kepadamu mengapa kau membiarkan ibunya menghilang selama tujuh belas tahun."

Adrian menggenggam surat itu lebih erat.

"Aku akan menjawab pertanyaannya."

"Benarkah? Apakah kau akan mengatakan bahwa kau tidak pernah tahu siapa yang dibawa keluar melalui jalur servis? Atau bahwa kau tahu ada dua orang yang meninggalkan fasilitas malam itu, tetapi kau hanya berhasil menemukan satu?"

Adrian mendadak mengangkat wajah.

"Apa maksudmu?"

Alistair tersenyum.

"Akhirnya, kau mengingatnya."

Adrian terdiam.

Sebuah ingatan yang selama ini terkubur mulai muncul.

Pintu servis.

Asap.

Tangisan bayi.

Seorang perempuan yang memohon agar dirinya diselamatkan.

Dan sebuah suara yang memerintahkannya memilih.

Adrian mundur satu langkah.

"Tidak..."

Alistair menatapnya tanpa belas kasihan.

"Kau tidak bisa menyelamatkan semua orang, Adrian. Malam itu, kau memilih seorang bayi. Dan seseorang yang lain harus membayar harganya."

Di terminal utama, Aren menatap rekaman yang telah dihentikan Kian.

"Adrian mengakses rekaman ini tiga jam lalu," katanya. "Berarti dia tahu sesuatu tentang perempuan itu."

Raka mengangguk.

"Atau dia sedang mencari jawaban yang sama dengan kita."

"Aku ingin mendengarnya langsung."

"Kita akan menghubunginya."

Kian segera mencoba membuka jalur komunikasi menuju perangkat Adrian. Namun, beberapa detik kemudian, wajahnya berubah.

"Aku tidak bisa menghubunginya."

"Kenapa?" tanya Darren.

"Perangkatnya berada di dalam jaringan fasilitas, tetapi sinyalnya sengaja diputus."

Raka mengumpat pelan.

"Alistair sedang menahannya."

Mara menatap peta kompleks.

"Ruang kendali pribadi berada dua lantai di bawah kita. Kalau Adrian ada di sana, kita harus segera bergerak."

Riven langsung menarik Aren ke belakangnya.

"Kalau begitu, kita bergerak sekarang."

Namun, Aren tidak langsung mengikuti.

Ia menatap Mara.

"Aku ingin kau menjawab satu pertanyaan."

Mara mengangguk.

"Tanyakan."

"Apakah kau mengenal ibuku?"

Mara terdiam cukup lama.

"Aku mengenal Elena."

"Apakah kau tahu dia masih hidup?"

"Aku tidak tahu."

"Apakah kau pernah bertemu dengannya setelah malam itu?"

Mara menunduk.

Aren merasakan dadanya semakin sesak.

"Mara, kumohon. Aku tidak bisa terus mendengar bahwa tidak ada seorang pun yang tahu apa-apa."

Perempuan itu akhirnya mengangkat wajah.

"Aku pernah mendengar suara Elena empat tahun lalu, dari balik pintu sebuah fasilitas rahasia. Aku tidak melihat wajahnya. Aku hanya mendengar dia menyebut nama Armand dan meminta seseorang membebaskannya."

Aren membeku.

"Jadi, dia memang ditahan?"

"Aku percaya begitu. Tetapi aku tidak tahu siapa yang membawanya ke sana."

"Alistair?"

"Mungkin."

Aren menunduk.

Ia teringat bagaimana Elena memeluknya. Bagaimana perempuan itu menangis ketika melihatnya. Bagaimana ia meminta maaf karena tidak berada di sisinya selama bertahun-tahun.

Semua itu terasa nyata.

Namun, kini ada rekaman yang menunjukkan seorang perempuan lain mengenakan gelang milik Mara, dan Adrian yang mengaksesnya beberapa jam sebelumnya.

Aren mengangkat kepala.

"Aku tetap ingin menemui ibuku."

Raka meletakkan tangan di bahunya.

"Kita akan menemukannya."

Mara menunjuk jalur menuju ruang kendali.

"Kalau begitu, kita harus bergerak sebelum Alistair memindahkan Adrian."

Mereka bergegas meninggalkan terminal.

Tetapi tepat sebelum mencapai pintu, seluruh layar menyala bersamaan.

Wajah Alistair muncul di setiap monitor.

"Raka Valerius," katanya tenang. "Aku tahu kalian sedang menuju ke sini."

Raka mengangkat senjatanya ke arah layar.

"Kalau kau menyentuh Aren sekali lagi—"

"Aku tidak akan menyentuhnya."

Alistair tersenyum.

"Aku hanya ingin kalian melihat sesuatu."

Layar berubah.

Aren melihat sebuah ruangan kecil dengan dinding putih. Di tengah ruangan berdiri seorang perempuan berambut panjang, mengenakan pakaian sederhana.

Elena.

Namun, perempuan itu tampak jauh lebih kurus daripada saat mereka bertemu. Wajahnya pucat, dan kedua tangannya menggenggam jeruji di depannya.

Aren menempelkan tangannya ke layar.

"Ibu..."

Perempuan di layar perlahan mengangkat kepala.

Seolah-olah mendengar suara Aren, ia menoleh ke arah kamera.

Lalu bibirnya bergerak.

"Aren..."

Aren menahan napas.

Itu suara ibunya.

Namun, sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Alistair kembali muncul di layar.

"Selamat datang di kebenaran yang sebenarnya, cucuku."

Senyumnya melebar.

"Perempuan yang kalian temui di Bukit Arvantis bukan Elena Ravencroft."

Aren merasa seluruh tubuhnya membeku.

Alistair melanjutkan dengan suara dingin.

"Dan jika kalian ingin menemukan Elena yang asli, kalian harus membawa Adrian kepadaku."

Layar padam.

Aren berdiri tanpa bergerak, sementara kelima kakaknya segera mengelilinginya.

Di dalam sakunya, ponsel Aren kembali bergetar.

Sebuah pesan baru muncul dari nomor yang sama.

JANGAN PERCAYA PEREMPUAN YANG MENYEBUT DIRINYA IBU. TANYAKAN APA YANG TERJADI PADA MALAM DIA KEHILANGAN BAYINYA.

Aren menatap layar ponsel, lalu perlahan mengangkat wajah kepada Mara.

Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu apakah perempuan di hadapannya adalah sekutu, saksi, atau bagian dari kebohongan yang lebih besar.

Dan di suatu tempat di bawah tanah, Elena yang asli masih menunggu seseorang menemukannya.

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!