Sambil membawa surat hasil pemeriksaan kehamilannya, Kinan berlari menuju ruangan suaminya. Dia tidak sabar menyampaikan pada suaminya kalau dia hamil. Tapi saat akan membuka pintu,
"Bima, istriku mengantarkan istrimu ke rumah sakit. Katanya ke dokter kandungan, mungkin Kinan hamil. Lantas bagaimana dengan Agnes?"
"Bagaimana apanya? tiga tahun ini baik-baik saja kan? tinggal 2 tahun lagi, Agnes tidak perlu lagi sembunyi di luar negeri!"
Deg
Mata Kinan memerah, wanita yang telah menabrak ibunya hingga tewas. Dan mendapatkan hukuman selama lima tahun di penjara, bagaimana bisa berada di luar negeri?
"Kamu keterlaluan, kalau sampai Kinan mengetahuinya. Dia akan sangat marah padamu! jangan bawa-bawa aku ya, Bella itu sahabat baik Kinan. Kalau dia tahu, habislah aku!"
Hati Kinan hancur mendengar suaminya malah tertawa.
"Dia tidak akan tahu, kalaupun tahu dia bisa apa? Kinan sudah tidak punya siapa-siapa selain aku. Satu kata dariku, dia akan patuh!"
'Tega kamu mas' batin Kinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Bella yang melihat mobil pak Yusuf kembali masuk ke pekarangan rumahnya merasa lega. Apalagi ketika dia melihat Kinan turun dari dalam mobil, setelah pak Yusuf membuka pintu mobil untuk Kinan.
"Kinan"
"Nyonya muda, nyonya Bella. Saya pamit!"
"Hati-hati pak Yusuf!" kata Kinan.
Begitu mobil itu pergi, Bella segera mengajak Kinan masuk ke dalam rumah.
"Tidak jadi makan malam? cepat sekali?" tanya Bella.
"Iya, nenek Ningsih ternyata sudah tahu kalau aku mengajukan gugatan cerai ke pengadilan!"
Bella tampak mendesah kasar,
"Bagus kalau begitu, kamu paling tidak enak kan sama nenek Ningsih. Sekarang dia sudah tahu. Kamu tidak perlu merasa tidak enak hati lagi!"
Kinan mengangguk perlahan.
"Ya sudah, karena belum makan. Ayo aku temani makan!"
"Zayn, belum pulang?" tanya Kinan yang tidak melihat mobil Zayn di pekarangan.
"Tidak, dia bilang ada urusan penting di luar. Biar saja, dia sudah besar. Kalau lapar dia pasti cari makan sendiri!"
**
Sementara di rumah sakit, Leo justru sejak tadi terus mendapatkan telepon dari Agnes. Dia sudah mengatakan kalau Bima ke luar kota, tapi wanita itu masih terus saja menelepon.
Zayn yang melihat Leo seperti kebingungan, mengambil ponsel Leo dan mematikan ponsel asisten pribadi Bima itu.
"Tuan Zayn..." Leo tak menyangka ponselnya akan dimatikan.
"Sudah jam 9 malam, kamu kerja dari matahari belum terbit, sampai matahari mau terbit lagi biar apa? istirahat saja. Kamu sudah bolak-balik 5 kali ke apartemen itu, wanita itu terlalu manja. Cuma mau kopi saja kenapa harus telepon kamu? memangnya dia tidak bisa pesan sendiri. Setiap bulan dapat 200 juta, masa iya segelas kopi saja tidak bisa beli!"
Leo hanya mengusap tengkuknya canggung. Apa yang dikatakan oleh Zayn memang benar. Tapi, dia juga hanya menjalankan tugas yang diberikan oleh bosnya.
"Sudah, jangan hiraukan lagi. Makan dan minum saja di sini. Sebentar lagi juga dokter Fandy bergabung. Duduk lah!"
Zayn menepuk bahu Leo dan mengajaknya duduk bersama. Di depan mereka sudah ada banyak kaleng minuman yang alkoholnya rendah, tapi tetap saja ada alkoholnya. Dan beberapa makanan juga buah potong yang memang cocok untuk teman minum.
Zayn menjadikan ruang rawat Bima itu, sebagai tempat pestanya. Kurang musik saja, karena memang itu rumah sakit.
**
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali. Bima membuka matanya perlahan. Dia melihat ke arah sekeliling. Dan matanya langsung melebar, sangat lebar ketika dia melihat tiga orang tengah tertidur di sofa dengan gaya mereka masing-masing.
Dua orang memang tidak membuat Bima terkejut. Zayn dan Fandy sudah biasa seperti itu. Tapi satu orang yang bahkan tidur dengan pakaian berantakan cukup membuat Bima menghela nafas panjang.
"Leo!" panggil Bima.
Asisten pribadinya seperti di ajak minum sampai mabukk semalam oleh Zayn dan Fandy.
"Leo"
Leo yang mendengar suara itu segera membuka mata. Melihat ke arah tempat tidur pasien, dimana Bima bahkan sudah duduk menatap tajam ke arahnya. Leo langsung berusaha bangkit, dan berjalan ke arah Bima.
"Tu... tuan!" katanya yang sepertinya belum sadar sepenuhnya.
"Apa yang kamu lakukan? mereka memaksamu minum?" tanya Bima.
Leo menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak tuan"
"Apa yang terjadi selama aku tidak sadar?" tanya Bima.
"Tuan, kemarin malam tuan Galih terus menghubungi tuan. Tuan Galih juga menghubungi ku, dia bilang nyonya tua meminta tuan pulang ke rumah besar. Tadi malam, ada nyonya Kinan di rumah besar!"
Bima mengangkat dagunya. Seharusnya dia tidak pingsan, supaya dia bisa bicara dengan Kinan di rumah neneknya. Bima menghela nafas panjang, dia melepaskan selang infus yang ada di tangannya. Dia tidak bertanya apapun lagi pada Leo. Padahal selain Galih, ada banyak yang menghubunginya, termasuk Agnes.
"Urus semuanya, aku mau pulang ke ruang nenek sekarang. Baju gantiku mana?" tanya Bima.
Leo segera mengeluarkan paper bag dari dalam nakas di samping tempat tidur pasien dan memberikannya pada Bima.
Bima membawa bungkusan itu dan pergi ke kamar mandi. Dia hanya menoleh sekilas ke arah Zayn dan Fandy yang masih tidur dengan posisi absurd mereka.
Sementara itu Leo segera mengurus semuanya, supaya Bima langsung pulang.
Tak lama, Leo selesai mengurus semuanya. Kebetulan saat dia masuk ke dalam kamar rawat itu. Bima juga sudah selesai ganti pakaian.
"Apa perlu membangunkan mereka dulu, tuan?" tanya Leo.
Bima hanya melihat sekilas ke arah Fandy dah Zayn.
"Tidak usah, pergi ke rumah nenek sekarang!"
"Baik tuan!"
Keduanya segera keluar dari ruangan itu dan meninggalkan rumah sakit.
Setengah jam berlalu setelah Bima pergi. Seorang perawat masuk ke dalam kamar itu. Untuk membersihkan ruangan yang memang pasiennya sudah keluar. Dan perawat itu cukup terkejut, ketika dia melihat dokter Fandy dan Zayn yang masih tidur di sana.
Perawat itu menghampiri Fandy, sedikit memberikan tepukan di punggung pria itu.
"Dokter, dokter..."
Fandy mulai bergerak, matanya perlahan terbuka.
"Dokter, sudah jam 7. Dokter baik-baik saja?" tanya perawat itu.
Di atas meja ada banyak kaleng kosong dan makanan yang sudah berantakan. Kalau Fandy bukan kepala rumah sakit di tempat itu. Sudah pasti hal ini akan panjang urusannya.
"Dokter..."
Tatapan Fandy segera tertuju ke tempat tidur rumah sakit yang letaknya tak jauh darinya.
"Loh, Bima mana? pasiennya hilang!" Fandy langsung bangkit dan bergegas ke arah tempat tidur.
Perawat itu mau bicara, tapi melihat reaksi Fandy. Dia jadi ikut bingung.
Zayn yang mendengar itu juga langsung membuka lebar matanya.
"Bima... kemana dia?" tanyanya mencoba menyadarkan dirinya.
"Tidak ada, lapor security!" kata Fandy panik.
"Dokter tenang dulu..."
"Tenang bagaimana? itu pasien eksklusif, bagaimana bisa hilang...?"
"Dokter!"
"Apa dia lompat ke bawah karena depresi?" gumam Zayn masih sambil duduk dan mengacak rambutnya.
Fandy yang mendengar itu segera pergi ke dekat jendela. Jendelanya tinggi, bisa di buka tapi tidak bisa juga orang keluar dari jendela itu. Hanya 45 derajat sudut yang bisa di buka.
Perawat di dalam itu sampai menghela nafas beberapa kali.
"Dokter, pasiennya tidak hilang. Tidak juga lompat ke bawah dari jendela. Pasiennya sudah keluar, sudah di urus semua administrasinya!" jelas perawat itu.
Fandy menghela nafas lega.
"Ya ampun, aku juga dia kenapa-kenapa. Investor utamaku!" gumamnya mengelus dada.
Zayn kembali mengacak rambutnya.
"Dasar tidak tahu berterima kasih, dia bahkan tidak membangunkan ku!" omel Zayn.
Sementara itu, beberapa menit kemudian. Mobil Bima sudah sampai di rumah nenek Ningsih. Bima turun dengan cepat dari mobil, dan segera mencari neneknya.
"Nenek...!"
Plakkk
***
Bersambung...