Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.
Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.
Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Pagi pertama di vila disambut semburat jingga yang perlahan muncul dari balik cakrawala. Cahaya matahari yang masih malu-malu memantul di permukaan laut, menciptakan kilauan keemasan yang menenangkan mata. Deburan ombak terdengar silih berganti, berpadu dengan semilir angin yang membawa aroma laut yang khas.
Dara perlahan membuka mata. Ia mengucek pelan kelopak matanya, lalu menoleh ke samping. Gavin masih tertidur telentang di sampingnya. Selimut yang menutupi tubuh pria itu sedikit bergeser, memperlihatkan kaus putih yang dikenakannya. Wajah Gavin tampak tenang. Kerutan yang biasanya menghiasi dahinya seolah menghilang saat ia terlelap.
Tanpa sadar, senyum tipis menghiasi bibir Dara. Semalam mereka tidur seperti biasanya. Tidak ada yang berubah. Gavin tetap menjaga sikap dan memberikan ruang yang membuat Dara merasa nyaman. Sikap suaminya itu justru membuat hati Dara semakin tenang.
Dengan hati-hati, Dara turun dari ranjang agar tidak membangunkan Gavin. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, suara berat itu terdengar serak khas orang baru bangun tidur.
"Kamu sudah bangun?"
Dara langsung menoleh. "Astaga. Rupanya Aa juga sudah bangun."
Gavin mengangguk pelan sambil bangkit duduk. Rambutnya masih sedikit berantakan karena tidur. Hal itu malah terlihat lebih tampan dan liar di mata Dara.
"Semalam Aa tidur nyenyak?" tanya Dara tersenyum hangat.
"Lumayan," jawab Gavin singkat.
Dara mengembuskan napas lega. "Syukurlah. Aku kira Aa masih susah tidur."
Gavin menggeleng pelan. Ia tidak mengatakan alasan yang sebenarnya.
Selama Dara mengenakan piyama seperti biasanya, Gavin masih mampu menjaga ketenangan pikirannya. Yang benar-benar mengacaukan dirinya hanyalah kejadian beberapa malam lalu, saat melihat Dara mengenakan pakaian tidur yang dibelikan mamanya.
Bayangan Dara yang tampil seksi, memang sesekali masih muncul di kepala Gavin. Namun, malam tadi ia berhasil mengusirnya. Karena itu, tidurnya jauh lebih nyenyak dibandingkan malam sebelumnya.
Setelah membersihkan diri dan menikmati sarapan sederhana yang disiapkan pasangan suami istri penjaga vila, Gavin mengajak Dara berjalan menuju pantai.
Udara pagi masih terasa sejuk. Pasir putih membentang luas di sepanjang bibir pantai, sementara sinar matahari yang baru terbit membuat permukaannya berkilau lembut. Burung-burung laut sesekali melintas rendah di atas ombak, lalu terbang kembali ke tengah lautan.
"Indah sekali!"
Dara menghentikan langkahnya. Matanya berbinar menatap matahari yang perlahan muncul dari balik cakrawala.
"Aku belum pernah melihat matahari terbit dari pantai."
Gavin ikut berhenti di samping istrinya. "Aku juga sudah lama tidak melihatnya."
Beberapa saat mereka hanya berdiri berdampingan tanpa berbicara. Hanya suara ombak yang mengisi keheningan pagi itu.
Tak lama kemudian, Gavin melirik tangan Dara. Ia teringat pencarian mereka di internet beberapa hari lalu tentang kegiatan pasangan saat berkencan.
[Pasangan biasanya bergandengan tangan.]
Pikiran itu membuat telinga Gavin perlahan memerah. "Pegangan tangan," gumamnya lirih.
Dara menoleh heran.
"Ti-tidak." Gavin berdeham pelan untuk mengusir rasa gugupnya.
Dengan gerakan yang masih terlihat kaku, Gavin mengulurkan tangan ke arah Dara. "Dara."
"Iya, Aa?"
"Boleh, kita berjalan seperti pasangan?"
Dara berkedip beberapa kali. "Bukannya kita memang pasangan, A?"
Gavin langsung kehilangan kata-kata. "I-iya. Ma-maksudku ...." Ia mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa panas. "Ayo, kita bergandengan tangan!"
"Oh." Dara tersenyum malu. "Iya, Aa."
Pelan-pelan, Dara meletakkan telapak tangannya di atas telapak tangan Gavin. Jari-jari mereka saling bertaut. Terasa hangat, walau itu hal yang sederhana.
Namun, sentuhan kecil itu membuat jantung keduanya berdetak lebih cepat. Dara beberapa kali mencuri pandang ke arah tangan mereka yang saling menggenggam.
Senyum tipis terukir di bibir Gavin. Mereka saling berpandangan.
Beberapa detik kemudian, entah siapa yang memulai lebih dulu, keduanya tertawa kecil bersamaan. Suasana pagi itu terasa begitu hangat.
Menjelang siang, Gavin dan Dara duduk santai di teras vila sambil menikmati kelapa muda. Angin laut berembus pelan, membuat suasana semakin nyaman.
Ponsel Gavin yang diletakkan di atas meja tiba-tiba bergetar. Layar menampilkan nama "Mama".
Begitu melihatnya, Gavin mengembuskan napas pelan. Ia sudah bisa menebak alasan ibunya menelepon.
"Aku angkat dulu, ya," katanya kepada Dara.
"Iya, Aa," jawab Dara sambil tetap asyik memandangi ombak di kejauhan.
Gavin berjalan beberapa langkah menjauh, lalu menggeser ikon hijau di layar. "Halo, Ma."
Belum sempat Gavin mengatakan apa-apa lagi, suara Sherly sudah lebih dulu terdengar dari seberang sana. "Gavin! Gimana bulan madunya?"
Gavin menyandarkan bahunya pada pagar balkon. "Baik, Ma."
Sherly langsung mendengus. "'Baik' itu maksudnya bagaimana? Mama tanya yang jelas."
Gavin berpikir beberapa detik. "Tadi pagi kami lihat matahari terbit. Jalan-jalan di pantai sambil bergandengan tangan."
Sudut bibir Sherly sempat terangkat. "Bagus. Terus?"
"Habis itu minum kelapa muda."
Sherly memejamkan mata sambil memijat pelipisnya sejenak. Wanita itu sampai menggeleng sendiri.
"Ya ampun, Gavin. Mama bukan lagi jadi reporter berita."
Gavin mengernyit. "Lalu?"
Sherly menurunkan suaranya. Kali ini nada bicaranya berubah lebih pelan, tetapi penuh penekanan.
"Mama mau tanya. Kalian sudah melakukan malam pertama belum?"
Mata Gavin langsung membelalak. Untung saat itu Dara sedang berada cukup jauh darinya. Ia berdeham pelan, lalu tanpa sadar menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang lain yang mendengar.
"Belum, Ma."
"Hah?" Suara Sherly langsung meninggi. "Belum?!"
"Iya. Belum," balas Gavin, jujur.
"Gavin!"
"Iya, Ma."
"Kalian sudah menikah lebih dari tiga bulan! Sekarang kalian lagi bulan madu!"
"Iya, Ma."
"Tapi belum juga melakukan itu?"
Gavin mengusap tengkuknya yang mendadak terasa panas. "Iya."
Sherly menarik napas panjang berkali-kali, seolah sedang berusaha menenangkan diri.
"Mama benar-benar punya anak yang terlalu sopan atau gimana ini?"
Gavin menggaruk pelan ujung alisnya. "Aku memang belum tahu harus mulai dari mana."
Sherly sampai melongo.
"Kamu serius?"
"Iya."
"Kamu itu pebisnis. Memimpin perusahaan besar. Berani presentasi di depan ratusan orang."
"Iya."
"Tapi menghadapi istrimu sendiri malah bingung?"
Gavin terdiam. Kalau dipikir-pikir, memang benar juga.
Sherly mengembuskan napas panjang. "Gavin."
"Iya, Ma?"
"Kamu suka tidak sama Dara?"
Pertanyaan itu membuat Gavin membeku.
Pandangan Gavin perlahan beralih ke arah pantai. Di sana, Dara sedang jongkok di tepi pasir sambil memperhatikan seekor kepiting kecil yang berlari ke lubangnya. Sesekali perempuan itu tertawa kecil sendiri, lalu melambaikan tangan ke arahnya dengan wajah ceria.
Melihat senyum polos itu, jantung Gavin berdetak sedikit lebih cepat. Ia menelan ludah.
"Sssu-su..."
Sherly menunggu dengan sabar.
"Su-ka."
"Apa? Mama tidak dengar."
Gavin menutup mata sebentar. Wajahnya terasa panas sampai ke telinga.
"S-suka." Kali ini suaranya sedikit lebih keras, meski masih terdengar gugup.
Di seberang telepon, Sherly langsung tersenyum puas. "Nah, begitu, dong. Kenapa susah sekali mengakuinya?"
Gavin tersenyum tipis sambil mengusap tengkuknya. "Malu."
Sherly justru terkekeh. "Kamu malu sama Mama?"
"Iya."
"Astaga." Sherly benar-benar dibuat gemas oleh putranya. "Kalau begitu dengarkan Mama."
Gavin diam tak menyela ucapan mamanya.
"Sebulan lagi Dara mulai kuliah. Di kampus nanti pasti banyak mahasiswa. Banyak laki-laki muda, masih seusianya," lanjut Sherly. "Kalau nanti ada yang mendekati Dara bagaimana?"
Kalimat itu membuat senyum Gavin perlahan menghilang. Tanpa sadar, rahangnya mengeras.
Bayangan Dara berjalan berdampingan dengan pria lain tiba-tiba muncul di kepalanya. Mereka tertawa bersama. Belajar bersama. Bahkan mungkin pulang bersama. Entah kenapa, dadanya terasa tidak nyaman.
Sherly kembali bertanya pelan. "Gimana?"
Gavin menjawab tanpa berpikir panjang. "Aku tidak suka."
Sherly tersenyum penuh arti. "Itu namanya cemburu."
Gavin terdiam. Ia tidak membantah. Karena untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa memang itulah yang sedang dirasakannya.
Sherly melanjutkan dengan suara yang kini jauh lebih lembut. "Kalau begitu, jangan hanya diam. Buat Dara jatuh cinta sama kamu. Tunjukkan perhatianmu. Buat dia merasa kalau tidak ada laki-laki lain yang bisa menjaganya selain suaminya sendiri."
Gavin memandang Dara yang kini sedang tersenyum sambil melambai kepadanya dari kejauhan. Perlahan, sudut bibirnya ikut terangkat.
"Baik, Ma. Walaupun aku masih belum tahu caranya."
Sherly tertawa kecil. "Belajar. Dulu Mama juga belajar menjadi istri. Yang penting, jangan menyerah."
Telepon pun berakhir. Gavin menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum memasukkannya ke saku celana.
Di kejauhan, Dara kembali melambaikan tangan. "Aa! Cepat ke sini! Lihat! Kepitingnya lucu sekali!"
Melihat wajah ceria istrinya, Gavin tersenyum tanpa sadar. Dalam hati, ia mulai membuat sebuah keputusan. Apa pun caranya ia ingin membuat Dara jatuh cinta kepadanya, bukan karena status mereka sebagai suami istri, tetapi karena Dara benar-benar memilih dirinya dengan sepenuh hati.
sukses selalu utk kak author 🤗