Ketika mahkota kekaisaran ternoda oleh keserakahan dan tirani seorang saudara kandung, seorang putri yang terbuang harus bangkit dari abu pembantaian.
Diasingkan sejak lahir di Desa Bunga Lotus, Zhao Lianhua tidak pernah tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah kekaisaran. Namun saat pedang istana membakar rumah dan menghancurkan kedamaiannya, ia terpaksa mengambil pedang demi keadilan rakyat jelata!
Bisakah seorang putri terbuang menumbangkan kerajaan yang dipimpin oleh saudara kandungnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Hutan Seribu Lentera
Namun...
Meskipun Tuan Zhao berulang kali mewanti-wanti Lianhua agar tidak pernah menyeberangi perbatasan barat lembah tanpa pengawasan, naluri anak-anak dalam diri gadis tujuh tahun itu tetap bergejolak. Rasa penasaran yang besar sering kali memburu pikirannya setiap kali malam tiba.
Apalagi, beberapa hari lalu, Feng, anak lelaki yang terkenal suka melanggar aturan membocorkan sebuah rahasia saat mereka sedang memetik buah persik di pinggir sungai.
"Lianhua, kau tahu tidak? Di balik Tebing Teratai Merah ada tempat bernama Hutan Seribu Lentera dan Gua Mutiara Air!" bisik Feng saat itu dengan mata berbinar-binar. "Di sana ada air terjun bertingkat yang airnya berkilauan seperti perak, dan tanaman jamur malam yang menyala terang saat redup sore! Indah dan seru sekali, seperti tempat tinggal para dewa!"
Cerita itu terus menari-nari dalam ingatan Lianhua. Keinginan untuk mengeksplorasi tempat misterius itu pun makin tak terbendung.
Hingga pada suatu pagi, kesempatan itu akhirnya tiba. Tuan Zhao harus pergi ke desa tetangga bersama Paman Han untuk membarter hasil panen gandum dan tempaan besi. Sebelum berangkat, Tuan Zhao kembali mengingatkan Lianhua.
"Lianhua, Ayah dan Paman Han akan pulang menjelang petang," ujar Tuan Zhao sambil mengusap kepala Lianhua di depan gerbang gubuk mereka. "Tetaplah berada di dalam desa. Belajarlah meracik herba bersama Bibi Mei, dan jangan sekali-kali mendekati area luar tebing barat."
"Iya, Ayah Zhao. Lianhua mengerti," jawab Lianhua sambil tersenyum polos dan membungkuk hormat.
Namun, begitu sosok Tuan Zhao dan Paman Han menghilang di balik belokan jalan setapak yang diselimuti kabut pagi, Lianhua menarik napas dalam-dalam. Tekadnya sudah bulat.
Dengan tas kain kecil berisi kantong air, sekantung beras sangrai, dan pisau kecil buatan Paman Han yang biasa ia pakai memotong herba, Lianhua menyelinap keluar melalui jalur irigasi tua tanpa diketahui warga desa.
Langkah kaki Lianhua yang ringan bertelanjang menapak cepat melintasi semak belukar. Setelah berjalan hampir dua jam menembus jalur terjal di kaki Tebing Teratai Merah, pemandangan di sekelilingnya mulai berubah drastis.
Pohon-pohon di area ini berukuran raksasa dengan dahan-dahan rindang yang menutupi sinar matahari, menciptakan suasana remang-remang yang magis. Di balik pepohonan itu, terdengar suara gemuruh air terjun yang membahana lembut.
"Wah..." bisik Lianhua dengan mata berbinar takjub.
Ia menerobos semak bunga liar berwarna ungu dan tiba di sebuah lembah tersembunyi yang sangat memukau. Di depan matanya, terhampar air terjun bertingkat tiga yang mengalir deras ke dalam danau jernih berdasar batu putih.
Di tepi danau, terdapat muara sebuah gua batu kapur raksasa, itulah Gua Mutiara Air. Dinding-dinding gua itu dipenuhi oleh batu stalaktit yang memantulkan pendar cahaya keemasan dari celah-celah langit-langit gua.
"Feng tidak berbohong!" pekik Lianhua gembira. "Tempat ini benar-benar sangat indah!"
Tanpa ragu, Lianhua mendekati tepi danau. Airnya begitu dingin dan jernih hingga ia bisa melihat ikan-ikan kecil berwarna keperakan berenang lincah di dasar telaga.
Rasa gembira membuat Lianhua lupa akan rasa lelahnya. Ia melepas tas kainnya, duduk di atas batu datar, lalu mencuci muka dan kakinya yang bernoda tanah.
Lianhua kemudian melangkah masuk ke dalam mulut Gua Mutiara Air. Di dalam sana, deretan jamur-jamur hutan raksasa tumbuh menempel di dinding batu, memancarkan pendar cahaya kebiruan yang lembut dan hangat. Udara di dalam gua terasa sejuk dan harum aroma tanah basah.
"Indah sekali..." gumam Lianhua sambil menyentuh kelopak jamur menyala itu dengan rasa kagum.
Ia menghabiskan waktu beberapa jam menjelajahi lekuk-lekuk gua, mengamati batu-batu kristal berbentuk unik, serta memetik beberapa sampel tanaman langka yang belum pernah ia temukan di kitab herba milik Tuan Zhao.
Rasa ingin tahunya teruapkan dengan sempurna di tempat rahasia ini.
Namun, kedamaian di Lembah Mutiara Air itu tidak berlangsung lama.
Saat matahari mulai bergeser ke barat dan memancarkan warna jingga kemerahan di balik celah tebing, Lianhua memutuskan untuk berkemas dan kembali sebelum Tuan Zhao tiba di rumah.
Saat ia melangkah keluar dari mulut gua, pendengarannya yang tajam mendadak menangkap suara asing dari balik semak belukar di tepi danau.
Kring... Kring... Srt!
Bukan suara gesekan dedaunan akibat angin, melainkan derap sepatu boot berbahan kulit tebal dan benturan rantai besi.
Seketika, ajaran Tuan Zhao berkelebat di kepalanya: 'Seorang anak dari lembah ini harus bisa merasakan bahaya bahkan sebelum matanya melihatnya.'
Lianhua cepat-cepat menyembunyikan dirinya di balik ceruk batu besar di samping mulut gua, menahan napas dan menajamkan pendengarannya.
Dari balik pepohonan tebal, muncul tiga orang pria bertubuh kekar. Mereka tidak mengenakan pakaian pemburu biasa, melainkan jubah kulit kelabu dengan lambang Ular Kepala Tiga terukir di pelindung bahu besi mereka.
Wajah mereka bengis, penuh bekas luka, dan masing-masing menggenggam pedang bergerigi serta jaring rantai beracun.
Mereka adalah Kelompok Penyamun Ular Kelabu, kawanan buronan kejam yang biasa beroperasi di wilayah perbatasan utara, terkenal suka menculik anak-anak desa untuk dijual menjadi budak atau dimanfaatkan oleh para bangsawan jahat.
"Pimpinan benar, tempat ini memang memiliki mata air murni," ujar salah satu penyamun bertubuh tinggi kurus sambil meminum air danau dengan telapak tangannya.
"Cari tanda-tanda permukiman di sekitar sini!" perintah pria berkepala botak yang sepertinya adalah pemimpin kelompok tersebut. "Anak buah kita melaporkan ada lembah tersembunyi di dekat Tebing Teratai Merah. Jika ada desa di balik lembah ini, kita bisa menjarahnya malam ini sebelum pasukan pengawal kerajaan melintas."
Lianhua yang bersembunyi di balik batu terbelalak kaget. Hatinya berdebar kencang. 'Mereka mencari Desa Bunga Lotus!' batinnya panik.
Ketika pria ketiga yang seorang penyamun bertubuh gemuk dengan mata licik melangkah mendekati mulut gua untuk memeriksa area, matanya tidak sengaja menangkap tas kain kecil milik Lianhua yang tertinggal di atas batu datar dekat tepi air.
"Tunggu!" seru penyamun gemuk itu sambil memungut tas kain tersebut. "Lihat ini! Ada tas kain anak-anak di sini! Dan airnya masih basah oleh bekas kaki!"
Si Kepala Botak menyeringai kejam, lalu mencabut pedang bergeriginya. "Ada anak kecil di sekitar sini. Cari dia! Jangan biarkan dia lari dan membocorkan keberadaan kita!"
Suasana di sekitar Gua Mutiara Air seketika berubah menjadi tegang dan mencekik.
Ketiga penyamun itu menyebar, dan menggeledah semak-semak dan ceruk batu di sekitar danau. Lianhua tahu betul, jika ia tetap bersembunyi di dalam gua, mereka pasti akan memojokkannya karena gua itu tidak memiliki jalan keluar lain.
Menggunakan kecerdikan dan kelincahan tubuhnya yang mungil, Lianhua mengambil sebuah batu kecil dari dasar tanah. Dengan akurasi yang memukau, ia melempar batu itu ke arah semak belukar yang berada di seberang danau.
Brak!
Dedaunan di seberang danau bergoyang keras.
"Di sana! Bocah itu lari ke seberang!" teriak penyamun gemuk. Ketiga pria itu pun langsung berhamburan berlari menuju arah suara.
Bersambung...