NovelToon NovelToon
Vendetta

Vendetta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PEMBANGKANG KECIL

Sembari menunggu Arturo memodifikasi sedan butut mereka dan memindahkan persenjataan ke dalam bagasi rahasia, Leo dan Elena memutuskan untuk keluar dari area bengkel. Mereka butuh udara segar setelah semalaman menghirup bau mesiu, darah, dan debu aspal. Tudung jaket hoodie abu-abu menutupi kepala Leo, menyembunyikan wajahnya dari tatapan orang-orang. Elena berjalan di sampingnya, mengenakan topi bisbol usang yang ia temukan di meja Arturo untuk menutupi rambutnya yang masih sedikit berantakan.

Mereka menyusuri jalanan pasar tradisional di pinggiran distrik selatan. Tempat ini jauh berbeda dengan gemerlap pusat kota tempat Valenti Tower berdiri. Di sini, jalanan becek oleh genangan air sisa hujan semalam, bercampur dengan limbah sayuran dan air cucian ikan. Bau amis, asap pembakaran sate klatak, dan keringat menguar kental di udara.

Namun, ada satu hal yang terasa janggal bagi Leo. Distrik selatan biasanya berisik. Pasar ini seharusnya penuh dengan teriakan tawar-menawar, tawa keras para kuli panggul, dan makian khas jalanan yang sudah jadi musik latar sehari-hari.

Pagi ini, suasananya suram. Orang-orang bergerak dengan kepala menunduk. Suara obrolan ditahan hingga sebatas bisikan. Para pedagang terlihat gelisah, mata mereka terus melirik ke ujung jalan dengan waspada.

"Kau merasakannya?" tanya Leo suaranya pelan, matanya menyapu deretan kios tenda terpal di kiri dan kanan jalan.

"Kepanikan massal," jawab Elena mengangguk kecil, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. "Marco sepertinya langsung memperketat cengkeramannya setelah kejadian semalam. Preman-preman kelas teri di bawah naungannya pasti diperintahkan untuk menekan distrik ini agar tidak ada yang berani melindungi atau menyembunyikan buronan sepertimu."

Langkah mereka terhenti di dekat sebuah warung tenda penjual mi ayam gerobak. Wangi kaldu ayam yang gurih membuat perut Leo berbunyi pelan. Ia baru sadar belum makan apa pun sejak kekacauan di pesta suksesi.

"Kita makan dulu. Aku butuh kalori," ajak Leo menarik kursi plastik merah yang warnanya sudah pudar.

Elena hanya menurut dan duduk di seberangnya. Pemilik warung itu, seorang bapak paruh baya dengan handuk kecil melingkar di lehernya, buru-buru menghampiri meja mereka. Wajahnya terlihat pucat dan dipenuhi keringat dingin, padahal cuaca pagi ini cukup sejuk.

"Pesan apa, Mas, Mbak?" tanya bapak penjual mi itu suaranya agak gemetar.

"Mi ayam dua, porsi besar. Teh hangat dua," pesan Leo tanpa membuka tudung hoodienya.

Bapak itu mengangguk cepat dan bergegas meracik pesanan mereka. Leo memperhatikan tangan keriput bapak itu yang gemetar saat menuangkan kuah kaldu. Pandangan bapak itu terus mencuri pandang ke arah jalan raya, seolah menunggu malaikat pencabut nyawa datang.

Tak butuh waktu lama untuk mengetahui apa yang ditakutkan oleh warga pasar ini.

Baru saja dua mangkuk mi ayam mendarat di meja Leo dan Elena, suara deru motor bersahut-sahutan memecah kesunyian pasar. Tiga buah motor *trail* kotor berhenti kasar tepat di depan gerobak mi ayam, memercikkan air lumpur ke arah tumpukan sayur milik pedagang sebelah.

Tiga orang pria berbadan gempal turun dari motor. Mereka mengenakan jaket kulit hitam dengan emblem serigala merah yang dijahit asal-asalan di lengan—simbol murahan yang baru saja diwajibkan oleh Marco untuk seluruh kroconya. Wajah mereka tengil, penuh tindikan, dan masing-masing memegang tongkat pemukul bisbol dari aluminium.

"Waktunya bayar pajak, Pak Tua!" teriak salah satu preman yang kepalanya botak plontos. Ia mengayunkan tongkat bisbolnya, memukul tiang tenda warung hingga berbunyi nyaring.

Bapak penjual mi itu tersentak kaget, wajahnya semakin pucat pasi. Ia buru-buru keluar dari balik gerobaknya sambil merogoh celemek celemeknya yang kotor.

"T-tapi Bang, saya sudah bayar iuran keamanan mingguannya kemarin sore," ucap bapak itu memelas, menyodorkan beberapa lembar uang puluhan ribu yang lecek. "Ini baru buka, dagangan belum laku banyak."

Preman botak itu menepis tangan si bapak dengan kasar hingga uang lecek itu berhamburan jatuh ke tanah becek.

"Telingamu budek ya? Aturan baru dari bos besar mulai hari ini! Iuran keamanan naik tiga kali lipat!" bentak preman itu melotot garang. "Marco butuh dana cepat buat bersih-bersih kota dari tikus-tikus pemberontak. Kalau lu nggak mau bayar, gerobak lu gue bakar sekarang juga!"

"Tiga kali lipat? Ya ampun, Bang, dari mana saya dapat uang sebanyak itu? Buat makan anak istri saja pas-pasan," rintih bapak itu jatuh berlutut, mencoba memunguti uangnya yang kotor terkena lumpur.

Di meja sudut, rahang Leo mengeras. Tangan kirinya yang memegang sumpit bambu berhenti bergerak. Matanya yang tersembunyi di balik tudung menatap tajam ke arah tiga preman itu. Ayahnya, Don Valenti, memang menguasai dunia bawah tanah, tapi ada aturan tidak tertulis yang selalu dijaga: jangan mencekik rakyat kecil sampai mati, karena dari merekalah fondasi distrik ini berdiri. Marco telah menghancurkan aturan itu hanya dalam hitungan hari demi menutupi kepanikannya.

"Leo, jangan," bisik Elena menyentuh lutut pria itu di bawah meja. "Kita sedang sembunyi. Kalau kau memukul mereka, Marco akan tahu kau ada di distrik ini."

"Aku tidak bisa membiarkan Marco menggunakan nama klan keluargaku untuk memeras orang tua," desis Leo menahan amarah yang mulai mendidih di dadanya.

Sementara itu, preman botak tadi tertawa meremehkan melihat bapak penjual mi menangis di kakinya. Temannya yang berambut gondrong maju, mengangkat kakinya yang memakai sepatu bot berat, berniat menendang panci berisi kuah kaldu panas.

"Banyak bacot lu, Pak Tua. Biar gue kasih paham!" seru preman gondrong itu siap menendang.

KRAK!

Sebelum sepatu bot itu menyentuh panci besi, sebuah sumpit bambu melesat dengan kecepatan tinggi dari arah meja sudut. Sumpit kayu murahan itu menancap dalam di betis preman gondrong tersebut, menembus celana jins tebalnya hingga tembus ke otot.

"ARRRGGGHHH!" jerit preman gondrong itu ambruk ke tanah, memegangi kakinya yang mengucurkan darah segar.

Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Seluruh pasar mendadak hening. Bapak penjual mi menatap ngeri, sementara preman botak dan satu temannya lagi langsung menoleh ke arah meja tempat sumpit itu berasal.

Leo berdiri perlahan dari kursinya. Ia menghela napas panjang, meretakkan buku-buku jari tangan kirinya. Ia masih sengaja membiarkan lengan kanannya yang terluka masuk ke dalam saku hoodie.

"Siapa lu, berengsek?! Berani-beraninya nyari mati sama anak buah Marco!" teriak preman botak itu wajahnya merah padam menahan malu dan marah. Ia mengangkat tongkat bisbolnya, bersiap menerjang Leo.

"Marco tidak pernah punya anak buah. Dia cuma memelihara anjing rabies," balas Leo suaranya datar, namun nadanya memancarkan intimidasi kelas atas yang membuat bulu kuduk warga pasar meremang.

"Mati lu!" raung preman botak itu mengayunkan tongkat bisbolnya sekuat tenaga ke arah kepala Leo.

Leo bahkan tidak repot-repot menghindar mundur. Dengan ketenangan seorang pembunuh profesional, ia menunduk sedikit, membiarkan ayunan tongkat itu meleset beberapa sentimeter di atas kepalanya. Di detik yang sama, Leo memutar pinggulnya dan melepaskan tendangan lurus yang telak menghantam lutut kanan si preman botak.

Terdengar bunyi tulang patah yang sangat keras.

Preman botak itu melolong kesakitan, lututnya melengkung ke arah yang tidak wajar. Sebelum pria itu jatuh, Leo mencengkeram kerah jaket kulitnya dengan tangan kiri, menariknya mendekat, lalu menghantamkan sikunya tepat ke hidung preman tersebut. Darah muncrat dari hidung yang hancur seketika. Preman itu ambruk ke tanah tanpa perlawanan lebih lanjut, pingsan dengan mata mendelik.

Preman ketiga, yang tubuhnya paling kurus, menelan ludah melihat kedua temannya tumbang dalam waktu kurang dari lima detik. Tangannya gemetar memegang pisau lipat. Ia mundur selangkah, matanya memancarkan ketakutan murni melihat sosok bertudung abu-abu di depannya.

"Ampun, Bang! Gue cuma ikut-ikutan doang!" rengek preman kurus itu menjatuhkan pisaunya ke tanah.

Leo berjalan perlahan mendekati pria kurus yang gemetar itu. Udara pagi yang sejuk terasa membeku di sekitar Leo. Para pedagang pasar dan warga yang tadi menunduk ketakutan, kini mengintip dari balik lapak mereka dengan napas tertahan.

"Dengar baik-baik, karena aku cuma akan mengatakannya satu kali," ucap Leo mencengkeram rahang preman kurus itu kuat-kuat, memaksanya menatap mata Leo yang segelap malam. "Bawa teman-temanmu ini kembali ke markas. Bilang pada Marco, nama Valenti bukan miliknya untuk dipakai memeras rakyat kecil. Kalau aku melihat ada anjing berseragam serigala merah menginjakkan kaki di pasar ini lagi, aku akan memotong kaki kalian dan menyuapkannya ke mulut bos kalian. Paham?"

"P-paham, Bang! Sumpah, gue nggak bakal ke sini lagi!" isak preman kurus itu air matanya keluar karena ketakutan yang luar biasa.

Leo melepaskan cengkeramannya, mendorong pria itu hingga terjatuh di atas genangan air becek. Preman kurus itu buru-buru bangkit, memapah temannya yang kakinya tertusuk sumpit, lalu menyeret si botak yang pingsan naik ke atas motor dengan susah payah. Mereka melarikan diri dari pasar itu secepat kilat, meninggalkan tongkat bisbol dan pisau mereka di jalanan.

Keheningan kembali menyelimuti pasar. Tidak ada yang berani bergerak.

Leo membalikkan badannya, menatap bapak penjual mi yang masih terduduk kaku di tanah. Leo merogoh saku hoodienya yang lain, mengeluarkan satu bendel uang pecahan seratus dolar yang belum sempat dimasukkan ke tas oleh Elena. Ia melemparkan ikatan uang itu tepat ke pangkuan sang bapak.

"Itu untuk mengganti tendamu yang rusak. Sisanya, bagikan pada pedagang lain yang sudah dipalak anjing-anjing itu pagi ini," perintah Leo nada suaranya kembali datar.

Bapak itu menatap gepokan uang dolar di pangkuannya dengan mulut ternganga, lalu menatap sosok bertudung di depannya seolah melihat dewa penolong yang turun dari langit.

"T-terima kasih, Tuan... Tuan siapa kalau boleh saya tahu?" tanya bapak itu suaranya bergetar penuh haru, air matanya menetes jatuh.

"Seseorang yang sedang membersihkan rumahnya dari sampah," jawab Leo singkat.

Ia menoleh ke arah meja tempat Elena masih duduk dengan tenang menyeruput teh hangatnya. Gadis peretas itu mengangkat sebelah alisnya, mengisyaratkan bahwa tontonan sudah selesai.

"Ayo pergi. Mi-nya sudah dingin, dan aku tidak suka makan sambil jadi tontonan," kata Elena beranjak berdiri, menggendong tas ranselnya yang berat.

Mereka berdua berjalan beriringan meninggalkan pasar yang masih diselimuti keterkejutan. Begitu mereka berbelok di persimpangan gang yang sepi, menjauhi keramaian, Elena akhirnya bersuara.

"Kau tahu, untuk ukuran bos mafia yang dicari mati-matian, kau punya kompleks pahlawan super yang cukup menjengkelkan," sindir Elena melirik pria di sampingnya. "Sekarang rumor akan menyebar bahwa ada pria misterius yang memukuli anak buah Marco di distrik selatan. Mata-mata Marco akan mengendus ke arah bengkel Arturo."

"Biarkan saja mereka mengendus," sahut Leo menyandarkan bahunya yang pegal ke dinding gang sejenak. Matanya menatap ke arah langit mendung. "Rakyat di distrik ini butuh melihat bahwa Marco tidak kebal. Mereka butuh melihat bahwa anjing-anjing Marco bisa berdarah dan lari ketakutan."

"Kau memicu pemberontakan kecil di pasar tadi," Elena tersenyum miring, mulai memahami alur pikiran rekannya itu. "Kau mau menggunakan kemarahan warga distrik ini sebagai tamengmu?"

"Bukan tameng," bantah Leo menoleh menatap mata cokelat Elena dengan intensitas yang tajam. "Ayahku membangun klan ini bukan dari uang haram semata, tapi dari rasa hormat jalanan. Marco mengambil uangnya, tapi dia membuang rasa hormatnya. Saat waktunya tiba, orang-orang yang kelaparan dan tertindas inilah yang akan membuka gerbang Valenti Tower untukku."

Elena menatap pria itu lekat-lekat. Di balik sikap dingin dan kejam yang Leo tunjukkan malam sebelumnya saat merampok kasino, ada prinsip yang tertanam kuat di dadanya. Pria ini bukan sekadar kriminal; dia adalah seorang raja yang marah karena rakyatnya ditindas oleh penguasa palsu.

"Kau benar-benar pangeran mafia yang aneh, Valenti," gumam Elena menggelengkan kepalanya pelan, namun senyum tipis tak bisa lepas dari bibirnya. "Ayo kembali ke bengkel. Arturo pasti sudah selesai memasang pelat baja di mobil rongsokan kita. Malam ini, kita punya sarang obat-obatan yang harus dibakar."

Leo mengangguk. Pembangkangan kecil di pasar ini barulah percikan api pertama. Dan Leo berniat menyiramkan bensin ke seluruh sudut kota sampai Marco hangus terbakar di singgasananya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!