Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.
Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.
namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilara 31
Elian melangkah pelan menuju ruang tengah, memperhatikan Dilara yang kini sedang duduk bersimpuh di atas karpet bulu, merapikan balok-balok kayu bersama Elang. Keponakan kecilnya itu tertawa riang, memamerkan menara tinggi yang baru saja berhasil disusunnya.
Melihat ketenangan dan kelembutan Dilara, Elian menghembuskan napas pelan. Hari ini adalah hari Rabu, hari di mana pengadilan agama menggelar sidang putusan cerai Dilara dan Kevin secara verstek. Elian tahu betul, sedalam apa pun wanita itu mencoba menyembunyikan lukanya, hari ini pasti terasa berat bagi Dilara.
Sebagai seorang paman yang diberi amanat menjaga Elang setelah kepergian mendiang kakaknya, Elian sangat protektif terhadap ketenangan rumah ini. Ia merogoh ponsel di saku celananya, memeriksa jam yang menunjukkan pukul dua siang. Tanpa ragu, ia melangkah mendekat.
"Dilara," panggil Elian hangat.
Dilara refleks mendongak, buru-buru membetulkan letak jilbabnya dan menundukkan pandangan. "Iya, Pak Elian? Ada yang bisa saya bantu?"
"Siapkan pakaian ganti untuk Elang. Kita keluar sebentar," ujar Elian datar namun santai.
Dilara agak terkejut, keningnya berkerut tipis. "Keluar? Ke mana ya, Pak? Apakah ada acara keluarga?"
"Tidak ada acara keluarga. Elang dari kemarin menagih ingin ke Timezone. Saya mau mengajak dia bermain di mall, dan kamu harus ikut untuk mendampinginya," jawab Elian seraya menatap keponakan semata wayangnya itu.
"Bukan begitu, Elang?"
"Asyikkk! Bermain Timezone sama Mbak Dilara dan Om Elian!" seru Elang melompat-lompat gembira, bertepuk tangan riang.
Dilara merasa agak sungkan. Mengikuti majikannya pergi ke pusat perbelanjaan di luar jam kerja biasa terasa agak melampaui batas profesionalismenya.
"Tapi Pak... apakah tidak apa-apa kalau saya ikut? Maksud saya, Pak Elian bisa pergi berdua saja dengan Elang, saya bisa menunggui rumah..."
"Sesuai kontrak, tugasmu adalah mengasuh dan mendampingi Elang," potong Elian cepat namun tanpa ada nada memaksa.
"Lagi pula, Elang lebih menurut kalau ada kamu. Siapkan barang-barangnya sekarang, sepuluh menit lagi kita berangkat."
Dilara tidak berani membantah lagi. "Baik, Pak Elian. Saya siapkan dulu."
Satu jam kemudian, mereka bertiga sudah tiba di salah satu pusat perbelanjaan megah di kawasan Jakarta Selatan. Suasana mall yang ramai dan megah mendadak membuat Dilara merasa canggung. Ia berjalan dua langkah di belakang Elian yang menggandeng tangan kecil Elang.
Setiap kali melewati deretan toko mewah, Dilara refleks menunduk. Ia sangat sadar pakaiannya yang bersahaja, gamis simpel dan jilbab instan sangat kontras dengan Elian yang tampil kasual namun memancarkan aura kelas atas yang amat kuat dengan jam tangan mewah dan pakaian bermereknya. Beberapa pasang mata pengunjung mall kerap melirik ke arah mereka, membuat Dilara semakin canggung.
Mereka akhirnya sampai di area Timezone yang bising oleh suara musik gim dan gelak tawa anak-anak. Elang langsung berteriak kegirangan saat melihat deretan mesin permainan yang menyala warna-warni.
"Mbak Dilara! Ayo main itu! Yang lempar bola!" panggil Elang antusias, menarik-narik ujung gamis Dilara.
"Eh, iya, Elang... pelan-pelan ya," ucap Dilara ramah, mengimbangi langkah kecil anak itu.
Elian berjalan mendekati kasir dan kembali membawa kartu permainan yang sudah terisi saldo besar. Ia menyerahkan kartu tersebut kepada Dilara.
"Pakai ini untuk semua permainan yang Elang mau," kata Elian, tangannya sempat tak sengaja bersentuhan dengan ujung jari Dilara saat menyerahkan kartu.
Dilara dengan cepat menarik tangannya setelah mengambil kartu itu, matanya berkedip panik.
"Ah, terima kasih, Pak Elian."
"Kenapa kamu berdiri jauh sekali di belakang?" tegur Elian tipis, memperhatikan jarak aman dua meter yang selalu dijaga Dilara.
"Saya tidak akan menggigitmu, Dilara. Berjalanlah di samping Elang."
"Maaf, Pak... Saya hanya merasa tidak enak. Takut dikira tidak sopan," aku Dilara jujur dengan suara sangat pelan.
Elian terkekeh rendah, suara tawa yang amat jarang terdengar dari bibir pria tegas itu.
"Sopan itu perlu, tapi tidak usah sekaku ini. Hari ini kita di sini untuk menyenangkan Elang. Jalani saja."
Dilara mengangguk perlahan. Ia mulai menemani Elang bermain berbagai macam game, mulai dari melempar bola basket, menangkap boneka, hingga bermain balap mobil mini. Gelak tawa Elang pecah berulang kali, dan tanpa disadari, perlahan-lahan Dilara ikut tersenyum lepas. Rasa hangat mengalir di dadanya setiap kali Elang memeluknya gembira saat berhasil mendapatkan tumpukan tiket gim.
Elian tidak banyak bermain. Pria itu berdiri beberapa meter di samping mereka, bersedekap dada sambil mengamati interaksi Dilara dan keponakannya. Ada rasa kagum yang makin membesar di dalam hati Elian. Dilara mengasuh Elang bukan sekadar karena tuntutan gaji, melainkan dengan ketulusan dan kesabaran yang luar biasa. Sehingga membuat keponakannya yang sering tantrum mendadak mulai bisa terkendali.
Saat Elang sedang sibuk memasukkan koin ke mesin gamr pemancing ikan, Elian melangkah mendekat, berdiri di sisi lain Dilara.
"Terima kasih ya," ucap Elian tiba-tiba di tengah kebisingan suara gim.
Dilara menoleh, agak terkejut. "Eh.. untuk apa, Pak Elian?"
"Untuk membuat Elang tertawa sebahagia ini. Sudah lama sekali saya tidak melihat dia selincah ini sejak almarhumah ibunya meninggal dan almarhum kakak saya pergi," ujar Elian dengan pandangan lurus menatap Elang.
"Kehadiranmu benar-benar membawa warna baru untuk keponakan saya."
Hati Dilara tersentuh iba. "Elang anak yang sangat pintar dan manis, Pak. Dia hanya butuh perhatian dan teman bermain."
Elian lalu memiringkan kepalanya sedikit, menatap profil samping wajah Dilara dari balik kerudungnya.
"Dan kamu sendiri... bagaimana perasaanmu hari ini?"
Pertanyaan itu membuat jemari Dilara yang memegang wadah tiket mendadak kaku. Ia paham betul apa maksud pertanyaan Elian. Hari ini... jam ini... sidang putusan perceraiannya dengan Kevin sedang dibacakan di Pengadilan Agama. Secara hukum, mulai hari ini ia resmi berstatus sebagai seorang janda.
"Saya... saya baik-baik saja, Pak," jawab Dilara lirih, mencoba tersenyum meski matanya menyimpan kedukaan yang dalam.
"Kamu tidak perlu pura-pura kuat di depan saya, Dilara," tutur Elian dengan suara berat yang menenangkan.
"Menutup satu babak kehidupan yang penuh luka itu memang sakit. Tapi percaya pada saya... itu adalah awal dari kebebasanmu."
Dilara menundukkan kepalanya, meremas wadah plastik di tangannya. Air mata yang sejak pagi ia tahan hampir saja menetes, namun ia buru-buru mengedipkan matanya.
"Terima kasih banyak, Pak Elian," bisik Dilara tulus.
"Terima kasih sudah membela saya di depan Mas Kevin waktu itu... dan terima kasih sudah membawa saya keluar hari ini. Kalau saya hanya diam di rumah, mungkin pikiran saya akan terus tertahan di masa lalu."
"Itulah alasan kenapa saya membawamu dan Elang ke sini," balas Elian mantap, menatap Dilara lurus-lurus.
"Kamu pantas bahagia, Dilara. Jangan biarkan pria pecundang yang tidak bisa menghargaimu terus menghantuimu."
Dilara tertegun mendengarnya. Di saat Kevin, pria yang mencampakkannya begitu saja demi wanita lain, justru Elian pria yang baru beberapa minggu dikenalnya sebagai majikan, yang berdiri paling depan membentengi dan mengangkat kembali harga dirinya yang sempat hancur.
"Mbak Dilara! Om Elian! Lihat! Elang dapat tiketnya banyak sekali!" teriak Elang gembira, memamerkan gulungan kertas tiket yang keluar dari mesin gim.
Kecanggungan di antara mereka seketika mencair. Elian tersenyum hangat seraya mengacak rambut keponakannya.
"Bagus. Ayo kita tukar tiketnya dengan hadiah yang paling besar, lalu kita makan malam bersama."
Dilara menatap sosok Elian dan Elang di hadapannya dengan perasaan lega yang merayap perlahan. Di hari yang sama saat ikatan pernikahannya diputus secara resmi oleh pengadilan, Dilara menyadari bahwa takdir telah membawanya ke sebuah tempat aman yang baru sebuah awal baru yang jauh lebih bermartabat dari masa lalunya.
sabar y Rendy 🤭