NovelToon NovelToon
Penemu Rahasia Orang Mati

Penemu Rahasia Orang Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Koridor Sunyi Lantai Tiga

Lantai tiga gedung tua RSUD Bina Husada terasa seperti dunia yang terpisah dari hiruk-pikuk Instalasi Gawat Darurat di lantai bawah. Udara di sini lembap dan berbau kertas tua berdebu.

Lampu-lampu neon di sepanjang plafon berkedip-kedip redup, memancarkan bayangan panjang yang meliuk di sepanjang dinding bernoda.

Iptu Farhan berjalan memimpin di depan, pistol Glock 17 sudah berada di genggaman tangan kanannya, mengarah rendah ke lantai dengan posisi siap tembak (low ready).

Sementara Arya melangkah dua tindak di belakangnya, dan menatap ke sekeliling lorong dengan tingkat kewaspadaan tertinggi.

"Area ini memang sangat ideal untuk menyembunyikan sesuatu," bisik Farhan pelan tanpa menoleh. "Sepi, minim kamera CCTV, dan hampir tidak pernah dilewati petugas reguler di atas jam enam sore."

"Gedung ini direncanakan untuk direnovasi total sejak dua tahun lalu, Pak," sahut Arya seraya merapatkan jaketnya. "Tapi pembangunannya tertunda karena isu anggaran isu yang sama yang coba dibongkar oleh Pak Bambang."

Langkah mereka terhenti di depan sebuah pintu besi bertuliskan Ruang Arkeo-Medis & Rekam Medis Pasien Aktif 2010–2020.

Pintu itu terkunci dengan gembok rantai tua, namun rantainya tampak longgar seolah-olah ada orang yang kerap melintasinya secara sembunyi-sembunyi.

Farhan menyelipkan jarinya, dan menahan engsel gembok agar tidak menimbulkan suara nyaring saat ia menggesernya. Dengan dorongan perlahan, pintu besi berderit halus dan terbuka lebar.

Di dalam ruangan, barisan lemari arsip baja setinggi dua meter berjejer rapi bagaikan labirin besi. Ribuan map cokelat dan dokumen tua berderet kusam di dalamnya.

Arya segera merogoh saku dalam jaketnya, dan mengeluarkan kertas laminasi kecil milik almarhum Dian Pertiwi yang berisi kunci fisik dan deretan angka enkripsi.

"Loker 07, baris rekam medis tahun 2024," ujar Arya seraya memindai angka-angka di ujung setiap deret lemari.

Mereka menyusuri lorong di antara dua lemari besar. Di sudut paling belakang, tertutup oleh tumpukan kardus bekas alat kesehatan, berdiri sebuah lemari arsip baja berwarna abu-abu gelap dengan nomor '07' yang terpatri samar di bagian atasnya.

Farhan berjaga di mulut lorong lemari, menajamkan pendengarannya ke arah koridor luar, sementara Arya berlutut di hadapan Loker 07.

Arya memasukkan kunci kecil berukir khusus itu ke dalam lubang kunci lemari.

KLIK.

Mekanisme kunci baja berbunyi renyah. Arya menarik pintu lemari tersebut. Di dalamnya, hanya ada satu tempat penyimpanan khusus yang diberi gembok kombinasi angka tiga digit.

Arya menatap catatan kertas Dian. Di sana tertera kode enkripsi: 7-2-9.

Ia memutar roda kombinasi pada gembok baja tersebut. 7... 2... 9.

TAK!

Gembok tersebut terbuka. Arya menarik engselnya, lalu merogoh bagian dalam loker. Tangannya menyentuh sebuah flashdisk logam berwarna hitam yang dilindungi oleh pelindung tahan air, beserta sebuah map dokumen tebal bersampul kulit bertuliskan Nusantara Utama Group - Proyek Pengadaan Alkes & Konstruksi Tahap II.

Jantung Arya berdegar kencang. "Pak Farhan! Saya menemukannya!"

Farhan segera berbalik dan mendekat. Matanya berbinar melihat map tebal dan flashdisk yang dipegang Arya.

Arya membuka map tersebut secara acak di bawah pendar lampu senter kecil milik Farhan. Di dalam halaman-halaman awal, terlampir salinan surat perjanjian rahasia, lembar transfer bank bermaterial asing, serta daftar nama pejabat dinas kesehatan dan petinggi kepolisian yang menerima aliran dana haram senilai puluhan miliar rupiah.

Namun, yang paling mengerikan adalah lembar lampiran terakhir, sebuah dokumen instruksi eksekusi internal bertuliskan nama Bambang Gunawan, Dian Pertiwi, dan nama Arya sendiri lengkap dengan foto serta rincian jam dinasnya di RSUD!

"Keparat..." umpat Farhan pelan seraya mengepalkan tangannya. "Mereka bukan hanya menyuap, mereka sudah mengontrol sebagian sistem di kota ini dari balik layar! Nama kamu sudah masuk daftar target eksekusi sejak malam pertama kamu memegang jasad Bambang!"

Arya menelan ludahnya yang terasa pahit. "Ini alasan kenapa Mbak Dian dibunuh... Mereka tidak akan pernah berhenti sebelum dokumen ini musnah."

"Tapi dokumen ini tidak akan musnah," tegas Farhan seraya mengambil map tersebut dan memasukkannya ke dalam tas selempang taktis yang dibawanya. "Ini adalah tiket mereka menuju penjara seumur hidup."

BAM!

Tiba-tiba suara benturan keras dari arah pintu utama ruang arsip mengejutkan mereka berdua!

"JANGAN BERGERAK!"

Suara teriakan bernada berat bergema menembus barisan lemari besi. Langkah kaki yang tegap dan berat yang jumlahnya lebih dari lima orang melangkah masuk ke dalam ruang arsip dengan cepat!

Farhan secara refleks mendorong Arya ke belakang tubuhnya, menarik pistolnya dan membidik ke arah mulut lorong lemari.

Dari balik kegelapan lorong arsip, muncul seorang pria paruh baya bertubuh tegap mengenakan setelan jas abu-abu mahal, didampingi oleh empat pria berbadan besar dengan senapan pistol otomatis di tangan mereka.

Pria berjas itu memiliki tatapan mata yang sangat dingin, pria yang sama yang dilihat Arya dalam penglihatan ingatan terakhir Dian!

Ia adalah Hendra Wijaya, Komisaris Utama Nusantara Utama Group.

"Iptu Farhan..." sapa Hendra dengan nada suara yang begitu tenang, hampir terkesan santai. "Saya tidak menyangka seorang penyidik berbakat seperti Anda mau mengorbankan karier dan nyawa demi membela seorang tukang mandikan mayat dan jurnalis murah."

"Hendra Wijaya," sahut Farhan dengan suara lantang tanpa ada keraguan. "Senjatamu sudah tidak berguna lagi. Tim perkuatan dari Polres sudah dalam perjalanan ke gedung ini!"

Hendra tertawa pelan, sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk berdiri.

"Tim Polres?" ulang Hendra seraya membetulkan posisi jam tangan emasnya. "Maksud Anda tim yang dipimpin oleh Kompol Aris? Sayang sekali, Farhan... Kompol Aris berada di bawah penggajian perusahaan saya. Panggilan darurat Anda tadi sudah dicegat sebelum sampai ke Kapolres. Tidak ada bantuan yang akan datang ke lantai tiga malam ini."

Darah Arya mendadak terasa membeku. Konspirasi ini sudah menjangkau level setinggi itu dalam kepolisian!

"Serahkan flashdisk dan map itu, Farhan," perintah Hendra seraya memberi isyarat pada empat anak buahnya untuk mengepung posisi Farhan dan Arya dari dua sisi lemari. "Buat keputusan yang bijak. Anda punya keluarga, punya anak yang masih sekolah. Jangan biarkan nama Anda berakhir di meja otopsi seperti Bambang Gunawan."

Farhan menyengir sinis, jarinya makin rapat menekan pelatuk pistol. "Saya memang punya anak, Hendra. Dan saya tidak mau anak saya tumbuh di kota yang dipimpin oleh iblis seperti kamu!"

DOR! DOR!

Farhan melepaskan dua tembakan beruntun ke arah anak buah Hendra yang berada di sebelah kiri! Tembakan tepat sasaran itu menghantam bahu salah satu penjahat hingga tersungkur!

"TEMBAK MEREKA!" jerit Hendra seraya melangkah mundur bersembunyi di balik pintu besi!

BAM! BAM! BAM!

Rentetan tembakan balasan memecahkan keheningan ruang arsip! Peluru-peluru tajam menghantam lemari besi, memercikkan bunga api dan merobek ribuan lembar kertas rekam medis tua yang beterbangan bagaikan salju di udara!

"Arya, TAHAN!" teriak Farhan seraya merangkul tubuh Arya dan berguling di balik lemari baja nomor 08!

Debu dan bau mesiu memenuhi udara ruangan yang sempit itu. Farhan membalas tembakan secara terukur dari balik celah lemari, berhasil memukul mundur dua penjahat yang coba mendekat.

Namun posisi mereka sangat terdesak, mereka terperangkap di sudut buntu!

"Pak Farhan, peluru Bapak tersisa berapa?!" bisik Arya dengan napas memburu hebat di tengah bisingnya dentuman senjata!

Farhan memeriksa magasin pistolnya. "Tiga butir! Kita harus menerobos keluar menuju pintu tangga darurat di belakang lorong ini!"

"Saya punya rencana, Pak!" kata Arya mendadak, matanya menatap ke arah tabung pemadam api (APAR) bertekanan tinggi yang tergantung di dinding tepat di atas kepala salah satu penjahat!

"Apa rencana kamu?!"

"Saat saya hitung sampai tiga, tembak tabung APAR itu!" jerit Arya!

Arya berdiri mendadak dari balik persembunyiannya, memegang dua rak besi tua yang penuh dengan dokumen berat, lalu mendorongnya dengan seluruh tenaga fisiknya ke arah barisan lemari di depannya!

BRRAAAK!

Efek domino terjadi! Lemari-lemari besi seberat ratusan kilogram itu roboh secara beruntun menghantam para penjahat yang sedang maju!

"SEKARANG, PAK!" teriak Arya!

Farhan membidik dengan akurasi sempurna dan melepaskan tembakan terakhirnya ke arah kepala tabung APAR!

DOR!

PSSSSHHHHHHHTTTT!

Tabung APAR itu meledak hebat! Gas karbon dioksida putih tebal menyemprot keluar secara brutal, memenuhi seluruh ruang arsip dengan kabut putih pekat yang membutakan pandangan dan memicu batuk hebat bagi siapa pun di dalamnya!

"ARGH! MATAKU!" jerit anak buah Hendra dalam kabut tebal!

"LARI, ARYA!" jerit Farhan seraya menarik lengan Arya!

Mereka berdua menerobos kabut putih tebal, melompati tumpukan lemari yang roboh dan anak buah penjahat yang merintih kesakitan, lalu menerobos pintu keluar belakang ruang arsip yang tembus ke lorong tangga darurat!

Mereka berlari menuruni anak tangga darurat dengan kecepatan tinggi. Langkah kaki mereka bergema keras di dalam lorong beton yang bergema.

Namun saat mereka mencapai lantai dasar, pintu keluar tangga darurat mendadak didobrak dari luar!

Beberapa personel polisi berpakaian dinas lengkap dengan senjata laras panjang menerobos masuk dengan barikade tameng pelindung! Di depan mereka berdiri seorang perwira menengah berpangkat Kombes!

"JANGAN BERGERAK! ANGKAT TANGAN!" teriak perwira tersebut!

Farhan mengangkat tangannya seraya menahan tubuh Arya, namun bukannya panik, Farhan justru menyunggingkan senyum lega saat melihat tanda pangkat perwira tersebut.

"Kapolres...?" bisik Farhan.

Ternyata, Farhan tidak bodoh. Sebelum mereka naik ke lantai tiga tadi, Farhan telah mengirimkan pesan teks rahasia beserta salinan lokasi GPS-nya langsung ke nomor pribadi Kapolres Kombes Pol Budi Santoso, atasan tertinggi di wilayah hukum tersebut yang dikenal sangat bersih dan tidak terpengaruh oleh Nusantara Utama Group.

"Farhan! Kamu tidak apa-apa?!" seru Kombes Budi seraya mendekati Farhan. "Kami menerima pesanmu dan langsung bergerak menahan Kompol Aris beserta unitnya di markas!"

"Saya aman, Komandan!" jawab Farhan tegas, lalu menunjuk ke arah atas tangga. "Hendra Wijaya dan anak buah bersenjatanya ada di ruang arsip lantai tiga. Mereka memegang senjata api dan telah melakukan penyerangan!"

Kombes Budi menatap tajam ke arah anak buahnya. "TIM TACTICAL, NAIK KE LANTAI TIGA! AMANKAN SELURUH AREA DAN TANGKAP HENDRA WIJAYA DALAM KEADAAN HIDUP ATAU MATI!"

"SIAP, KOMANDAN!" puluhan personel Brimob bergegas menaiki tangga dengan senjata terkokoh.

Farhan merogoh tasnya, mengambil flashdisk dan map dokumen yang didapatkannya dari Loker 07, lalu menyerahkannya secara resmi kepada Kapolres.

"Ini adalah seluruh bukti transaksi suap, dokumen pembunuhan Bambang Gunawan, dan bukti kejahatan Nusantara Utama Group," kata Farhan dengan nada bangga. "Semua dikumpulkan oleh almarhum Bambang, Dian Pertiwi, dan dibantu oleh pemulasara jenazah di sebelah saya ini, Arya Wijaya."

Kombes Budi menatap Arya dengan pandangan penuh rasa hormat yang mendalam. Ia menjabat tangan Arya dengan erat. "Terima kasih atas keberanianmu, Anak Muda. Tanpa kamu, kejahatan besar ini akan tetap tersembunyi di bawah tanah."

_____

Dua minggu telah berlalu sejak malam mendebarkan di RSUD Bina Husada.

Kabar penangkapan Hendra Wijaya dan pembongkaran skandal Nusantara Utama Group menjadi berita utama di seluruh media nasional selama berhari-hari.

Penyelidikan independen membuktikan bahwa Hendra adalah dalang utama di balik pembunuhan Bambang Gunawan dan Dian Pertiwi. Nama baik almarhum Bambang dibersihkan, dan Dian Pertiwi dianugerahi penghargaan jurnalisme keberanian secara anumerta.

Pagi itu, udara di kawasan TPU Kebon Jeruk terasa sejuk dan tenang. Sinar matahari pagi menembus celah-celah daun pohon kamboja, membiaskan cahaya hangat di atas dua gundukan tanah yang masih baru dan bertabur bunga mawar segar, makam Bambang Gunawan dan Dian Pertiwi.

Arya berdiri di hadapan kedua makam tersebut, dengan mengenakan kemeja putih bersih dan celana kain hitam. Di sampingnya berdiri Iptu Farhan yang mengenakan seragam dinas kepolisian lengkap.

Arya berlutut pelan, lalu meletakkan seikat bunga mawar putih di atas nisan Dian.

"Mbak Dian... Pak Bambang..." bisik Arya lembut, suaranya kini terdengar begitu tenang dan damai. "Keadilan yang kalian perjuangkan sudah tegak. Orang yang bertanggung jawab atas kematian kalian sudah berada di balik jeruji besi, dan rahasia yang coba mereka sembunyikan kini telah diketahui oleh seluruh dunia."

Angin sepoy-sepoy berhembus pelan, menerbangkan beberapa kelopak bunga mawar. Arya merasakan kehangatan samar menyentuh pundaknya, sebuah perasaan lega yang dalam, seolah-olah jiwa-jiwa yang dulu menderita kini telah menemukan kedamaian abadi mereka.

Farhan menepuk bahu Arya pelan lalu berkata, "Ayo, Arya. Mas Teguh sudah menunggumu di rumah sakit. Hari ini ada tugas pemulasaraan baru."

Arya berdiri, dan membetulkan posisi pakaiannya, lalu tersenyum tipis ke arah nisan Dian dan Bambang.

"Mari, Pak Farhan."

Bersambung...

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
keren kaya baru ❤️
Aurora: iya kak, semoga bisa menghibur para pembaca 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!