NovelToon NovelToon
Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.

Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.

Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.

Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 - Luka yang Tidak Terlihat

Fitnahnya selesai di atas kertas. Foto asli sudah ketemu di galeri HP Nadira, Nadira sudah mengaku di kantor Ustazah Khadijah, sudah dihukum khidmah di perpus sebulan, HP semua yang terlibat sudah disita sampai Haflah selesai. Secara aturan pesantren, masalah selesai. Secara administrasi, sudah clear.

Tapi luka yang tidak terlihat, tidak selesai secepat tanda tangan di buku pelanggaran.

Seminggu habis sidang kecil itu, Muthi'ah berubah. Bukan berubah jadi nakal, tapi berubah jadi bayangannya sendiri.

Yang biasanya juara musabaqah, yang kalau ditunjuk jadi MC Haflah matanya langsung berbinar, yang hafalannya lancar sampai Ustazah Khadijah pernah bilang "Muthi'ah ini setoran kayak air ngalir", sekarang jadi diam sekali. Diamnya beda. Kalau dulu diamnya Muthi'ah itu diam pendiam, diam karena memang kalem. Sekarang diamnya diam takut.

Pagi, pas setoran hafalan Imrithi habis Subuh di aula putri, gilirannya maju. Biasanya dia maju paling depan, percaya diri. Sekarang dia minta paling akhir.

"Bismillah, Muthi'ah, mulai dari bait kemarin," kata Ustazah Khadijah.

Muthi'ah narik napas, "Wa ba'du fa'lam bi wujubil ma'rifah..."

Baru dua bait, berhenti. Lupa. Padahal bait itu sudah dia hafal dari kelas 2 tsanawiyah.

"Wa ba'du fa'lam bi wujubil... wujubil..." tangannya ngeremas ujung jilbab, keringet dingin di pelipis, padahal aula pagi itu dingin.

Ustazah Khadijah ngangkat alis, bukan marah, tapi khawatir, "Loh? Kemarin lancar. Coba ulangi pelan-pelan."

Muthi'ah ngulang, suaranya makin kecil, "Wa ba'du..."

Di belakang, Dina, Zahra, dan Salsa yang lagi nunggu giliran saling lirik. Zahra berbisik, "Muthi'ah kenapa? Tumben salah terus."

Muthi'ah akhirnya nunduk, "Afwan, Ustazah. Boleh diulang besok? Saya... belum murojaah."

Padahal semalaman dia murojaah sampai jam 1 pagi di pojokan kamar sambil peluk mushaf kecil dari Nyai Maryam.

Siangnya pas gladi Haflah, lebih kelihatan lagi. Muthi'ah sebagai koordinator putri harus pegang mic, ngecek rundown. Baru naik panggung kayu aula, kakinya gemetar. Mic di tangannya dingin, padahal tangannya yang dingin. Bolak-balik ke kamar mandi karena mual.

Zahra yang jadi pendampingnya langsung narik dia ke belakang panggung.

"Muth, kamu pucat banget. Mau minum dulu?" tanya Zahra.

Muthi'ah nggeleng, "Gak apa-apa, Zah. Lanjut aja."

Tapi pas disuruh ngomong "Assalamualaikum, selamat datang di Haflah Akhirussanah", suaranya pecah, mic-nya feedback, satu aula noleh. Muthi'ah langsung turun panggung, lari ke kamar mandi, muntah, padahal gak makan apa-apa.

Dina yang ngintip dari pintu langsung meluk dia dari belakang, "Muth, udah, gak usah dipaksa."

Puncaknya, H-3 Haflah Akhirussanah, acara yang sudah dia siapin bareng Jay dari nol, dari rundown, konsumsi, sampai list hadroh putri.

Ustazah Khadijah manggil Muthi'ah ke kantor sore itu. Di meja ada teks MC yang sudah di-print, sudah dikasih stabilo warna kuning sama Zahra.

"Muthi'ah, bagaimana persiapan MC? Teksnya sudah siap? Besok gladi terakhir loh," tanya Ustazah sambil senyum, berusaha santai.

Muthi'ah berdiri di depan meja, ngeremas ujung jilbabnya sampai kusut. Lama gak jawab. Lalu akhirnya keluar kalimat yang bikin Ustazah kaget.

"Ustazah... boleh saya tidak ikut Haflah?"

Ustazah Khadijah kaget, naruh pulpen, "Loh, kenapa? Kamu kan koordinatornya, Nak. Anak-anak nungguin kamu."

Muthi'ah suaranya pelan sekali, hampir gak kedengeran, matanya natap lantai, "Saya... tidak siap, Ustazah. Saya takut. Takut dilihat orang lagi. Takut kalau saya naik panggung, orang ngeliat saya bukan karena saya bisa jadi MC, tapi karena gosip itu. Takut dibilang cari muka lagi. Takut difoto lagi, terus di-crop lagi."

Ustazah Khadijah diam. Dia tau ini bukan manja. Ini trauma. Luka yang gak kelihatan di rapor, tapi ada di dada.

"Muthi'ah, kamu tidak salah apa-apa. Kenapa takut? Yang salah sudah dihukum, foto sudah diklarifikasi," kata Ustazah pelan.

Muthi'ah akhirnya nangis, tangis yang ditahan seminggu, pecah di kantor Ustazah. Bukan nangis kejer kayak anak kecil, tapi nangis sesenggukan, bahunya naik turun.

"Saya capek, Ustazah. Tiap naik panggung, saya ngerasa semua mata ngeliatin saya, 'itu loh yang deketin Gus Jay'. Saya takut salah ngomong satu kata, nanti di-WhatsApp-in lagi. Saya takut, Ustazah, saya takut salah lagi padahal saya gak salah," isak Muthi'ah.

Ustazah Khadijah bangun, meluk Muthi'ah dari samping, ngelus punggungnya.

"Ya sudah, kalau kamu butuh istirahat, istirahat dulu ya. MC-nya biar Zahra yang gantiin dulu. Kamu tidak apa-apa. Kamu tidak wajib harus kuat terus. Istirahat itu bukan menyerah," bisik Ustazah.

Kabar Muthi'ah gak ikut Haflah dan nilainya turun drastis itu cepet banget nyampe ke orang tuanya. Ustazah Khadijah telepon Ayah Muthi'ah siang itu, bilang pelan-pelan kalau Muthi'ah lagi drop.

Ayah dan Ibu Muthi'ah yang tinggal di luar kota, yang rumahnya dua jam dari Darul Hikmah, langsung datang hari Jumat sore. Bawa rantang ayam goreng kesukaan Muthi'ah, ayam goreng lengkuas yang biasanya cuma dibikin kalau Muthi'ah pulang liburan.

Di ruang tamu putri, yang ada sofa coklat dan taplak batik, Muthi'ah dipanggil. Jalan dari asrama ke ruang tamu itu rasanya panjang banget. Dina, Zahra, Salsa ngintip dari balik pintu dapur putri, doa-doa.

Ayahnya langsung to the point, dengan nada sayang tapi agak keras, karena Ayah memang orangnya gak bisa basa-basi.

"Muthi'ah, Ibu dan Ayah dengar dari Ustazah, katanya kamu tidak mau ikut Haflah? Katanya nilaimu turun? Kamu kenapa, Nak? Manja ya? Di pesantren kok manja? Ayah sekolahkan kamu di sini biar jadi anak kuat, bukan anak yang gampang nangis karena omongan orang," kata Ayah.

Kata "manja" itu seperti pisau. Padahal Ayah ngomongnya karena khawatir, karena gak tau detailnya.

Muthi'ah langsung nunduk, air matanya netes ke lantai. Bahunya gemetar.

Ibu Muthi'ah nyahut, lebih lembut tapi tetep nusuk, "Muthi'ah, Ayah dan Ibu menyekolahkan kamu di sini biar kamu jadi anak pintar, anak kuat. Bukan biar kamu gampang menyerah gara-gara omongan orang. Kamu juara musabaqah, masa nyerah cuma karena gosip?"

Muthi'ah pengen jelasin, tapi tenggorokannya kecekik. Kata-kata yang sudah dia susun seminggu di kepala, hilang semua. Yang ada cuma sesak.

Dina yang ngintip gak tahan, mau masuk, tapi Zahra nahan, "Jangan, biar Muthi'ah yang ngomong sendiri. Ini urusan keluarga."

Di dalam, Muthi'ah akhirnya berani angkat kepala, dengan suara nangis, tapi untuk pertama kalinya dia ngomong panjang di depan Ayahnya, bukan cuma "Inggih, Abi."

"Abi, Muthi'ah difitnah. Foto Muthi'ah diedit, disebar ke grup wali santri. Foto pas hujan kemarin, yang ngasih payung Kang Jungwon, bukan Gus Jay, tapi di-crop jadi keliatan kayak Gus Jay yang ngasih langsung. Dibilang Muthi'ah deketin Gus Jay biar jadi favorit Ustazah. Muthi'ah dijauhi teman-teman, Abi. Makan sendirian, duduk di kelas dikosongin sebelahnya, di kantin dipindah mejanya pas Muthi'ah mau duduk. Salsa sampai hampir dihukum gara-gara bela Muthi'ah pakai status WhatsApp. Muthi'ah bukan tidak mau ikut Haflah karena malas, Abi. Muthi'ah takut. Tiap naik panggung, Muthi'ah ngerasa semua orang ngeliatin Muthi'ah bukan sebagai MC, tapi sebagai tukang cari muka," kata Muthi'ah panjang, air matanya deres, tapi suaranya jelas.

Ayah dan Ibu Muthi'ah kaget. Mereka baru tau detailnya. Selama ini Ustazah cuma bilang "Muthi'ah ada masalah sedikit dengan teman".

Ibu Muthi'ah langsung meluk Muthi'ah, erat, "Ya Allah, Nak... kenapa tidak cerita ke Ibu? Kenapa dipendam sendiri?"

Ayahnya diam. Mukanya yang tadinya kecewa, berubah jadi nyesel. Tangannya yang kasar karena di sawah, ngelus kepala Muthi'ah.

"Abi minta maaf, Nak. Abi tidak tahu separah itu. Abi kira kamu hanya malas-malasan biasa, manja. Maaf ya, Nak, Abi bicara manja tadi. Maaf, Abi gak tau luka kamu sedalam itu," kata Ayah, suaranya pelan, matanya merah. Ayah Muthi'ah itu jarang nangis, hari itu matanya berkaca-kaca.

Muthi'ah nangis di pelukan Ibunya, nangis yang lega, bukan nangis takut lagi.

"Udah, Nak, udah. Nangis saja. Gapapa. Nangis saja di sini," kata Ibunya, ngelus punggung Muthi'ah.

Setelah agak tenang, Ayah Muthi'ah ngomong lagi, kali ini suaranya beda, lebih lembut.

"Muthi'ah, Ayah bangga kamu cerita hari ini. Jujur itu berani. Soal Haflah, kalau kamu tidak siap, tidak usah dipaksa. Yang penting kamu sehat dulu hatinya. Nilai turun tidak apa-apa, bisa dikejar lagi. Ayah dan Ibu di rumah cuma pengen kamu jadi anak yang jujur sama diri sendiri, bukan jadi juara terus tapi hatinya sakit."

Malam itu, Muthi'ah kembali ke kamar 7. Dina, Zahra, Salsa sudah nungguin di atas kasur, bawa teh hangat dan roti sobek.

Muthi'ah ngeliat mushaf kecil dari Nyai Maryam di bawah bantalnya. Mushaf hijau beludru se-telapak tangan. Dia buka satu halaman, asal buka, ayat yang kebetulan kebuka.

"Fa inna ma'al 'usri yusra... Fa inna ma'al 'usri yusra..." - Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

Dia baca berulang-ulang. Pelan-pelan, air matanya berhenti. Ayatnya diulang dua kali di Quran, seolah Allah memang pengen bilang, habis susah itu gak cuma ada mudah, tapi bersamanya ada mudah.

Di luar kamar, Zahra masuk bawa teh hangat.

"Muth, minum dulu. Tadi Ayah Ibu kamu udah pulang, titip salam buat kita," kata Zahra.

Muthi'ah tersenyum tipis, pertama kalinya senyum agak lebar setelah seminggu. Senyumnya masih pucat, tapi tulus.

"Iya, Zah. Ternyata kalau cerita jujur, tidak semenakutkan yang aku kira. Aku kira Ayah bakal marah, ternyata Ayah malah minta maaf," kata Muthi'ah.

Dina meluk Muthi'ah dari samping, "Tuh kan, gue bilang apa. Kalau dipendem sendiri, makin sakit."

Salsa nambahin, "Besok Haflah kamu gak usah jadi MC gak apa-apa, Muth. Kita yang handle. Kamu duduk di depan aja, jadi penonton dulu. Gapapa."

Malam itu, Muthi'ah tidak sholat tahajud dengan nangis kejer seperti kemarin-kemarin, yang sajadahnya basah karena air mata. Dia sholat dengan lebih tenang. Masih ada takutnya, masih ada trauma kalau naik panggung, masih ada deg-degan kalau ada yang moto dia dari jauh. Tapi ada satu hal baru: dia sudah tidak merasa sendirian lagi.

Luka yang tidak terlihat itu masih ada, masih perih kalau kesenggol omongan orang. Tapi setidaknya sekarang ada yang tau, ada yang ngobatin, ada Ayah Ibu yang tau, ada Zahra yang bawain teh, ada Dina yang meluk, ada Salsa yang janji gak bakal bela dengan cara salah lagi.

Dan untuk malam itu, itu sudah cukup buat Muthi'ah bisa tidur nyenyak, dengan mushaf kecil di bawah bantal dan rantang ayam goreng lengkuas yang belum habis di meja belajar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!