NovelToon NovelToon
Penguasa Pil Yang Bereinkarnasi: Raja Alkimia Di Dunia Permainan Abadi

Penguasa Pil Yang Bereinkarnasi: Raja Alkimia Di Dunia Permainan Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Reinkarnasi / Dunia Lain
Popularitas:265
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.

Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.

Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 - TANDA TERIMA

Mo menyerahkan bungkusan kecil kepada Lin Feng setelah toko dibuka.

“Bawa ini ke klinik di Jalan Pohon Kapur. Tiga gulung daun kering dan dua ikat akar. Catat siapa yang menerima dan jumlah yang mereka ambil.”

Lin menerima bungkusan itu dengan kedua tangan. “Saya belum pernah ke sana.”

“Karena itu kau bertanya sebelum berangkat.” Mo memberinya secarik alamat. “Kalau pembelinya menolak, bawa kembali. Jangan mengubah jumlah atau harga tanpa izinku.”

Lin memeriksa ikatan kainnya. Ada dua simpul dan satu cap lilin kecil, tidak lebih. “Baik.”

“Dan jangan menyebut bahan ini dengan nama yang kau ingat dari game.”

Lin memandang Mo. “Saya tak pernah bilang—”

“Kau tak perlu bilang. Setiap kali kau merasa sudah tahu, bahumu berubah.”

Mo kembali ke meja sebelum Lin sempat menjawab. Lin menyimpan alamat dan buku catatan kecil di saku dalam, lalu berangkat menyusuri kanal.

Kota sudah ramai. Penjual membuka kios, tukang gerobak mengumpulkan tali, dan pekerja harian berjalan ke arah gudang. Lin mencoba mengikuti peta yang ia punya, tetapi beberapa nama jalan di alamat tidak tercantum. Ia berhenti di kios air dan bertanya kepada seorang perempuan yang sedang mengisi kendi.

“Jalan Pohon Kapur ada setelah jembatan batu kedua,” kata perempuan itu. “Kalau kau sampai ke toko besi, berarti kau kelewatan.”

Lin mengucapkan terima kasih dan melanjutkan. Ia menghitung jembatan satu per satu, bukan berdasarkan perkiraan di peta. Setelah jembatan kedua, ia menemukan deretan rumah yang memiliki papan kecil bergambar mangkuk dan daun. Salah satunya memiliki pohon berbatang pucat di halaman.

Klinik itu tidak tampak seperti tempat yang ia kenal dari game. Bangunannya rendah, pintunya terbuka, dan dua orang duduk di bangku luar sambil menunggu. Di dalam, bau rebusan pahit memenuhi udara. Seorang lelaki tua mengenakan celemek cokelat sedang menumbuk daun di lesung batu.

“Kiriman dari toko Mo?” tanyanya.

Lin menunjukkan cap lilin. “Ya. Tiga gulung daun kering dan dua ikat akar.”

Lelaki itu mengusap tangannya pada celemek sebelum menerima bungkusan. Ia memeriksa simpul, membuka cap, lalu menghitung isi satu demi satu. Lin berdiri di dekat pintu sambil menyiapkan buku catatan.

“Akar yang ini dari lereng utara?” tanya lelaki itu.

Lin memeriksa catatan. “Lereng barat sungai kecil, tanah berbatu. Dipetik sebelum hujan dan dikeringkan di ruang dalam.”

Lelaki itu memotong satu ujung akar dengan pisau. Bagian dalamnya berwarna pucat dan berbau tajam. “Ini benar. Tapi daun yang satu ikat terlalu lembap untuk disimpan di lemari. Aku hanya bisa menerima setengahnya.”

Lin tidak membantah. Ia memeriksa label, lalu membandingkannya dengan catatan Mo. Label itu memang mencatat hasil pengeringan ulang, tetapi tidak menyebutkan bahwa sebagian masih perlu diangin-anginkan.

“Kalau begitu, saya akan mencatat satu ikat diterima setengah,” katanya. “Mo menentukan harganya.”

“Bagus. Banyak kurir langsung berdebat seolah mereka pemilik barang.” Lelaki itu menunjuk bangku kecil. “Tulis dengan jelas. Kalau tidak, nanti semua orang saling menyalahkan.”

Lin mencatat jumlah yang diterima dan alasan penolakan sebagian. Ia meminta lelaki itu membubuhkan tanda pada catatan. Tangan lelaki itu bergerak lambat, tetapi garis tanda tangannya jelas.

Lin melirik panci di dalam klinik. “Bahan ini untuk membuat pil?”

“Tidak. Untuk rebusan dan kompres. Pil dibuat oleh alkemis, bukan setiap tabib dusun.” Lelaki itu menutup kembali bungkusan. “Daun segar dan daun kering pun tak selalu dipakai dengan cara sama. Tanyakan sebelum menganggap sebuah nama bahan menjelaskan seluruh kegunaannya.”

Lin teringat betapa sering ia menyamakan bahan dengan satu fungsi di dalam game. Ia mencatatkan peringatan itu pada bagian kosong di tepi kertas.

Saat Lin kembali ke toko, Mo membaca bukti terima itu tanpa berkata apa-apa. Ia menimbang sisa barang dan menyimpannya di rak pengeringan.

“Dia menolak setengah ikat,” kata Lin.

“Aku tahu. Klinik itu selalu menolak bahan lembap.”

“Kenapa tetap dikirim?”

“Karena mereka mau menerima bagian yang baik, dan karena kita perlu tahu apakah pengeringan ulang cukup.” Mo melipat kertas itu. “Kalau kau tidak membawa catatan, aku harus menebak apa yang terjadi.”

Lin mengangguk. Tanda terima itu bukan sekadar kertas. Ia memastikan siapa menerima barang, apa yang diterima, dan apa yang harus diperbaiki. Ia mulai melihat bahwa bahan obat bergerak melalui banyak tangan sebelum menjadi sesuatu yang bisa digunakan.

Menjelang sore, Mo membayar upah hari itu dan memberi Lin satu mangkuk bubur. “Kau mengikuti instruksi. Besok aku akan mengirimkan kiriman lain kalau kau datang tepat waktu.”

“Terima kasih.”

“Jangan membuat kebiasaan berterima kasih atas setiap pekerjaan.”

“Aku akan mencoba.”

Di luar toko, Lin melihat Bai Xiao berdiri di dekat papan pengumuman Mercenary Hall. Tangannya masih dibalut, pedangnya tersandang di punggung. Ia tidak sedang berlatih. Ia membaca daftar nama yang ditempel, bibirnya bergerak mengikuti baris-baris kecil.

“Besok?” tanya Lin.

Bai menoleh. “Besok.”

“Bagaimana tanganmu?”

“Masih menempel. Itu pertanda baik.” Ia mengangkatnya sedikit, lalu meringis. “Mo bilang aku tidak boleh berlatih. Jadi aku membaca aturan ujian sampai hafal.”

“Apakah itu membantu?”

“Belum tahu. Tapi setidaknya aku tidak membuka lukanya lagi.” Bai melipat pengumuman yang ia salin ke kertas. “Ujian mengharuskan peserta mengawal satu kereta melewati lintasan pendek. Ada pemeriksa yang mengganggu dari beberapa arah. Mereka menilai formasi dan keputusan, bukan siapa yang menebas paling banyak.”

“Jadi latihanmu membawa orang cedera ada gunanya.”

“Kalau aku tidak panik, mungkin.” Bai menarik napas panjang. “Aku akan memikirkan apa yang kulakukan kalau ada yang jatuh. Kali ini aku tidak akan berlagak bisa menyelesaikan semuanya sendirian.”

Ia menatap Lin, lalu menunjuk jalan ke halaman ujian. “Mau datang melihat? Kau bilang ingin mencari pekerjaan. Setidaknya kau bisa melihat bagaimana orang memilih pengawal.”

Lin belum pernah menonton ujian Mercenary Hall. Dalam game, bangunan itu hanya tempat menerima misi dan membeli peta. Ia ingin tahu bagaimana tempat itu bekerja di luar layar.

“Aku akan datang setelah selesai bekerja.”

“Bagus. Kalau aku gagal, kau bisa memastikan aku tidak menyalahkan pedang.”

“Kalau kau lulus?”

“Aku akan tetap menyalahkan pedang. Pedang yang baik membuat pemiliknya terlihat lebih hebat.”

Lin tertawa kecil. Bai juga tersenyum, tetapi ia menyimpan salinan aturan dengan hati-hati, melindunginya dari angin. Ia tidak menganggap ujian itu lelucon. Di balik kalimat-kalimatnya, Lin melihat pemuda yang sedang mencoba menyiapkan diri tanpa mengulang kesalahan lama.

Di penginapan, Lin menggunakan satu keping upah untuk mengamankan tempat tidur malam itu. Sebelum beristirahat, ia menambah satu baris pada catatannya: kiriman yang ditolak sebagian, alasan kelembapan, dan nama klinik penerima.

Besok ia akan melihat ujian dari sisi luar. Malam ini, ia tidur dengan tanda terima di ingatan dan rasa lelah yang berasal dari pekerjaan, bukan dari layar.

1
Uranenantios
Enaknya sehari up berapa bab ya?
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!