Melisa Monaco memalsukan tahun lahirnya demi mendaftar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya membaca kontrak. Ternyata isi kontrak adalah persetujuan pernikahan. Ia terpaksa tetap menjalaninya sebab jika mundur sepihak maka harus membayar denda yang jumlahnya sangat besar.
Sejak pernikahan digelar, hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia yang muak direndahkan, nekat berusaha merebut hati Dharma Panjalu dan membuktikan pada seluruh keluarga bahwa ia bukan perempuan yang layak direndahkan.
Dalam perjalanan membuktikan diri, ia mengalami banyak kejadian buruk. Tanpa disangka kejadian buruk yang dialaminya justru membantu keluarga itu menguak penyebab kematian istri Dharma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosella Nona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyusun Rencana
“Mama curiga pada perkembangan yayasan amal mereka, jelas sekali ada dana ilegal dan pencucian uang di sana, tapi karena yayasannya kecil jadi orang tidak akan menyangka,” jelas Bu Inggit pada Dharma.
Setelah mengetahui fakta tentang kebakaran resto kemarin, ternyata mereka menemukan semakin banyak sisi hitam keluarga Sheila.
“Lalu mama mengirim Maya ke sana sendirian?”
“Ya, mumpung Gunawan sedang dalam perjalanan bisnis ke luar kota. Maya perlu akses ke laptop Gunawan, itu tersambung dengan PC di rumahnya.”
“Lalu bagaimana mama tahu Maya tertangkap?”
Dharma menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang lain yang mengintai dan menguping pembicaraan mereka. Ia melihat bayangan seseorang di dekat pintu, dari rambut bergelombangnya Dharma tahu itu Melisa. Sengaja ia biarkan perempuan itu ikut mendengar semua masalah ini agar lebih waspada menghadapi Sheila.
“Alat sadap suara yang Maya bawa masih tersambung selama beberapa waktu, mama dengar ia seperti bersembunyi kemudian berteriak, sepertinya ia ketahuan dan melawan.”
“Lalu?”
“Satu alat pelacak mikro mama tanam di bawah kulitnya, dan radarnya menunjukkan dia masih berada dalam rumah itu. Mama butuh kamu buat pancing Sheila keluar dari rumah. Maya harus cepat diselamatkan sebelum Gunawan pulang.” Bu Inggit mengatakannya dengan wajah serius.
“Biar timku yang ke sana, Ma.” Dharma segera menghubungi orang-orang kepercayaannya.
“Sheila bukan perempuan lugu, Dharma. Sedikit banyak pasti ada darah Gunawan yang mengalir di tubuhnya.”
“Iya. Aku baru tahu beberapa waktu lalu kalau dia melukai paha Melisa dengan alat catok rambut. Luka bakarnya sampai sekarang masih dalam perawatan.”
Bu Inggit sangat terkejut. Ia melihat ke arah pintu yang sedikit terbuka, khawatir ada orang lain yang mendengar percakapan ini, ia segera menutupnya. Tanpa tahu jika Melisa yang sejak tadi berdiri di sana.
Mereka berdua mendiskusikan cara agar bisa mengeluarkan Maya dari rumah itu tanpa menimbulkan keributan besar.
…
“Halo, Sheila. Apa kamu ada waktu sebentar? Terakhir kita bertemu di pesta orang tuamu kalau kamu ingat.”
Sheila tidak langsung menjawab. Khawatir Sheila curiga, Dharma lalu melanjutkan kalimatnya lagi.
“Aku mengalami kerugian yang cukup besar setelah insiden kebakaran kemarin. Rencananya dalam pesta itu aku ingin mendiskusikan sesuatu denganmu, aku mau mengajakmu untuk berinvestasi dalam pembangunan ulang cabang itu, nanti keuntungannya kita bahas setiap akhir bulan. Bagaimana menurutmu?”
Dharma menggaruk kepalanya, alasan pertemuan macam apa ini, ia sendiri tidak yakin urusan itu akan bisa membuat Sheila mau keluar rumah untuk menemuinya.
“Apa kamu bersama istrimu?“ selidik Sheila.
“Tentu saja tidak. Melisa nol soal bisnis seperti ini. Kamu Bachelor of Commerce dari Australia, jadi menurutku, kamu orang yang paling tepat untuk rekan diskusi tentang urusan ini.”
Sheila tersanjung. ia tidak menyangka Dharma masih mengingat banyak hal tentangnya, ia jadi luluh dan mengiyakan ajakan bertemu itu. untuk sesaat ia lupa pada kecurigaannya sendiri dan sejenak menurunkan sikap waspada.
“Oke, tapi di rumahku yaa.” Sheila tidak bisa diajak keluar.
Dharma mencoret rencana A. Ia lalu memerintahkan pada tim yang akan terlihat dalam penyelamatan Maya kali ini untuk menjalankan perintah B. Kalau dalam lima menit, mobil yang bertugas membawa Maya pergi tidak jalan juga, berarti mereka terpaksa menjalankan rencana C.
Setelah semua siap dan paham dengan tugasnya, mereka berangkat melalui jalur masing-masing.
“Tugasmu tetap sama, Melisa. Temani Dayu di rumah dan pastikan dia tetap aman sampai aku pulang.”
Melisa mengangguk.
“Ini bukan misi yang berbahaya, hanya saja kita perlu bergerak dalam senyap agar urusannya tidak semakin besar,” jelas Dharma lagi.
Melisa memperhatikan mobil Dharma sampai benar-benar hilang ditelan jarak.
“Tuhan, semoga Maya baik-baik saja, Dharma dan seluruh timnya, juga Bu Inggit. Lindungi orang-orang baik itu dan selamatkan mereka sampai pulang ke rumah lagi,” batin Melisa. Ia yang tidak dilibatkan dalam misi penyelamatan Maya hanya bisa membantu dengan menemani Dayu di rumah dan memanjatkan doa-doa baik untuk mereka semua.
...
Pagi-pagi sekali, Melisa terbangun. Ia duduk sebentar melihat-lihat konten orang-orang di sosial media. Siapa tahu ada inspirasi untuk melakukan sesuatu, pikirnya.
Dharma memintanya menemani Dayu di rumah selama mereka menjalankan rencananya. Jadi, Melisa harus menemuka kegiatan yang menarik untuk dikerjakan seharian.
“Dayu, kamu sudah bangun?” Melisa mendorong pintu kamar Dayu.
“Sudah, tapi papa tidak di rumah. Rencananya aku mau mengajak kalian berdua jalan-jalan ke wahana baru di mall yang lauching awal bulan kemarin.” Dayu terlihat sedikit muram.
Melisa menghampirinya. “Bagaimana kalau kamu ikut kelas memasakku? Setelah belajar peralatan dan lainnya, hari ini aku mulai coba praktik, menunya simpel, kue bolu kukus pandan. Mau coba?”
“Kita yang bikin adonan kue itu sendiri dari awal sampai matang?” tanya Dayu antusias.
Melisa lega ia mendapat respon yang seperti itu. Ia langsung mengangguk.
“Aku mau, aku mau.” Dayu begitu bersemangat. Lalu layu lagi, “bagaimana kalau hasilnya nanti tidak enak?”
“Ya, kan kita bukan mau jualan, kita baru pertama kali coba. Gagal itu hal biasa, yang penting mau coba aja udah bagus, Dayu.”
“Oke, lets go!” Dayu bergegas meninggalkan tempat tidurnya.
Mereka berdua bermain di dapur dengan riang. Setelah menyiapkan bahan dan lat yang dibutuhkan, Melisa menghidupkan video tutorial untuk memandu mereka menyelesaikan satu resep itu.
“Pertama kita tuang dulu setengah kilogram tepung protein tinggi, ...”
Mereka melakukan satu per satu perintah yang disebutkan oleh video.
“Tepung yang mana tepung?” tanya Dayu polos.
“Kamu beneran tidak tahu?”
“Tahu sih. Yang ini, kan?” Dayu menganggat satu wadah berisi tepung.
Melisa mengangkat jari jempolnya. Mereka menakar tepung dalam timbangan sesuai instruksi, ditambah lagi, dikurangi lagi, sampai takarannya benar-benar pas.
“Ribet juga ya, cuma tepung setengah kilo juga,” komentar Melisa. Sebenarnya sejak tadi ia geram melihat Dayu menakar dengan sanagat teliti, tapi ia biarkan saja agar durasi memasak kue ini jadi sedikit lebih lama.
“Kan biar sukses, Mbak. Biar hasilnya sempurna tanpa cela. Nanti kalau papa pulang dan menyicipinya, dia akan langsung membuatkan toko kue untuk kita berdua.”
Mereka berdua tertawa. Lalu melanjutkan proses membuat kue itu dengan bahagia.
Sementara di kediaman Sheila, Dharma baru sampai dan memberi kode pada seluruh tim untuk menjalankan rencana.