Karena memiliki masalah keluarga yang cukup rumit, membuat Ranaya melampiaskan hidupnya di lantai disko. Motonya: Boleh nakal, asal tahu batas. Sayangnya, malam itu, batasnya benar-benar terlewati. Sebuah kecelakaan brutal membuat tubuhnya koma, sementara rohnya malah asyik gentayangan!
Sialnya, jadi arwah itu enggak segampang di film-film. Niat hati melompat elegan masuk kembali ke tubuhnya, Ranaya malah nyungsep di kolong ranjang. Masalah bertambah pelik ketika ia tau apa penyebab kecelakaan yang menimpanya. Ternyata ada udang di balik bakwan.
Berbekal status hantu amatiran dan bantuan seorang cowok indigo yang super cuek bebek, Ranaya harus menyelamatkan nyawanya sendiri. Kalau gagal? Ya wassalam, siap-siap saja jadi Kuntilanak Gen-Z selamanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha Annisa Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curhat
Arka menghela napas. Menatap ke arah Ranaya yang duduk di besi jembatan. Kuntilanak itu memang seharian ini mengikutinya, tapi kali ini, ia hanya melayang dengan tatapan kosong, tidak ada pun sepatah kata yang keluar dari mulutnya yang biasanya terus nyerocos tanpa henti dan asbun.
Jam di layar handphone Arka sudah menunjukkan pukul satu malam, jam segini biasanya orderan mulai sepi. Arka menarik napas pelan, ia kemudian melangkah mendekati Ranaya, berdiri tepat di sampingnya.
"Kalau lu dikatain sebagai anak haram, gimana perasaan lu?" tanya Ranaya, tatapannya lurus ke depan.
Arka diam beberapa detik, ia melirik Ranaya. "Gue pasti sedih dan sakit hati."
"Itu yang gue rasain selama ini." Ranaya menoleh, ia menatap Arka, setetes air mata mengalir membasahi pipi pucatnya. "Gue capek dicap sebagai anak haram. Capek jadi anak yang harus disembunyiin terus keberadaannya. Gue capek...."
Tangis Ranaya pecah. Seolah-olah apa yang selama ini ia pendam, tumpah ruah tanpa penghalang.
"Dari kecil, gue udah di-bully, dikatain anak haram, anak yang dibuang, kalau gue bisa milih, gue juga enggak mau punya kehidupan seperti ini. Gue juga pengen punya keluarga yang normal. Punya Ayah yang bisa dipamerin ke semua orang. Aaaaaaaa....."
Ranaya berteriak sekuat tenaga, memecah kesunyian malam dan cukup membuat Arka kaget dan bulu kuduknya meremang. Meski begitu, Arka tidak berniat untuk menghentikannya, ia membiarkan Ranaya meluapkan apa yang ia rasakan.
"Apa menurut lu, gue berlebihan?" Ranaya menatap Arka, beberapa helai rambut pirangnya menempel di pipi yang basah oleh air mata. Ia bahkan sudah sampai sesenggukan.
Arka menggeleng. "Enggak ada yang berlebihan, setiap orang pasti punya lukanya masing-masing dan porsinya enggak akan pernah sama."
Tanpa diduga, detik berikutnya Ranaya malah menyadarkan kepalanya di bahu Arka, membuat Arka sedikit kaget, namun tak mengucapkan apa-apa. Keduanya diam, membuat suasana hening, Ranaya bisa mendengar setiap tarikan dan hembusan napas Arka dengan jelas, sampai tiba-tiba—
Tin... tin.. tin...
Arka dan Ranaya kaget, keduanya menoleh secara bersamaan. Sebuah mobil hitam berhenti tepat di belakang mereka, kaca pintu mobil itu terbuka. "Bang, lu enggak mau bundir, kan?" tanya seorang pria yang terlihat seumuran dengan Arka. Dari raut wajahnya, ia tampak khawatir.
Arka menggeleng. "Enggak ko, aman," jawab Arka sambil memberikan isyarat jempol.
Pria itu menatap Arka lekat, seperti sedang memastikan kalau Arka baik-baik saja.
"Oke, Bang. Semangat, ya!" ucapnya, setelah mungkin merasa yakin.
"Sip, terimakasih, Bang."
Mobil pria itu pun kembali melaju, meninggalkan Arka dan Ranaya yang tak terlihat olehnya.
"Lu kenal dia?" tanya Ranaya keheranan.
Arka menggeleng, kemudian melangkah menuju motornya yang terparkir di pinggir jalan.
"Lah, mau ke mana?" Ranaya melayang mengikuti Arka.
"Pulang lah, entar gue dikira mau bundir lagi karena berdiri sendirian di jembatan jam segini!"
"Hihi." Ranaya tertawa kecil, sebelum akhirnya ikut duduk di jok belakang Arka. "Nebeng, ya. Kita kan searah."
Arka tak menjawab. Sedangkan Ranaya yang tadinya terlihat murung kini mulai terlihat kembali ceria.
"Makasih, ya," ucap Ranaya. Ia menatap spion motor yang menampilkan pantulan wajah Arka. Pria itu tidak memberikan jawaban apapun, wajahnya juga terlihat datar, seperti biasa.
"Makasih karena udah mau bantu gue dan dengerin curhatan gue," imbuh Ranaya. Namun tetap tak mendapatkan jawaban apapun dari Arka.
"Ih, lu denger enggak sih, gue ngomong apa?" Ranaya menarik jaket Arka, membuat pria itu melirik melalui spion.
"Hmm, sama-sama."
"Ck! Untung lu baik, kalau enggak, udah gue—" Ranaya menghentikan ucapannya karena tepat di pinggir jalan, ada sesosok pocong dengan wajah penuh darah dengan mata merah menyala tersenyum kepadanya. "Ih, jelek banget!"
Kuntilanak Magang itu memejamkan matanya, reflek ia juga berpegangan pada pinggang Arka, takut jatuh—lupa kalau dirinya sekarang adalah sosok astral juga.
Tanpa sadar, Arka justru tersenyum tipis melihat tingkah Ranaya. "Setan kok takut setan."
Mungkin awalnya ia merasa terganggu, tapi tanpa sadar, kehadiran Ranaya sedikit mewarnai hari-harinya yang selama ini membosankan.