Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.
Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.
Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Depan Gerbang Sang Raja
Semakin dekat kami ke istana, udara terasa makin berat. Seperti berjalan menanjak ke atas, tapi bukan ke atas bukit — ke atas menuju sesuatu yang jauh lebih besar dan menakutkan dari apa pun yang pernah kulihat. Bangunan di sekeliling kami makin menjulang tinggi, dinding-dindingnya dari batu hitam yang berkilauan samar, seolah menyimpan ribuan rahasia di dalamnya. Tidak ada suara langkah kaki orang lain, tidak ada suara apa pun. Hanya napas kami sendiri yang terdengar terlalu keras di keheningan itu.
"Jangan menatap ke atas terlalu lama," bisik Orion pelan, tanganku digenggamnya erat di balik lipatan jubah. "Menara itu punya cara sendiri membuat orang merasa kecil sampai lupa kenapa mereka datang."
Aku menunduk sedikit, menatap batu-batu di bawah kakiku yang halus seperti kaca namun dingin sekali. "Kau pernah datang ke sini setelah dikutuk?"
"Tidak pernah," akunya jujur, suaranya rendah. "Selama ribuan tahun aku menjauh. Setiap kali aku melihat siluet istana dari kejauhan, aku ingat hari itu... hari saat ibuku dibunuh di depan mataku. Hari saat aku dikutuk dan diusir seolah aku bukan bagian dari tempat ini."
Aku berhenti sejenak, menarik tanganku lalu memegang kedua lengannya. Dia menunduk, napasnya sedikit memburu.
"Kau tidak perlu kuat sendirian sekarang, Orion. Aku di sini. Kita hadapi ini berdua, ingat?"
Dia mengangguk pelan, menarik napas panjang seolah sedang mengumpulkan sisa keberaniannya. "Terima kasih. Kadang aku lupa... aku tidak lagi berjalan sendirian."
Kami berjalan lagi, dan tak lama kemudian gerbang istana itu tampak jelas di depan mata. Luar biasa besar — dua pilar batu hitam yang menjulang sampai menghilang di langit gelap, diapit oleh dua patung raksasa yang bentuknya seperti burung elang tapi matanya berkilau merah samar. Gerbangnya sendiri terbuat dari logam hitam pekat yang mulus, tidak ada pegangan, tidak ada kunci. Hanya permukaan datar yang memantulkan bayangan kami berdua yang terlihat begitu kecil di hadapannya.
"Ini dia," gumam Orion, suaranya bergetar sedikit. "Pintu utama. Konon hanya terbuka bagi mereka yang diizinkan masuk oleh raja, atau bagi mereka yang berani memanggil namanya dengan hati yang benar-benar teguh."
"Kau tahu caranya?"
Dia mengangguk, lalu melangkah maju selangkah, meninggalkan aku sedikit di belakangnya. Dia berdiri tegak, bahunya lurus, dan dengan suara yang tidak lagi berbisik tapi jelas dan lantang, dia berseru:
"Aku adalah Orion, putra Valdris. Aku datang bukan untuk meminta izin, tapi untuk menuntut kebenaran yang disembunyikan terlalu lama. Buka pintu ini, atau biarkan aku yang masuk sendiri."
Tidak ada jawaban. Hening. Lalu perlahan, permukaan pintu itu bergetar pelan. Garis-garis halus mulai muncul di tengahnya, membelah pintu raksasa itu menjadi dua bagian yang perlahan terbuka ke dalam. Cahaya keemasan yang redup namun hangat menyelinap keluar, menyambut kami.
Saat pintu terbuka sepenuhnya, di ambang pintu itu berdiri sesosok bayangan tinggi. Bukan Valdris, tapi seseorang yang kukenal — atau setidaknya, suaranya.
"Kau terlambat, Pangeran," ucap sosok itu pelan. Saat dia melangkah maju, aku melihat wajahnya. Itu Elara. Wanita yang dulu pernah merawat rumah kecil kami di lembah. Dia tersenyum, tapi senyumnya sedih. "Aku sudah menunggu sejak kabar kalian meninggalkan hutan purba sampai ke sini. Raja tahu kalian datang. Dia sengaja membiarkan pintu ini terbuka."
Orion mengerutkan kening. "Dia tahu?"
"Valdris tidak bodoh, Orion. Dia tahu setiap inci tanah di kerajaannya. Dia membiarkan kalian masuk karena dia ingin melihat sendiri... seberapa jauh keberanian yang tumbuh di dalam dirimu. Dan siapa wanita yang berani menyeberangi dua dunia hanya untuk berdiri di sisimu." Elara menatapku, matanya lembut tapi penuh peringatan. "Hati-hati di dalam sana. Dia tidak akan langsung menyerang. Dia akan berbicara dulu. Dan kata-katanya lebih tajam daripada pedang mana pun."
"Mengapa kau membantu kami?" tanyaku, tidak mau percaya begitu saja.
Elara tersenyum tipis. "Karena aku juga pernah kehilangan seseorang yang kucintai karena kekejamannya. Aku tidak ingin cerita yang sama terulang lagi. Sekarang masuklah. Waktu kalian sangat sedikit. Setelah kalian melihat Kitab Keseimbangan, kalian harus keluar sebelum bulan mencapai puncaknya. Kalau tidak... pintu ini akan menutup dan tidak akan terbuka lagi untuk kalian."
Kami melangkah masuk. Lorong di dalam istana itu luas sekali, dindingnya berkilauan dengan cahaya lembut yang datang dari mana saja dan tidak ada sama sekali. Tidak ada jendela, tapi tidak terasa pengap. Di kedua sisi lorong ada pintu-pintu besar yang tertutup rapat, dan di ujung lorong terlihat tangga lebar yang naik ke atas, menuju ruangan yang paling terang di seluruh bangunan itu.
"Puncak Cahaya ada di atas," bisik Orion, menggenggam tanganku lagi. "Di ruang takhta. Di sana tepat di bawah kubah langit istana, tempat cahaya bintang jatuh lurus ke bawah."
Saat kami sampai di puncak tangga, aku menahan napas. Ruangan itu begitu megah sampai aku nyaris lupa bernapas. Kubahnya tinggi sekali, di langit-langit terbuka langit bertabur bintang terang. Di tengah ruangan berdiri takhta dari batu hitam berkilauan, dan di sana dia duduk — Valdris.
Dia terlihat mirip dengan Orion, tapi jauh lebih tua, matanya lebih tajam dan dingin, tidak ada sedikit pun kehangatan di sana. Dia mengenakan jubah hitam yang bermotifkan bintang-bintang pudar, dan di tangannya dia memegang sebuah tongkat yang ujungnya memancarkan cahaya gelap yang perlahan berdenyut seperti detak jantung.
Dia tidak terkejut melihat kami. Dia bahkan tersenyum — senyum yang membuat tulangku dingin.
"Selamat datang, anakku," suaranya bergema di seluruh ruangan, seolah datang dari dinding itu sendiri. "Dan selamat datang, gadis kecil dari dunia cahaya. Aku kira kau akan lebih takut untuk datang ke sarang singa ini."
Orion berdiri di depanku sedikit, tapi tidak mundur. "Kami tidak datang untuk bertarung, Ayah. Kami datang untuk Kitab Keseimbangan. Biarkan kami membacanya, dan kami akan pergi."
Valdris tertawa pelan, suara yang terdengar seperti batu-batu yang bergesekan. "Kau pikir aku menyimpannya di rak seperti buku dongeng anak-anak? Kitab itu bukan mainan, Orion. Ia ada di sini, di ruangan ini. Tapi kau harus berjuang untuk melihatnya. Bukan dengan pedang. Tapi dengan kebenaran. Katakan padaku: apa yang sebenarnya kau cari di balik semua ini? Kebenaran... atau alasan untuk membenci ayahmu sendiri?"
"Aku mencari keadilan," jawab Orion tegas, suaranya tidak goyah sedikit pun. "Dan aku mencari kebebasan. Bagi kami berdua, dan bagi rakyatmu yang hidup dalam ketakutan."
Valdris berdiri perlahan, dan seketika itu suhu di ruangan itu turun drastis. Bayangannya memanjang di lantai, seolah punya nyawa sendiri.
"Kau pikir kebebasan itu gratis? Kau pikir jika kau mengubah takdir yang sudah tertulis ribuan tahun lalu, tidak akan ada yang berbayar mahal? Ramalan itu mengatakan salah satu dari kalian akan hancur. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi di bawah kepemimpinanku. Jika harus memilih antara kehilangan anakku atau kehilangan seluruh kerajaanku... aku tahu mana yang akan kupilih."
"Kalau begitu pilihlah yang benar," potongku tiba-tiba, suaraku bergetar tapi aku melangkah maju berdiri di samping Orion. "Karena kalau kau mencelakai kami, kau tidak akan kehilangan saja anakmu. Kau akan kehilangan seluruh masa depan kerajaannya. Orang tidak takut selamanya, Raja Valdris. Suatu hari mereka akan berani juga menatapmu dan berkata: Cukup."
Valdris menatapku tajam sekali, matanya menyala merah samar. Tapi sebelum dia sempat berbicara, cahaya di tengah ruangan itu tiba-tiba memudar. Di lantai tepat di antara kami dan dia, muncul garis-garis cahaya keemasan yang membentuk lingkaran besar. Di tengah lingkaran itu, udara bergetar, dan sebuah bungkusan kain tua melayang perlahan turun ke bawah — tepat di antara kami bertiga.
Kitab Keseimbangan.
Valdris menatapnya terkejut, lalu menatap kami. "Siapa yang memanggilnya turun?"
"Bukan kami," jawab Orion pelan, matanya terbelalak takjub. "Sepertinya... kitab itu sendiri yang memutuskan waktunya."
Valdris meraih tongkatnya, siap melangkah maju. Tapi lingkaran cahaya itu menyala terang seketika, menahannya di tempat. Dia berhenti, terkejut, lalu menatap kitab itu dengan mata yang menyipit curiga.
"Buka," katanya dingin. "Buka dan lihatlah apa yang tertulis di sana. Mungkin kalian akan menyesal datang sejauh ini."
Orion melangkah maju, tangannya gemetar saat dia menyentuh kain pembungkus itu. Dia membukanya perlahan, dan di bawah cahaya bintang yang jatuh lurus ke bawah, halaman pertama kitab itu terbuka sendiri. Tulisan di dalamnya bersinar terang, bukan ditulis dengan tinta, tapi seperti terbentuk dari cahaya itu sendiri.
Aku mencondongkan tubuh sedikit, membaca baris pertama yang tertera di sana:
"Takdir bukanlah rantai yang mengikat, melainkan pintu yang menunggu dibuka. Dan kuncinya bukanlah kekuatan atau pengorbanan — melainkan keberanian untuk memilih jalan yang belum pernah ada sebelumnya."
Valdris terdiam. Matanya menyapu tulisan itu, dan untuk sesaat aku melihat sesuatu di wajahnya yang belum pernah kulihat sebelumnya — keraguan.