"Saya tidak sedang berusaha menghukum kamu, dan saya juga tidak peduli kamu ini OB, kuli, atau apa pun. Saya butuh seorang suami dalam waktu cepat, dan kamu butuh uang untuk biaya rumah sakit ibumu. Sederhana, kan?"
"Tapi pernikahan bukan transaksi main-main seperti ini, Bu!" sergah Mirza, untuk pertama kalinya memberanikan diri menatap mata sang CEO dengan nada protes yang agak meninggi.
Alana terpaksa menikah kontrak dengan seorang Cleaning Service di perusahaanya agar bisa terlepas dari perjodohan orang tuanya. namun ketika hubungan kontrak itu berubah menjadi perasaan cinta, mampukan mereka mengganti komitmen dan bersatu atas nama cinta? atau berakhir sebagai ikatan kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menolak Bantuan Alana
***
"Enggak, Alana. Saya enggak mau," tolak Mirza tegas tanpa keraguan sedikit pun.
Dia mendorong pelan amplop surat pengunduran dirinya lebih dekat ke arah Alana.
"Saya enggak mau dapat pekerjaan cuma karena bantuan atau belas kasihan dari kamu," lanjut Mirza dengan suara tenang namun menohok.
"Saya ini cuma tamatan SMP. Jadi saya bakal kerja sesuai dengan kemampuan dan ijazah yang saya punya."
Alana tertegun, bibirnya terkatup rapat.
"Tapi Mirza—"
"Saya sudah hubungi teman saya yang punya bengkel," potong Mirza cepat.
"Mulai besok saya mau kerja di sana saja. Selain cuma bisa bikin kopi di kantor ini, saya juga paham soal urusan mesin dan ngurusin bengkel. Dan yang paling penting ...."
Mirza menatap lurus ke dalam manik mata Alana, sorot matanya berkilat penuh harga diri.
"...saya mau buktikan sama orang tua kamu, kalau laki-laki tamatan SMP ini juga mampu kasih makan dan nafkahi anaknya pakai uang hasil keringat sendiri."
Alana hanya diam terpaku. Tenggorokannya mendadak tercekat. Keangkuhan dan segala niatnya untuk menolong mendadak hancur berkeping-keping di hadapan tekad bulat pria di depannya ini.
Mirza menghela napas pelan, merapikan letak seragamnya untuk terakhir kali.
"Saya pamit keluar dulu. Surat resign-nya tolong diproses."
Mirza berbalik melangkah menuju pintu. Namun, tepat di ambang pintu, langkahnya terhenti. Pria itu menoleh ke belakang, menyipitkan mata menatap Alana dengan sunggingan senyum tipis, sebuah kilatan kejahilan yang sudah lama hilang dari wajahnya.
"Oh iya, Bu CEO ...." goda Mirza dengan nada jahil.
"Jangan kangen ya kalau saya udah enggak ada di sini. Nanti kalau ruangan kamu kotor, minta tolong sama OB yang lain aja, enggak usah cari-cari saya."
Pipi Alana seketika memerah merona.
"Mirza! Maksud kamu apa?!"
"Kan jam temu kita cuma berlaku pas malam hari di rumah," tambah Mirza santai sambil menaikkan sebelah alisnya, lalu terkekeh pelan melihat reaksi istrinya.
"Mirzaaa! Jangan ngaco ya kamu!" teriak Alana melengking, wajahnya sudah memerah sempurna karena malu setengah mati.
Tanpa mempedulikan teriakan panik Alana, Mirza tertawa kecil lalu bergegas keluar dan menutup pintu ruangan CEO rapat-rapt, meninggalkan Alana yang berdiri mematung sambil menggigit bibir bawahnya, menahan rasa malu sekaligus debaran asing yang mendadak menyerang dadanya.
Alana memegang dadanya yang berdegup kencang, mengatur napasnya yang mendadak memburu setelah kepergian Mirza. Bayangan senyum tipis dan godaan pria itu masih tertinggal jelas di ingatannya. Untuk pertama kalinya setelah hari-hari kelam penuh duka dan pertengkaran, Alana melihat sedikit pendar kehidupan di mata Mirza.
"Dasar OB edan!" umpat Alana pelan pada pintu yang sudah tertutup, meski bibirnya sendiri tak mampu menahan sunggingan senyum tipis yang terukir tipis.
Namun, senyum itu perlahan pudar begitu tatapannya jatuh pada amplop putih di atas meja kerjanya. Surat pengunduran diri Mirza.
Alana mengambil amplop tersebut dan menggenggamnya erat. Hatinya mencelos. Mirza benar-benar mantap untuk keluar dari perusahaan ini dan bekerja di bengkel. Pria itu menolak semua bentuk bantuan finansial atau koneksi darinya demi mempertahankan harga diri sebagai seorang laki-laki.
"Tamatan SMP juga bisa kasih makan anak orang ...." bisikan kata-kata Mirza tadi kembali bergema di telinganya.
Alana mendesah berat, lalu menyandarkan tubuhnya di kursi. Di satu sisi, ada rasa bangga dan kagum yang tak bisa dia pungkiri terhadap ketegasan Mirza. Namun di sisi lain, ketakutan baru menyusup ke dalam benaknya. Jika Mirza bekerja di luar jangkuannya, interaksi mereka di kantor akan hilang sepenuhnya. Satu-satunya ikatan yang tersisa hanyalah rumah kontrakan kecil itu dan status pernikahan yang masih gantung.
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruangan terbuka tanpa menunggu jawaban, memunculkan kepala Shiren dari balik pintu.
"Al? Tadi gue dengar lo teriak-teriak? Lo kenapa? Eh, tadi Mirza baru keluar dari sini kan? Muka dia kok tumben kelihatan agak santai?"
Alana buru-buru menyembunyikan amplop surat resign di bawah tumpukan dokumen lain, lalu berusaha bersikap senormal mungkin.
"Gak ada apa-apa. Lo ngapain ke sini lagi?"
Shiren melangkah masuk sambil menatap sahabatnya curiga.
"Lo gak usah bohong ya, pipi lo merah gitu. Habis diapakai sama suami lo?"
"Shiren! Jaga mulut lo ya!" cetus Alana galak, memelototi sekretarisnya.
"Hahaha, ya lagian muka lo mencurigakan banget," kekeh Shiren. Tapi raut wajahnya mendadak berubah agak serius.
"Eh, BTW, soal gosip di bawah ... anak-anak kantor udah mulai agak kicep gara-gara gertakan lo di lobi tadi. Tapi jujur aja, gue masih kasihan sama Mirza. Lo beneran mau biarin dia kerja jadi OB terus di sini?"
Alana menatap Shiren lama, lalu memotong pelan.
"Dia udah ajuin surat resign, Ren."
Shiren terbelalak kaget.
"Hah?! Beneran? Terus lo izinin?"
Alana mengangguk pelan.
"Dia mau kerja di bengkel temannya. Dia menolak gue carikan kerja di tempat lain."
Shiren menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis sembari menggeleng-gelengkan kepala.
"Tipikal Mirza banget. Dia punya harga diri yang tinggi, Al. Bagus deh kalau dia keluar, daripada makin batin di sini kena julid anak-anak. Tapi ...." Shiren memiringkan kepala, menatap Alana jahat.
"... itu artinya lo gak bisa tebar pesona lagi di kantor, dong?"
"Siapa yang tebar pesona?!" sergah Alana cepat.
"Alah, ngaku aja lo pasti bakal kangen liat dia lalu lalang bawa nampan kopi," goda Shiren lagi sambil terkekeh.
"Inget ya, nanti malam begitu pulang rumah, jangan gengsi lagi. Mulai bertindak jadi istri beneran kalau gak mau makin jauh dari dia!"
"Bawel lo! Udah sana keluar, gue mau kerja!" usir Alana sambil melempar pulpen ke arah Shiren.
Shiren tertawa puas lalu ngacir keluar dari ruangan CEO.
Ponsel Alana berdering nyaring di atas meja. Nama "Papa" tertera di layarnya. Dengan helaan napas berat dan raut malas, Alana menggeser tombol hijau.
"Ada apa lagi, Pa?" sapa Alana dingin.
"Nanti malam kamu sama Mirza datang ke rumah untuk makan malam," ujar Liam langsung dari seberang telepon, suaranya terdengar tegas namun ada nada lelah di sana.
"Ada hal penting yang mau Papa bicarakan."
"Alana sibuk, Pa. Kalau Papa cuma mau menyudutkan Mirza lagi kayak kemarin, mending enggak usah," potong Alana cepat.
"Ini yang terakhir, Alana," sela Liam pelan.
"Setelah makan malam nanti, Papa janji enggak akan pernah ikut campur lagi sama hidup kamu dan urusan pernikahan kamu. Papa cuma mau kita bicara baik-baik."
Alana mencengkeram ponselnya erat-erat.
"Oke. Tapi ingat ya, Pa ... kalau sampai Papa atau Mama menghina Mirza lagi nanti malam, Alana bakal langsung jalan keluar dan enggak akan pernah mau pulang lagi ke rumah itu!"
Tanpa menunggu jawaban Liam, Alana mematikan sambungan telepon. Ia mengusap wajahnya yang terasa panas, lalu mengetik pesan singkat untuk Mirza.
Nanti pulangnya tungguin saya, kita pulang bareng. Mlm ini kita harus ke rumah orang tua saya buat makan malam.
Di pantry kantor, ponsel Mirza yang tergeletak di atas meja berdenting pelan. Layarnya menyala, menampilkan notifikasi pesan masuk dari Alana.
Mirza yang sedang sibuk merapikan cangkir tidak menyadarinya, namun Nilam yang berdiri di dekat sana refleks melirik layar ponsel tersebut dan membaca isi pesannya.
"Cemburu banget ya ternyata ...." gumam Nilam pelan sambil bersedekap.
Mirza menoleh, mengerutkan dahi.
"Maksud kamu apa, Nilam?"
"Itu, pesan dari Bu Alana," tunjuk Nilam dengan dagunya.
"Masa kamu disuruh nemenin makan malam ke rumah orang tuanya lagi? Padahal orang tuanya pasti mau menyudutkan kamu kayak kemarin."
Mirza mendesah pelan, menyambar ponselnya.
"Ya mau gimana lagi."
"Tapi setidaknya kamu tenang aja, Za," lanjut Nilam dengan senyum tipis.
"Bu Alana pasti pasang badan buat membela kamu. Kayaknya dia emang sudah jatuh cinta deh sama kamu."
Mirza tertawa tipis, menggelengkan kepala.
"Ngaco kamu. Enggak mungkinkah."
"Kok enggak mungkin?" sergah Nilam tak mau kalah.
"Kamu lihat sendiri kan tadi pagi? Dia melarang aku dekat-dekat sama kamu, dia cemburu tuh! Terus dengan berani dia ngumumin status kalian di depan semua staf kantor. Kalau bukan karena mulai cinta, terus apa namanya?"
"Dia cuma jaga gengsi dan asetnya, Nilam," sahut Mirza datar, berusaha menepis getaran aneh di dadanya.
"Enggak mungkin orang sekelas Alana bisa suka sama OB kayak saya."
"Muka lo tuh ya, Za ... kalau lagi denial kelihatan banget!" celetuk Nilam sambil terkekeh geli, menepuk pelan bahu Mirza.
"Cewek mana yang bela-belain hancurin reputasinya sendiri di depan ratusan karyawan cuma demi nahan emosi? Kalau bukan cewek yang lagi cemburu setengah mati?"
Mirza menghentikan aktivitasnya merapikan nampan. Kata-kata Nilam merambat masuk ke benaknya, menautkan kepingan kejadian demi kejadian sejak tadi pagi. Wajah memerah Alana pas melarang staf cewek dekat-dekat dengannya, tatapan paniknya waktu menyuruh Mirza diam di lobi, sampai gertakan wanita itu ke orang tuanya, semua mendadak terasa masuk akal.
"Udah ah, jangan ngomong sembarangan. Mending kamu balik ke meja kerja kamu," potong Mirza cepat, buru-buru membalikkan badan untuk menyembunyikan wajahnya yang mendadak tegaag.
"Yee ... dikasih tahu malah ngusir," cibir Nilam bercanda, lalu melangkah keluar pantry.
"Ingat kata aku ya, Za! Jangan terlalu dingin sama dia, nanti kalau dia udah cape dan nyerah, kamu sendiri yang nyesel."
Pintu pantry tertutup. Mirza berdiri mematung di depan wastafel, menatap layar ponselnya yang kini meredup. Jemarinya ragu-ragu mengetik balasan untuk Alana.
Iya, nanti saya tunggu di parkiran.