Empat tahun lamanya mengarungi bahtera rumah tangga, dan tepat di ulang tahun pernikahan yang seharusnya disambut bahagia, Arjanti harus menelan kecewa, dipaksa memberi izin suaminya menikah lagi.
Mertuanya terus menekan, melimpahkan kekurangan ada pada dirinya yang tak kunjung hamil, sementara mereka ingin segera menggendong cucu.
Sang suami yang awalnya menentang keras saat dipaksa menikah lagi, lama kelamaan setuju dengan alasan ingin menimang anak.
Pada akhirnya, Arjanti harus berbagi suami. Tinggal satu atap dengan wanita bermuka dua, berambisi menjadi istri tunggal.
Lantas, bagaimana kehidupan Arjanti pasca pria yang dicintai segenap jiwa itu menghadirkan wanita lain selain dirinya?
Apa benar kalau dia memang mandul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMWI : 10
“Lantas, apa sopan ikut campur, mengomentari aku yang statusnya lebih tinggi dari putrinya itu?” tanyanya balik. Tak terdengar suara gemetar, sorot mata pun tetap tenang dengan gestur berdiri tegak.
“Udah pinter ngejawab ya, kamu!” Darti membela besannya. Tidak terima Tanira ditantang wanita muda. Terlebih berstatus menantunya.
Arjanti memfokuskan perhatian penuh ke wanita berambut sebagian telah memutih. Wajah mulai dimakan keriput bukti telah menua. “Bu, aku bukan robot yang terus-menerus menurut meski kerap kali kalian sindir, caci maki. Aku juga punya hati!”
“Empat tahun, selama aku tinggal disini, apa pernah kalian benar-benar memperlakukan aku selayaknya menantu? Pernah?” tanyanya ulang.
Ditatap lekat, wajahnya terasa panas dengan perasaan tak nyaman, namun kala lh oleh ego. “Gak semudah itu menjadi menantu keluarga Doko. Jodoh putra semata wayangku harus sederajat. Sementara kamu anak orang miskin, pendidikan pun cuma lulus SMA.”
“Kalau memang karena derajat yang kalian agung-agungkan, kenapa sedari awal dulu memutuskan memberi restu?” dia butuh semua jawaban tentang pertanyaan mengendap di hati.
Selama ini Janti lebih banyak diam meski hatinya memberontak. Semua itu karena bakti, dan cinta besar teruntuk sang suami.
“Ya karena Herlan terlanjur kamu racuni otaknya. Sengaja dirimu menggodanya, biar bisa bersuamikan pria kaya, ngaku!” Darti pun meluapkan rasa kesal menumpuk dalam hati.
Tawa sumbang Arjanti memenuhi ruangan seketika senyap. “Jangan membalikkan fakta, Bu. Mas Herlan lah yang mengejar Janti. Sudah ditolak berulang kali pun dia tetap datang, terus datang, bahkan memohon ke orang tuaku.”
“Bukan aku yang murahan, apalagi menggodanya, namun anak kalian lah yang menjatuhkan pilihan atas kesadaran diri sendiri,” Janti berkata dengan gestur angkuh. Kenyataannya memang seperti itu.
“Itu karena dia belum sadar sudah beli Kucing dalam karung. Herlan kira kamu wanita sempurna, nyatanya mandul. Sudah gitu mana miskin, bisanya morotin uang anakku saja!” hina sosok bergelar ibu.
“Bu, adanya anak itu atas seizin Tuhan. Mungkin saja aku belum diberi anugerah istimewa tersebut bukan sebab mandul, tetapi karena memiliki ibu mertua yang tidak bisa menghargai orang lain, sementara dirinya menuntut dihormati. Allah masih menunda, bisa jadi kasihan melihat nasibku semisal hamil, melahirkan keturunan keluarga yang apa-apa diukur dari status sosial, harta,” ungkapnya membela diri.
Sepasang mata Darti seperti mau copot dari rongganya saking lebar dia melototi Janti. Bibir berwarna coklat gelap itu bergerak-gerak, namun tak ada satu patah katapun yang keluar.
“Aku permisi!” Janti berbalik badan.
“Kamu jangan pergi! Siapa yang mau ngurus istriku nanti?” cegah Doko.
Arjanti menggeser badan sampai menghadap ke pria menatap tajam, seolah mengancam — Jangan berani kamu bongkar perselingkuhanku.
“Sudah menjadi tugas seorang suami mengurus istrinya yang sakit, begitu pula sebaliknya. Kebetulan hari ini hari Minggu, toko bangunan tutup. Jadi, gak ada alasan mau memeriksa barang masuk, ada masalah dengan pekerja, nagih hutang ke customer. Assalamualaikum.” Dia tidak lagi mau menanggapi, berlalu dengan langkah mantap, punggung tegak, dan dagu terangkat.
Tidak ada yang menjawab salam itu. Terutama Tanira. Dia tersinggung oleh sindiran tajam tadi.
“Jeng, mulai sekarang hati-hati deh. Takutnya si Janti berniat jahat ke kamu,” ucapnya lirih dengan mimik muka merasa was-was.
Perlahan emosi Darti tergantikan oleh rasa penasaran akut. “Maksudnya, Jeng?”
Tanira memandang ruang kosong di mana tadi masih terlihat punggung Arjanti. “Apa jeng Darti gak lihat gimana bengisnya sorot mata Janti? Seperti menyimpan rencana sadis. Aku jadi keinget berita-berita viral di media sosial — menantu menghabisi ibu mertuanya, ngasih racun, dan masih banyak lagi cara kejam itu.”
Bukan hanya Darti yang terkejut, Doko pun terbelalak. Mereka mulai terprovokasi dikarenakan menyadari kalau selama ini berlaku semena-mena ke sang menantu pertama.
“Kalau dia baik, kelewat baik malahan, jeng Darti dan pak Doko jangan langsung percaya, terlena, harus waspada! Biasanya orang seperti itu sedang merencanakan sesuatu,” lanjutnya bak seorang pembaca pikiran.
“Aku kok jadi ragu, takut ninggalin Saila seorang diri disini, Jeng. Apalagi tadi setelah melihat tatapan mengerikan si Janti. Sepertinya dia teramat membenci kita terutama istri muda suaminya. Arjanti itu tipikal orang pendendam.” Ia pun bergidik.
“Kamu tenang saja bu Tanira, Saila aman disini. Dia akan menjadi menantu kesayangan keluarga semisal bisa ngasih kami keturunan,” Doko meyakinkan sang besan.
“Kalau Janti berani macem-macem, aku bakalan jebloskan dia ke penjara!” timpal wanita yang masih sangat membutuhkan bantuan menantu baru saja dihina itu.
Tanira pun puas. Lantas menunduk menyembunyikan senyum penuh maksud terselubung.
***
Bukan pasar tujuannya, Janti pergi ke mal besar di kota kabupaten, setengah jam perjalanan dari rumah keluarga Doko.
Sebelum masuk ke bangunan bertingkat 6, terlebih dahulu Janti menarik uang di mesin ATM terletak di tempat yang sama namun beda lantai.
Dengung suara mesin menghitung lembaran uang, terdengar seperti melodi menenangkan hati serta pikiran.
“Rasanya seperti ini ya jadi perempuan yang lebih mementingkan duit daripada cinta? Harum uang pun seperti menghirup roti beraroma kopi.” Dia sampai memejamkan mata membayangkan roti bulat itu.
Sepuluh juta rupiah pun sudah berpindah masuk ke dalam tas bahu. Janti senyum-senyum sendiri melangkah masuk ke dalam mal.
“Aku merasa seperti orang kaya. Gak ada beban pikiran, selagi pegang uang merah-merah.” Janti sampai menutupi mulut saking gak bisa menahan menahan senyum.
Wanita yang belum puas menikmati masa muda dikarenakan keburu menikah, sekarang bak gadis remaja keluar masuk toko pakaian, aksesoris, tanpa benar-benar berniat membeli.
Kemudian wanita berpakaian sederhana namun rapi itu masuk ke dalam restoran ramen. Dia ingin mencoba menu mie pedas, minumnya jus alpukat.
Baru saja duduk di sofa cukup dua orang bersebelahan dengan dinding bergambar mangkuk dan ramen, ponselnya sudah meraung-raung.
Janti lebih dulu memesan menu yang membuatnya penasaran akan cita rasa, tidak ketinggalan jus buah.
Panggilan ketiga kali yang masuk ke ponsel butut itu pun diangkat.
“Kamu dimana, Janti? Dosa hukumnya kalau keluar rumah tanpa seizin suami!”
.
.
Bersambung.
suatu hari nanti si Herlan akan menyesal karena udh menyia2 kan kamu Janti
pasti tu anak yg dikandung saila bukan anak si Herlan
bukan Janti yg salh tapi si Herlan lh tak bisa memberikan keturunan