Song Qian adalah keturunan Dewa Leluhur Qing Tian yang lahir dari Menara Qian Kun setelah Tiga Alam diciptakan pada 70 ribu tahun yang lalu. Kelahirannya dianggap sebagai berkah bagi Tiga Alam. Song Qian berguru kepada Qian Gu untuk menguasai tiga elemen kekuatan semesta yang sudah ia miliki sejak lahir.
Namun, Qian Gu dan Song Qian tidak tahu apa saja rintangan yang akan menghampiri mereka di masa depan. Seiring berjalannya waktu, mereka berdua mulai jatuh cinta. Banyaknya rintangan membuat mereka harus berjuang bersama-sama untuk terus bersatu dan melindungi Tiga Alam bersama dengan Dewa Agung lainnya serta melindungi cinta di hati mereka.
Apakah Song Qian dan Qian Gu dapat mencapai tujuan mereka untuk melindungi Tiga Alam sekaligus cinta di hati mereka atau mereka harus mengorbankan segalanya untuk memberikan kedamaian bagi Tiga Alam? Ikuti terus kisahnya!
Dilarang menjiplak novel ini!!!
IG : @bellakristyc_
E-mail : bellakristyc@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membersihkan Halaman Istana
Kemampuan Membaca Pikiran dan Rahasia Latihan Tanpa Suara
"Aku tidak berani. Mohon maafkan aku karena telah terlambat, Kak Qian Gu," jawab Song Qian seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam, memancarkan rasa penyesalan yang jujur karena gagal datang tepat waktu di hari pertamanya.
Qian Gu menatap murid tunggalnya itu selama beberapa saat. Angin pagi yang berhembus lembut memainkan ujung gaun putih murninya, menyapu kesunyian taman Istana Chao Sheng.
"Hari ini aku maafkan kesalahanmu," sahut Qian Gu pelan namun sarat akan ketegasan yang tak boleh dibantah. "Namun, jangan sampai kau mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya."
Song Qian perlahan mengangangkat kepalanya, menatap lurus ke dalam manik mata gurunya. "Aku mengerti. Aku berjanji tidak akan pernah datang terlambat lagi."
Qian Gu mengedarkan pandangannya ke arah perbekalan sederhana yang dibawa Song Qian, lalu bertanya dengan raut penasaran, "Apakah kau tidak berniat memindahkan barang-barang pribadimu dan menetap di istana ini?"
Song Qian mengarahkan pandangannya ke sekeliling bangunan megah Istana Chao Sheng seraya mengusap tengkuknya dengan wajah bingung. "Lagi pula... di istana ini memang tidak ada kamar tidur yang disiapkan untukku, kan? Buat apa aku repot-repot memindahkan seluruh barangku ke sini jika pada akhirnya aku tetap harus kembali tidur di Istana Chang Yuan?"
Qian Gu menghela napas tipis, menyunggingkan senyuman samar. "Terserah kau saja. Untuk tugas pagi ini, kau hanya perlu belajar menyapu halaman depan istana ini sampai benar-benar bersih dari dedaunan kering yang berguguran."
Tanpa menunggu sanggahan dari Song Qian, Qian Gu membalikkan badan dan melangkah anggun masuk ke dalam kediamannya.
"Baik, aku mengerti..." gumam Song Qian pasrah.
Song Qian melangkah menuju pelataran utama dan menghampiri Feng Ri. Ia mengulurkan tangannya, meminta sapu ijuk berpegangan bambu surgawi yang dipegang erat oleh pelayan setia itu. Namun, Feng Ri tidak serta-merta menyerahkan sapu tersebut.
"Feng Ri, tolong ajarkan padaku bagaimana cara menyapu yang baik dan benar seperti yang diperintahkan Kak Qian Gu," pinta Song Qian dengan nada bersahabat.
"Akan saya contohkan terlebih dahulu, Dewa Agung Song Qian. Tolong perhatikan baik-baik," sahut Feng Ri ramah.
Feng Ri mulai memperagakan gerakan menyapu. Ayunan tangannya begitu gemulai, berirama, dan sangat efisien. Sapuan ijuk bambu itu mendorong tumpukan daun kering mengalir mulus tanpa menerbangkan debu sedikit pun, hingga seluruh dedaunan terkumpul rapi di sudut kanan taman.
"Sekarang, giliranmu untuk mencobanya, Dewa Agung Song Qian," ucap Feng Ri seraya menyodorkan gagang sapu tersebut dengan kedua tangannya.
Sebagai dewa muda yang dianugerahi kecerdasan luar biasa, Song Qian langsung mampu menirukan teknik menyapu tersebut secara sempurna hanya dengan satu kali pengamatan. Gerakan tangannya menyapu daun-daun kering mengalir begitu lancar. Akan tetapi, begitu ia selesai membersihkan sudut taman dan melihat betapa luasnya hamparan pelataran Istana Chao Sheng yang masih tertutup daun, rasa malas dan lelah seketika menyerang seluruh persendian tubuhnya.
Jika aku harus menyapu seluruh halaman raksasa ini sendirian, lenganku bisa patah sebelum siang! batin Song Qian bergejolak licik.
Dengan akal cerdiknya, Song Qian sengaja menjatuhkan tubuhnya ke atas rumput taman seraya mengerang kesakitan. "Aaaakh! Kakiku... aduh, sakit sekali!"
Feng Ri yang melihat hal itu seketika panik setengah mati. "Dewa Agung Song Qian! Kenapa kau bisa terjatuh?!"
Dengan cemas, Feng Ri bergegas memapah tubuh Song Qian dan membantunya duduk di atas kursi batu taman. Karena merasa kasihan dan tidak tega melihat sang Dewa Agung kesakitan, Feng Ri akhirnya mengambil alih sapu tersebut dan melanjutkan tugas menyapu halaman depan sendirian.
Song Qian menyandarkan punggungnya di kursi batu seraya tersenyum puas di dalam hati. Namun, kemenangan kecil itu tidak berlangsung lama.
Langkah kaki halus mendadak terdengar dari arah balik pilar. Qian Gu berjalan mendekat, lalu mengambil tempat duduk tepat di samping murid satu-satunya itu. Sorot mata tenang Sang Mahadewa Semesta menatap lurus ke arah pemandangan taman di depan mereka.
"Jika kau memang tidak mau bersusah payah membersihkan halaman istana ini... setidaknya ingatlah satu hal, Song Qian," tutur Qian Gu dengan nada suara yang amat tenang namun sangat dingin. "Aku masih bersabar menghadapi kelakuanmu karena aku sangat menghargaimu sebagai seorang Dewa Agung."
DESSS!
Perkataan sederhana itu seketika membuat seluruh bulu kuduk Song Qian bergidik ngeri! Rasa dingin menusuk sampai ke tulang belakangnya. Ia menoleh perlahan, menatap wajah Qian Gu dengan mata terbelalak kaget setengah mati.
"Kau... kau bisa membaca isi pikiranku?!" seru Song Qian dengan nada suara yang bergetar panik.
Song Qian menyadari kebenaran yang mengerikan: pura-pura jatuh dan erangan kesakitannya tadi sama sekali tidak sanggup mengelabuhi gurunya! Qian Gu telah membaca seluruh niat licik di dalam benaknya sejak awal!
Qian Gu memalingkan wajahnya, menatap langsung ke dalam manik mata Song Qian yang panik. "Kau harus berlatih dengan sangat tekun jika ingin menguasai ilmu membaca isi pikiran orang lain."
Song Qian meneguk ludahnya yang terasa pahit, lalu menundukkan kepala. "Baik, Kak Qian Gu... Aku berjanji akan berlatih dengan sangat tekun mulai dari sekarang."
"Sebelum kau mulai berlatih ilmu sihir," potong Qian Gu seraya bangkit berdiri dari kursi batu, "kau harus menyelesaikan tugas membersihkan istana ini sampai benar-benar bersih. Jika sudah selesai, kau diizinkan beristirahat selama sepuluh menit di tempat ini."
Qian Gu membalikkan badan dan memanggil Feng Ri untuk memberikan instruksi tugas berikutnya.
Feng Ri melangkah mendekati Song Qian seraya membawa sebuah gembor atau penyiram tanaman dari tembaga murni yang terisi penuh oleh air surgawi.
"Dewa Agung Song Qian, tugas selanjutnya adalah menyiram seluruh tanaman dan bunga-bunga di halaman belakang istana," ucap Feng Ri seraya menyerahkan gembor berat itu.
Song Qian menerima gembor itu dengan wajah masam. "Baiklah, aku akan menyiram semuanya sekarang juga. Kau bisa berdiri mengawasiku dari dekat supaya Kak Qian Gu merasa puas!"
Song Qian melangkah ke halaman belakang. Dengan menahan rasa kesal yang membakar dada, ia menyiram setiap jengkal tanaman dan Bunga Surgawi satu per satu—murni menggunakan tenaga fisiknya tanpa menyentuh atau menyalurkan sihir Tiga Elemen sedikit pun. Setelah seluruh tanaman belakang tersiram sempurna, Song Qian berjalan kembali menghampiri Feng Ri dan menyerahkan gembor kosong itu dengan kasar.
Feng Ri menatap raut wajah Song Qian yang datar namun menahan amarah yang meluap. Sebuah senyuman lebar nan ramah terkembang di wajah sang pelayan.
"Dewa Agung Song Qian, kau tidak perlu menyimpan rasa kesal kepada Yang Mulia," tutur Feng Ri lembut. "Segala hal yang beliau perintahkan ini murni dilakukan demi kebaikan dirimu sendiri."
"Kebaikan diriku?!" tembak Song Qian dengan nada suara yang meninggi, matanya menyala. "Apa manfaatnya bagi pertumbuhan kekuatan spiritualku hanya dengan menyapu dan menyiram tanaman di istana miliknya ini?!"
Feng Ri tidak membalas pertanyaan tajam itu. Ia hanya tersenyum misterius, mengambil gembor dari tangan Song Qian, lalu berbalik melangkah pergi meninggalkan halaman belakang.
Song Qian menghembuskan napas panjang yang amat berat. Ia kembali berjalan ke kursi batu taman, mendudukkan tubuhnya, lalu memangku dagunya dengan kedua tangan di atas meja giok. Benaknya dipenuhi perdebatan dan keraguan mendalam.
Selain karena dia menyandang gelar sebagai seorang Mahadewa Semesta... sebenarnya apalagi keistimewaan yang ia miliki hingga ketiga Dewa Agung lainnya begitu bersikeras memintaku untuk berguru padanya? Kemampuan hebat apa saja yang sebenarnya disembunyikan oleh Mahadewa Semesta itu? gerutu Song Qian dalam hati seraya berpikir keras.
"Apakah menyiram tanaman di istana ini terasa begitu membosankan dan melelahkan untukmu?"
Sebuah suara berat nan hangat mendadak bergaung tepat di belakang punggungnya!
"HUAAAKH!" Song Qian terperanjat hebat, melompat dari kursinya seraya mencengkeram dadanya dengan tangan kanan. "Kak Bai Yuan?! Kau benar-benar mengagetkanku!"
Melihat respon dramatis dari pemuda itu, raut wajah tampan Dewa Perang Bai Yuan berubah kaku dan datar. Ia menyadari suaranya telah membuat murid kesayangannya itu terkejut setengah mati.
"Maafkan aku, Song Qian. Aku sama sekali tidak bermaksud mengagetkanmu," ujar Bai Yuan lembut seraya melangkah dan duduk di kursi batu sebelah kiri Song Qian.
Song Qian menetralkan detak jantungnya, lalu menggeser duduknya mendekati Bai Yuan. "Kak Bai Yuan... sebenarnya kenapa Kak Qian Gu selalu bersikap begitu dingin? Dan bagaimana bisa dia tahu segalanya tentang apa yang ada di dalam pikiranku?"
Bai Yuan menatap hamparan Bunga Surgawi di taman, menghela napas panjang penuh kenangan. "Sikap dinginnya itu terbentuk karena ia telah menempuh dan melewati begitu banyak penderitaan pahit di masa lalu. Dan jika kau ingin tahu alasannya... dia menjadi seperti itu sebagian besar karena aku adalah gurunya."
"Tapi seorang guru dan murid tidak harus memiliki perangai yang persis sama, kan?" pangkas Song Qian dengan nada gusar. "Lagi pula, Kak Qian Gu sama sekali belum mengajariku satu pun jurus sihir hari ini!"
Bai Yuan tersenyum tipis, menatap Song Qian dengan pendar mata yang sangat dalam. "Sifat memang tidak harus sama. Namun, kemampuan membaca isi pikiran seseorang yang ia gunakan padamu tadi... adalah ilmu murni yang ia pelajari dariku di masa lalu. Mengenai anggapanmu bahwa ia belum mengajarimu apa pun... sebenarnya, Qian Gu sudah mulai menurunkan ilmunya padamu tanpa kau sadari."
Song Qian terbelalak kagum. "Wah! Kau sungguh luar biasa, Kak Bai Yuan! Jika kau begitu hebat, kenapa tidak kau saja yang menjadi guruku?!"
Bai Yuan terkekeh pelan, menghela napas panjang seraya menatap pemuda di sampingnya. "Song Qian... bukankah selama lima ratus tahun ini aku sudah selalu berada di sisimu, membimbing dan menemanimu melatih dasar-dasar kekuatan Tiga Elemenmu?"
"Tapi kau tidak pernah mengajariku cara untuk membaca pikiran orang lain!" protes Song Qian tidak mau kalah. "Aku juga sangat ingin mempelajari ilmu hebat itu darimu!"
Bai Yuan menatap wajah polos Song Qian dengan raut yang mendadak sangat serius.
"Kau pasti bisa mempelajarinya suatu hari nanti, Song Qian..." bisik Bai Yuan penuh rahasia. "...namun untuk sanggup menguasai teknik membaca pikiran itu, mungkin kau harus menunggu sekitar satu ribu tahun lagi."
Rahasia besar apakah yang tersembunyi di balik instruksi menyapu dan menyiram tanaman yang diberikan oleh Qian Gu?
Serangan mendadak seperti apakah yang akan dilayangkan oleh Sang Mahadewa Semesta besok pagi untuk membuktikan bahwa latihan fisik tanpa sihir Song Qian telah membentuk benteng pertahanan tubuh yang sempurna?
Bersambung.......
Halo semuanya, terima kasih sudah mampir ke novel ini. Kalau kalian suka dengan ceritanya, boleh kasih like, vote, tips, dan tambahkan novel ini ke favorit ya. Kalau ingin memberikan kritik dan saran, silakan tulis di kolom komentar ya. Ikuti terus kisah Song Qian sampai selesai.