Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.
Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.
Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 25
BAB 25
Langkah kaki Maya bergema cepat di atas lantai marmer lobi studio miliknya. Suasana kantor yang biasanya hening dan tertata rapi kini riuh oleh ketegangan yang membakar. Beberapa staf lalu lalang membawa tumpukan dokumen, sementara Dito berdiri di depan meja resepsionis dengan ponsel menempel ketat di telinga; wajahnya tegang dan dasinya sudah dilonggarkan.
"Batal? Tidak bisa begitu! Surat sanggahan kami sedang diproses!" bentak Dito melalui telepon sebelum mematikan sambungan dengan gusar. Ia mendongak dan menemukan Maya berdiri di hadapannya, membawa bungkusan kain kanvas berisi pelat kuningan setengah jadi.
"Maya! Nia! Akhirnya kalian sampai," ujar Dito seraya bergegas mengiringi langkah Maya menuju ruang kerja utama. "Serangan Victor kali ini sangat licik. Dia tidak hanya mengajukan klaim hak cipta atas pola kelim gaunmu, tapi juga menekan dewan juri untuk membekukan lisensi pendaftaran kita hingga proses verifikasi selesai."
Maya meletakkan bungkusan kuningan di atas meja kerjanya dengan hati-hati. Ia membuka lemari besi kecil di sudut ruangan, mengeluarkan berkas dokumen fisik riset garmen dua tahun lalu—lengkap dengan tanggal rilis, sketsa asli, dan bukti pengiriman sampel kain ke asosiasi tekstil.
"Ini bukti autentiknya, Dito," kata Maya tegas seraya menyerahkan bundel dokumen itu. "Clarissa bahkan belum meluncurkan lini busana pertamanya saat aku mematenkan pola potongan ini. Victor sengaja memanfaatkan celah waktu agar kita sibuk mengurus birokrasi dan kehabisan waktu menempa aksesoris loga untuk pengikat busana."
Dito menyambar dokumen itu, membaliknya cepat dengan tatapan lega. "Bagus. Ini lebih dari cukup untuk mematahkan klaim mereka di hadapan tim hukum dewan juri. Pengacara kita sudah menunggu di lantai bawah, aku akan turun sekarang untuk menyelesaikan draf sanggahan."
Dito melangkah menuju pintu, namun ia mendadak menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuh, menatap Maya yang sedang mengelap peluh di pelipisnya.
"Gimana... perkembangan di tempat Rendra?" tanya Dito pelan seraya menyipitkan mata. "Dia benar-benar mau bekerja sama?"
Maya teringat pada ketegasan Rendra menghadapi serangan lawan serta pada misteri sketsa teknik peniti tersembunyi yang tersimpan di meja pria itu. Dada Maya berdesir pelan, namun ia buru-buru menetralkan ekspresi wajahnya.
"Rendra memegang janjinya," jawab Maya datar, menunjuk bungkusan kanvas di mejanya. "Kerangka kuningan bagian dada sudah setengah jadi. Kita punya tenggat waktu kurang dari tiga puluh enam jam sebelum verifikasi fisik gaun dilakukan."
Dito mengangguk perlahan, meski tatapannya menyiratkan rasa curiga yang halus. "Bagus kalau begitu. Tapi tetap waspada, Maya. Rendra itu pria yang berbahaya. Dia punya pengaruh besar di industri ini, dan kita belum sepenuhnya tahu apa agenda sebenarnya di balik bantuan ini."
"Aku tahu apa yang kulakukan, Dito," balas Maya mantap. "Selesaikan berkas itu sekarang. Aku harus segera bertindak." Baru sampai di ruangan tengah, langkah Maya terhenti seketika. Layar televisi lipat berukuran besar di ruang tengah studio mendadak riuh oleh intonasi presenter program berita hiburan dan industri mode. Grafis merah menyala dengan tulisan bercetak tebal memotong siaran: "SKANDAL DI BALIK PANGGUNG FINAL: DOKUMEN BERSYARAT DAN DUA KONTESAN TERATAS."
Nia, yang baru saja hendak menyeduh teh di sudut ruangan, hampir menjatuhkan cangkirnya. Matanya membelalak menatap layar monitor.
"Maya! Lihat ini! Cepat lihat!" jerit Nia dengan suara bergetar panik.
Di layar televisi, foto-foto beresolusi tinggi hasil jepretan mata-mata Victor tadi malam terpampang sangat jelas—memperlihatkan interaksi antara Maya dan sosok bersetelan gelap di selasar Galeri Kebudayaan yang remang. Foto itu dipotong dan diedit sedemikian rupa, memperlihatkan narasi seolah-olah Maya sedang menerima sebuah perangkat digital rahasia dan instruksi teknis langsung dari peserta teratas.
"Kabar mengejutkan menyeruak menjelang verifikasi berkas tahap lima besar," tutur suara narator siaran berita tersebut dengan nada provokatif. "Foto-foto perjumpaan rahasia antara Maya Nilakandi—pemilik Studio Nilakandi yang menduduki peringkat kedua—dengan desainer anonim pemegang skor puncak, REN, memicu rumor panas mengenai konspirasi dan pembocoran desain. Tak hanya itu, keterlibatan [pengrajin] logam independen yang disewa Maya kini dihantam tuduhan plagiarisme terhadap hak paten motif ornamen milik Arum House..."
"Apa-apaan ini?!" napas Maya memburu, wajahnya pucat pasi menyaksikan narasi manipulatif tersebut. "Penyusupan? Konspirasi?! Siapa yang menyebarkan kebohongan keji seperti ini?!"
Tiba-tiba, jaringan listrik di studio padam seketika, disusul suara benturan keras dari arah pagar depan yang digedor oleh kerumunan awak media yang mulai memadati pelataran.
Kegelapan pekat membungkus seluruh sudut ruangan secara mendadak, memotong siaran televisi yang provokatif itu dan menyisakan sunyi yang mencekam. Jeritan kaget beberapa staf wanita bergaung samar dari area meja resepsionis, beradu dengan suara dering ponsel kantor yang melengking bersahut-sahut tanpa henti.
"Maya! Jangan mendekat ke jendela!" teriak Dito dari arah koridor gelap, langkah kakinya terdengar tergesa-gesa menghampiri.
Kilatan lampu dari puluhan kamera wartawan di luar pagar menembus kaca depan studio bagai petir malam yang menyambar bertubi-tubi. Pendar cahaya itu memantulkan bayangan panik para staf yang berhamburan. Pagar besi tempa di depan studio berderit tajam di bawah dorongan kerumunan awak media dan juru kamera yang menuntut klarifikasi langsung.
"Buka pintunya! Tanggapi rumor konspirasi dengan REN, Maya!" gema teriakan wartawan bersahut-sahut dari luar, suaranya menembus dinding kaca.
"Apakah benar Studio Nilakandi menyewa bocoran desain dan mencuri ornamen Arum House?!" tanya suara lain yang tak kalah lantang.
Nia merapat kaku di samping Maya, mencengkeram lengan sahabatnya dengan buku-buku jari yang memutih. "Maya... ini bukan sekadar liputan pers biasa. Mereka sengaja memutus aliran listrik dan menggiring opini publik untuk memicu kerusuhan di depan studio kita! Bagaimana ini? Pintu belakang juga dikepung mobil liputan siaran langsung!"
Napas Maya naik-turun menahan amarah yang membakar dada. Dalam kegelapan yang menyergap dan serbuan pendar flash kamera yang menyilaukan mata, ia meremas kuat pelat kuningan di tangannya. Dinginnya sudut logam itu membakar keteguhan batinnya. Sabotase media ini begitu rapi dan brutal, dirancang langsung oleh tangan dingin Victor untuk menghancurkan mentalitas dan nama baiknya dalam satu malam.
Di tengah kepanikan yang makin memuncak dan gedoran pagar yang kian kencang, ponsel genggam Maya di dalam saku mantelnya bergetar hebat. Sebuah pesan singkat masuk.
Maya membuka layar ponselnya yang menyala terang di tengah kegelapan. Satu baris kalimat tegas dari Rendra tertera di sana:
'Jangan biarkan kebisingan di luar merusak konsentrasi jemarimu. Abaikan pers, jika diperlukan kamu telpon pengaduan ganguan privasi ke polisi, setelah itu kamu langsung kembali ke bengkel sekarang. Kita selesaikan gaun ini.'
Maya menarik napas panjang, menggenggam ponselnya erat-erat. Pesan dari Rendra menyulut kembali keberanian di dadanya. Dalam kegelapan studio yang terkepung sorotan kamera media, keputusannya sudah bulat: ia tidak akan menyerahkan nasib karyanya pada manipulasi pers.