WARNING ***
Terdapat kata-**** ***** dan beberapa ****** ******
Ketika kejadian masa lalu membuat seorang gadis yang sedang merayakan ulang tahunnya justru harus kehilangan keluarganya, pembantaian yang terjadi tepat di depan mata seorang gadis kecil yang berusia 5 tahun yang sedang memeluk adik laki-lakinya yang berusia 3 tahun supaya tidak melihat ke jadian mengerikan itu walaupun dia yakin adiknya bisa mendengar suara jeritan dan kesakitan dari orang yang mereka cintai,mereka hanya mampu menangis dalam diam di balik tempat persembunyiannya
Membuat rasa trauma dan rasa takut yang berlebihan muncul di dalam diri gadis itu sampai membentuk jiwa baru yang tinggal bersama raganya
Apakah gadis itu mampu mengendalikan jiwa barunya atau jiwa baru itu lah yang akan menguasai tubuh sang gadis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UNTUK ALFIN.
Setelah belanja Alluna segera menuju mobilnya bersama Rey, jangan ditanya siapa yang membawakan belanjaan itu
Sudah dipastikan itu Rey, Alluna tidak ingin repot dengan menelepon anak buahnya hanya untuk membawa semua belanjaannya sedangkan dia bersama Rey
"Yaampun kak kalo tau belanja banyak gini bawa kek anak buahnya, jatuh image aku hari ini" ujar Rey mengeluh
"Gak usah ngeluh belanjaan kamu juga banyak kan" ucap Alluna yang berjalan lebih dulu
Alluna dan Rey menuju ke tempat Alfin bekerja sebuah supermarket yang tidak terlalu besar
Alluna hanya diam di dalam mobil memperhatikan adiknya yang sedang bekerja di kasir
"Kakak gak mau masuk" tanya Rey namun tidak mendapatkan jawaban dari Alluna
Sudah 2 jam Alluna hanya memandang kegiatan Alfin bahkan Rey sudah tertidur di sampingnya, entah apa yang dia pikirkan sampai Alluna memutuskan untuk pulang dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata‑rata
Setelah sampai dirumah anak buah Alluna membawakan semua belanjaannya ke ruang keluarga atas perintah Alluna
"Kalian boleh pergi " ucap Alluna setelah duduk di salah satu sofa yang berada diruang keluarga
"Ya ampun sayang kamu habis shopping, tumben kamu mau membuang waktumu untuk belanja" tanya mama yang baru saja ikut bergabung duduk bersama Alluna dan Rey
"Aku membelinya untuk Alfin dan Rey mah" ujar Alluna
"Kenapa kamu membelikan anak nakal itu lagi "sindir mamanya ke Rey yang hobi berbelanja
"Ini tuh karena kakak baik dan gak pelit" sindir Rey dengan memelankan suaranya di ujung kalimat
"Apa kamu bilang?" Tanya mamanya
"Ngga ada mah Rey bilang mama tuh makin cantik aja gitu" ucap Rey menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal itu
Alluna menelfon anak buahnya yang biasa menjaga Alfin
"Halo bos, apakah ada tugas yang harus kami kerjakan?" Tanya orang yang diseberang sana
"Ke Mension sekarang" ucap Alluna ke Gery orang yang dia telfon tanpa menunggu jawaban Alluna lebih dulu mematikannya
"Mah Alluna bersih‑bersih dulu" pamit Alluna yang ingin ke kamarnya untuk mandi
"Iya sayang habis itu turunlah makan bersama" jawab sang mama yang di balas anggukan oleh Alluna
Sedangkan Rey sibuk memisahkan belanjaannya dan belanjaan untuk Alfin yang harus dia bungkus rapi karena perintah dari sang kakak ATM berjalannya walaupun dia juga mempunyai banyak uang
Setelah bersih‑bersih Alluna turun ke bawah yang ternyata disana sudah ada Haikal dan Gery mereka yang melihat kehadiran bosnya itu segera berdiri dari duduknya
"Selamat malam nona muda" ujar mereka kompak
"Hm, duduklah" jawab Alluna yang sudah duduk di salah satu sofa
"Apakah Alfin sudah pulang kerja?" Tanya Alluna
"Seharusnya sudah nona karena ini hari libur tuan muda Alfin mengambil sift pagi dan akan pulang disore hari" jawab Haikal
"Kirim itu dirumahnya tanpa ada yang tau, dan satu lagi berikan amplop ini pada bi Asih tanpa diketahui Alfin, dan jangan bilang ini dariku dia mungkin akan paham saat menerimanya, kalian mengerti?" Ujar Alluna lagi yang menunjuk ke arah sebuah kotak lumayan besar yang di bungkus rapi
"Baik nona kami mengerti, kalau begitu kami pamit" pamit mereka dengan membungkukan badannya yang di balas anggukan oleh Alluna
Ditempat lainnn….
"Alfin kamu seharusnya istirahat nak" ucap Bi asih kepada Alfin yang ikut membantunya membuat kue untuk dijual
"Gapapa bu lagian Alfin gak begitu cape kok, Alfin bantuin biar kita cepat istirahat" ucap Alfin dengan tersenyum membuat bi asih terharu dengan anak majikannya ini
"Nyonya Alfin tumbuh dengan hati yang lembut, saya harap anda bahagia disana" batin bi asih
Tok tok tok
Suara ketukan pintu rumah Alfin dan bi Asih membuat mereka kaget
"Biar Alfin yang bukain bu" ujar Alfin segera menuju pintu namun dia tidak melihat siapapun disana hanya ada sebuah kotak yang terbungkus Rapi
"Ini apa yah, apa kiriman untuk ibu" tanya Alfin pada dirinya sendiri dan memilih untuk membawa masuk kotak itu
"Siapa nak?" Tanya bi Asih
"Gak tau bu, tidak ada siapapun didepan selain kotak ini, mungkin ini paket untuk ibu" tanya Alfin
"Ibu tidak memesan apapun, sebaiknya kamu buka nak mungkin akan ada suratnya didalam" ucap bi Asih
Alfin membuka bingkisan itu dengan hati‑hati takutnya ada barang penting didalam saat bingkisan itu terbuka terlihat banyak sekali pakaian, sepatu dan bermacam‑macam barang‑barang pria
"Astaga apa ada seseorang yang salah mengirimnya" ujar Alfin terkejut pasalnya dia tidak memesan apapun
"Buka surat itu nak mungkin ada petunjuk disitu" ucap Bi Asih yang tak sengaja melihan sebuah kartu ucapan
Alfin membukanya disana tertulis jelas sebuah kalimat
"Maafkan aku, aku menyayangimu alfin"
"Apa ini kakak" batin Alfin yang tanpa sadar setetes air matanya jatuh
"Apa isi surat itu nak" tanya bi Asih yang kemudian Alfin memberikan surat itu
"Apa ini dirimu non Alluna, bibi mohon datanglah Alfin sangat membutuhkanmu" Batin bi Asih yang berharap jika itu benar‑benar Alluna kakak dari Alfin
(Sekedar mengingatkan guys yah kiranya kalian lupa, Alluna di kenal disekolah dengan nama Luna)
"Alfin kamu tidak apa‑apa?" Tanya Bi Asih yang melihat Alfin melamun
"Itu tidak mungkin kakak kan bu, kakak sudah meninggalkanku dia bahkan tidak mencariku sedikit pun, dia pasti sudah hidup bahagia dan melupakanku" ujar Alfin lirih dengan kepala tertunduk
Bi Asih tidak tau harus berkata apa dia hanya membawa Alfin ke pelukannya membuat Alfin terisak kecil
"Ibu yakin suatu saat nanti kakakmu akan datang dan menjelaskan semuanya padamu nak" ucap Bi asih mengelus lembut rambut Alfin
Saat Alfin tenang bi Asih menyuruhnya untuk beristirahat karena besok dia akan bersekolah, begitupun dirinya yang menuju kamarnya untuk beristirahat atas paksaan Alfin
Bi Asih terkejut saat membuka pintu kamarnya jendelanya sudah terbuka padahal seingatnya dia telah menguncinya
Bi Asih melihat sebuah amplop coklat tebal berada di kasurnya tanpa nama pengirim
"Apa lagi ini" ucap Bi Asih pelan
"Ya tuhan" kaget bi Asih, betapa terkejutnya dia melihat uang yang sangat banyak dalam amplop itu sampai sebuah kertas terjatuh dari amplop itu dan mengalihkan fokus Bi Asih
Bi asih mengambil kertas itu dan membukanya, air matanya terjatuh tanpa bisa dia tahan saat melihat isi surat itu
Terimakasih telah merawat dan menjaganya, gunakan uang ini untuk keperluan kalian dan jangan beritahu Alfin tentang ini, aku akan selalu menjaga kalian dari jauh, aku mohon bantu aku dan jagalah dia untukku sampai aku menjemputnya, aku mempercayaimu bi
"Non Alluna hiks tetaplah hidup untuk Alfin non" ucap bi Asih yang menahan isakannya agar Alfin tidak mendengarnya
Sedangkan Alfin yang berada di kamarnya juga sedang menahan isakannya
"Kak jika itu kakak kenapa kau tidak menemuiku, kenapa kau tidak memelukku dan kenapa kau tidak membawaku, apa kakak tidak merindukanku, apa kakak tidak ingin aku tinggal bersamamu, aku tidak akan meminta untuk tinggal bersamamu aku janji itu kak ,,aku hanya ingin kakak datang memelukku dan berkata semua akan baik‑baik saja, aku butuh kakak hiks, kenapa aku harus lemah karena kakak hikss" isakan Alfin, siapapun yang mendengarnya pasti akan merasakan kesakitan itu
Alfin terus menangis sampai dia ketiduran karena kelelahan
"Semua beres bos" laporan Haikal dan Gery kepada Alluna