NovelToon NovelToon
Lukisan Dari Tahun Yang Belum Lahir

Lukisan Dari Tahun Yang Belum Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: Diva Devira

SINOPSIS
.
.
.
.
.

Delapan tahun setelah dikirim ke Selatan, Shen Ruyin akhirnya kembali ke Chang’an.

Keluarganya mengatakan ia pergi karena sakit. Namun sejak kepulangannya, Ruyin mulai menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ingatannya.

Orang-orang di Chang’an mengingat masa kecilnya dengan cara yang berbeda. Ibunya terlalu berhati-hati saat membicarakan masa lalu, sementara kakaknya mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui.

Lalu Ruyin menemukan sebuah lukisan tua.

Wajah perempuan di dalamnya sama persis dengannya—padahal lukisan itu dibuat bertahun-tahun sebelum ia lahir.

Jika semua orang menyimpan rahasia tentang dirinya, lalu siapa sebenarnya Shen Ruyin?

Dan apa yang terjadi pada malam ketika ingatannya mulai hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diva Devira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: TINTA YANG TIDAK PULANG

Ruyin tidak langsung membalik halaman berikutnya. Ia membawa buku itu ke dekat jendela dan membiarkan cahaya pagi jatuh miring di atas jilidan, tempat sisa kertas yang dirobek masih menyembul setipis kuku. Tepinya tidak bergerigi. Seseorang merobeknya perlahan, dengan satu tarikan panjang sambil menahan jilidan dengan tangan lain, orang yang tidak ingin ada bunyi.

Ia duduk di meja dan mulai membaca dari halaman pertama, seperti memeriksa catatan milik orang asing.

Awal tahun diisi latihan huruf. Satu baris karakter diulang sampai ke dasar halaman, garis-garisnya kaku dan terlalu tebal, dengan tetesan tinta di sudut tempat kuas terlalu lama ditahan. Lalu salinan sajak pendek tentang bangau dan embun. Lalu daftar angka, hitungan jumlah sutra dan harga, soal-soal yang biasa diberikan kepada anak bangsawan yang kelak harus mengurus rumah tangga. Ia membaca semuanya tanpa melewatkan satu baris pun. Setiap kali ujung jarinya menyentuh tepi halaman, ia mencium aroma tinta tua, getir dan sedikit manis, dan ada sesuatu di dalam dirinya yang bergerak pelan lalu diam lagi.

Pada pertengahan buku, tulisannya berubah.

Bukan menjadi lebih baik, tetapi lebih hati-hati. Garis-garis yang tadinya tebal mulai ramping, dan ujung setiap goresan ditarik pelan, seperti seseorang yang sedang meniru contoh. Ruyin mendekatkan halaman ke matanya dan melihat sesuatu yang semula luput. Di antara baris-barisnya ada koreksi tipis berwarna lebih pucat, hampir tak terbaca: sebuah titik di sini, sebuah goresan yang diperpanjang di sana. Tinta koreksi itu bukan tinta anak kecil. Tangannya jauh lebih mantap, huruf-hurufnya ramping dan miring ke kanan.

Ada orang lain yang membetulkan tulisannya. Orang itu duduk cukup dekat untuk memegang kuas yang sama.

Ruyin mencoba mengingat guru yang pernah mengajarinya menulis. Tidak ada wajah yang muncul. Yang datang hanya satu kalimat yang dulu tidak pernah ia pikirkan: tabib tua di Selatan pernah berkata bahwa tulisannya "sudah punya tulang", dan ia tidak pernah bertanya dari mana tulang itu berasal.

———

Setelah itu ia memperhatikan tanggal.

Hampir setiap halaman dibubuhi tanggal di sudut kanan atas, dan sebagian besar tampak biasa, jatuh berurutan, kadang melompat beberapa hari. Namun di samping tiga belas tanggal, ia menemukan lingkaran kecil dari tinta, sebesar biji sawi, hampir selalu di bawah angka hari. Jika tidak sengaja dicari, orang akan mengiranya noda.

Ruyin mengambil selembar kertas kosong dan menuliskan semuanya: tanggal sebelas bulan ketiga, tanggal dua puluh satu, tanggal lima bulan keempat. Ia menatap deretan itu sampai matanya perih. Jaraknya hampir selalu sepuluh hari, kadang sembilan, sekali dua belas, selalu bersambung. Lingkaran pertama muncul tak lama setelah musim semi tiba, dan yang terakhir jatuh di halaman paling akhir yang masih bertulis.

Hari kesembilan, bulan kesepuluh.

Di atas halaman-halaman yang bertanda lingkaran, isi latihan tidak berbeda dari halaman lain. Tetapi Ruyin menyadari bahwa tulisan di halaman bertanda itu selalu lebih rapi daripada halaman sebelumnya, seolah ada seseorang yang datang pada hari-hari itu dan duduk bersamanya.

Ia membalik lagi, lebih lambat. Di halaman sajak bangau, di sela-sela baris salinan, ada satu kalimat yang tidak ditulis dengan huruf besar seperti latihan lain, hanya terselip di bawah, kecil dan miring:

'Hari ini dia tidak datang.'

Tidak ada tanggal bertanda lingkaran di halaman itu. Tidak ada pula yang menjelaskan siapa "dia".

Ruyin membaca kalimat itu sekali, dua kali. Ia menutup mata.

———

Ada suara pintu geser yang terbuka, kayunya menggesek ambang dengan bunyi tipis yang selalu sama. Aroma tinta basah. Cahaya sore masuk miring dan jatuh di atas meja rendah, tempat sebuah kuas tergeletak dengan ujung masih menetes. Ada seseorang yang berjongkok di sebelahnya, lengan jubahnya jatuh menyentuh bahu Ruyin kecil, kain gelap yang berbau dingin seperti embun di atas besi.

Bau yang sama dengan sapu tangan putih di bawah pohon osmanthus.

"Ruyin."

Namanya dipanggil dengan suara rendah dan sabar, tanpa sedikit pun nada menegur. Dan di dalam ingatannya, ia menjawab. Ia menjawab dengan nada seorang anak yang sudah terbiasa menjawab panggilan itu, tanpa menoleh, tanpa takut, seperti menjawab sesuatu yang sudah menjadi bagian dari harinya.

Ruyin membuka mata.

Dadanya terasa sesak. Bukan oleh sedih. Rasanya lebih seperti ketika ia pulang ke rumah dan menemukan satu perabot digeser beberapa jengkal dari tempatnya. Ia tidak bisa mengatakan apa yang hilang, hanya tahu bahwa letaknya salah.

Orang itu bukan orang asing. Orang itu pernah duduk di sampingnya sampai begitu dekat hingga ia tidak lagi menoleh ketika dipanggil. Tetapi di seluruh rumah ini, di antara semua orang yang menyambutnya kemarin, tidak ada yang menyebut siapa pun yang pernah mengajarinya menulis.

———

Bibi Qin datang menjelang tengah hari membawa nampan teh dan kue kering.

Ruyin tidak menyembunyikan buku itu. Ia membiarkannya terbuka di meja, di halaman soal hitungan sutra, dan ia sendiri duduk di dekat jendela sambil menyulam, sesuatu yang jarang ia lakukan.

"Aku menemukan buku latihanku di rak," ucapnya tanpa menoleh, nadanya seperti orang menyebut cuaca. "Tulisanku buruk sekali dulu. Seperti cakar ayam."

"Nona memang..." Bibi Qin meletakkan nampan. "Nona dulu rajin menulis."

"Benarkah? Aku tidak ingat." Ruyin menarik benang. "Bibi sudah lama ada di rumah ini?"

"Sejak beberapa tahun, Nona."

"Beberapa tahun."

"Ya."

Ruyin tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya melirik sekali dari sudut matanya.

Bibi Qin sedang menuang teh. Pandangannya jatuh pada buku di meja, dan Ruyin melihat bahwa pelayan itu tidak melihat sampulnya, tidak melihat halaman yang terbuka. Matanya langsung bergeser ke jilidan, tepat ke tempat sisa kertas yang dirobek. Hanya sekejap, lalu ia kembali menunduk pada teko, tetapi kecepatannya adalah kecepatan orang yang sudah tahu persis di mana harus mencari.

Teh meluap sedikit dari cangkir.

"Maaf, Nona."

"Tidak apa-apa."

Bibi Qin menyeka meja dengan kain, lebih lama dari yang diperlukan. "Buku tua itu sebaiknya jangan terlalu lama dibaca, Nona. Tintanya sudah kering, debunya tidak baik untuk mata."

"Aku akan berhati-hati."

"Dan... kalau ada halaman yang rusak, tidak perlu dipikirkan. Buku anak-anak memang cepat rusak."

Ruyin mengangkat wajah. Ia belum mengatakan apa pun tentang halaman yang rusak.

Bibi Qin menunduk sebelum tatapannya bertemu mata Ruyin. Wajahnya tampak tenang, tetapi telinganya memerah di bagian ujung.

"Terima kasih, Bibi," kata Ruyin lembut. "Kau boleh pergi."

———

Setelah pintu menutup, Ruyin membalik buku itu kembali ke halaman terakhir.

Tangannya bergerak sendiri, lebih cepat dari pikirannya. Ia mencari di tempat yang belum sempat ia periksa: di sudut paling bawah halaman bertanggal sembilan bulan kesepuluh, di tepi kertas, tempat tulisan paling kecil biasanya disembunyikan.

Ia memutar halaman menghadap cahaya dan menyipitkan mata.

Ada sebaris huruf mungil, nyaris sekecil semut, ditulis dengan tinta yang sama dengan lingkaran-lingkaran itu. Ia harus menahan napas agar terbaca.

'Dia bilang besok.'

Tidak ada tanggal. Tidak ada nama. Hanya lingkaran kecil terakhir di atasnya, seperti titik penutup sebuah kalimat yang tidak pernah dilanjutkan.

Ruyin mengusap tulisan itu dengan ibu jari, dan merasa jantungnya berdetak lebih keras daripada seharusnya. Besok, tanggal sepuluh bulan kesepuluh. Dan di tanggal itu, ada sesuatu yang membuat seseorang merobek halaman-halaman setelahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!