Tiga tahun berbakti sebagai istri seolah tak ada artinya bagi Aira ketika Radit diceraikannya secara mendadak tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka.
Demi kehadiran sekretaris cantik, Aira terpaksa melangkah menembus hujan deras membawa kopernya. Kemalangan tak berhenti di situ; di tengah jalan ia diserang sekelompok preman hingga tak berdaya.
Di saat kritis, sosok pria tinggi bertato bernama Lucas datang menyelamatkannya. Namun, pertolongan itu membawa takdir baru. Dalam pengaruh obat akibat dijebak, Lucas membawa Aira ke hotel. Dengan bisikan "Jangan takut, aku mandul," Aira yang hancur akhirnya memejamkan mata dan pasrah.
Esok harinya, Aira pergi memulai hidup baru dari nol—mencari kontrakan dan pekerjaan. Namun beberapa minggu kemudian, garis dua di alat tes kehamilan meruntuhkan dunianya. Jika Radit sudah lama tak menyentuhnya, maka janin itu jelas milik Lucas. Lantas, apakah pengakuan mandul itu hanya kebohongan manis, atau ada rahasia besar yang sengaja Lucas sembunyikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Di sel tahanan kantor polisi, suasana terasa begitu dingin dan mencekam.
Radit duduk bersandar di dinding semen yang keras dengan wajah kusut, mata sembab, dan rambut yang berantakan.
Di sel sebelah, ibunya yang tak berhenti menangis meratapi nasib mereka yang mendadak hancur berkeping-keping.
Sementara itu, Mila yang baru saja sadar dari pingsannya duduk meringkuk di sudut ruangan dengan wajah pucat pasi.
Efek mual akibat dipaksa menghabiskan empat porsi kerapu asam manis masih terasa di perutnya.
Radit menatap Mila dengan sorot mata yang penuh kebencian, amarah, dan keraguan yang membakar dada.
Perkataan Aira di hotel tadi terus bergema tanpa henti di kepalanya.
Aku tidak yakin jika Mila hamil anak kamu
"Mila," panggil Radit dengan suara parau dan dingin.
Mila menoleh perlahan, menatap Radit dengan air mata yang kembali menetes.
"Mas Radit, tolong cari cara supaya kita bisa keluar dari sini. Aku takut, Mas."
Radit bangkit berdiri, melangkah mendekati jeruji besi yang memisahkan sel mereka. Matanya menatap tajam ke arah perut Mila.
"Apakah anak yang ada di dalam kandunganmu itu, benar-benar anakku atau bukan?!" bentak Radit tiba-tiba dengan nada menuntut.
"M-Mas, kamu bicara apa, sih?! Tentu saja ini anakmu! Kenapa kamu malah percaya dengan omongan Aira sialan itu?!" ucap Mila dengan wajah ketakutan.
"Karena, Aira mempunyai bukti medis bahwa aku tidak bisa memiliki keturunan!" teriak Radit histeris hingga memancing perhatian para petugas polisi yang berjaga.
"Aira menyimpan surat dokter kesuburanku! Jadi katakan padaku yang sebenarnya, anak siapa yang kamu kandung itu, Mila?!"
Mila terdiam mematung. Matanya bergerak gelisah ke kiri dan ke kanan, memancarkan rasa panik yang tak bisa lagi ditutup-tutupi.
Kebisuannya menjadi jawaban paling menggelegar bagi Radit.
"Jawab, Mila!" raung Radit frustrasi, mengepalkan tangan dan memukul jeruji besi.
Saat penyidik datang membawa mereka untuk pemeriksaan berkas perkara, Radit langsung berteriak di hadapan polisi dan tim pengacara.
"Pak Polisi! Saya minta tes DNA! Saya minta wanita ini diperiksa di rumah sakit polisi sekarang juga!" jerit Radit histeris.
"Saya tidak mau dipenjara dan bertanggung jawab atas janin dari pria lain!"
Petugas polisi menganggukkan kepalanya dan memintanya untuk menunggu.
Tak berselang lama di bawah pengawalan ketat kepolisian, Radit, Mila, dan Ibu Radit dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara (Rumah Sakit Polisi) untuk menjalani pemeriksaan medis resmi serta pengambilan sampel awal pengujian parental/DNA.
Ibu Radit yang ikut hadir mendadak histeris saat melihat dokter spesialis kandungan menyiapkan peralatan pemeriksaan.
"Mila! Jujur kamu sama Tante! Anak siapa yang kamu kandung itu?!" cercah Ibu Radit sambil mengguncang bahu Mila kasar.
"Jangan sampai keluarga kami ditipu dua kali!"
Mila menangis histeris di atas tempat tidur pemeriksaan, menutupi wajahnya dengan kedua tangan karena rasa malu dan sudut tekanan yang tak tertahankan lagi.
"Ini anak Dony!" jerit Mila akhirnya mengakui perbuatannya di depan polisi, dokter, dan keluarga Radit.
JGLARRR!
Jawaban Mila bagaikan petir yang menyambar tepat di dada Radit dan ibunya. Radit tahu betul siapa Dony—pria pemalas anak penjual ikan yang menyewa kamar kost di sebelah Mila dulu.
Radit terduduk lemas di lantai rumah sakit, menyadari betapa bodohnya ia telah membuang wanita setulus dan seanggun Aira demi wanita penipu dan licik seperti Mila.
Penyesalan yang begitu dalam dan sangat terlambat kini mencengkeram jiwanya tanpa ampun di balik dinginnya dinding hukum.
Di sisi lain malam makin larut, namun suasana di dapur utama hotel masih dipenuhi semangat belajar.
Restoran telah resmi ditutup untuk umum, dan sesuai janjinya, Aira kembali membimbing Rizal, Arum, serta beberapa koki lainnya untuk menguasai resep dan teknik pemotongan mi cumi tanpa tepung.
Aira berdiri di dekat meja station, memperhatikan Rizal yang sedang mengiris daging cumi dengan raut wajah sangat serius dan keringat dingin menetes di pelipisnya.
"Fokus pada sudut pisaunya, Rizal. Geser perlahan, jangan ditekan terlalu keras nanti serat cuminya hancur," petunjuk Aira lembut namun penuh ketelitian.
"Siap, Chef! Duh, ternyata kelihatan gampang pas Chef Aira yang bikin, tapi pas dicoba sendiri pisaunya berasa kaku banget," keluh Rizal sambil menahan napas.
Tepat pukul sepuluh malam, pintu kaca dapur bergeser terbuka.
Lucas melangkah masuk dengan setelan kemeja yang lengannya sudah digulung hingga sikut.
Sorot matanya langsung tertuju pada Aira yang berdiri tegak.
Wajah tampan sang CEO menunjukkan raut tegas—ia sangat tahu Aira membutuhkan istirahat ekstra untuk menjaga kondisi fisik dan ketiga bayi kembar di dalam kandungannya.
Lucas berjalan mendekat tanpa suara, lalu berdiri tepat di samping Aira seraya menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Ayo pulang," ucap Lucas singkat, tegas, dan tak menerima bantahan.
Aira menoleh, menyunggingkan senyum ringannya untuk menenangkan pria di sebelahnya.
"Lucas, tinggal sedikit lagi kok. Ini Rizal tinggal menyelesaikan porsi terakhirnya untuk dites teksturnya."
Lucas menatap jam tangan mewahnya, lalu kembali menatap Aira dengan alis terangkat.
Aura dinginnya yang dominan mendadak keluar memenuhi ruangan.
"Pulang, atau," Lucas menggantung kalimatnya, lalu memutar pandangannya ke arah Rizal, Arum, dan seluruh staf dapur yang seketika membeku di tempat.
Rizal yang sedang memegang pisau dapur langsung meneguk ludah dengan susah payah.
Ia tahu betul arti dari nada suara dan tatapan mata sang bos besar—kalau mereka membuat Aira kelelahan, nasib bonus dan jam kerja mereka bisa dipertanyakan esok hari.
Tanpa perlu menunggu Lucas menyelesaikan ancamannya, Rizal langsung meletakkan pisau dapur dan melepas apronnya dalam hitungan detik.
"Lekas pulang, Chef! Ayo, Chef, pulang sekarang! Kasihan calon bayi kembar tiga di perut Chef!" seru Rizal cepat-cepat dengan wajah panik yang mengocok perut.
"Iya, Chef Aira! Kami sudah paham kok teknik dasarnya, sisanya bisa kami latih besok pagi! Sekarang Chef wajib pulang dan istirahat!" timpal yang lain dengan sigap dan langsung mengemas peralatan masak Aira dan membereskannya.
Staf dapur yang lain tanpa komando langsung bubar jalan berhamburan menuju pintu belakang.
"Kami ke ruang ganti dulu ya, Chef Aira! Selamat malam Pak Lucas!" teriak Rizal seraya berlari terbirit-birit menyusul Arum dan yang lainnya, meninggalkan dapur dalam keadaan bersih dan sepi seketika.
Aira menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah heboh timnya yang lari tunggang-langgang akibat takut pada gertakan Lucas.
Ia menoleh ke arah Lucas yang kini tersenyum puas tanpa dosa.
"Kamu ini, bikin mereka takut saja," gumam Aira terkekeh pelan.
"Aku tidak membuat mereka takut, aku hanya menegakkan aturan kesehatan untuk calon istri dan anak-anakku," balas Lucas santai, lalu merengkuh pinggang Aira dengan lembut dan menuntunnya keluar menuju mobil.
Mobil mewah yang dikemudikan Randy melaju dengan mulus menembus keheningan jalanan kota yang dipenuhi kerlap-kerlip lampu malam. Di kursi belakang, suasana begitu tenang dan hangat.
Aira menyandarkan kepalanya yang terasa agak berat di dada bidang Lucas.
Rasa lelah setelah seharian menghadapi keributan musuh sekaligus mengajari tim dapur membuat kelopak matanya terasa sangat berat. Tanpa sadar, jemarinya memeluk erat pinggang Lucas.
Lucas menunduk, menatap wajah jelita calon istrinya yang tampak sangat polos dan damai. Jemari tangannya bergerak lembut mengusap helaian rambut Aira yang terurai indah, menyalurkan rasa hangat yang tak terhingga.
"Sayang, kita makan malam di mana?" bisik Lucas sangat pelan di dekat telinga Aira, khawatir perut wanita itu kosong.
Bukannya jawaban manis yang terdengar, Aira justru semakin menyamankan posisinya.
Bibir mungilnya sedikit terbuka, dan hembusan napasnya yang teratur berujung pada dengkuran kecil yang sangat menggemaskan.
Ngroook....
Dengkuran halus itu terdengar begitu jelas di dalam mobil yang sunyi.
Randy yang sedang fokus memegang kemudi mendadak menahan tawa, matanya melirik sekilas dari spion tengah sebelum cepat-cepat kembali menatap jalanan agar tidak tertangkap basah oleh sang atasan.
Lucas sendiri sempat terpaku sejenak. Namun detik berikutnya, sudut bibir pria tegas itu terangkat tinggi.
Sebuah tawa terkekeh tanpa suara lolos dari tenggorokannya. Hatinya bergetar hebat—rasa gemas dan cinta membuncah memenuhi dadanya.
"Rupanya calon ibu ini benar-benar kelelahan," gumam Lucas berbisik penuh kasih.
Dengan sangat hati-hati agar tidak mengganggu tidur nyenyak Aira, Lucas meraih selimut lembut yang selalu tersedia di dalam mobil, lalu membalutkan kain itu hingga menutupi tubuh Aira sampai ke dada.
Ia merengkuh tubuh Aira semakin erat ke dalam pelukannya.
"Randy," panggil Lucas dengan suara bariton yang dipelankan serendah mungkin.
"Iya, Pak?" sahut Randy pelan.
"Langsung jalan pulang ke penthouse. Jangan menekan klakson sama sekali dan jalankan mobil pelan-pelan supaya dia tidak terbangun," perintah Lucas tegas namun penuh kelembutan.
"Siap, Pak Lucas," balas Randy patuh, langsung mengurangi kecepatan mobil dan mengemudikannya sehalus mungkin.
Lucas mencium puncak kepala Aira dengan lembut, lalu menyandarkan pipinya di kepala wanita itu.
Di balik rasa lelah dan kekacauan yang telah mereka lewati, melihat Aira tidur terlelap dengan tenang dalam pelukannya adalah kebahagiaan paling sempurna yang pernah Lucas miliki.
Mobil mewah yang dikemudikan Randy akhirnya berhenti dengan sangat halus di area parkir pribadi penthouse.
Randy langsung turun dan dengan cekatan membukakan pintu penumpang belakang tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Aira masih terlelap sangat nyenyak dalam balutan selimut.
Wajah cantiknya tampak begitu damai, dengan napas teratur dan sesekali dengkuran kecil menggemaskan masih terdengar pelan.
"Pak Lucas, mau saya panggilkan asisten untuk membawakan tas Chef Aira?" bisik Randy pelan.
"Tidak usah. Kamu bawakan tasnya saja, biar Aira aku yang gendong," jawab Lucas singkat dengan suara serendah mungkin.
Dengan penuh kehati-hatian, Lucas menyusupkan satu tangannya di bawah lipatan lutut Aira dan tangan lainnya menyangga punggung serta kepala sang calon istri.
Ia mengangkat tubuh Aira perlahan dalam gendongan bridal style.
Aira sempat mengerjap pelan dan bergumam tidak jelas, namun saat merasakan aroma parfum maskulin khas Lucas yang menenangkan, ia justru makin menyurukkan wajahnya ke ceruk leher Lucas dan melanjutkan tidurnya.
Lucas tersenyum manis, membalasnya dengan usapan lembut di bahu Aira sembari melangkah masuk ke dalam lift pribadi menuju lantai teratas.
Begitu sampai di kamar utama penthouse, Lucas meletakkan Aira di atas tempat tidur king size yang empuk secara perlahan-lahan.
Ia melepas sepatu Aira, menyelimuti tubuhnya hingga dada, lalu mengecup dahinya dengan penuh kehangatan.
"Selamat tidur, sayangku. Kamu, ibu yang hebat untuk tiga malaikat kecil kita," bisik Lucas lembut sebelum ikut berbaring di sampingnya dan merengkuh tubuh Aira hingga mereka terlelap bersama.
Lucas melepaskan pakaiannya dan ikut naik ke atas tempat tidur.
Ia memeluk tubuh istrinya dari belakang sambil mencium punggung Aira.
mestinya Radit dan ibunya jangan dapat penangguhan penahanan yah, enak sekali
waduh... dapat orderan nih menu barunya 🤣🤣
gimana Radit, ternyata kamu yang mandul 🤣🤣 jadi anak siapa yang dalam kandungan Mila? kan pelacur murahan yah 🤣🤣
niat hati menjatuhkan chef Aira, kamu yang akan menghadapi kekuasaan Lucas