Aleena Keisha(24), desainer interior KALA JIVA Singapura. Kemenangan lomba desain hotel Bandung membawanya promosi ke Jakarta, kota yang menyimpan luka masa lalunya.
Hari pertama kerja, ia menabrak pintu kaca lobi. CEO KALA JIVA, Keanu Zayn Malik(30) terpaku. Gadis itu adalah Aleena, murid olimpiade matematika yang 7 tahun lalu pernah ia bimbing dan hilang kontak.
Gosip guru-murid dulu telah menghancurkan beasiswa Aleena. Zayn memberontak orang tuanya dan membangun KALA JIVA dari nol. Kini takdir mempertemukan mereka sebagai Bos dan Bawahan. Aleena tak mengenalinya sama sekali, malah mengira Zayn sudah beristri dan punya anak. Mampukah Zayn meluruskan semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda siregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RTPB - 24
"Khusus tim desain, besok berangkat jam 5 pagi ke Bandung, kita akan melakukan cek lapangan langsung. Menginap tiga hari dua malam. Semua wajib ikut, bawa alat ukur, sketsa, dan sepatu lapangan"
Pengumuman dari Manajer Diki itu membuat satu lantai heboh. Kecuali Aleena, dia justru gugup.
Bandung adalah kota yang akan dia desain hotelnya. Proyek pertamanya di kantor pusat sekaligus kesempatan pertama dia bisa datang ke kota itu.
Vira langsung melompat ke meja Aleena.
"Ale! Kita sekamar ya... Asik bisa nginep di hotel bintang 5 gratis. Denger-denger Pak Zayn juga ikut loh. Jarang banget Pak Zayn ikut kegiatan seperti ini. Biasanya cuma Pak Diki yang berangkat"
Aleena mengangguk, tapi hatinya berdebar.
Pak Zayn ikut.
Diruangannya Zayn menatap email konfirmasi hotel dari sekretarisnya.
Dia memang jarang ikut cek lapangan tapi kali ini dia harus ikut. Alasannya profesionalnya karena proyek Bandung adalah proyek terbesar KALA JIVA tahun ini yang jumlahnya ratusan miliar. Dia harus pastikan tim desain lihat langsung cahaya matahari dan arah angin untuk membuat desain yang terbaik.
Alasan sebenarnya dibalik itu adalah karena Aleena ada di tim itu. Tiga hari dua malam tanpa CCTV dan tanpa jarak, dia harus memantau secara langsung.
Jam lima pagi di parkiran gedung KALA JIVA. Semua anggota tim sudah berkumpul.
Satu bus mini mewah sudah menunggu. Tim desain berjumlah delapan orang, termasuk Diki, Vira, dan Aleena. Semua sudah naik, tinggal satu kursi kosong di belakang dekat Aleena dan satu kursi kosong di depan.
Sepuluh menit kemudian sebuah Alphard hitam berhenti. Zayn turun dengan mengenakan kemeja hitam lengan panjang digulung hingga siku, celana cargo hitam, sepatu boots, jam tangan mahal, dan kacamata hitam. Ia tidak memakai jas.
Penampilan lapangan yang lebih muda, lebih... mirip Keanu dulu. Tapi tetap dingin dan misterius.
Semua terdiam.
"Pak Zayn bawa mobil sendiri?" Tanya Vira.
Zayn tidak naik Alphard nya, dia malah naik ke bus mini.
"Saya ikut bus. Biar bisa briefing di jalan. Supir Alphard ikuti dari belakang bawa barang" Ucap Zayn memberi alasan.
Bus langsung hening, semua tegang karena CEO ikut satu bus.
Kursi depan kosong adalah kursi untuk pemimpin, Zayn duduk di sana. Dari spion tengah bus, matanya bisa melihat langsung ke kursi belakang tempat Aleena duduk di dekat jendela.
Bus berangkat, sepanjang jalan Tol Jakarta-Cikampek, Diki briefing pakai mic.
Aleena mencatat serius sambil lihat keluar jendela. Rambutnya yang tertutup jilbab cream tertiup AC. Sesekali dia menempelkan jidatnya ke kaca karena mabuk perjalanan. Kebiasaan lamanya kalau naik bus.
Zayn melihat dari spion. Tangan Zayn mengepal di atas paha.
Jangan tempelkan jidat ke kaca, nanti kamu pusing, ceroboh! Batinnya ingin berteriak.
Tapi yang keluar dari mulutnya yang dingin malah...
"Diki.. bagi minyak angin dan tolak angin untuk yang mabuk, jangan sampai ada yang muntah disini. Akan mengganggu kenyamanan yang lain"
Diki bingung dan menatap anggota timnya, memeriksa satu persatu siapa yang mabuk seperti kata Bosnya. Tapi Diki tetap membagikan tolak angin. Vira mengambil dua, satu untuk Aleena.
"Makasih Pak Zayn, perhatian banget!" kata Vira dengan keras.
Aleena yang menerima tolak angin dari Vira, menatap punggung Zayn di kursi depan. Hatinya lagi-lagi bergetar. Perhatian kecil yang tidak terduga dari CEO bermulut pedas.
Apa dia tau kalau aku sudah mulai pusing? Bodohnya aku... Umpat Aleena dalam hati.
Akhirnya mereka sampai di lokasi hotel di Lembang, Bandung sekitar jam sepuluh pagi. Tanah kosong seluas dua hektar, pemandangan gunung, udara dingin menusuk.
Semua tim turun pakai helm proyek putih. Zayn juga pakai helm putih, tapi helmnya ada tulisan CEO dibagian depan.
Begitu sampai Aleena langsung bersemangat. Ia langsung lari kecil mengukur tanah, cek arah matahari, foto-foto, sketsa cepat di buku birunya.
"Pak Diki cahaya pagi dari timur bagus untuk kamar deluxe. Nanti jendelanya bisa full kaca jadi kalau malam bisa lihat city light Bandung" Soraknya penuh semangat.
Diki mengangguk, Zayn yang berdiri agak jauh di bawah pohon, diam-diam memperhatikan Aleena yang lari-larian dengan helm kebesaran dan sepatu boots yang sedikit kebesaran juga.
Zayn tersenyum tipis lagi tapi begitu cepat dihapus kembali.
Siang hari, tim makan siang di saung Sunda dekat lokasi. Menu siang ini makan nasi liwet bersama.
Zayn duduk di ujung, sendiri sambil membuka laptop. Aleena duduk dengan Vira dan tim lain di tengah mereka santai bercerita dan sesekali bercanda dan tertawa.
Vira iseng bertanya keras kepada Bosnya.
"Pak Zayn gak makan nasi liwetnya Pak? Enak loh..."
Semua tim menatap Zayn. Zayn menutup laptopnya.
"Saya sudah makan" jawabnya singkat.
Aleena yang melihat Zayn tidak makan, tanpa sadar mengambilkan piring kecil nasi liwet, ayam goreng, dan lalapan, lalu dengan ragu-ragu memberikannya ke meja Zayn.
"Pak... maaf, ini... kalau Bapak belum makan dicoba sedikit. Tadi Bapak kan di bus juga belum sarapan" Entah kekuatan dari mana, Aleena saja terkejut melihat dirinya bisa bersikap seperti itu.
Tiba-tiba suasana hening, satu tim menahan napas. Belum pernah ada karyawan berani kasih makanan ke Bos besar mereka.
Zayn menatap piring itu lalu menatap Aleena. Mata Aleena menunduk takut, tapi tangannya masih menyodorkan piring.
Dan untuk pertama kalinya ada karyawan berani memperlakukannya seperti ini dan dia adalah Aleena.
Dia menerima piring itu.
"Terima kasih"
Hanya satu kalimat tapi membuat Vira melotot.
Pak Zayn bilang terima kasih? Batin Vira masih tidak menyangka.
Malam hari di hotel tempat mereka menginap di pusat kota Bandung. Hotel bintang lima milik rekanan KALA JIVA.
Tibalah pembagian kamar, satu kamar berdua. Vira dan Aleena sekamar di lantai delapan. Zayn sendiri di lantai dua belas, kamar Presidential Suite.
Jam sembilan malam ada ketukan di pintu kamar Aleena dan Vira.
Vira buka pintu dengan kaget. Ternyata Diki yang datang.
"Pak Diki? Ada apa malam-malam?"
"Aleena ada? Pak Zayn panggil. Disuruh bawa sketsa site visit tadi untuk revisi malam ini di kamarnya lantai dua belas"
Aleena yang baru selesai mandi, jilbabnya masih agak basah, langsung panik.
"Sekarang Pak?"
"Iya, katanya urgent. Pak Zayn mau lihat langsung progres hari pertama"
"Saya sendiri Pak?" Tanyanya khawatir.
Diki mengerti apa yang Aleena fikirkan.
"Kamu tenang saja, Pak Zayn akan menjaga sikap profesionalnya" Ucapnya menenangkan.
Aleena mengambil buku sketsa birunya dan naik lift ke lantai dua belas dengan jantung berdegup kencang. Dia menekan bel kamar Zayn dan tak lama pintu terbuka otomatis.
Zayn duduk di sofa besar dekat jendela kaca yang menampilkan city light Bandung, masih pakai kemeja hitam, tanpa helm, rambutnya agak berantakan tertiup angin Lembang tadi. Di depannya ada dua cangkir teh hangat.
Dan di meja, ada bingkai foto kecil yang terbalik, sengaja ditelungkupkan oleh Zayn begitu mendengar lift berbunyi.
Foto anak kecil yang biasanya terletak diatas meja kerjanya. Foto yang menjadi penyemangatnya.
"Maaf Pak, saya bawa sketsanya..." Aleena masuk dengan menunduk, tidak melihat bingkai foto itu.
Zayn menatap Aleena yang jilbabnya masih basah, nafasnya tertahan.
"Duduk" perintahnya pelan, tidak dingin seperti di kantor.
Aleena duduk di seberangnya. Jarak diantara mereka sekitar satu meter. Untuk pertama kalinya mereka sedekat ini sejak enam tahun lalu.
"Jelaskan sketsa kamu, kenapa jendela deluxe harus full kaca menghadap timur?"
Aleena menjelaskan dengan gugup tapi semangat, matanya berbinar kalau sudah bicara desain. Zayn mendengarkan, sesekali mengangguk. Tidak menyela dengan kata pedas.
Di luar dugaan Aleena, Pak Zayn yang dingin itu mendengarkan dengan serius. Bahkan memberi masukan yang sangat detail tentang material kaca yang tidak bikin panas.
Tiga puluh menit berlalu dengan beberapa revisi hingga akhirnya selesai.
Aleena mau pamit, tapi Zayn mencoba menahan.
"Minum dulu tehnya, diluar dingin. Jilbab kamu masih basah, nanti masuk angin. Dasar ceroboh!"
Kata itu lagi.
CEROBOH
Aleena membeku. Kata itu... kata yang sangat familiar. Dulu hanya satu orang yang selalu memanggilnya ceroboh kalau dia lupa bawa penggaris, lupa bawa bekal, atau nabrak pintu.
Orang itu adalah Pak Keanu.
Aleena mengangkat wajahnya perlahan dan menatap Zayn tepat di matanya untuk pertama kalinya malam ini. Bukan menunduk hormat seperti biasanya.
Mata itu... mata tegas dengan alis tebal...
Jantung Aleena berdetak tidak karuan.
Tapi sebelum dia sempat bertanya, HP Zayn berdering keras.
Di layar HP Zayn tertulis nama Zyandra sedang melakukan panggilan video.
Zayn langsung panik dan mematikan HP nya. Aleena sempat melihat foto anak laki-laki kecil di layar ponselnya.
"Sudah, kamu kembali ke kamar. Sudah larut," usirnya dengan suara kembali dingin dan gugup.
Aleena berdiri dengan bingung, membawa teh yang belum diminum dan turun ke lantai delapan dengan seribu pertanyaan di kepala.
Zyandra.... Siapa Zyandra? Kenapa Pak Zayn kelihatan begitu panik? Kenapa Pak Zayn punya panggilan video call jam sembilan malam dari seorang anak kecil?
Apakah... Pak Zayn sudah menikah?
.
.
BERSAMBUNG
🥺🥺🥺🥺 sesulit itu untuk mereka meraih bahagia 💪💪💪💪
kenapa masih mencuri lihat ke Keisha aleena
sdah pangling Aleena ma Zayn Keanu.
ikutan sedih dengan kisah kalian,semoga cepat bersama Pak KEANU dan KEISHA 💪
akhirnya pak Keanu memanggil KEISHA Nama panggilan sayang terucap juga💃💃💃💃
kasihan ma Aleena hatinya tertahan 6 THN yg lalu ma Zayn keanu
tapi penasaran ma hidup Zayn 6 THN yg lalu kenapa Sampek bisa dan menikah .mana manggil sayang lagi pas di bandara.tapi sekarang hatinya katanya masih memikirkan Aleena.
tambah kepo ma penasaran baca lanjutannya
bukannya kamu sdah nikah yaaa
💃💃💃 liburan diBandung Allena 💪